Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Cipaku: Surga Tersembunyi yang Menyimpan Sejarah dan Pesona Alam

Surga Tersembunyi di Cipaku

Masih asing dengan nama Desa Cipaku? Bagi sebagian orang, nama ini mungkin mengingatkan pada suatu tempat di Jawa Barat. Namun, Cipaku yang satu ini adalah permata lain yang bersembunyi di balik lereng Kabupaten Purbalingga, tepatnya di Kecamatan Mrebet. Sebuah desa dengan lima dusunnya—Cipaku, Bataputih, Siwadas, Karangtengah, dan Pangebonan—yang menyimpan lebih banyak cerita daripada sekadar nama.

Jembatan Sungai Kalong
Jalan menuju Batu Tulis Cipaku.
Pose dulu di atas Jembatan Sungai Kalong



Sebagai warga lokal, ada dorongan dalam diri untuk benar-benar mengenal tanah kelahiran. "Apa sebenarnya yang menjadi 'surga tersembunyi' di sini?" Maka, pada sebuah Minggu dengan cuaca syahdu, 18 Januari 2026, bersama beberapa teman, aku memulai petualangan "Susur Desa Cipaku". Dipandu oleh Mas Aji, salah satu perangkat desa yang cukup berwawasan, dan mau membantu kami untuk Suru Desa Cipaku. Kami berjalan menelusuri jejak masa lalu dan menyaksikan potensi alam yang masih perawan. (Btw, Mas Aji naik motor).




Susur Desa Cipaku, Jejak Sejarah dan Pesona Alam yang Tersembunyi


1. Menyibak Misteri di Prasasti Batu Tulis


Prasasti Batu Tulis Cipaku

Perjalanan kami berawal dari titik kumpul di rumahku. Dengan berjalan kaki, kami menyusuri jalan setapak desa, melewati jembatan kecil di atas Sungai Kalong berair jernih yang gemericiknya seolah menyambut kedatangan kami. Bagi kami yang kerap berkutat di depan layar monitor, pemandangan hijau dan udara segar ini adalah terapi jiwa yang sempurna.

Tak sampai 15 menit, kami tiba di tujuan pertama: Prasasti Batu Tulis Cipaku di Dusun Pangebonan. Sebelum mencapai batu prasasti, kami disambut oleh sebuah halaman luas yang penuh dengan artefak dan arca, sebuah pertanda awal bahwa tempat ini adalah gudangnya sejarah dan keragaman budaya.

Komplek Batu Tulis Cipaku



Di lokasi prasasti, Mas Kukuh, sang penjaga dan narasumber, dengan antusias menerangkan bahwa batu ini adalah peninggalan diperkirakan dari abad 5-7 Masehi, se-zaman dengan Kerajaan Tarumanegara di Jawa Barat. Menariknya, prasasti ini adalah Batu Tulis Kedua, karena batu tulis yang pertama ada di Jawa Barat.

Goresan aksara Sansekerta yang terpahat pada batu itu berbunyi "Indra Wardhana Wikrama Deva", yang diduga merupakan nama seorang raja atau bangsawan, meski penelitian lebih lanjut masih diperlukan.

Yang tak kalah menarik adalah retakan alami pada batu. Menurut filosofi setempat, retakan di atas melambangkan Sungai Lembarang, sementara retakan di bawahnya adalah Sungai Kalong. Kedua aliran ini bertemu dan melahirkan sesuatu yang vital: Bola Ngirit.

2. Bola Ngirit: Mata Air Penopang Kehidupan


Bola Ngirit Cipaku

Bola Ngirit—nama yang unik bagi sumber mata air yang melimpah ini. Terletak tak jauh dari Prasasti Batu Tulis, di tempat yang masih sama di Dusun Pangebonan, Bola Ngirit adalah mata air pertemuan Sungai Lembaran dan Sungai Kalong. Di bawah rindangnya pepohonan besar, airnya mengalir jernih dan bening, telah menjadi urat nadi kehidupan warga selama turun-temurun, terutama saat musim kemarau tiba. Keberadaannya adalah anugerah yang diharapkan tetap lestari untuk anak cucu kelak.


3. Situs Lingga Yoni: Jejak Peradaban Hindu Kuno


Situs Lingga Yoni Cipaku

Perjalanan berlanjut ke Dusun Bataputih, di mana kami menemukan Situs Lingga Yoni. Situs yang bersebelahan dengan sumber mata air PDAM ini adalah bukti nyata bahwa peradaban Hindu pernah berjaya di sini. Lingga, yang melambangkan energi maskulin (Dewa Siwa), dan Yoni, yang melambangkan energi feminin, berdiri sebagai saksi bisu toleransi dan lapisan sejarah yang beragam di Cipaku.

4. Curug Nini: Kristal Penyejuk Jiwa


Curug Nini, Cipaku

Destinasi pamungkas kami adalah Curug Nini, yang sempat viral di media sosial beberapa waktu lalu. Mengaksesnya melalui Dusun Bataputih membawa kembali kenangan masa kecil, saat bermain di sini sebelum era ponsel pintar.

Dan sungguh, waktu seolah tak bergerak di sini. Air terjunnya masih memancarkan kesegaran, dengan air sebening kristal yang membuat bebatuan di dasarnya terlihat jelas. Suara gemuruh air, angin sepoi-sepoi, dan pemandangan yang memukau menciptakan atmosfer yang sempurna untuk melepas penat.

Bagi yang ingin bersantai, tersedia tempat duduk yang tersedia. Di sekitar juga Da penjual aneka makanan dan minuman. Dengan secangkir cokelat panas atau mie instan hangat serta mendoan, kami menikmati suasana yang syahdu, sejuk, dan menentramkan. Tiket masuknya pun sangat terjangkau, hanya Rp 5.000 per orang. Sungguh, harga yang tak sebanding untuk ketenangan yang didapat.

Penutup: Cipaku, Sebuah Pesan yang Belum Selesai


Balai Desa Cipaku
Pose dulu di halaman Balai Desa Cipaku

Petualangan hari itu baru menyentuh sebagian kecil dari keindahan Cipaku. Masih ada Curug Cingongah yang menanti untuk dijelajahi, dan tentu saja, cerita-ceria canda tawa teman-teman seperjalanan yang selalu ready untuk berfoto di setiap sudut.


Cipaku adalah bukti bahwa dalam satu tempat, kita bisa menyelami kedalaman sejarah dan sekaligus menenggelamkan diri dalam kesegaran alam. Ia menawarkan pelajaran tentang masa lalu sekaligus kesegaran untuk masa kini.

Jadi, kapan rencana kalian dolan ke Cipaku? Surga tersembunyi di Purbalingga ini sudah menunggu untuk diceritakan. Selain itu, warga Desa Cipaku selalu ramah dan sopan.
Eri Udiyawati
Eri Udiyawati Hallo, saya Eri Udiyawati. Seorang Perempuan yang suka menulis dan traveling. Blogger asal Purbalingga, Jawa Tengah. Suka menulis berbagai topik atau bahkan mereview produk. Email : eri.udiyawati@gmail.com | Instagram: @eryudya | Twitter: @EryUdya

Post a Comment for "Cipaku: Surga Tersembunyi yang Menyimpan Sejarah dan Pesona Alam"