Review Drama The Story of Minglan (2018)

Drama China berikutnya yang membuat saya jatuh hati ialah The Story Of Minglan. Pemain utamanya siapa lagi kalau bukan Zhao Liying? Kali ini dipasangkan dengan Feng Shaofeng, dan mereka terlibat cinta lokasi yang akhirnya ke jenjang pernikahan. Namun, sayangnya kandas di tahun 2021. Yeah, itu keputusan mereka, apapun itu semoga terbaik buat mereka.

Kembali ke Drama The Story of Minglan. Ini drama beneran kudu sabar nontonnya sih. Karena menggunakan alur yang lambat dan memakan waktu sampai 73 episode. Awalnya malas untuk menonton, tapi giliran sudah melihat di episode pertama langsung tertarik. Banyak intrik, nilai moral, politik, sosial dan budi luhur yang tertuang di dalam kisah ini.



Profil Drama The Story of Minglan


The Story of Minglan

Judul: The Story of Minglan
Based on: Do you know? Do You Know? If the green is still plump and the red still lean? by Guanxin Zeluan
Written by: Zeng Lu, Wu Tong
Original release: December 25, 2018
Executive producer: Hou Hongliang
Genre: Historical Fiction, Politics, Family, Romance
Network: WeTV in Indonesia
Original Network: Hunan TV
Episode: 73 
Pemeran Utama:
Zhao Liying (Zanilia Zhao) as Sheng Minglan
Feng Shaofeng (William Feng) as Gu Tingye
Zu Yilong as Qi Heng
Kira Shi as Sheng Molan
Karlina Zhang as Sheng Rulan

Sinopsis The Story of Minglan


Sheng Minglan - Gu Tingye

Diambil dari latar belakang dinasti Song Utara, Sheng Minglan lahir dari Nyonya Muda Wei yang merupakan selir kedua Sheng Hong (diperankan oleh Liu Jun). Masa kecilnya yang begitu menderita karena harus kehilangan ibunya saat melahirkan adik Minglan. Kematian ibunya bukan tanpa sebab, tapi selir pertama, Lin Qinshuang (diperankan oleh Gao Lu), sengaja membuat Nyonya Muda Wei tidak bisa melahirkan karena bayinya besar. Selain itu, bidan yang harus menolongnya melarikan diri, dan para wanita sesupuh di dalam kediaman Sheng ada yang pulang ke rumah, ada pula yang mabuk di dapur.

Minglan menyadari hal itu, dia pun mencoba keluar rumah untuk mencari tabib. Beruntungya di jalan bertemu dengan Gu Tingye yang naik kereta kuda. Akhirnya Gu Tingye mampu mengantarkan Minglan ke rumah tabib dan menjemput tabib tersebut. Namun sayangnya, tabib datang terlambat, Nyonya Muda Wei sudah hampir kehabisan napas. Tabib itu memberikan jarum pelancar napas agar Nyonya Muda Wei bisa ngobrol sebentar dengan Minglan. Nyonya Muda Wei kemudian berpesan kepada Minglan untuk hidup lebih hati-hati dan jangan memamerkan kehebatannya karena banyak yang tidak suka. Khususnya Nyonya Muda Lin Qinshuang dan anak perempuannya, Sheng Molan.

Saat itu Minglan masih sangat kecil, masih berusia 8 tahun, setelah kepergian ibunya Minglan diasuh oleh neneknya, Nyonya Tua Sheng (yang diperankan oleh Cao Cuifen). Diajarkan segala hal tentang tata krama, menjahit, menyulam, dan sekolah di kelasnya Guru Zhang. Hinga akhirnya Minglan jatuh cinta pada bangsawan muda Qi Heng Yuan Ruo. Namun sayang cinta mereka tak bersatu.

Sakit hati dan berdiam diri terus, yang pada akhirnya ada satu titik temu yang membuat Minglan bertemu Gu Tingye dalam posisi keduanya sama-sama galau. Hingga Gu Tingye berhasil menikahi Minglan. 

Rumah tanggannya pun tak seindah yang dibayangkan, karena bagi Gu Tingye, Minglan ini terlalu penurut dan tidak mempercayainya. Konflik beberapa kali sering terjadi, tapi Gu Tingye selalu memberikan perhatian ke Minglan. Ingin selalu melindungi istrinya dari segala macam bahaya.

Hingga suatu hari, setelah Minglan melahirkan, akhirnya mereka mulai saling percaya dan benar-benar mencintai. Bahkan Minglan rela melakukan apapun untuk kebaikan Gu Tingye. Minglan berani datang ke istana untuk meminta keadilan Gu Tingye yang merasa difitnah dijadikan tahanan istana. Ya, walaupun pada akhirnya semua itu ialah sandiwara, untuk menjebak semua musuh raja, Gu Tingye malah bahagia, melihat Minglan berani membuat keributan di istana, berarti Minglan peduli dan mencintainya.

Asli di jelang-jelang episode terakhir itu menguras emosi jiwa. Minglan yang baru saja melahirkan harus banyak mendapatkan masalah dan semua itu ialah siasat dari dalam istana. 

Gu Tingye memang jenderal yang cerdas dan bisa melakukan apa saja dengan triknya untuk turut serta menjaga negara, tapi dia baik hati dan peduli pada istrinya.

Pantas saja, Ibu Suri sering menyebutnya dia b*jing*n dan manusia yang paling brengs*k yang pernah dia temui. Otaknya cerdas, selalu memberikan solusi yang tepat walau taruhannya nyawa.

Pelajaran yang Bisa Diambil dari Drama The Story of Minglan


Minglan and Gu Tingye, with their baby

Meskipun drama ini tergolong lambat dan harus sabar untuk menontonnya, tapi saya tetap acungkan jempol, karena banyak sekali hal-hal yang bisa kita ambil sebagai pelajaran.

1. Moralitas itu Penting

Sheng Hong sebagai kepala keluarga mengajarkan anak-anaknya untuk berperilaku baik, berbudi luhur dan cerdas. Terbukti mereka disekolahkan namun juga diajari tata krama yang sangat bagus.

Anak-anak selalu diajarkan jangan sampai membuat malu keluarga, karena salah satu saja bikin ulah, yang kena semuanya. Keluarga besar Sheng yang harus menanggung akibatnya.

Waktu itu, Sheng Molan jatuh cinta pada Putra Keenam Keluarga Liang, mereka berdua pacaran di sebuah bilik di dekat kuil. Hal itu diketahui oleh ayahnya, dan langsung memarahi putrinya itu. Menganggap tidak punya moral dan sudah merusak reputasi keluarga.

Konsekuensinya, Ibu Molan - Selir Lin juga ikut dihukum karena dianggap tidak bisa mendidik anak dengan baik malah merusak reputasi keluarga. Hukumannya juga gak main-main, dipukul sampai 20 kali.

Selain kasus tersebut, juga ada yang menarik, bahwa di drama The Story of Minglan ini, antara laki-laki dan perempuan yang bukan keluarga juga tidak boleh terlihat bersama meskipun di sekolah.

Di sekolah juga ada sekat/ditutupi tirai antara laki-laki dan perempuan, meskipun bangsaawan Muda Qi dan Gu Tingye kerap melirik ke arah Minglan.

2. Selir atau Istri Tidak Sah, Tidak Boleh Datang ke Acara Resmi

Seroang selir statusnya memang lebih rendah dibandingkan dengan istri sah dalam sebuah keluarga. Meskipun misalnya kepala keluarga itu begitu cinta sama selirnya, tapi pemegang kekuasaan tertinggi tetaplah istri sah. Seperti halnya Selir Lin yang akan mengantarkan Molan menikah dengan Putra Keenam Keluarga Liang, pun tidak boleh, walaupun Molan anak kandungnya. Tetap yang mengurusi semuanya ialah istri sah dari Sheng Hong.

Kemudian ketika Minglan dan Gu Tingye sudah menikah membuat syukuran penggabungan rumah mereka di Taman Cheng Yuan dengan rumah Keluarga Gu, mengundang banyak para pejabat dan lainnya. Di sisi lain, Jenderal Shen malah membolehkan selirnya ikut datang, dan ini menjadi masalah. Hal tersebut menunjukan bahwa si selir tidak punya etika serta kepala keluarga tidak bisa mengaturnya, dan dianggap memalukan keluarga.

3. Cinta Butuh Kepastian Bukan Hanya Janji

Saat itu Qi Heng berjanji hanya akan menikahi Minglan, walaupun dijodohkan dengan seorang putri sekalipun. Nyatanya, Qi Heng tak berdaya saat keluarganya tertimpa masalah dari keluarga kerajaan yang memaksa Qi Heng harus menikah dengan putrinya. Tentu saja Minglan sedih dan kecewa. Bahkan tidak mau menyimpan barang pemberian Qi Heng sebagai kenangan. Dia kembalikan semuanya dan dititipkan ke Gu Tingye.

Kemudian Gu Tingye meminta Minglan untuk menunggunya. Keseriusan Gu Tingye membuahkan hasil. Setelah berhasil menjadi jenderal, Gu Tingye melamar Minglan.

Hal itu diketahui Qi Heng, membuat mereka berdebat dan bertengkar. Tapi, lagi-lagi Qi Heng tak berdaya, karena dia salah sendiri. Di pernikahan sebelumnya dia hanya bertahan tiga bulan karena istrinya meninggal. Tapi dia tidak langsung melamar Minglan justru konsentrasi belajar agar lulus ujian negara. Tentu saja hal itu kesempatan emas bagi Gu Tingye untuk menyalipnya.


4. Mengontrol Diri itu Sangat Penting

Menjadi orang hebat, terkenal akan kemampuannya itu impian semua orang. Namun bagi Minglan tidak. Dia harus menyembunyikan segala keterampilannya untuk bertahan hidup. Selain itu, dia pandai mengontrol emosi agar semua masalah bisa diatasi dengan tenang dan tepat. Sifat Minglan yang pendiam dan cerdas itu patut dicontoh. Selain bisa mengontrol emosi yang bisa merusak semuanya, juga bisa membawa diri tetap tenang meskipun menghadapi masalah besar.

Tentu saja, sifat Minglan tersebut berbanding dengan Gu Tingye. Gu Tingye ini dari kecil memang sengaja dimanjakan oleh ibu tirinya. Membuatnya sering bertengkar dengan ayahnya dan tidak mematuhi aturan sama sekali. Menjadi orang yang emosian, hingga pada akhirnya dia bertengkar hebat dengan ayahnya yang menyebabkan ayahnya meninggal dunia. Ya, padahal ayahnya memang sakit-sakitan tapi disembunyikan. Selain itu, Gu Tingye sering membuat onar, tidak bisa menjaga lisannya. Sampai-sampai ujian negaranya tidak diluluskan, padahal seharusnya dia mendapat peringkat tiga. Tapi karena di masa mudanya dia tidak menjaga mulut, mengatakan hal yang sembarangan dan menyinggung raja, otomatis, ujiannya digugurkan dan boleh ikut ujian lagi setelah 50 tahun.

5. Usaha Tidak Menghianati Hasil

Setelah diusir dari rumah Keluarga Gu, dan dituduh membunuh ayahnya sendiri oleh ibu tirinya, Gu Tingye jatuh sakit. Ditambah lagi wanita yang dicintainya, yang selama ini diperjuangkan ternyata berkhianat. Selama ini hanya menipu dirinya untuk memberinya kekayaan. Untung saja, nenek yang merawatnya dari kecil memberitahukan ke Gu Tingye bahwa wanita yang sangat dicintainya itu pembohong. 

Oh ya, for your information ya Guys, Gu Tingye ini karena sering bertengkar di rumah, di masa mudanya dia suka ke tempat pelacuran. Terus bertemulah dengan gadis penyanyi Zhu Manniang, yang ternyata seorang penipu, hingga akhirnya mereka punya dua orang anak, perempuan dan laki-laki. 

Setelah ketahuan, Zhu Manniang membawa anak bungsunya yang laki-laki kabur. Gu Tingye mencari ke mana-mana. Sampai terdampar dan menjadi bandit di pinggiran Sungai You Yang.

Di sini titik balik Gu Tingye, karena di perairan dia menolong Minglan yang kapalnya dibajak oleh perompak. Karena melihat anak Gu Tingye yang perempuan hidup terlihat nomaden dan tidak ada pendidikan, Minglan menasehati Gu Tingye untuk menjadi orang yang lebih baik dan menyiapkan masa depan yang layak untuk anaknya, terlebih seorang anak gadis. Dan biar bagaimana manpun, anak itu keturunan orang terpandang, jangan sampai hancur masa depannya.

Setelah kejadian itu Gu Tingye menjadi sadar, dia dan pengawal pribadinya mendaftar menjadi prajurit. Bertahun-tahun perang, dari seorang prajurit kecil hingga bisa menjadi seorang jenderal. Kerja kerasnya membuahkan hasil sampai tekadnya untuk menikahi Minglan juga terpenuhi.

Penutup


Akhirnya sampai juga ya di penutup. Menurut saya, Drama The Story of Minglan ini cocok untuk ditonton, karena banyak pesan moral yang disampaikan. Selain itu alurnya juga santai, tidak ada konflik yang benar-benar mengerikan meskipun banyak pemberontakan dan saling menjatuhkan. Di jelang-jelang ending saja yang rada tegang setelah Minglan melahirkan, Gu Tingye mendapat masalah di istana karena terpojokan dan banyak yang ingin menjatuhkannya. Sebenarnya masih banyak yang ingin saya tulis, tapi kok sudah panjang banget. Nanti lanjut menulis tentang The Story of Minglan ini dari sudut masing-masing keluarga mereka.

Terpenting lagi, drama ini bisa ditonton full secara gratis di WeTV Indonesia. Selamat menontonnya, ya.

9 Comments

  1. Wow panjang juga ya Mbak total episodenya ada 73. Kalo alurnya lambat berasa banget tuh, tapi kalo sarat makna dan bikin greget pasti tetep ditonton sih. Ditambah visual pemainnya ya. Hehe..

    ReplyDelete
  2. Wah bagus banget penuturannya, jadi bisa membayangkan seperti apa cerita Minglan ini. Udah kaya nonton trailernya aja.

    Anyway, lesson learned untuk tetap tenang dan tidak mudah termakan emosi itu relate banget sama saya Mbak, karena itu PR yang never ending.

    ReplyDelete
  3. Kalo ngomongin Zhao Liying gak ada habisnya. Zhao Liying ini kayak Dian Sastronya Indonesia.

    Jujur sampai sekarang pun aku masih bertanya-tanya kenapa Liying memilih Feng Shaofeng? Hahahahaha. Tapi yaaa begitulah cinta ya, gak bisa ketebak. Buktinya sampai sekarang rumah tangga mereka masih adem ayem, meski banyak banget rumor yang melibatkan sang suaminya ini yang sebenarnya saya gak begitu suka.
    Sudut pandang dan cara ngereviewnya menarik mba. Semoga sudi berkunjung ke blog saya, juga banyak saya review drama-drama cina, karena saya juga penggemar dracin. Hehehe. Thanks for sharing yaaa mba Eri. Seneng deh ketemu reviewer dracin.

    ReplyDelete
  4. Terimakasih sudah menuliskan ulasan tentang drama ini mba..saya jadi tahu dan.ikut mengambil hikmah dari pelajaran2 penting di drama ini..

    ReplyDelete
  5. Drama ini lagi-lagi menunjukkan budaya negeri Tirai Bambu sana yang kurang berpihak terhadap wanita. Segala penderitaan yang dialami Minglan seharusnya tidak terjadi kalau ayahnya tidak poligami atau main selir-seliran, karena Minglan sendiri memang hasil dari poligami. Saya bisa ngerti apa yang dirasakan Lin Qinshuang, dia pasti cemburu berat waktu melihat Sheng Hong punya selir lagi.

    ReplyDelete
  6. Kalau lihat drama dr luar negeri gini, saya suka kepincut sama pakaian atau interior rumahnya. Kan beda bgt ya sama yg di sini. Tapi kok kalau dipikir2 ribet juga ya pakai baju besar2 seperti itu. Opo ga gerah.

    ReplyDelete
  7. Wah, dracin pun kompleks juga ya alur ceritanya. Tapi menyisakan banyak pelajaran hidup yang penting.
    Jadi sesekali pengen intip dracin ah.

    ReplyDelete
  8. Wuahhh episodenya banyak juga yaa sampai 73 episode, semoga doi belum tahu drama ini. Kalau gak nemenin doi buat nonton dari awal sampe akhir marathon. OMG jadi gak bisa ngeblog dan nulis artikel kalau dihabisin dalam satu waktu hhu

    ReplyDelete
  9. wah drama cina begini aku jadi ingat waktu masih SD dulu nonton drama pendekar harum dan yang lainnya. kalau sekarang sudah nggak pernah lagi nonton drama cina karena lebih ke drakor. he

    ReplyDelete

Terima kasih telah membaca postingan pada blog saya. Silakan tinggalkan komentar, dimohon jangan menggunakan link hidup.
Terima kasih.
:) :)