Demi Cinta

by - 12:45:00 PM

Sebuah cerpen yang terinpirasi dari lagu 'My Heart by Aca Septriasa'

DEMI CINTA

Oleh : Eri Udiyawati

Raisa, perempuan yang baru berumur sembilan belas tahun. Dia sudah bekerja di salah satu warung makan di pesisir pantai selatan. Setiap hari dia berkutat dengan cumi-cumi, ikan laut, gurita, lobster, dan makanan laut lainnya. Selain rajin, dia juga sudah pandai memasak. Tak heran jika warung yang dia tempati untuk bekerja tidak pernah sepi.

Dia bekerja dari jam sepuluh pagi hingga sepuluh malam. Hari-harinya dia habiskan untuk bekerja meski seharusnya dia bisa menikmati masa-masa remaja. Karena tuntutan ekonomilah, dia harus bekerja. Ayah dan ibunya sudah bercerai sejak dia masih kecil, kini Raisa hanya tinggal dengan ibunya.

Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Desiran ombak di laut terdengar jelas di telinga. Penikmati kuliner satu per satu mulai pergi untuk meninggalkan warung. Hanya tinggal beberapa orang saja yang masih menikmati kudapan lezat yang bersumber dari laut.

Terlihat sesosok pria yang sedang duduk-duduk di halaman warung.
Andi, sedang apa kamu di sini?” tanya Raisa.
Tentu saja sedang menunggmu, memangnya ada yang aku lakukan selain menunggumu?” goda Andi ke Raisa. Raisa hanya tersenyum, dia senang karena kekasihnya sudah datang. Mereka berdua sudah berteman sejak SD. Dari mulai bangku sekolah mereka saling mengenal, hingga saat ini. Meski Raisa tidak bisa melanjutkan kuliah seperti Andi, tetapi Andi selalu meluangkan waktu untuk Raisa saat dia tidak sibuk.

Andi menunggu Raisa hingga waktu Raisa selesai bekerja di warung itu. Kemudian mereka menikmati udara malam sebentar di tepi pantai. Mereka sangat sering menikmati suasana seperti ini. Dari dulu, sejak pertama kali Andi hadir di kehidupan Raisa. Mereka tak pernah terpisahkan, mereka sudah terbiasa bersama.

Oh ya, besok kamu bisa libur kerja kan?” tanya Andi.
Libur? Memang ada apa?”
Aku mau besok kamu ikut denganku. Besok dari kampusku akan mengadakan touring ke pantai ini. Kamu ikut ya, temani aku.” Pinta Andi.
Dengan teman-teman kuliahmu?” Raisa sedikit cemberut.
Hei, kenapa kamu cemberut seperti itu?”
Aku malu kalau dengan teman-teman kuliah kamu.”
Kan ada aku, lagian kamu cuek saja, kenapa harus malu sama mereka.” Ucap Andi sambil mengelus kepala Raisa, yang sebenarnya mengacak-acak rambut Raisa.
***
Sinar mentari telah memancarkan cahaya keemesan dari ufuk timur. Pancarannya begitu menyilaukan dan terbias di tengah lautan. Terlihat dua insan sedang mengukir nama mereka di atas pasir. Meski mereka tahu ombak akan menghapusnya, tetapi mereka tetap menuliskan nama mereka berulang-ulang di atas pasir.

Setelah tiga puluh menit menunggu, teman-teman Andi dari kampus datang juga. Mereka terlambat karena mereka sempat tersesat, sehingga mereka tidak bisa menikmati sinaran mentari di pagi hari. Mereka berjumlah dua puluh dua orang, terdiri dari empat belas perempuan dan delapan laki-laki. Mereka semua adalah teman-teman dekat Andi di kampus.

Seharian penuh mereka menghabiskan hari di pantai. Andi dan teman-temannya merasa bahagia. Mereka semua tampak ceria, tetapi tidak bagi Raisa. Dari raut wajah Rasia jelas terlihat kemuraman dan kejengkelan. Dia merasa kesal ketika ada seorang perempuan yang terus berusaha mencoba mendekati Andi. Perempuan itu tidak membiarkan Andi untuk mendekati Raisa. Rasa cemburu dalam hati Raisa tak bisa ditahan lagi. Dia tak sanggup jika harus melihat Andi dekat perempuan lain. Raisa memilih berdiam diri di samping batu karang tepian pantai. Dia hanya melihat Andi dan teman-temannya dari kejauhan.

Raisa hanya terdiam hingga mereka semua pergi. Kini kembali antara Andi dan Raisa di tepi pantai. Andi masih ingin menikmati indahnya senja menutup hari yang cerah.

Raisa, sini!” teriak Andi meminta Raisa untuk mendekatinya.
Hei, kamu kenapa, Raisa?” tanya Andi saat melihat wajah Raisa yang ditekuk seperti seseorang yang telah kalah dalam pertandingan. Raisa hanya geleng kepala.
Jangan bohong, katakan padaku, apa yang terjadi denganmu? Tak biasanya kamu seperti ini, Raisa. Aku sangat mengenalmu.” Ucap Andi seraya menarik tangan Raisa dan menatap matanya penuh perhatian.
Bagaimana liburannya? Menyenangkan, bukan?”
Ada apa, Raisa? Jangan berbelit-belit seperti ini, katakan terus terang, kamu tahu aku paling tidak suka sesuatu hal yang berbelit-belit.” Andi mendesak Raisa untuk jujur.
Siapa perempuan tadi? Sepertinya kalian sangat dekat. Teman sekelasmu juga?”
Perempuan? Maksudmu Rita?”
Entah siapa namanya, aku tidak tahu.”
Raisa, kamu cemburu dengan dia?” tanya Andi. Raisa masih tanpa suara, itu menandakan membenarkan pertanyaan Andi ke dirinya. Andi memegang kedua pundak Raisa, “Raisa, aku mengerti perasaanmu, sangat mengerti. Tapi, tetaplah percaya padaku, bahwa sedikitpun tidak ada niat dari diriku ini untuk berpaling darimu. Kita telah melewati begitu banyak waktu. Setiap detik yang kulewati denganmu itu sangat berharga untuk hatiku dan untuk kehidupanku. Bagaimana bisa aku menggantikannya begitu saja? Bagaimana bisa aku menghapus semua hal yang telah kita lalui bersama sejak dulu. Di sini, di tempat ini, kita sudah terbiasa bersama, kita menjalani hari-hari penuh cinta dan kasih sayang. Alam ini telah menjadi saksi bagaimana besarnya cinta kita berdua. Kita selalu menguntai hari-hari menjadi indah, kita selalu mengukir nama kita berdua di pasir ini, meski ribuan kali ombak menyapunya, tetapi seribu kali kita tetap mengukirnya. Itu berarti ribuan cobaan untuk menghapus nama kita, kita akan tetap mengukirnya kembali. Percayalah padaku, aku sangat mencintaimu, Raisa ....”
Raisa terperanjat mendengar ungkapan dari Andi, dia merasa bersalah telah menuduh yang tidak-tidak.
Andi, maafkan aku,”
Andi mengangguk dan memeluknya, mencoba menenangkan hati Raisa yang sedang kalut. Kemudian dia berkata, “Ayo kita pulang, sudah malam.”
Mereka perlahan meninggalkan bibir pantai, berjalan bergandengan tangan, merasakan semua getaran cinta yang sedang membara. Saat mereka sedang berjalan, tiba-tiba saja Raisa jatuh tersungkur.
Raisa,” Andi kaget, tidak biasanya Raisa seperti ini. Andi menepuk-nepuk lirih di pipinya, tetapi Raisa tidak sadarkan diri.
Raisa! Raisa!” berkali-kali Andi mencoba menyadarkan Raisa namun tak kunjung siuman. Disaksikan rembulan dan bintang yang bertabur di langit, Andi menggendong Raisa. Andi segera membawa ke klinik terdekat. Dokter di klinik menyarankan Raisa untuk segera di bawa ke rumah sakit agar segera terdeteksi sakit apa dan mendapatkan perawatan yang intensif.

Andi cemas menunggu Raisa yang sedang diperiksa oleh dokter. Apa yang terjadi dengan Raisa? Hal ini tidak pernah terjadi, setahu Andi, Raisa anak yang kuat, dia capek bekerja di warung makan dan mengurus rumah, tetapi tidak pernah terjadi seperti ini.

Dokter, bagaimana kondisi Raisa saat ini?” tanya Andi saat melihat dokter Indra keluar dari ruang IGD.

Dokter itu belum menjelaskan apa yang menyebabkan Raisa pingsan. Mereka berdua menuju ke ruangan dokter Indra. Di ruangan itu dokter Indra menjelaskan semuanya tentang penyakit yang selama ini disembunyikan oleh Raisa..
***
Entah kenapa Raisa tiba-tiba merasa sangat perih di perutnya, seperti sudah tersayat-sayat. Dia pikir ini mimpi, dia merasa sedang bermimpi bermain dengan pisau atau benda tajam lainnya. Dia sekuat tenaga memaksa untuk membuka matanya yang menginginkan dia untuk tetap tertidur. Raisa dengan sangat keras melawan pemaksa tidur itu. Dia berhasil membuka mata, melihat sekelilingnya, dan melihat dirinya sendiri. Dia menyadari dia tidak sedang mimpi, rasa sakit sayatan-sayatan itu memang ada bekasnya di perut, tapi ini bukan sayatan, ini bekas operasi yang telah dilakukan ke Raisa beberapa jam yang lalu.

Sudah sadar, Mbak?” tanya suster yang masuk ke ruang rawat Raisa.
Iya, Sus. Oh ya, Suster, apa yang terjadi dengan saya?” tanya Rasia, dan Suster itu pun menjelaskan apa yang terjadi.

Siapa yang telah memberikan nyawa baru untuk saya?” tanya Raisa ingin tahu dan hendak mengucapkan terima kasih pada orang itu.
Kalau itu saya tidak tahu, Mbak. Itu dirahasiakan oleh dokter Indra.” Jawabnya.
Tapi, tolong saya, antarkan saya ke orang tersebut.” Raisa memaksa. Suster itu bersikukuh untuk tidak mengantarkan Raisa ke penolongnya, tetapi Raisa tetap memaksa. Raisa pun berhasil merayu suster itu. Raisa di antar ke ruang rawat orang yang telah menolongnya. Raisa pun bertemu dengan orang itu, ranjang mereka dibuat berjejer.

Air mata Raisa mengalir deras seperti hujan.
Andi ....” Raisa tak sanggup lagi berkata. Apa yang harus diucapkan kepada Andi? Rasa terima kasih saja tidak cukup untuk diberikan kepada seseorang yang telah memberikan nyawanya. Andi mulai siuman dari pengaruh bius, dia menyadari ada orang di ranjang sebelah kanannya.
Kenapa kamu lakukan ini, Andi? Apa yang akan terjadi denganmu di kemudian hari?”
Aku akan baik-baik saja, percayalah padaku.” Jawab Andi.
Kini kamu hidup dengan satu ginjal, Andi, bagaimana kamu bisa katakan akan baik-baik saja?”
Tidak, Raisa. Aku hidup tetap dengan dua ginjal, hanya saja ginjal kananku di tempat lain, tapi itu bukan berarti tidak menjadi milikku lagi. Demi cinta kita, aku rela akan melakukan apa saja, agar kita tetap bersama. Kamu tahu, kita sudah sehati, satu jiwa. Jika aku tidak memberikan ginjal kananku untukmu, dan membiarkanmu kehilangan hidup, apa kamu pikir aku akan bertahan hidup? Tidak, Raisa, aku tidak akan bisa bertahan hidup tanpamu, kamu tahu itu. Kamu tahu setiap yang terjadi di antara kita, kita akan saling merasakannya. Cinta ini begitu kuat sampai-sampai aku tidak bisa untuk kehilangan dirimu. Kita hidup bersama, dan mati pun kita bersama, hanya saja saat ini aku belum siap untuk pergi dari dunia ini, Raisa. Aku sangat mencintaimu.”

Suasana pun memecah menjadi haru biru. Air mata itu tak bisa dibendung lagi. Tuhan mengembalikan kehidupan Raisa dengan ginjal Andi. Raisa berjanji akan menjaganya sebaik mungkin, karena ini adalah ginjal mereka yang harus dilindungi.

Pengorbanan yang besar bagi seorang Andi demi menjaga keutuhan cinta mereka. Dia tidak pernah memikirkan kehidupannya sendiri, tetapi dia begitu peduli terhadap orang yang dicintainya. Begitulah cinta, saling peduli dan saling mengasihi serta bisa mengorbankan kehidupan hanya demi orang yang dicintai. Cinta itu murni tanpa paksaan, alirannya begitu kuat hingga masuk ke jantung dan aliran darah di setiap diri insan yang memiliki rasa kasih sayang dan saling memiliki. Maka, janganlah sia-siakan cinta meski hanya sebutir debu, karena jika kita menyia-nyiakan cinta, yang akan terjadi adalah bencana bagi dua insan.

*****TAMAT*****


You May Also Like

0 comments

Terima kasih telah membaca postingan pada blog saya. Silakan tinggalkan komentar, dimohon jangan menggunakan link hidup.
Terima kasih.
:) :)

Labels

Teman-teman Blogger

Member Of

Member Of