Menuju Ketenangan Jiwa - Bag. 1

12:23:00 PM 0 Comments A+ a-

 Masih dalam cerita yang bernuansa islami. Ini juga pernah diikutkan untuk mengikuti event menulis cerpen dalam nuasan Idul Fitri. Namun, saat itu peserta tidak mencukupi kuota, sehingga event tersebut dicancel.

MENUJU KETENAGAN JIWA

Oleh : Ery Udya

Dua tahun telah berlalu, waktu berjalan begitu cepat. Namun, kenangan masa lalu itu masih terngiang selalu dalam benak Indri. Masih terukir dengan jelas dalam ingatan Indri, ketika dia mengendap-endap seperti pencuri yang telah berhasil memboyong semua barang berharga di suatu rumah. Dia sudah berusaha untuk melupakan hal itu, tapi hati nuraninya berkata lain. Nuraninya bergejolak menguntai semua kenangan itu. Membawa Indri ke masa yang pahit. Di mana masa itu Indri pergi kabur dari rumah di tengah malam melalui jendela dan hanya meninggalkan pesan secarik kertas di bantal tidurnya.

Allahu Akbar.. Allahu Akbar..” kumandang Azan Maghrib membuyarkan lamunan Indri. Segeralah dia beranjak untuk berbuka puasa. Nuansa berbuka puasa yang cukup menyedihkan, hanya sendiri, di kota besar. Air matanya tak tertahankan untuk menahan kesedihan. Sudah seminggu lewat, ketika waktu berbuka puasa, saat itu pula air matanya bercucuran tak tertahankan.

Bulan puasa ini, terasa berat untuk Indri. Beban hatinya terasa sudah memuncak hingga mencecik di tenggorokan. Jeritan tangisan hatinya sudah sangat memilukan. Setiap hari dia melalui hidup yang begitu berat, meski banyak uang yang dia miliki, meski punya jabatan di tempat kerjanya. Namun, apa lah arti semua itu jika kedamaian hati tak pernah ia dapatkan. Berkali-kali dia berakhir pekan untuk menghilangkan jenuh dengan kerja, tetapi tetap saja, tak ada yang bisa melenyapkan kegundahan hatinya.

Waktu berbuka sudah berlalu, dan kini berganti kumandang azan untuk Isya. Indri melangkahkan kakinya menuju masjid dekat rumah. Hanya berjarak sekitar seratus meter saja. Dia datang dengan tetangga-tetangganya. Untuk sejenak dia merasa tersenyum, berbaur dengan lingkungannya, tapi hatinya siapa yang tahu?

Senyum, ramah tamah dan segala sopan santun Indri rasanya masih kurang lengkap. Dalam dirinya masih saja ada yang kurang. Dia selalu bertanya pada dirinya sendiri, kenapa hal itu sampai terjadi. Selama Ramadhan ini, Indri mengalami guncangan yang cukup berarti. Gejolak jiwanya begitu meletup-letup seperti buihan air mendidih. Nuraninya sedang membrontak pada dirinya, hingga ia tak kuasa, hingga lagi-lagi dia hanya mampu meneteskan air matanya. Dia merasa ini adalah cobaan yang paling berat yang ia terima selama hidup ini. Langkah kakinya seperti sudah tak menapak pada bumi ini. Sudah merasa melayang seperti cenayang yang tak mampu menginjakkan kaki di bumi. Jalannya sudah terhuyung-huyung seperti orang sedang mabuk.

Keramaian kota besar tak mampu menghilangkan rasa sepi Indri. Dia bekerja dari pagi hingga sore, berbaur dengan beberapa orang, baik sesama pegawai kantor maupun dari customer perusahaan. Tapi, semua itu tak ada arti bagi Indri. Semua itu rasanya sia-sia. Bagi Indri, itu hanyalah rutinitas manusia hidup, yaitu bekerja agar bisa memenuhi semua kebutuhan, agar tidak kekurangan.

Ramadhan kian beranjak merapat ke hari kemenangan. Libur hari raya Idul Fitri sudah sangat dekat, di kantor mulai dibagikan Tunjangan Hari Raya dan informasi hari libur dari tanggal berapa sampai tanggal berapa.

Permisi mba Indri,” ucap Sekretaris di depan pintu ruangan kerja Indri.

Ya, saya. Mba Rina, silakan masuk.” Ucap Indri. 
 
Rina, seorang sekretaris, masuk ke ruangan Indri dan berkata, “Mba Indri, Mba dipanggil bos. Mungkin ada yang penting menyangkut hari liburan lebaran ini.” Jelas Rina.

Hal penting apa ya, Mba Rina?” tanya Indri.

Sepertinya yang berkaitan dengan customer, karena dari customer luar negeri tidak ada yang libur lebaran.” Jawabnya.

Baiklah, saya segera ke ruangan bapak.” Indri dan Rina meninggalkan ruangan. Rina menuju ruangannya sendiri, dan Indri menuju ruangan bosnya.

Tok..Tok.. Indri mengetuk pintu, dan “Permisi, Pak,” kata Indri.

Ya, Indri silakan masuk.” Jawab pak bos.

Indri masuk ke ruangan, kemudian duduk di kursi dekat meja pak bos.

Bapak memanggil saya?” tanya Indri. Dia berharap tidak ada tugas di hari libur.

Iya Ndri, sebentar lagi libur lebaran yang hanya tinggal hitungan hari,” ucapnya. Kemudian dia melanjutkan, “Kita libur lebaran mulai H-3, dan masuk H+4, tolong kamu atur dengan beberapa customer di luar negeri, agar untuk urusan kerjaan lebih baik setelah kita libur. Karena saat ini kita juga masih sibuk untuk memberikan tunjangan hari raya, persiapan libur, belum lagi yang mudik ke luar kota.” 
 
Mendengar kata “Mudik” membuat gejolak hati Indri bangkit lagi, membuat hatinya teriris lagi. Selama ini dia belum pernah sekalipun mudik, baik libur lebaran atau libur-libur nasional yang lainnya.

Bagaimana Ndri, kamu bisa?” tanya bos untuk memastikan bahwa Indri bisa melakukan pekerjaan ini dengan baik.

Iya, Pak, saya usahakan, akan saya atur untuk jadwal meeting dan presentasi dengan customer-customer di luar negeri.” Jawab Indri penuh keyakinan.

Baik, bagus. Jadi, nanti kita libur lebaran bisa menikmatinya dengan tenang menghabiskan waktu dengan keluarga besar. Tidak seperti tahun kemarin, libur lebaran masih tetap saja ada email masuk menanyakan pekerjaan.”

Oh ya, satu lagi, untuk THR kamu, mau ditransfer atau cash?” tanya bos.

Ditransfer saja, Pak, cash sepertinya cukup berbahaya, kadang rawan di jalan raya kalau saya membawa uang cash cukup banyak.” Jelas Indri.

Baik, ya sudah. Tolong segera atur dengan customer luar negeri, itu tugas utama kamu.”
Ya pak, Indri permisi dulu.”

Indri meninggalkan ruangan bosnya, dan kembali ke ruangannya sendiri. Dia segera melaksanakan tugas yang diperintahkan oleh bosnya itu. Bagi Indri itu hal yang mudah, dia sudah terbiasa berkomunikasi dengan customer-customer dari luar negeri. Menghadapi negosiasi harga, melayani Customer Complain Services, dan melakukan promosi produk perusahaan, itu semua hal yang sangat-sangat biasa. Sangat mudah bagi Indri. Hal yang sulit bagi Indri saat ini adalah berdamai dengan hatinya sendiri. Sampai saat ini, nuraninya terus memberontak. Hatinya kian menjerit hingga batin Indri tersiksa.
***

Berhubung ditulis di blog, sehingga saya buat dua halaman.

Terima kasih telah membaca postingan pada blog saya. Silakan tinggalkan komentar, dimohon jangan menggunakan link hidup.
Terima kasih.
:) :)