Serba-serbi PJJ yang Bikin Rempong

School From Home

Seperti yang sudah kita tahu sebelumnya, bahwa virus Corona membawa dampak ke mana-mana, termasuk ke kegiatan sekolah anak-anak. Karena mau tidak mau mengharuskan sekolah daring/online. Bagi yang tinggal di kota dan memiliki peralatan dan fasilitas yang cukup, saya rasa tidak ada hambatan. Hanya perlu fokus untuk mengikuti instruksi guru by online. Tetapi bagaimana dengan sekolah-sekolah yang ada di desa? Bukan hanya peralatan untuk sekolah secara online saja yang perlu disiapkan melainkan juga keadaan signal yang perlu diperhatikan juga.


Belum lagi ditambah kondisi psikis orang tua dan anak-anak yang tidak menentu. Sebagian orang tua mengeluh karena anaknya susah sekali diatur di dalam rumah. Hingga membuat mereka emosi dan berujung memarahi anak. Sungguh sangat disayangkan dengan adanya hal-hal seperti ini, karena hal itu terus berlanjut sampai nanti sekolah dibuka. Dan masih banyak lagi hal-hal yang terjadi adanya Pelajaran Jarak Jauh (PJJ) selama pandemi.


Drama yang Terjadi Ketika Sekolah Harus PJJ


1. Susahnya Mencari Jaringan Internet

Karena kami di desa, tentu permasalahan jaringan internet itu menjadi hal utama. Kedua adik saya itu kalau sekolah suka mengeluhkan enggak ada internet. Membuka zoom katanya hanya 'uwer-uwer' terus tidak terkonek-konek. Al hasil, seringnya mereka PJJ di halaman rumah, kadang di samping rumah. Tergantung itu signal ada di mana.


2. Kuota Internet Cepat Habis

Ini juga menjadi persoalaan di rumah kami. Karena sering untuk zoom, terus melihat video yang dibagikan oleh guru, kemudian foto dan dokumen yang perlu dibuka melalui internet, tentu saja kuota yang dibutuhkan juga makin meningkat. Rasanya cepat sekali itu kuota yang 15 GB belum dua minggu sudah habis.


3. Anak-anak Menjadi Lebih Malas

Saya harap ini terjadi pada kedua adik saya saja yang memang mereka malas. Setiap pagi, pintu kamar mereka harus digedor-gedor agar masuk kelas secara online. Kita yang sebagai orang tua atau walinya itu sangat gregetan. Kita harus selalu tanya, sudah absen belum? Sudah baca instruksi guru untuk MaPel A, B, atau C, belum? Dan mereka hanya menjawab, "Iya, sudah."


Kemalasan mereka juga bukan hanya itu saja, tugas yang diinstruksikan oleh guru, seringnya mereka mengerjakannya mepet deadline. Pas siangnya mereka sibuk bermain atau bahkan ngegame di HP yang bikin Mama kami menjadi emosi tinggi karena anak-anak pada melototin HP buat main-main. Kalau sudah begini, kadang kami suka menjadi khilaf mencubit mereka, dan selanjutnya drama anak-anak jadi makin ngambek buat belajar. Asli, bikin ngelus dada.


School From Home

Dan itulah beberapa drama ketika anak-anak sekolah di rumah. Selain itu, permasalahan yang lainnya ketika anak-anak sekolah secara online ialah komunikasi dengan guru yang amburadul. Kebetulan saya masuk di seluruh grup mata pelajaran dan grup kelas VII untuk adik saya yang bungsu. Seharusnya Mama kami yang ikutan grup WA itu, tapi katanya rempong dan masih gaptek, jadi saya ikut join di situ. Dari pertama masuk grup sampai sekarang, saya bisa menyimpulkan bahwa anak-anak sekarang itu beda jauh dengan anak-anak zaman dulu, bahkan tutur kata meksipun melalui tulisan, mereka cenderung semena-mena. Dan menurut saya pribadi, prilaku atau sikap tersebut kurang baik, terlebih mereka ialah anak-anak sekolah yang dari kecil juga dididik oleh orang tua dan guru.


Perilaku atau Sikap Anak-anak yang Kurang Baik Terjadi Ketika Belajar Online


Banyak sekali yang terjadi ketika belajar online terjadi, bahkan tak jarang membuat kesal ibu atau bapak guru yang memberikan pengarahan belajar online. Dan berikut beberapa hal yang seharusnya tidak terjadi ketika belajar online:


School From Home

1. Malas Membaca Apa yang Dishare Oleh Guru

Untuk mempermudahkan belajar online, setiap Mapel dan Kelas ada grup WA. Sehingga informasi bisa dikirim cepat oleh bapak atau ibu guru. Selain itu, wali kelas juga bisa dengan mudah mengirim jadwal kelas, jadwal piket, dan lainnya yang berkaitan dengan perwalian. Namun, kelas online tidak semudah yang dibayangkan, informasi yang telah disampaikan tidak dibaca dengan detail, seringnya anak-anak tanya untuk hal sama dan sudah dijelaskan. Sampai-sampai wali kelas mengatakan, "Kalau ada infornasi yang disampaikan dibaca dulu dengan baik, informasi itu sudah jelas, jangan menanyakan hal yang sama berulang-ulang,"


Saya yang melihatnya langsung di WAG kelas, tepok jidat. Kok ya anak-anak sekarang begitu? Enggak mau memahami dulu apa yang disampaikan dan langsung tanya, ini dan itu, padahal sudah ditulis dengan lengkap dan jelas.


2. Buru-buru Mengerjakan Tugas

Ini adalah buntut dari tidak mau membaca. Guru memberikan tugas di Google Classroom, isinya itu ada presensi kehadiran, materi mata pelajaran dan tugas yang harus dikerjakan melalui Google Form. Nah, kebanyakan dari mereka, setelah mengisi presensi kehadiran langsung menuju mengerjakan soal-soal dengan asal menjawab. Otomatis hasilnya jeblok dong, masa mengerjakan soal di rumah yang bebas baca buku atau baca materi yang sudah disediakan, nilainya itu masih banyak yang dapat 60 atau bahkan ada yang di bawahnya.Tentu hal ini membuat guru menegur siswa. "Kalau kalian mengerjakan tugas, materinya dibaca dulu, jangan langsung mengerjakannya, jadi nilainya tidak 40, 50,"


Saya mengernyitkan alis ketika membaca pesan di WAG salah satu mata pelajaran. Kok bisa sih ada anak-anak yang begitu malas membaca?


3. Ada yang Tidak Mengerjakan Tugas

Entah karena kelalaian dari murid atau saking malasnya, sampai-sampai tugas yang mudah pun tidak dikerjakan. Padahal itu tugas yang cukup mudah, yaitu Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam. Guru memberikan tugas hanya sekali di Google Classroom pada tanggal 26 Juli 2020. Masa ya mau sebulan sampai pertengahan Agustus 2020 masih ada yang belum mengerjakan tugasnya. Akhirnya guru tersebut melapor ke wali kelas untuk menegur anak kelasnya. Kan otomatis wali kelas langsung menasehati seluruh siswanya di WAG, agar tugas yang diberikan oleh guru mata pelajaran, dikerjakan jangan sampai terlambat.


4. Tidak Sopan Terhadap Guru

Di awal masuk WAG, wali kelas telah menyampaikan informasi tentang tata cara bertanya kepada bapak/ibu guru dengan baik dan benar atau sopan. Meskipun komunikasi hanya melalui Whatsapp, sopan santun harus tetap di jaga. Tapi nyatanya masih ada anak yang seenaknya sendiri di grup. Ada seorang anak yang kalau gurunya memberikan arahan, terus dia reply. Ketika guru tidak langsung membalasnya, dia reply lagi dengan hanya mengetik, "P," sampai berkali-kali. Teman-teman sudah banyak yang menegurnya tapi tetap saja diabaikan. Pada akhirnya guru tersebut marah dan mengeluarkannya dari WAG.


5. Masih Ada Anak-anak yang Share Informasi Tidak Jelas

Sepertinya hoby membagikan hal yang hoax sudah mengakar di kalangan masyarakat kita termasuk anak-anak. Ada beberapa dari mereka yang suka membagikan info tidak jelas seperti, share logo baterai yang katanya bisa membuat baterai HP full terus, share ulang tahun Whatsapp nanti dapat kuota, share tentang informasi yang meminta agar dibagikan ke minimal lima WAG, dan lainnya. Tentu infomasi yang dibagikan ialah hoax belaka hanya untuk spam.


Saya miris melihat hal-hal yang begitu. Karena anak-anak yang terdidik pun masih suka seenaknya sendiri dan belum mampu mencerna informasi yang didapat. Dan saya jadi bertanya-tanya sendiri, "Apakah memang tingkat minat baca anak-anak di daerah kami sangatlah rendah?"


Melihat kejadian-kejadian yang ada di WAG, anak-anak sekarang, sebagian besar suka melakukan apa-apa seenak hatinya. Tidak peduli benar atau salah. Tak heran para guru juga sebenarnya jauh lebih lelah mengajar secara daring begini, pun sama dengan para orang tua siswa.


Semoga pandemi segera berakhir, karena saya juga sudah sangat stress kalau menemani adik saya belajar daring. Jadinya malah ribut.


Terima kasih teman-teman yang sudah mau membaca curhatan saya. Tetap semangat dan jaga kesehatan, ya.

No comments

Terima kasih telah membaca postingan pada blog saya. Silakan tinggalkan komentar, dimohon jangan menggunakan link hidup.
Terima kasih.
:) :)