Cinta yang Terbalaskan Lelucon

by - 11:48:00 AM

Masa remaja, masa di mana manusia mulai merasakan kebahagiaan dan kesedihan. Silih berganti, datang dan pergi tanpa permisi layaknya angin yang berhembus. Remaja, juga diidentikan mereka mulai jatuh cinta. Mereka menganggap cinta itu sumber kebahagiaan yang hakiki, meski sesungguhnya cinta mampu memporak-porandakan hati dan jiwa.

Dari segenap rasa tulus dan percaya, cinta itu hadir pada seorang gadis yang baru saja menamatkan sekolah berseragam putih abu-abu. Gadis berusia delapan belas tahun itu memang tidak melanjutkan kuliah, dia berencana akan membiayai kuliah sendiri sehingga dia bekerja. Untuk pengalaman pertama, dia bekerja di sebuah cafe. Dan di situlah kisahnya dimulai.

Dari hari pertama kerja tidak ada sesuatu yang aneh, seperti biasanya. Namun, di hari ke seratus satunya, dia melihat sosok pemuda manis yang menggoda hatinya. Pemuda yang merupakan pelanggan cafe itu telah menarik perhatian Riana. Bahkan saat Riana membawa makanan dan minuman pesanannya, ia merasa gugup. Padahal mereka baru pertama kali bertemu. Gila? Ya, mungkin gila, mungkin juga jatuh cinta pada pandangan pertama.

Sejak saat itu, Riana terus memikirkan pemuda yang belum diketahui namanya. Malam-malam yang panjang menguntai rindu memaksanya hanyut dalam penantian. Berharap bisa bertatap muka dengannya. Berharap cintanya itu akan terbalaskan.

Bak pucuk dicita ikan pun datang, suatu sore pemuda tampan itu hadir lagi di cafe. Diam-diam Riana memperhatikannya, ingin rasanya dia yang menyuguhkan hidangan untuk sang pujaan hati. Namun sudah dilakukan oleh temannya, Indri.

Dengan ragu dan berat hati, Riana berani berucap, "Ndri, itu cowok siapa ya? Kayaknya aku pernah lihat deh," Riana sok kenal dengan pemuda itu.

"Masa sih? Kenal di mana?" Indri belum curiga akan pertanyaan Riana.

"Iya, Ndri, cuma aku lupa, mau nyapa jadinya enggak enak, takut salah orang," balasnya yang penuh kebohongan.

"Kamu tahu, enggak siapa namanya?" Lanjutnya

"Itu cowok namanya Dion, dia ahli desain grafis, dia ke sini itu diundang sama pemilik cafe, buat ngedesain dinding cafe ini," jelas Indri.

"Oh gitu, pantas aku pernah lihat dia kapan hari sama Pak Dylan,"

Tanpa ada yang mencurigai, obrolan di dapur itu membawa Riana mengetahui sosok laki-laki tampan yang dipuja-pujanya. Rasanya sangat sejuk, seperti meneguk kesegaran dari jus mangga yang sedang dibuatnya untuk pelanggan.

Kegilaan Riana semakin menjadi. Dia terus berusaha mencari tahu siapa sosok Dion yang sebenarnya. Beruntung saat ini di zaman internet dan mudah untuk mencari data, terlebih memiliki akun media sosial. Pencarian itu berhasil, dia menemukan semua jejaring sosial bahkan contact BBM dan WA.

Bahagia! Satu kata yang mampu untuk mengungkapkan rasa karena BBM Dion sudah masuk dalam conctactnya. Berjalannya waktu Riana terus menyapa Dion, meski jawabannya singkat. Tapi tak pernah putus asa, dia selalu menanyakan kabar, mengucapkan salam, mengingatkan dia untuk ibadah. Namun, jawaban Dion tetap saja dengan hari-hari yang lalu, singkat, jelas dan padat.

Dion yang memang ahli desain grafis, pendiam dan cuek. Lebih menyukai laptop dan karya seni ketimbang meladeni obrolan basa basi. Baginya, art merupakan dunianya. Seni mampu menjadi tempat curahan hati, ekspresi, tantangan dan keindahan. Dion sangat rela menghabiskan waktu berjam-jam bahkan seharian penuh hanya untuk mendesain. Sebab itu, hanya singkat menjawab pertanyaan dari Riana.

Obrolan-obrolan itu hanya mengganggu konsentrasi dan pemikiran jernih untuk merangkaikan sebuh ilusi abstrak dan menjadikannya sebuah karya. Namun, siapa sangka, sosok Riana itu sedikit berani memancing emosinya di chat BBM.

"Malam, Kak Dion," sapanya.

"Malam juga,"

"Kak Dion lagi apa? Udah makan? Jaga kesehatan ya, jangan begadang,"

"Iya,"

"Kak, Riana boleh ngomong sesuatu, enggak?"

"Ya,"

"Kak, sebenernya aku kagum sama Kakak, bisa ngedesain banyak hal. Dari grafity, doodle, bahkan tata letak ruang. Riana salut banget sama Kak Dion,"

"Makasih,"

"Eh, sebenernya Riana bukan sekedar kagum loh sama Kakak, tapi sangat-sangat kagum,"

Chatingan itu berakhir tanpa balasan lagi dari Dion yang cuek tetapi mampu menyedot perhatian Riana. Dia terus menerus memberikan semangat dan sapaan setiap hari. Karena merasa terganggu dan gagal fokus, Dion membuang contact Riana. BBM tak ada, tak masalah, masih ada WA untuk berkomunikasi, terlebih Dion telah menjelaskan bahwa BBMnya bukan untuk cewek melainkan hanya untuk diskusi dengan master-master desainer.

Bukan Riana bila patah semangat, tiap kali Dion ke cafe untuk menggarap desain dinding, dia selalu memutarkan lagu Dia by Anji, sampai-sampai semua pegawai di cafe itu bosan mendengar lagu itu . Tak cuma itu, Riana membuatkan minuman khusus untuk Dion dengan penuh cinta.

***

Silih waktu terus berganti menjadi berbulan-bulan. Dalam setiap doa yang dipanjatkan hanya ada satu nama, Dion. Cinta tulus terus tumbuh dan bersemi di hati Riana. Meski dia akhirnya harus pergi meninggalkan kota kelahiran, dia mendapatkan pekerjaan di ibu kota.

Untuk mengobati rasa rindunya, diam-diam mencuri foto Dion dari akun media sosialnya. Riana terus semangat dan tetap semangat untuk menunggu cintanya bersambut.

Hingga suatu hari, Dion melakukan sesuatu di luar dugaan. Saat itu cafe mengadakan event untuk open mic, menyediakan tempat bagi komika-komika lokal untuk unjuk gigi. Tak disangka dan dinyana, Dion ikut tampil. Yang menggelitik, semua materi yang disampaikan merupakan obrolan dia dengan Riana melalui BBM dan WA. Bahkan yang menyakitkan, dia merasa tidak pernah mengenal gadis yang bernama Riana. Dia menyebutnya dalam materi Si Gadis Pengejar Cinta. Semua orang tertawa, terhibur dan bahagia dengan pancelan-pancelan Dion. Namun, tak ada yang tahu betapa hancurnya Riana ketika cintanya dijadikan bahan lelucon.

Saat temannya menceritakan semua, bahwa Dion membeberkan obrolannya dengan gadis di acara open mic, hati Riana semakin teriris. Luka di hati menganga dan bercampur aduk.

Dengan jarak yang telah semakin menjauh, rindu, cinta dan kesal lebur menjadi satu. Dion, mengapa sampai tega melakukan hal itu.

"Dion, kamu tega!" Teriaknya, sendiri dalam kesunyian di balik jendela kamar.


***TAMAT***

You May Also Like

15 comments

  1. Bagus mba ceritanya, btw tp Riana PD banget yak wkkwkw aku si ga berani klo jadi Riana ;p

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahha, makasih.. aah... aku lagi pengen buat cerita yang beda :D biasanya aku kalau buat cerita ceweknya yang agak gimana gitu.. nah ini ceweknya yang pantang menyerah deh pokoknya

      Delete
  2. iya mba, masa remaja memang mulai merasakan kebahagiaan dan kesedihan, apalagi dalam masalah cinta hehehee ..

    ehh kok itu kak Dion ngebalesnya simple amat ya :(

    ReplyDelete
  3. Jujur mbak saya mengalaminya saat ini jadi bacanya kena banget ke hatinya tapi dibalik semua yang saya rasakan pasti ada hikmahnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. walaah, pas banget dengan kisahmu.. tapi aku gak nyontek kisahmu loh ya, hiihi.. tetap semangat deh..

      Delete
  4. duh.. open mic... jadi teringat...
    *eh lho malah curhat*

    ReplyDelete
  5. Huwahahhaha open mic, jadi inget minggu lalu nganterin adek yg penelitian skripsi ke para komika waktu open mic. Aduh itu Dion jahat banget ya, aku sih dicuekin aja udag sebel apalagi ampe dibikin bahan pen mic, haduh kalo aku langsung ilfeel deh ama laki macam Dion.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaa.. padahal cinta Riana tulus lohhh... aku yg buat aja sampai sebel ama Dion

      Delete
  6. kisah yang mungkin dapat menginspirasi para remaja bahwa perasaan percaya diri yang ditunjukkkan Riana menjadi wajar dilakukan dijaman sekarang ini...hiii agresif deh ih...neng Riana teh

    ReplyDelete
  7. Riana salah sasaran, cari yg lebih OK dari Dion :)

    ReplyDelete
  8. Semoga bisa move on ya mbak :) takes time tapi bisalah :) *peluk

    ReplyDelete

Terima kasih telah membaca postingan pada blog saya. Silakan tinggalkan komentar, dimohon jangan menggunakan link hidup.
Terima kasih.
:) :)

Labels

Teman-teman Blogger

Member Of

Member Of