Kunci Keberkahan Hidup

by - 7:22:00 AM




7:96 

 
Dan sekiranya suatu penduduk negeri beriman dan bertakwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka dengan apa yang mereka kerjakan." (Q.S. Al-A'raf [7]:96)

Kebahagiaan hidup merupakan dambaan setiap orang. Ada pun sumber kebahagiaan itu hanyalah dari Allah Yang Maha Rahman dan Rahim. Salah satu sebab kebahagian, karena adanya keberkahan dalam kehidupan. Dan kunci meraih keberkahan hidup itu adalah benar serta kokohnya keimanan dan ketakwaan kepada Allah.

Kalimat barakâtin pada ayat di atas bentuk jamak dari barakah. Secara bahasa bermakna ast-tsubût (tetap), al-luzûm (terus melekat), an-namâ (berkembang) az-ziyâdah (kebahagiaan). Dengan demikian, keberkahan merupakan kebaikan yang bersumber dari Allah yang ditetapkan atas sesuatu sebagaimana mestinya sehingga apa yang diperoleh dan dimiliki akan selalu berkembang dan bertambah manfaat dan kebaikannya, untuk meraih kebahagiaan.

Syaikh Sya'rawi mengilustrasikan hakikat keberkahan, dengan seorang pegawai yang memperoleh gaji terbatas, namun dapat hidup bersama istri dan anak-anak dalam keadaan bahagia serta damai tanpa ada kesusahan. Timbul pertanyaan ; "bagaiman mereka dapat hidup bahagia?" Jawabannya adalah "karena berkah."

Buya Hamka dalam tafsir Al-Azhar menguraikan, bahwa keimanan dan takwa kepada Allah akan membuka pintu rezeki, sebab pikirannya terbuka dan ilham pun datang. Mampu membangun silaturahim dan kerjasama yang baik. Sehingga turunlah keberkahan dari langit dan menyembur berkah dari bumi. Beliau menyebutkan, bahwa keberkahan ada dua macam :
Pertama, yang hakiki yaitu berupa hujan yang membawa kesuburan bumi, maka suburlah tumbuhan dan keluarlah segala hasil bumi.

Kedua, yang maknawi, yaitu timbulnya fikiran-fikiran yang baru dan petunjuk dari Allah, baik berupa wahyu yang dibawakan oleh Rasul atau ilham yang ditumpahkan oleh Allah kepada orang-orang yang berjuang dengan ikhlas.

Bentuk Keberkahan
Secara umum, keberkahan yang diberikan Allah kepada orang-orang yang beriman bisa kita bagi ke dalam tiga bentuk berikut :
Pertama, berkah dalam makanan. Syarat memperoleh keberkahan pada makanan adalah halal dan thayyib. Sebagaimana Firman Allah, "Dan makanlah dari apa yang telah diberikan Allah kepadamu sebagai rezeki yang halal dan baik, dan bertakwalah kepada yang kamu beriman kepada-NYA." (Q.S. Al-Mâidah [5] :88)

Bagi orang yang beriman, makanan bukan sekedar untuk mengenyangkan. Namun bernilai ibadah, maka ia harus memperhatikam aspek halal dan thayyib, dari sisi cara mendapatkannya, kandungan zatnya dan cara pengolahannya, termasuk berdo'a sebelum makan. Sehingga apa yang kita makan, akan Allah tambahkan kebaikan dan manfaatnya, serta menjadikan kita semakin bersemangat dalam menunaikan ibadah kepada-NYA. Sebaliknya kita harus menghindari makanan yang haram, seperti hasil menipu, korupsi, suap, minuman keras, dan lain sebagainya. Selain tidak berkah dan tidak menyehatkan, termasuk sebagai penghalang atas dikabulkannya do'a kita oleh Allah..

Kedua, berkah dalam keturunan. Keberkahan dalam keturunan adalah dengan lahirnya anak cucu yang shaleh. Menjadi generasi yang kuat imannya, luas ilmunya dan banyak amal shalehnya. Sebagaimana dikisahkan Allah dalam Al-Quran mengenai Nabi Ibrahim a.s dan istrinya Sarah. "Dan istrinya berdiri (di balik tirai) lalu tersenyum. Maka Kami sampaikan kepadanya kabar gembira tentang (kelahiran) Ishaq dan dari Ishaq (akan lahir putranya) Ya'qub. Dia (istrinya) berkata, 'sungguh ajaib, mungkinkah aku akan melahirkan anak, padahal aku sudah tua, dan suamiku pun sudah dalam keadaan sudah tua pula? Sesungguhnya ini benar-benar sesuatu yang sangat ajaib.' Mereka (para malaikat) berkata, mengapa engkau merasa heran tentang ketetapan Allah? (itu adalah) rahmat dan keberkahan-NYA (barakâtu), dicurahkan kepada kamu, wahai ahlul bait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji dan Maha Pengasih." (Q.S. Hûd [11] : 71-73)

Keturunan yang shaleh merupakan dambaan kita semua, namun generasi yang shaleh akan lahir dari orang tua yang shaleh pula serta mendidiknya secara benar dan baik. Keturunan yang shaleh, tidak hanya membawa keberkahan ketika seseorang masih hidup, bahkan ia menjadi investasi pahala yang terus mengalir ketika sudah wafat dan di akhirat kelak. Selain membawa kebahagiaan dan penyejuk hati, anak juga bisa menjadi ujian dan musibah apabila tidak dididik berlandaskan iman dan mengharapkan bimbingan Allah. Oleh karena itu, jangan heran bila kita menyaksikan fenomena anak yang sulit diatur, melawan orang tua, bahkan sampai tega membunuh orang tua yang telah membesarkannya.

Ketiga, berkah dalam waktu. Waktu yang tersedia dimanfaatkan untuk kebaikan, merupakan keberkahan yang menghindarkan kita dari kerugian. Oleh karena itu, agar umur semakin berkah harus diisi dengan iman, amal shaleh, saling menasehati dan menegakkan amar ma'ruf nayi munkar. Allah berfirman, "Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan amal shaleh serta saling nasihat-menasihati dalam kebenaran dan saling nasihat dan menasihati dalam kesabaran." (Q.S. Al-'Ashr : 1-3).

Adapun kunci untuk memperoleh keberkahan hidup, di antaranya ada dua upaya, yaitu :

1. Iman dan takwa yang benar serta kokoh. Pada ayat di atas, sudah dikemukaan bahwa Allah akan menganugerahkan keberkahan kepada hamba-hamba yang beriman dan bertakwa kepada-NYA. Ibnu Katsir menjelaskan, yaitu hati mereka beriman kepada ajaran yang dibawa oleh Rasul, membenarkannya dan mengikutinya, serta bertakwa dengan melaksanakan ketaatan dan meninggalkan perkara yang diharamkan.

2. Berpedoman dan mengamalkan nilai-nilai Al-Quran. Al-Quran merupakan sumber keberkahan, sehingga apabila kita menjalankan pesan Al-Quran dan berpedoman kepadanya, niscaya kita akan memperoleh keberkahan. Allah berfirman, "Dan Al Quran ini adalah suatu Kitab (peringatan) yang mempunyai berkah yang telah Kami turunkan. Maka mengapakah kamu mengingkarinya?" (Q.S. Shâd [38] : 50).

Al-Quran dan Al-Hadist merupakan warisan Rasulullah, yang apa bila kita berpegang teguh kepadanya, niscaya tidak akan pernah tersesat untuk selamanya. Oleh karena itu, untuk meraih keberkahan, maka kita harus menjadikan diri kita dan keturunan, untuk selalu dekat dengan Al-Quran; membaca, mempelajari dan mengamalkannya di dalam kehidupan. Namun pada akhir ayat di atas, Allah pun menegaskan, bahwa sebagian manusia tidak beriman, justru mendustakan ayat-ayat-Nya, melakukan perbuatan syirik dan bermaksiat, maka Allah, akan mengadzabnya disebabkan perbuatannya.

Sehingga bila iman dan takwa tak lagi subur dan kokoh, maka segala nikmat dan keberkahan akan Allah angkat dan cabut, sehingga musibah datang silih berganti. Hujan bukan lagi rahmat, tapi menjadi azab baginya, bukan memberikan kesuburan melainkan banjir yang merugikan. Interaksi sosial yang tercabut dari nilai ukhuwah, sehingga maraknya tawuran dan permusuhan, meskipun terhadap orang tuanya. Karena tidak dibangun berdasarkan konsep serta aplikasi iman dan takwa.

Oleh karena itu, kita harus menjadikan iman dan takwa sebagai perhiasan diri dalam akhlak, bukan slogan dan retorika. Tapi terwujud dalam seluruh aspek kehidupan, baik keluarga maupun masyarakat.
Wallahu A'lam.


Sumber : Buletin Da'wah oleh Muhammad Zaini.

You May Also Like

0 comments

Terima kasih telah membaca postingan pada blog saya. Silakan tinggalkan komentar, dimohon jangan menggunakan link hidup.
Terima kasih.
:) :)

Labels

Teman-teman Blogger

Member Of

Member Of