Cinta Yang Tak Sempurna #Part - 4


***Part Sebelumnya...

Malam pengantin baru, seharusnya menjadi malam yang bahagia dan indah untuk Anton dan Callisa. Tapi justru sebaliknya, dengan penuh emosi Anton mendatangi rumah Ferdy. Dia berteriak-teriak memanggil Ferdy, rasa amarah, kecewa dan kesal menjadi satu menguasi dirinya.

"FEEERDYYYY....!! Dimana Kau..?! Keluar kau pengecut!" Kala itu Ferdy hendak ingin beristirahat, mendengar teriakan Anton, Ferdy pun turun dari tempat tidurnya. Dia berusaha tenang, karena hal ini sudah terpikirkan oleh Ferdy. Ferdy menyadarinya, bahkan sangat sandar dan sangat tahu Anton akan marah besar padanya. Ferdy kian mendekati Anton, dan berucap "Aku disini Nton, tak perlu kau teriak-teriak, aku bukan seorang pecundang yang melarikan diri dari masalah." Anton kian geram mendengar ucapan Ferdy. Ia pun mendekatinya, mengepalkan jemari tangan kanannya, dan "Bleekkkkk...." Suara pukulan Anton ke wajah Ferdy terdengar jelas. Ferdy masih tetap tenang, dia hanya mengusap bibirnya yang pecah dengan tangannya."Jika kau belum puas, pukul aku lagi, jika itu bisa membuat mu senang." Perintah Ferdy ke Anton. Anton kian memanas, dan kembali memukul wajah Ferdy. Ferdy tetap terdiam, dan tak membalas, dia seperti pasrah apa yang akan dilakukan oleh saudara sepupunya itu. "Brengsek kau Fer, selama ini sembunyikan dia dariku! Saudara macam apa kau ini..?!"

Emosi Anton masih belum menurun. Dia menarik kerah baju Ferdy, "Dimana kau sembunyikan dia??" Lanjutnya. Ferdy melepaskan genggaman kerahnya dari Anton, dan berkata, "Aku akan memberitahukan kepadamu setelah otakmu dingin dan emosimu menurun."

"Ah.. katakan saja dimana dia, atau jangan-jangan kau tak mau memberitahukan kepadaku karena kau juga mencintainya kan??!!" Anton menuduh Ferdy, kalau dia juga mencitai Vina. Ferdy tersenyum sembari menahan rasa perih karena bibirnya pecah, dan menjawab, "Aku bukanlah dirimu yang selalu bisa mempermainkan hati wanita. Aku bukanlah dirimu yang tak bisa jujur pada diri sendiri. Aku bukanlah dirimu yang tak punya keberanian untuk memperjuangkan cinta. Dan aku bukanlah dirimu yang bisa berganti-ganti pasangan seenaknya saja." 

Anton kian terbakar, emosi kian memuncak, "Blllllllllllekkkkkkkkkkk...!!!" Kali ini pukulan Anton lebih keras, sampai Ferdy tersungkur.

"Baiklah, jika kau tak mau mengatakannya, biar aku cari sendiri, dan dengan caraku sendiri." Anton beranjak pergi, saat Anton sudah di depan pintu, Ferdy menjawabnya, "Dia tinggal di Tebet, Jalan Mawar No. 8, dua blok dari hotel itu. Jika kau bertemu dengan dia, jangan sakiti dia lagi, kau sudah menikah. Jangan buat mimpi yang palsu untuk dia. Dia juga harus bisa bahagia meski bukan denganmu. Biarkan dia menjalani kehidupannya tanpa dirimu, mungkin itu akan lebih baik untuk kau dan dia. Karena kau juga harus sadar, pendamping hidupmu Callisa bukan Vina, meskipun di hatimu hanya ada Vina. Cobalah terima kenyataan itu, agar kau juga bisa merasakan betapa tulus cinta Vina untukmu. Jangan kau paksakan sesuatu yang tak bisa kau lakukan. Itu hanya akan membuat sakit hati dirimu, Vina dan juga Callisa."

"Bukan urusanmu apa yang akan aku lakukan, dan bukan urusanmu juga apa yang akan terjadi dengaku."
Anton mulai berlalu dari pandangan Ferdy.

Ferdy hanya menghela nafas melihat tingkah laku sepupunya yang sulit untuk dimengerti. Hanya bisa berharap semua akan baik-baik saja tanpa harus ada yang terluka lagi. Teringat dengan Vina, tak pikir lama Ferdy pun menghubungi Vina, tapi tak ada jawaban. Akhirnya Ferdy memutuskan untuk menyusul Anton ke tempat Vina.

Malam semakin larut, hujan mulai turun. Anton melaju dengan kecepatan tinggi, tak berapa lama dia sampai di depan rumah Vina. Terlihat sunyi di rumah itu, seperti kosong tak ada orang. Lampu yang menyala hanya lampu teras dan lampu taman. Anton masih ragu kalau Vina tinggal di rumah ini. Dia berpikir Ferdy membohonginya. Anton hendak turun dan menekan bel di pintu gerbang, tapi masih ragu, dia takut kalau salah orang malah bisa mengganggu istirahat orang lain. Dia mengambil ponselnya, mencari no ponsel Vina. Ternyata dia masih menyimpannya. lebih dari lima kali panggilan, tak ada jawaban dari Vina, Anton terus menurus mencoba menghubunginya.

Dengan badan yang lemah dan mata yang terasa sakit karena menangis, Vina mencari ponselnya yang dari tadi berdering terus. "Aduuuh, siapa sich malam-malam gini nelpon?" gerutunya. Panggilan dari nomor baru masuk ke ponsel Vina, tetapi ia sangat kenal dengan nomor itu, dengan ragu Vina menjawab,
"Ha lloo.."

"Vina, maafkan mas, bisa kita bicara sebentar? Biar mas jelaskan semuanya" pinta Anton ke Vina.

"Tak  ada lagi yang perlu dijelaskan mas, Vina sudah melihat dengan mata kepala Vina sendiri, untuk apa mas menjelaskan?" Tubuhnya menggigil dan air matanya mulai terurai tak tertahankan.

"Mas mohon Vin, mas harus jelasin ini semua. Mas sudah di depan rumah kamu, keluarlah, biar kita bisa bicara baik-baik."
 Vina kaget dan langsung beranjak menuju jendela, melihat apakah benar Anton sudah ada di depan rumahnya. Dan memang benar, Anton sudah di depan rumah.

"Lebih baik mas pulang, ini sudah malam dan hujan pula."

"Tidak, mas tidak akan pulang sebelum kamu menemui mas." Anton keluar dari mobil dan bersandar di mobilnya. Dia sengaja membiarkan diri kehujanan, karena yakin Vina pasti akan menemuinya.

Vina hanya bisa menangis, di dalam hatinya dia juga sangat merindukan Anton, tetapi keadaan sekarang juga sudah sangat berbeda. Anton telah menjadi milik Callisa seutuhnya. Air matanya kia terurai, sesekali menengok Anton dari jendela, dan Anton masih ada di luar. Vina tak tega melihat Anton kehujanan, pasti dia akan sakit. Dengan badan yang menggigil dan terhuyung-huyung, Vina mengambil handuk dan payung. Dengan langkah yang tertatih-tatih dia akan menemui Anton. Dengan nafas yang terengah-engah, Vina melangkah mendekati Anton. Semakin dekat jarak mereka. Rasanya bahagia melihatnya kembali, tetapi  juga sedih ketika sadar bahwa Anton telah menikah. Vina mencoba membuka pintu gerbang, tetapi tubuhnya bergemetar sehingga kuncinya terjatuh. Anton mendekat dan mengambilkan serta membukakan pintu gerbangnya. Anton langsung  memeluk Vina dengan erat, payung yang digenggamnya terhempas, mereka berdua larut dalam derasnya hujan malam. "Aku sangat merindukanmu.." bisik Anton ke Vina, air matanya pun terurai. Vina tak bisa berkata-kata, dia hanya bisa menangis.

"Jangan pergi dari hidupku, mas mohon, jangan pergi dari hidupku." Lanjut Anton, dia merasa takut kehilangan Vina.

"Tapi mas miliknya, bagaimana aku bisa ada di dalam hidupmu?" Jawab Vina dengan lirih, nyaris tak terdengar suaranya.

"Mas akan memperjuangkannya, bahwa hanya dirimulah yang seharusnya menjadi teman sepanjang hidupku, teman saat aku bahagia, teman saat aku terjatuh, dan teman saat aku rapuh. Hanya dirimu yang sanggup memahamiku. Hanya dirimu yang bisa membaca mataku dengan sempurna. Dan hanya dirimu yang sanggup menggetarkan hatiku." Anton kian erat memeluk Vina, dan ternyata tubuh Vina sudah semakin menggigil, rasa dingin telah merasuk hingga ke tulang sum-sumnya. 

"Mau sampai kapan kalian akan disini? Apa kalian tak cinta dengan badan kalian? Lihatlah Vina sudah menggigil, apa kalian akan memaksa untuk tetap disini?" Ferdy yang sedari tadi memperhatikan mereka menyadari Vina sudah kedinginan, jika dibiarkan terus maka Vina akan sakit.

"Ferdy? Sejak kapan kau disini?" Anton kaget, tak menyangka Ferdy akan mengikutinya. Begitu juga Vina, dia sangat terkejut karena ada Ferdy.

"Kau pikir aku akan membiarkanmu pergi sendiri dengan keadaanmu yang seperti ini? Meskipun bagiku kau sedikit gila, tapi kau tetap sepupuku." Jelas Ferdy, dan dia memayungi Anton dan Vina.

"Besok masih ada hari, sebaikanya kita pulang, biarkan Vina untuk istirahat. Jika kau benar-benar mencintainya, kau tak akan membiarkannya jatuh sakit." imbuh Ferdy.

"Iya kau benar, baiklah aku akan pulang."

Anton mengantar Vina hingga ke teras, sebelum pergi dia menyapu air  mata Vina dengan tangannya, terasa lembut dan menenangkan. Sambil mengecup kening Vina, dia berkata, "Mas pulang dulu, besok mas kesini lagi."
Vina hanya tersenyum.

"Apa kau yakin akan menyetir mobil dengan keadaan tubuhmu seperti ini?" Celetuk Ferdy saat Anton membuka pintu mobilnya.

"Tingal disini saja mobilnya, kau pulang denganku." tambah Ferdy.
"Oke, jika itu mau kamu." Anton memarkirkan mobilnya di depan rumah Vina. Dan dia pulang dengan naik mobil Ferdy. Untung saja ada Ferdy, kalau tidak, kemungkin terburuk pun bisa saja terjadi ke Anton, karena jalanan licin.

"Antarkan aku di salah satu rumahmu." pinta Anton ke Ferdy.

"Maksudmu?"

"Apa bos perumahan sudah tidak punya rumah lagi? Apa rumahmu sudah laku terjual semua?"

"Sialan kau, pengantin baru macam apa kau ini? Harusnya kau peluk istrimu bukan kekasihmu."

"Sudah-sudah, ikuti saja mauku, kalau tidak, antarkan saja aku di hotel."

##

Callisa emosi, menelpon Anton tetapi tidak pernah ada jawaban, bahka sekarang hp-nya tidak aktif. Saking kesalnya dia melemparkan hp-nya ke dinding kamarnya. Hancur berantakan, dia menangis, dan terluka. "Kemana Anton? Dimana dia? Kenapa dia tak pulang, padahal ini adalah malam pengantin, harusnya dia ada di sini, di sisiku." Callisa terus bertanya-tanya dalam hati. Dia memberantakan semua yang ada di kamarnya, dari bantal, make-up, dan perhiasannya, dia lempar semuanya begitu saja. "Dimana kamu Antooon..??" Suaranya tercampur dengan isak tangis yang kian menjadi.

Ia tak bisa tidur, memikirkan apa yang sebenarnya terjadi. "Benarkah apa yang aku lakukan? Benarkah pilihan untuk menikah dengan Anton?" Pertanyaan itu terus muncul di dalam hatinya. Mengingat-ingat di masa dulu, waktu masih satu sekolah dengan Anton. Memang benar, tatapan mata cinta Anton tak ada lagi untuk Callisa, berbeda dengan masa-masa remaja yhang indah bagi Callisa dengan Anton. Callisa sedikit merasa bersalah menikah dengan Anton. Harusnya ia menolak saat orang tuanya menanyakan. Terpikirkan oleh Callisa untuk segera cerai dengan Anton. Tapi bagaimana dengan keluarga besarnya? Dengan relasi-relasi bisnis orang tuanya. Kalau Callisa  bercerai dengan Anton, itu sama saja membuat malu untuk keluarganya. Tetapi, kenyataannya Anton tidak ada cinta sedikitpun untuk Callisa. "Pasti kamu terpaksa menikah denganku, Nton. Pasti karena permintaan orang tua kita." Ucapnya lirih.

Kini siapa yang sebenarnya terluka dan sakti hati? Vina, Anton atau Callisa? Semuanya ada di tangan Anton, apa dia akan mempertahankan pernikahannya demi keluarga, atau dia akan memperjuangkan cinta sejatinya. Hanya waktu yang akan bisa menjawabnya. Dua orang wanita sama-sama membutuhkan Anton. Satu keluarga dan relasi bisnisnya, dan satunya memang karena cinta. Cinta yang indah yang sulit untuk dilupakan.

Pagi hari sekitar pukul delapan pagi, Callisa mulai membuka matanya. Melihat kamarnya berantakan. Dirinya pun sudah kusut, matanya begitu sembab. Hari ini dia bertekad mencari Anton. Setelah dia mandi dan merapikan diri, dia mencoba untuk pergi mencari Anton. Dia ragu saat membuka pintu kamarnya.
"Tuhan, kuatkan hati ini jika memang Anton mencintai wanita lain." Langkahnya penuh keraguan, ingin menangis lagi, dia mencoba menguatkan diri. Anton harus ketemu dan menyelesaikan masalah ini. Kalaupun pada akhirnya Anton akan pergi meninggalkannya, dia pun harus siap. Siap tidak siap Callisa akan tetap menerimanya. Dia menyadari bahwa pernikahannya ini bukan karena cinta, tapi karena hubungan relasi bisnis.

"Callisa, mau kemana? Kok sendirian, Anton mana?" tanya mamanya saat melihat Callisa membuka pintu mobil.
"Callisa mau mencari Anton, ma"

"Maksud kamu apa? Mencari Anton? Memang dia kemana?" Mama Callisa belum memahami apa yang diucapkan oleh Callisa.
"Ma, apa mama tidak menyadarinya? Lihat saja, mobil Anton juga tidak ada di garasi kan?"

"Kenapa sampai seperti ini? Kalian ada masalah? Harusnya kalian sedang bahagia, kok malah gak jelas seperti ini."

"Udahlah ma, Callisa pergi dulu."

Callisa berlalu dari pandangan mata mamanya. Tak pikir panjang ibu satu orang putri itu langsung masuk ke kamar Callisa. Dan, ia rasanya ingin pingsan, tak sanggup berkata-kata lagi melihat kamar pengantin yang super berantakan seperti kapal pecah, bukan kapal pecah lagi, ini seperti rumah-rumah yang terbawa banjir bandang. Semuanya berserakan tak ada satu pun yang rapi. Baju-baju pun telah Callisa potong-potong, kini bukan baju pengantin lagi, tetapi kain perca. Cermin yang digunakan Callisa bersolek pun telah pecah berantakan. Hiasan di dinding kamar dan foto-foto telah menjadi kepingan sampah di lantai.

"Anton...!! kau benar-benar biadab, kau telah menghancurkan kebahagiaan anak kami satu-satunya." Ungkapnya dengan penuh amarah dan emosi. Mama Callisa tak terima atas perlakuan Anton terhadap putrinya. Ia juga segera pergi mencari tahu kemana Anton.

Pukul sepuluh lewat sepuluh menit di pagi hari yang mulai panas, Ferdy masih terlelap dalam tidurnya. Merasa lelah dan letih setelah melewati kejadian yang berlalu semalam. Dan di teras rumahnya sudah ada dua wanita yang ingin bertemu dengan Ferdy. Yang satu tentunya Sally, sang kekasih hatinya. Sally sudah sangat rindu dan ingin segera bertemu dengan Ferdy. Dan yang satunya lagi adalah Callisa, dia juga ingin bertemu dengan Ferdy, dia ingin menanyakan tentang Anton kepada Ferdy, mana tahu Ferdy bisa menjelaskan tentang Anton.

"Callisa, aku tidak salah lihat? Pengantin baru, tapi kenapa pagi-pagi disini?" Sally meledek Callisa, dia tak tahu apa yang terjadi dengan Callisa.

"Iya Sally, aku ingin bertemu dengan Ferdy, kekasihmu.!" Callisa sedikit ketus.

Sally mengerutkan dahinya, mencoba memahami maksud ucapan Callisa, "Untuk apa perempuan ini ingin bertemu dengan Ferdy?" ungkapnya dalam pikiran.

"Maksud kamu apa Callisa? Kok tumben ingin bertemu dengan Ferdy?"

"Tenang saja Sally, aku kesini bukan untuk menggoda Ferdy, tapi aku kesini untuk mencari tahu tentang Anton." Jawab Callisa. Sally makin bingung, "Tentang Anton? Kenapa tanya ke Ferdy?" Sally masih terus berpikir dan mencerna kalimat dari Callisa.

"Dimana dia Sally?" Callisa mengejutkan Sally dari lamunannya.

"Aku juga belum bertemu dengan Ferdy, aku juga baru sampai di rumah ini, dan ini pintunya masih terkunci."

"Tapi kau punya kunci duplikat rumah ini, bukan?" Callisa kian mendesak Sally.
Sally hanya mengangguk dan membuka pintu rumah Ferdy.

"Silakan masuk.." Sally mempersilakan Callisa untuk masuk.
"Duduk aja dulu, rumah ini masih sepi, mungkin Ferdy masih tidur, biar aku tengok ke kamarnya." Lanjut Sally.

"Okay..!!" Callisa menunggu Ferdy di ruang tamu, dan Sally dengan perasaan tak menentu menuju kamar Ferdy. Berulang-ulang Sally mengetuk pintu kamar dan memanggil nama Ferdy, tetapi tidak ada jawaban apa pun. Sally berinisiatif membuka pintu, dan.. "Ya ampuuuun.. kamu belum bangun....! Udah siang gini,, sayang.. bangun.."

"Sally??" Jawab Ferdy lirih dengan mata sedikit terbuka.

"Iya., bangun,,,,, udah siang, dan itu di bawah ada Callisa sedang menunggumu, katanya ingin bertemu dengan dirimu."

"Haaaah...?? Callisaaaaa...??!!!" Ferdy terkejut dan langsung membuka matanya.

"Ya udah, aku cuci muka dulu, dan tolong buatin minum untuk Callisa, dan.. mmm,, satu lagi kopi untukku..."
Sally cemberut melihat Ferdy langsung semangat bangun ketika mendengar nama "Callisa".

"Heiiii,, jangan cemberut gitu dong maniiiis..., nanti kamu juga akan tahu, kenapa Callisa datang mencariku." Ferdy mengelus pipi Sally dan mengecup keningnya.

"Iiiiihhh.... apa an iniiii.. kamu belum mandi, masih bau.. awas jangan deket-deket."
Ferdy hanya tersenyum dan beranjak ke kamar mandi. Sally juga beranjak ke dapur untuk membuat teh manis untuk Callisa dan kopi untuk Ferdy.

Dalam langkah yang pelan, Ferdy menyiapkan kalimat-kalimat jawaban di otaknya, Ferdy harus siap dengan pertanyaan-pertanyaan yang nanti dikeluarkan oleh Callisa. 

"Dimana Anton?" Callisa langsung tanya ke Ferdy.

"Anton? Kenapa harus tanya ke aku? Bukankah kalian pengantin  baru?" Ferdy mencoba berpura-pura bodoh, seakan-akan tak tahu apa yang terjadi dengan Anton.

"Aku mohon Fer... beri tahu aku dimana Anton?" Callisa mulai menitihkan air matanya, Ferdy menjadi iba melihat Callisa. Haruskah terus-menerus menyembunyikan Anton?
"Kamu pasti tahu Fer, karena Anton kemarin langsung ke sini kan?" Callisa terus memojokkan Ferdy. Ferdy hanya menghela nafas, dan Sally kian bingung. "Kenapa pengantin baru jadi ribet gini?" Ungkapnya dalam hati. Ferdy mulai terpojok dengan permintaan Callisa.
"Fer.. kamu saudara dan sekaligus teman akrabnya, pasti kamu tahu dimana Anton."

"Iyah, semalam memang dia kesini, tapi aku tak tahu kemana dia pergi. Dia hanya meminta kunci rumah di Perumahan." Ferdy menutupi Anton semalam bertemu dengan Vina.

"Rumah yang mana? Beri tahu aku, Fer... "

"Di Perumahan Puri, tapi aku tak tahu dia tinggal di rumah nomor berapa, kemarin dia membawa lima kunci rumah yang belum terjual." Jelas Ferdy ke Callisa.

"Tapi kamu tahu rumah mana saja yang kosong, bukan? Kamu kan pemilik Perumahan itu, pastinya kamu tahu rumah mana saja yang belum terjual!" Callisa semakin mendesak Ferdy.

"Semalam aku memberikan kunci rumah nomor 172. 185, 64, 89, dan 201. Itu kunci yang ku berikan pada dia, tapi aku tidak tahu dimana dia tinggal."

"Baiklah, thanks untuk informasinya, aku pergi dulu." Callisa pamit, Ferdy hanya mengangguk dan menghembuskan nafas panjang. Keadaan di ruang itu semakin kaku dan dingin, sampai Sally bingung akan berucap apa ke Ferdy, tapi untung saja ada sesuatu yang bisa memecah kebisuan dalam ruangan itu.

"Heii,,, kau kenapa? Wajahmu...??" Sally mencoba memecah keheningan dengan menanyakan luka di wajah Ferdy.

"Aaahhh..." Ferdy kaget dan terbangun dari lamunannya.

"Apa kau berantem dengan Anton?" Sally menebaknya, lagi-lagi Ferdy hanya mengangguk.

"Sebenarnya ada apa ini? Kenapa sampai terjadi seperti ini?"

"Pada intinya, Anton tidak mencintai Callisa, dan dia ingin kembali dengan Vina."

"Vina?? Lalu apa hubungannya dengan kamu? Kenapa kamu sampai seperti ini?"

"Karena aku yang tahu Vina tinggal dimana, Anton marah karena aku tidak memberitahukan kepadanya."
 Sally terkejut, matanya terbuka lebar, "Jangan-jangan Ferdy suka dengan Vina, sehingga dia tak memberi tahukan ke Anton." Pikiran Sally mulai kacau.

"Kenapa kamu bengong? Apa kamu pikir aku selingkuh dengan Vina?" Ferdy langsung tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Sally.

"Ya..a...aa... mmm.. bukan begitu, tapi....." Sally terdiam, tak ada jawaban lainnya.

"Tapi apa..?"

"Tapi kenapa kamu menyembunyikan Vina dari Anton?"

"Karena Vina datang kesini satu minggu sebelulm Anton menikah. Jika aku beri tahu ke Anton waktu itu, maka masalahnya lebih rumit dari sekarang, pasti Anton membatalkan pernikahannya, padahal undangan sudah dibagikan."
Sally menghela nafas mendengar penjelasan dari Ferdy, dia lega karena Ferdy tidak selingkuh dengan Vina.

"Ya sudah,, biarkan aku mengobati luka di wajahmu." Sally mencoba mengalihkan pembicaraan meskipun dia sendiri masih tidak percaya dan masih tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada Anton, Ferdy, Callisa dan Vina.

##

Orang tua Callisa marah-marah di rumah Anton. Mereka menanyakan Anton pergi kemana, mengapa ia tak ada di rumah, padahal mereka baru saja menikah. Orang tua Anton tertunduk lesu, mengapa sampai terjadi masalah seperti ini. "Ini memang salah Anton." Pikirnya oleh ayah Anton. Orang tua Anton menerima amarah dan emosi dari keluarga Callisa. Mereka mengakui bahwa ini adalah salah Anton semata. Harusnya dia tidak keluyuran kemana-mana.

Callisa sampai di Perumahan Puri, tapi dia bingung memilih rumah mana yang di tinggali oleh Anton. Rumah nomor 201, 89 dan 64 sudah ia singgahi, tapi kosong. Kini tinggal nomor 172 dan 185. Callisa berinisiatif menuju ke rumah nomor 172. Dan memang benar, Anton semalam menginap disini, di kamar ada pakaian kotor milik Anton. Tapi kemana Anton? Callisa belum beruntung, Anton sudah pergi meninggalkan tempat itu sekitar satu jam yang lalu. Apakah Anton pulang? Atau dia pergi ke suatu tempat?

Anton Kurniawan, dia pergi ke ruamh Vina dengan naik taksi, karena mobilnya semalam ditinggal di rumah Vina. Dia sangat bersemangat hari itu. Vina, Vina, Vina dan hanya Vina yang ada di otaknya, Anton sudah lupa bahwa dirinya sudah menikah. Dengan wajah yang lesu Vina juga mau diajak pergi keluar oleh Anton. Rindu, itu satu-satunya alasan yang menguatkan mereka untuk bertemu. Tatapan mata mereka begitu dalam.

"Kau mau bawa aku kemana?" Tanya Vina saat di dalam mobil, karena sedari tadi  belum sampai juga ke tujuan. Anton hanya merenges dan mengedipkan mata.
"Apa semenjak di Jakarta kau menjadi irit bicara? Atau di Jakarta di larang bicara banyak-banyak, sehingga hanya merenges dan mengedipkan mata?" Vina sedikit kesal, karena pertanyaannya tak ada satu pun yanga dijawab oleh Anton. Dan Anton hanya tersenyum.
"Heii,, kau... Apa kau tidak mendengar ucapan atau pertanyaanku? Menyebalkan sekali kau ini, sepertinya Jakarta memang sudah benar-benar mengubahmu."

"Apa di Jakarta telah mengubahmu menjadi semakin tidak sabaran dan tambah cerewet?" Anton mulai meledek Vina.

"Iya, Jakarta telah mengubahku, karena aku bertemu kembali dengan orang yang sangat menyebalkan sepertimu." 
Dan Anton hanya tersenyum, Vina cemberut, walaupun mereka sudah sampai di tujuan. Ya, pesisir utara Jakarta, di Pantai Laut Jawa. Mungkin bukan tempat wisata yang bagus nan indah, tapi paling tidak di tempat ini tak ada yang mengenal mereka berdua. Hanya dermaga, awak kapal dan nahkoda yang mereka lihat.

"Kenapa kau bawa aku ke Pelabuhan? Apa kau mau mengajak ku memancing?" Ungkap Vina dengan wajah masih datar tanpa ekspresi.

"Hmmm,, memancing.. ide bagus itu, dari tadi mas memikirkan mau ngapain kita kesini, terima kasih sayang, kau telah memberiku ide." Anton tersenyum manis.

Anton menemui penanggung jawab pelabuhan untuk negosiasi, dan mereka pun berhasil menyewa satu kapal untuk berkeliling dan memancing.

"Pemandangan yang indah, bukan?"

"Iya, sangat indah, aku suka" Vina hanya tersenyum, rasa bahagia itu tak bisa diungkapan lagi dengan kata-kata.

Anton mujlai menatap dalam-dalam mata Vina.

"Vin, apa kau masih mencintaiku?"
Vina masih belum bisa menjawab, berat rasanya untuk menjawab pertanyaan seperti itu, walaupun hatinya mash mencintai Anton, dan sangat bahagia bisa bersama Anton.

"Taa piii.. kau sudah menikah." Jawabnya lirih dan datar.

"Bukan itu jawaban yang aku harapkan darimu. Apa kau masih mencitaiku? Jawab jujur Vin, mas mohon.."

Vina hanya mengangguk dan tersenyum. Harus diakui di dalam hatinya selalu ada Anton. Mereka setuju untuk menjalani hubungan ini, hubungan cinta yang terlarang atau bahasa kasarnya "Selingkuh". Nurani memang menolak, tapi hati dan pikiran mereka masih saling menyatu.

Mereka menikmati pemandangan laut hingga Sunset muncul, Anton ternyata mahir dalam memancing, dia mendapatkan tiga ekor ikan yang besar. Dan ikan itu untuk dinner mereka berdua. Sungguh indah dan romantis rasanya. Dua hati yang menyatu, meskipun itu terlarang, tapi mereka tetap menyadari, hubungan itu hubungan terlarang, suatu saat pasti akan ada resikonya.

Hubungan itu cukup bertahan lama, hingga Callisa, Ferdy dan Sally mengetahuinya. Yang paling hancur saat ini adalah Callisa, apa lagi dia telah berhasil mengandung janin dari Anton. Setelah satu tahun lebih dari pernikahan, Callisa baru bisa hamil. Ferdy dan Sally mencoba menasehati Vina, tetapi Vina belum bisa menerimanya. Pernah sekali ia mencoba hidup tanpa Anton, yang ada mereka hanya terluka. Vina menyadari hubungan ini tak baik dan tak mungkin selamanya terjadi. Tersiksa sebenarnya ketika harus menjalani hubungan seperti ini, mendusta nurani, menghilangkan akal sehat, hanya rasa egois yang mereka pakai. Dan ketika Vina ingin pergi dari kehidupan Anton, Anton selalu berhasil mencegahnya.

Hampir dua tahun mereka menjalani kisah cinta terlarang ini. Hingga pada akhirnya, hari kebahagiaan untuk Callisa dan keluarganya datang. Callisa melahirkan seorang anak laki-laki, dalam hati Callisa merasa senang dan puas. "Akhirnya aku yang menang, karena aku telah memiliki anak dari Anton."

Vina diberitahu Sally bahwa Callisa sudah melahirkan, dia merasa bersalah. Selama ini hampir dua tahun dia selalu mengalihkan perhatian Anton.
"Ya Tuhan,, apa yang harus aku lakukan? Kuatkan hatiku jika memang aku harus berpisah dengan Anton. Maafkan aku yang selama ini telah masuk ke dalam kehidupan mereka, sehingga mereka hampir hancur. Seandainya aku tak ada disini, mungkin mereka akan bahagia dari awal mereka menikah." Hati Vina mulai bergejolak, mencoba memahami apa yang telah ia lakukan selama ini.

Seminggu setelah kelahiran anak Anton, Vina meminta untuk bertemu dengan Anton. Mereka bertemu di sebuah Cafe.

"Ada apa Vin? Kenapa kamu gelisah dan tak tenang seperti ini? Ada masalah?" Anton ingin tahu apa yang terjadi dengan kekasihnya itu.

"Maafkan aku, aku telah masuk ke dalam kehidupan kamu, seharusnya kamu bisa berbahagia dengan Callisa."

"Apa maksud kamu Vin??" Anton semakin bingung.

"Kita harus mengakhiri hubungan kita ini."

"Tapi Vin..."

"Aku yakin kamu bisa bahagia, apa lagi kamu sudah memiliki buah hati. Mungkin kamu bisa pergi dari Callisa, tetapi kamu tak mungkin pergi dari buah hatimu sendiri. Kasihan dia, dia tak tahu tentang apa yang terjadi antara aku dengan dirimu, jangan biarkan buah hatimu yang menderita. Jangan jadikan ia korban karena keegoisan kita." Air mata Vina mulai menetes, nafasnya mulai tercekat dalam tenggorokan.

"Apa kau serius dengan apa yang kau ucapkan?" Anton belum bisa menerima apa yang diucapkan Vina.

"Iyaaa......"

"Baiklah, jika itu yang kau mau, jika kau bisa hidup tanpa diriku, aku akan mencoba bertahan hidup tanpamu. Tapii....." Anton belum selesai berbicara.

"Aku besok pagi berangkat ke Seol, Korea Selatan."

"Apaaaaa..???!!! Secepat inikah? Vina, tolong pikirkan lagi tentang keputusan kamu itu...!!"

"Iya,, aku besok harus berangkat ke Seol.. Maafkan aku, harusnya kita tak terperangkap sedalam ini dalam cinta yang terlarang."

Anton terdiam, tertunduk lesu, merasa separuh jiwanya menghilang. Tak berdaya, begitu menyakitkan rasanya, harus kehilangan seseorang yang dicintai. Ya, mungkin ini jalan yang terbaik untuk Anton dan Vina. Kalau memang ada keajaiban, cinta mereka akan kembali menyatu.
"Biarkan aku memelukmu, mulai besok dan hari-hari selanjutknya, aku tak bisa memelukmu, melihat senyum manismu. Izinkan aku memelukmu.." Vina kian terisak, begitu berat rasanya, seperti mimpi harus melepas Anton. Anton, satu-satunya pria yang ia cintai. Satu-satunya hati hanya untuk Anton. Namun, semua itu harus sampai disini. cukup sampai disini kisah cinta yang terlarang.

##

Pukul sembilan pagi Vina sudah berada di bandara Soekarno - Hatta. Anton, Ferdy dan Sally ikut mengantar Vina. Mereka harus melihat Vina untuk berpisah entah sampai kapan.
"Jaga dirimu baik-baik, jika ada apa-apa telepon aja ke diriku, jika tak betah disana, kembalilah kesini ." Ucap Anton, kata-katanya mulai terbata-bata.

"Iya, jangan sungkan-sungkan untuk menghubungi kami." Imbuh Sally.

"Dan kami selalu ada untukmu, selalu kirim kabar saja ke kami, via facebook, twitter atau email." Ujar Ferdy.

Vina tersenyum, bahagia memiliki sahabat seperti Ferdy dan Sally, mereka sudah seperti kakak sendiri.
Dan bahagia juga sempat memiliki Anton, meski hanya sesaat.

"Iya, dan aku pasti akan merindukan kalian, terima kasih untuk semua kebaikan kalian padaku, aku tak bisa membalas kebaikan kalian."

Anton tak kuasa dengan keadaan seperti ini, ia langsung menarik tangan Vina, dan langsung mendekap tubuhnya. Pelukan dan kecupan terakhir yang penuh haru, perlahan Vina melepaskan pelukannya, Vina mulai beranjak menjauh darinya, mulai melangkahkan kakinya untuk pergi. Detik ini juga harus pergi dari Anton. Dengan langkah mundur, Vina masih menatap Anton.

"Semoga kau bahagia disana, dan aku selalu menunggumu disini." Kata Anton lirih, wajahnya sudah penuh dengan air mata. Perlahan Vina menghilang dari tatapan matanya. Vina mulai melangkah cepat, pesawat sebentar lagi akan lepas landas. Rasanya ingin kembali dan lari ke pelukan Anton lagi. Tapi itu tak mungkin, dan tak boleh terjadi lagi. Air matanya mengalir, ia sudah mencoba mencegahnya agar air matanya tak terurai, tapi tetap saja tak bisa, hatinya begitu sakit.

"Inilah jalanku, jalan yang harus aku ambil. Aku memang terluka harus berpisah denganmu. Bukan kutak mencintai dan menyayangimu, tapi karena aku begitu cinta dan sayang padamu, hingga aku yang harus pergi. Percayalah, kita tak kan pernah berpisah walau kita tepisah jarak dan waktu. Sejauh apa pun jarak diantara kita, hati kita tetap satu, napas kita masih menghembukan kerinduan yang sama. Biarkan cinta kita indah untuk dikenang. Bahagialah dirimu, jalani hidupmu seperti biasanya. Dan ingatlah, kita tak pernah beprisah, hanya saja waktu yang tak tepat ketika kita berjumpa. Mungkin orang lain akan menganggap cinta kita tak sempurna. Tapi bagiku, cinta kita begitu sempurna. Tangis, tawa, canda, ceria, duka, sedih, amarah, emosi, kesal dan semuanya menjadi satu. Jika Tuhan mengizinkan, kelak kita akan bertemu lagi, dan kita akan bersatu. Aku selalu mencintaimu dalam keadaan apa pun. Aku selalu merindukanmu pada setiap waktu yang kulewati. Dan kau, satu-satunya yang terindah dalam hidupku. Vina."

Itulah pesan terakhir untuk Anton dari vina.

No comments

Terima kasih telah membaca postingan pada blog saya. Silakan tinggalkan komentar, dimohon jangan menggunakan link hidup.
Terima kasih.
:) :)