Menguak Seni Mahakarya Indonesia Kain Batik Gumelem

1:17:00 PM 3 Comments A+ a-


Batik, kita semua pasti sudah mengenal kain penuh dengan motif yang begitu indah dan penuh dengan karya seni. Dalam perkembangannya, kain batik di Indonesia sudah sangat terkenal. Dari berbagai kalangan, sebagian besar banyak yang sudah mengenakan kain yang merupakan warisan leluhur Mahakarya Indonesia ini. Batik, saat ini telah menyihir dunia dengan pesonanya yang begitu khas dan sangat mengandung nilai-nilai seni indah. Untuk hal itu pada tanggal 02 Oktober 2009, UNESCO telah menetetapkan kain batik sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity).



Untuk itu, pada hari Sabtu, 27 Juni 2015 saya mencoba menelik di mana saja pengrajin batik. Saya mendatangi tempat pengrajin batik yang mungkin sebagian besar orang belum mengenal kain batik yang satu ini. Ini adalah kain Batik Gumelem. Mengapa disebut Batik Gumelem? Karena kain batik ini diproduksi oleh warga dari Desa Gumelem, Kec. Susukan, Kab. Banjarnegara, Jawa Tengah.

papan nama usaha Sentra Batik Milik Ibu Sartinem


Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh dari Purbalingga yang memakaan waktu hampir satu jam, akhirnya saya sampai di salah satu rumah sentra batik ini. Saya mengunjungi tempat seni Mahakarya Indonesia Batik Tradisional Gumelem “IBU SARTINEM” yang terletak di Desa Gumelem Kulon RT 04 RW 03, Kec. Susukan, Banjarnegara. Ibu Sartinem memiliki karyawan sejumlah 13 orang. Rata-rata usia yang bekerja di tempat ini sudah 50 tahun.



Nggih kulo kesupen kapan mulaine mbatik. Wong kulo teksih alit sampun mbatik. Niki sampun warisan saking mbahe kulo.”(Ya saya lupa sejak kapan saya mulai membatik. Orang saya masih kecil sudah membatik. Ini sudah warisan dari nenek saya). Ujarnya, saat saya tanyakan sejak kapan beliau mulai membatik.



Cara pembuatan Batik Gumelem ini sama dengan pembuatan batik-batik tulis lainnya. Kain dasar menggunakan kain mori atau kain katun yang berwarna putih, yang kemudian diletakan di atas gawangan dan dilukis menggunakan malam yang sudah dipanaskan dengan alat bantu yang disebut Canting. Untuk detail pembuatan kain Batik Gumelem adalah sebagai berikut :



  • Siapkan kain katun atau mori yang berwarna putih polos. Lalu buat motif menggunakan pensil
  • Letakan kain putih tersebut pada gawangan yang sudah tersedia
  • Persiapan selanjutnya menyalakan kompor kecil, kemudian taruh wajan kecil di atas kompor untuk memanaskan malam. Gunakan api kecil sampai malam mencair dengan sempurna.
  • Kemudian, ambilah malam yang sudah mencair dengan canting, tiuplah agar malam tidak terlalu panas. Selanjutnya lukislah kain putih dengan canting yang sudah ada malamnya. Proses ini haru dilakukan sangat berhati-hati, jangan sampai malam cair menetes ke kain putih, sehingga membuat gagal motif batiknya.
  • Kemudian pelekatan malam yang kedua. Sebelum dicelup ke zat pewarna, bagian yang dikehendaki tetap berwarna putih maka harus dicolet/ditutup dengan malam. Hal ini untuk menghindari perembesan zat pewarna. Sedangkan proses pewarnaan bagian-bagian tertentu dinamakan Nyolet. Proses ini dilakukan dengan kuas, sehingga akan diperoleh warna-warna seperti yang dikehendaki untuk bagian-bagian tertentu
  • Setelah proses nyolet selesai, proses selanjutnya adalah pencelupan kain. Celupkan kainnya ke dalam larutan yang sudah diberi pewarna pada ember/baskom. Kain dicelup dengan warna dimulai dengan warna-warna muda, selanjutnya dengan warna lebih tua atau sesuai selera.
  • Setelah dicelup, kain tersebut dijemur untuk dikeringkan.
  • Setelah kain kering dan mendapatkan warna yang diharapkan, kemudian kain tersebut direbus pada air panas. Proses ini bertujuan agar motif yang sudah digambar terlihat dengan jelas.
  • Setelah itu, dicuci/dibersihkan kemudian dijemur, setelah kering kemudian dikemas dan dipasarkan.

    Beberapa karyawan Ibu Sartinem



Dalam proses pembuatan kain batik, kita perlu kesabaran dalam melukiskan malam pada selembar kain. Kita perlu kegigihan untuk menjadikan sebuah kain terisi penuh dengan mahakarya seni yang menjunjung tinggi dari bangsa Indonesia. Kita juga perlu gotong royong saat proses pencelupan kain. Tanpa adanya semangat kegigihan, kesabaran, dan gotong royong, tidak akan menciptakan sebuah Mahakarya Indonesia yang kita kenal dengan sebutan kain batik. Dari semua proses itu, bahwa kain batik memang memiliki nilai-nilai luhur yang penuh dengan Jiwa Indonesia yang wajib kita junjung tinggi dan lestarikan.



Tak lupa saya ucapkan kepada Ibu Sartinem yang telah meluangkan waktunya untuk berbincang-bincang dengan saya mengenai proses pembuatan Batik Gumelem. Terima kasih juga kepada keluarga Bpk. Trisno Waluyo yang telah memberitahukan tentang Batik Gumelem kepada saya. Dan terima kasih juga kepada Rina, teman saya yang telah mau menjadi “Tukang Ojek” saya karena saya tidak berani melakukan perjalanan sendiri ke Desa Gumelem, Susukan, Banjarnegara. (Jalan yang panjang dan cukup terjal, namun dilengkapi dengan pemandangan yang indah).

Ibu Sartinem yang ikut membatik dengan karyawannya 


Kain batik yang sedang dijemur, setelah kering dikemas


Belajar ikut membatik, tapi saya tidak bisa :D


Kain batik yang siap dipasarkan (terdiri dari beberapa motif seperti Sungai Serayu, Udan Liris, Gabah Wutah, Kopi Pecah dll)