Gambut dan Pangan Lokal: Mengapa Keduanya Penting untuk Masa Depan Kita?
Jargon "Belum makan kalau belum makan nasi," ini sering banget kita dengar, kan? Saya juga sering mengatakan kalau masih lapar padahal sudah makan beberapa camilan.
Padahal, Indonesia punya kekayaan pangan lokal yang luar biasa. Sumber pangan kita sangat bervariasi seperti jagung, umbi-umbian, sagu, sorgum dan lainnya. Sayangnya, keberagaman ini sering kali terlupakan. Padahal, di tengah perubahan iklim dan kerusakan lingkungan yang semakin mengkhawatirkan, pangan lokal justru bisa menjadi salah satu kunci untuk menjaga ketahanan pangan kita.
Melalui webinar “Dari Gambut ke Meja Makan: Menelusuri Kaitan Karhutla, Biodiversitas, dan Pangan” yang diselenggarakan oleh Eco Blogger Squad bersama Pantau Gambut dan Nusantara Food Biodiversity, kita diajak memahami bahwa persoalan lingkungan memiliki hubungan erat dengan kehidupan sehari-hari terutama dengan sumber pangan lokal.
Karhutla Bukan Cuma Soal Asap
Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) makin ke sini makin memprihatinkan. Adanya El Nino sebagai pendukung (bukan penyebab utama kebakaran), ditambah lagi lahan gambut yang ada di hutan-hutan kita dikeringkan. Akibatnya lahan gambut mudah sekali terbakar dan sangat sulit dipadamkan.
Apalagi jika lahan gambut sudah dikeringkan. Ketika kehilangan kelembapannya, gambut menjadi lebih rentan terbakar. Api yang menjalar di dalam lapisan gambut juga bisa sulit dipadamkan karena titik api tidak selalu terlihat dari permukaan.
Dampaknya bukan main-main. Kebakaran dapat merusak hutan, menghasilkan asap yang mengganggu aktivitas sehari-hari, memperburuk kualitas udara, serta meningkatkan risiko gangguan kesehatan. Belum lagi emisi karbon yang dilepaskan ke atmosfer.
Namun, ada dampak lain yang tidak kalah penting: rusaknya ekosistem dan terancamnya keanekaragaman hayati.
Kita mungkin melihat kebakaran sebagai peristiwa yang terjadi jauh di dalam hutan. Padahal, dampaknya bisa merambat hingga ke kehidupan sehari-hari, termasuk sumber pangan yang kita konsumsi.
Gambut Bukan Lahan Kosong
Selama ini, mungkin masih ada yang menganggap gambut sebagai lahan biasa yang bisa dikeringkan dan dialihfungsikan begitu saja. Padahal, gambut punya peran penting bagi lingkungan.
Gambut itu terbentuk dari waktu yang panjang, dari tumpukan sisa-sisa tumbuhan ribuan tahun, ditambah kondisi lembap, sehingga proses pelapukan tidak sempurna. Gambut juga sering disebut spon alami yang menjaga keanekaragaman hayati.
Kerusakannya bukan hanya soal hilangnya pepohonan, melainkan juga rusaknya habitat dan terancamnya kehidupan yang bergantung pada ekosistem tersebut.
Lalu, apa hubungannya dengan pangan?
Ekosistem yang sehat mendukung keanekaragaman hayati. Sementara itu, keanekaragaman hayati punya kaitan erat dengan keberagaman sumber pangan yang dimanfaatkan masyarakat. Jika ekosistem rusak, sumber penghidupan dan pangan yang bergantung padanya juga berisiko terdampak.
Karena itu, menjaga gambut = menjaga sumber pangan.

Post a Comment for "Gambut dan Pangan Lokal: Mengapa Keduanya Penting untuk Masa Depan Kita?"
Terima kasih telah membaca postingan pada blog saya. Silakan tinggalkan komentar, dimohon jangan menggunakan link hidup.
Terima kasih.
:) :)