2 Kota yang Pernah Kupijak Membuatku Selalu Rindu

6:14:00 PM 2 Comments A+ a-

BPN 30 Day Chellenge memasuki hari ke 14. Yeay, saya masih semangat. Untuk menggantikan tema ‘Zodiac kamu dan apakah sesuai dengan kepribadian’, saya pilih ‘Kota-kota yang pernah saya tinggali’.

www.erycorners.com
Sumber : www.pixabay.com

Menulis tentang kota atau tempat yang pernah saya tinggali seperti mengulang kenangan masa lalu. Bukan tentang cinta melainkan persahabatan. Ada banyak cerita yang terukir di setiap detik, entah itu tawa, canda atau bahkan air mata.

Kota yang saya tinggali memang tidak banyak. Selain Purbalingga, Jawa Tengah, hanya ada dua tempat yang saya jadikan domisili saat itu. Ketahuan banget ya saya jarang pindah-pindah. Hehehe

1. Yogyakarta

www.erycorners.com
Selalu ada cerita untuk kembali ke sini
Saya dulu sekolah di SMK dengan jurusan akuntansi, yang mana kalau melakukan Praktek Kerja Industri (Prakerin) selama tiga bulan, kami dilempar ke Lembaga Keuangan milik BUMN. Saat itu kami satu kompi terdiri dari dua belas orang, sepuluh perempuan dan dua laki-laki. Dengan bangganya waktu itu kami memilih Jogja sebagai tempat Prakerin. Ya jelaslah kami memilih yang jauh, karena kami satu genk yang paling sengak dan bandel. Bahkan saya dulu pas tanding main basket, saya ‘mengkaburkan’ anak-anak sekelas buat nonton pertandingan. Ceritanya buat menyemangati saya dan teman-teman yang tanding gitu.

Okay, kembali ke Jogja. Dua belas orang yang berangkat dibagi enam lembaga keuangan, dan kebetulan saya dan Eni, di tempatkan satu tempat di daerah Janti, Yogyakarta. Tinggal di sini awalnya ragu, apalagi satu kost dengan kakak-kakak mahasiswa yang kuliah di beberapa Universitas yang ada di Kota Gudeg ini. 

Namun, makin lama makin membetahkan. Dari orang-orangnya yang begitu ramah, sopan dan sangat toleransi. Mereka sangat peduli dengan pendatang, terutama kepada para pelajar seperti kami. Saat itu kami bingung mau makan siang apa, karena warung langganan tutup, ada ibu-ibu komplek di situ yang menawari kami makan (tahulah, tampang-tampang kami mah anak-anak kagak punya duit), wkwkwkwkw. Ya, kami terima.

Belum lagi ibu kost yang sudah sepuh dan sangat baik hati. Tiap kali di komplek ada hajatan atau perayaan apa, yang jelas ada jatah makanan buat kami. Ngirit lagi, coy.

Kalau di lingkungan Prakerin, mereka juga sangat baik. Ibu Manager sebulan sekali ngajak makan enak di restoran, terus staff yang lain selalu bawa jajan, yang satunya kalau Sabtu dan Minggu ngajak kami jalan-jalan ke Malioboro, terus yang satunya lagi, ngajak kami jalan-jalan ke Ambarukmo, ntraktir kami Bread Talk (sumpah ini kali pertama kami masuk emol). Berhubung kami anak kampung yang belum tahu apa-apa, ambil rotinya ragu-ragu, terus sama beliau ditambah lagi sampai banyak banget. Nyampai kost-kostan bingung gimana cara menghabiskan karena banyak banget. Hahaha

Terus kalau kami kulineran sendiri, di bawah Jembatan Janti itu bisa buat wisata kuliner. Dari nasi goreng, tongseng kambing, nasi pindang, tahu gejrot dan lainnya. Enak-enak banget.

Kelihatannya tidak ada selisih ya? Sebenarnya ada, ya sama teman sendiri. Tapi kami berdua tidak mempermasalahkan, karena ya, biasa lah, namanya juga sama teman, selisih pendapat pasti ada. Selama masih dalam tahap kewajaran ya fine aja.

Dalam waktu yang singkat, saya jatuh cinta dengan Jogja. Dan karena itulah saya selalu rindu dan ingin kembali ke Jogja lagi, dan lagi.

Baca juga : Manisnya Yogyakarta

2. Jakarta

www.erycorners.com
Sumber : www.pixabay.com
Setelah lulus SMK, saya langsung meluncur ke Jakarta. Niat awalnya saya mendaftar di STAN, tapi tidak lolos. Dari pada pulang kampung dengan tangan kosong tanpa hasil apa-apa, saya jadi mendaftar di salah satu perusahaan di Jakarta.

Dengan bekal keahlian Ms. Office dan mengetik sepuluh jari, Alhamdulillah saya ditempatkan di admin. Ya, engak capek-capek bangetlah. Awal kerja di sini bahagia, tapi makin lama makan hati juga.

Kadang ada selisih pendapat dengan rekan kerja, terus tuntutan ini dan itu. Mental saya yang masih cemen saat itu membuat saya sering menangis. Kemudian yang paling ngenes itu kalau terima gaji bablas aja. Namun semakin hari saya semakin kebal juga. Dan saya punya teman baik, kebetulan dari tetangga kabupaten, Banyumas. Senenge pol, ketemu wonge dewek.

Kami jadi satu kost-an, saling curhat ngalor ngidul. Terus jalan-jalan bareng. Meskipun cuma joging ke Monas. Naik busway muter-muter, transit di Harmoni. Jalan-jalan ke Senayan City kayak orang ilang karena muka kampungan banget kami, dekil, item, hahaha.

Terus waktu itu kami sempat dapat vocher belanja di Grand Indonesia. Dapat vocher totalnya Rp 1.600.000,00 tapi harga barang-barang di sana mahal-mahal. Jadi cuma dapat kaos sebiji dan tas sebiji.

Hidup Jakarta membuat saya paham benar siapa orang yang benar-benar tulus, siapa orang yang memang doyan nyikut teman sendiri. Dari wajah-wajah mereka saya belajar banyak hal. Tentang kesiapan ketika ada yang menusuk dari belakang, tentang bagaimana harus menjaga diri di keramaian kota besar yang apa-apa ada. Hitam putih semuanya tercampur menjadi satu. Ibukota mengajariku tentang pengalaman yang sangat berharga.

Dan saya pun waktu itu harus pulang kampung karena ada sesuatu dan lain hal. Ya, ada urusan di desa. Padahal pengin banget kerja di Jakarta lagi, tapi sudah diterima di salah satu perusahaan juga di kota Purbalingga. Dan sayang juga mau meninggalkannya karena perusahaan ini salah satu yang terbaik.

Menceritakan kenangan memang mudah dan mengalir begitu saja. Itulah tentang dua kota yang pernah saya tinggali. Semuanya memberikan pengalaman yang berkesan dan membuat saya rindu.

Semoga ada jalan untuk ke sana lagi walau hanya untuk berlibur.

2 comments

Write comments
basirun
AUTHOR
December 7, 2018 at 4:01 PM delete

JOGJA - JAKARTA wis tau

Reply
avatar
Eri Udiyawati
AUTHOR
December 16, 2018 at 11:40 AM delete

Iya, Kang... Mantep pokoke

Reply
avatar

Terima kasih telah membaca postingan pada blog saya. Silakan tinggalkan komentar, dimohon jangan menggunakan link hidup.
Terima kasih.
:) :)