Ilusi Cinta - Part 4

3:51:00 PM 0 Comments A+ a-




Ini Sabtu malam di bulan ke dua belasku tanpa Icha. Keheningan menjemput dengan pekatnya hingga langit tak menampakkan bintang. Diriku ini masih melamun di dekat jendela kamar, sesekali memandang langit yang hitam-seperti hatiku. Bunyi pesan masuk bertubi-tubi dari laptop yang sudah standby hampir tujuh puluh dua jam. Aku menghiraukan saja, palingan hanya anak-anak chating yang menyapa mngajak ngobrol ngalor ngidul tidak jelas. Namun, semakin lama bunyi notifications itu semakin mengusik telinga dan memaksaku mendekat ke laptop.

<Ryan> Malam, Bro, sorry ganggu bentar boleh, kan?

<Ryan> Bro.. bisa bicara bentar>

<Ryan> ??

Dan memang  benar, hanya ada pesan dari anak-anak chat. Sejujurnya sedang malas meladeninya.

<Adi> Ya, ada apa?

<Ryan> Kamu Adi Nugroho, kan? Yang mahasiswa asli Banyuwangi itu, kan?

<Adi> Iya, benar, kau siapa?

<Ryan> Oh, ya, sorry aku Ryan, mahasiswa yang satu kelompok denganmu

<Ryan> Kamu dah baca pengumumannya, kan?

<Adi> Pengumuman apa?

<Ryan> Ampuuun... pengumuman kalau kita satu tim untuk melakukan Study Banding di salah satu kampus di Surabaya

<Adi> Oh my God.. ya, sorry, aku lupa pengumuman itu

<Ryan> Arrgh, aku dah cari kau dari kemarin-kemarin, untung saja ada teman kasih tahu kalau kau suka nongkrong di server mirc.
Oh, sial, aku lupa tugas kuliah untuk Study Banding di Surabaya. Besok pagi harus berangkat dan tidak boleh telat. Segera kubergegas menyiapkan keperluan. Cek ini dan itu, semoga saja tidak akan ada yang tertinggal dan merepotkan.

Di pagi yang cerah dan mata terkantuk-kantuk aku berangkat ke Surabaya bersama tim yang terdiri dari empat orang. Yaitu aku, Ryan, Toni dan Andre. Kami berangkat menggunakan kereta api agar lebih cepat. Di dalam gerbong bisa duduk dan bersantai, berkenalan dan saling bercerita. Dan ternyata kami empat pria lajang yang sama-sama telah diputuskan oleh pujaan hatinya. Kita sama-sama sedang mengukir asa dan memperbaiki otak yang sering konslet.

Sampainya di Surabaya kami terus menuju penginapan untuk beristirahat. Perjalanan yang memakan waktu hampir delapan membuat kita lelah. Selain itu, kita juga harus mempersiapkan materi untuk melakukan Study Banding agar hasilnya nanti tidak memalukan.

Di pagi hari, setelah sarapan, kita keluar dari penginapan. Langkah yang pasti kuayunkan untuk mendapatkan hasil terbaik. Karena saat ini sudah waktunya bagiku untuk mengubur seluruh kepahitan hidup. Ini langkah baruku, tak kan kubiarkan kebahagiaan ini direnggut oleh siapapun.

Sampainya di kampus, cukup takjub kami melihat bangunan yang begitu besar dan menjulang tinggi. Terlihat semuanya sibuk melakukan aktivitas dengan padat dan baik. Semuanya tertata dengan rapi, bahkan taman pun begitu indah dan sedap dipandang mata. Orang-orang di sini juga menyambutnya dengan penuh keramah-tamahan. Study Banding hari ini selesai dengan cepat dan sangat menyenangkan.

Selesainya tugas hari ini, aku menepikan diri dari teman-teman. Mereka juga ingin jalan-jalan menikmati kota Surabaya. Aku sendiri rindu dengan mirc yang sudah lama dibiarkan saja. Tentu saja aku menuju kantin dan menikmati wifi gratis untuk berselancar di dunia maya. Seperti biasanya menyapa satu per satu teman-teman, bermain games, bercanda tawa, saling berbagi info dan belajar tentang teknologi secara online. Atau seperti diriku, hanya membagikan link donwload film animasi terbaru dari Jepang yang digandrungi oleh para  Anime Lovers Indonesia.

Berbicara tentang anime, aku sendiri sangat menyukainya hingga sering kali kulukiskan tokoh-tokoh dalam film animasi dengan tanganku. Belajar men-design memang sangat sulit, tetapi ketika jatuh cinta dengan kartun-kartun lucu itu, rasa sulit akan hilang dengan sendirinya. Aku juga  belum mahir untuk membuat gambar anismasi-animasi itu. Tapi setidaknya bisa melupakan Icha dengan mengalihkan konsentrasiku untuk men-design. Ah, tak inginku berbicara lagi tentang Icha. Tekadku sudah bulat untuk melupakannya. Hidup ini harus berarti, untuk apa mengenang masa lalu yang terus menyanyat hati.

Daripada memikirkan Icha, lebih baik aku bersenda gurau dengan teman-teman meski belum pernah bertemu. Tapi mereka baik, itu yang kutahu. Bahkan banyak sahabat sejati yang tejalin di sini. Tak perlu disebutkan siapa saja, para chatter pasti sudah mengetahuinya. Chanel ini akan terasa sepi ketika sesesok orang tak hadir di sini. Namun, terakhir kudengar, dia menghilang dari mirc karena kisah cintanya yang rumit, disudutkan harus memilih kekasihnya atau tetap bersabat dengan teman-temannya di sini.

Di tengah-tengah kebersamaan ini, muncullah Icha. Aku berusaha tenang dan bersikap biasa saja dan tanpa sapa tegur. Aku anggap dia tidak ada di chanel. Namun, ada sesuatu yang membuatku tertahan sejenak untuk bernapas. Merasa tidak mungkin tapi benar nyatanya yang kulihat. Sampai-sampai aku mengucek mata, menjelaskan pada diri sendiri bahwa pandangan mataku masih normal-belum rusak.

“IP-ku dengan Icha sama?” celetukku sendiri.

Tak pikir panjang, aku telusuri IP Addres yang digunakan oleh Icha, kemudian mencocokkan dengan yang sedang kupakai juga. Ternyata benar-benar sama.

“Ah, sial. Ini IP wifi kampus. Berarti Icha kuliah di kampus ini,” gumamku sendiri.

Kupandangi satu per satu wajah di kantin, berharap ada sesosok gadis yang sedang kucari. Namun, tidak ada orang yang sibuk dengan laptop maupun smartphone. Mereka semua sedang asyik menikmati makanan atau pun bercanda gurau dengan teman-teman. Ternyata hanya dirku yang terus terpaku di depan layar.

Dan entah apa yang terjadi dengan otakku, mengetahui Icha ada di gedung ini, jiwa ini bersemangat untuk menemuinya. Semua itu bertolak belakang dengan hati yang masih teriris perih. Tujuanku melupakan dia, namun justru di sini semakin dekat dengan dia. Beberapa anak tangga kulalui, dari koridor satu ke koridor lainnya, hampir setiap kelas kujelajahi, bahkan dari masing-masing fakultas kutelusuri hanya untuk mencarinya. Namun, hingga sore, tak kutemukan dia. Jiwa ini menggelora, bulir-bulir asmara tumbuh dengan sangat cepat dan menimbulkan tekad untuk mencarinya.

“Hari ini tak kutemukan dirimu, tapi esok kupastikan aku menemukanmu,” tekadku.

Hari kedua Study Banding aku tak menghiraukannya karena aku kembali gila, persetan dengan tugas dari kampus. Hari ini aku fokus untuk mencari Icha. Kubiarkan tugas-tugas itu dikerjakan oleh ketiga temanku. Ini adalah kesempatan terakhir untuk mengungkapkan dan bertemu langsung dengan Icha, karena besok siang kita semua harus kembali ke Banyuwangi. Pencarian ini tidak boleh gagal seperti kemarin meskipun harus meminta bantuan.

<Alex> Eh, ada Icha cantik

<Icha> Eh, ada Alex. Tumben online siang

<Alex> Iyalah, ada cewek cantik sepertimu masa aku enggak online

<Icha> Gombalnya....

<Alex> Lagi apa, Cha? Gak kuliah jam segini online? Aku laporin ke dosennya loh, ada mahasiswanya di jam kuliah tapi chatingan

<Icha> Idih, serem juga, sana laporin aja. Emang tahu dosenku siapa?

<Alex> Ya deh, jangan ngambek

<Alex> Lagi gak ada dosen apa, chatingan mulu?

<Icha> Iya, dosenku lagi ngurusin anak-anak yang Study Banding. Kebetulan aku juga ada beberapa tugas yang lum selesai, jadi ngadem sambil cari data di perpus

<Alex> Sambil chatingan kali, bukan cari data

<Icha> Hahahaha...
Sebenarnya sedikit jengkel juga ke Alex yang menggoda Icha. Tapi, dengan begini dengan mudah memberi tahuku di mana Icha berada. Tak berapa lama, sampai juga diriku di perpustakaan. Terlihat dengan jelas Icha di sana, duduk di deretan orang-orang yang sedang sibuk membaca dan mengetik.

Sejenak detak jantungku ini berhenti. Bahkan di ruangan ini terasa pengap meski ber-AC. Tanpa sepengetahuannya, kuperhatikan dia dalam-dalam, kupandangi wajahnya dari kejauhan. Ingin kuberlari dan mendekapnya. Menumpakah segala amarah, emosi, benci dan rindu yang telah bercampur menjadi satu dan tak bisa diuraikan lagi. Setahun sudah kuhidup dalam bayangan wajahnya, kini dia benar-benar nyata, aku bisa melihat dengan jelas seperti apa wajah yang sesunguhnya. Memang benar-benar cantik.

Rasa rindu ini terus mengalun mengusik di jiwa, menggerakkan syaraf-syaraf kakiku untuk melangkah. Mencoba mendekat padanya, dan terhenti jarak beberapa meter terpisahkan oleh rak-rak yang penuh buku. Aku memberanikan diri untuk memanggilnya. Namun, dering ponselnya membuat suaraku tak terdengar olehnya. Terpaksa aku yang harus mendengarkan dia berbicara di ponsel. Sepertinya nanti malam dia ada janji untuk bertemu dengan seseorang.

***Bersambung ke Part 5 (Bagian Terakhir)

Hallo, saya Eri Udiyawati. Seorang Perempuan yang suka menulis dan traveling. Blogger asal Purbalingga, Jawa Tengah. Suka menulis berbagai topik atau bahkan mereview produk. Email : eri.udiyawati@gmail.com

Terima kasih telah membaca postingan pada blog saya. Silakan tinggalkan komentar, dimohon jangan menggunakan link hidup.
Terima kasih.
:) :)