Keturunan Cinta

www.erycorners.com

Hari itu sangat ramai di rumahnya. Di rumah Astrid, yang memang sedang berlangsung resepsi pernikahan Astrid dengan kekasihnya, Reza. Pestanya memang tidak terlalu megah, tapi sangat meriah. Pernikahan itu kelihatan sangat indah, dan menawan. Keluarga besar keduanya berkumpul, dan teman-teman dari Astrid dan Reza. Bahkan Andre, sang mantan pacar Astrid pun ikut menghadirinya. Dia datang dengan buah hatinya, Rio yang masih berumur dua tahun. Melihat Andre, Astrid menjadi teringat kenangan yang hampir empat tahun itu. Saat mereka dulu masih memadu kasih, tapi akhirnya cinta mereka kandas karena perbedaan materi yang jauh. Astrid hanya seorang gadis dari keluarga sederhana, sedangkan Andre dari lahir hingga sekarang merupakan orang yang berlimpah ruah dengan materi.

Baca juga: Empat Tahun

Lamunan Astrid buyar ketika Andre menghampiri untuk mengucapkan selamat, “Astrid, selamat ya, semoga kau selalu bahagia dengan pernikahan ini.”

Kemudian beranjak menghampiri Reza seraya membisikan sesuatu di telinganya, “Jaga dia baik-baik, berjanjilah kau tidak akan membuatnya menangis. Karena ketika kau membuatnya menangis, kau akan menyesal, karena aku akan mengambilnya lagi darimu,”

“Tentu, itu sudah pasti, dan kau tak akan pernah bisa mengambilnya dariku. Ingat itu, dan tulis di dalam benakmu!” jawab Reza dengan berbisik pula, meskipun suara pelan, tapi terlihat mereka berdua saling menaruh dendam dan bahkan saling emosi.

Hadirnya Andre di pesta itu membuat Astrid terus terngiang-ngiang pada masa lalu. Tapi dia berusaha untuk menerima kenyataan bahwa dirinya kini menjadi milik Reza seutuhnya, dan Andre pun telah berkeluarga. “Ini adalah jalan hidup yang harus aku tempuh.” ucap Astird dalam hatinya. Sesungguhnya Astrid begitu rapuh semenjak putus dengan Andre, laki-laki yang pertama kali ia cintai dalam hidupnya. Andre mengenalkan cinta pada Astrid dengan begitu lembut, tapi pada saat Astrid sudah benar-benar terbuai, cinta itu kandas. Astrid begitu lemah hingga ia mengenal Reza. Sebelum mendapatkan Astrid, Reza sedikit kesulitan dalam mengambil hati Astrid, karena Astrid menutup hatinya cukup lama, tapi Reza tetap bersabar hingga kini Astrid menjadi pasangan hidupnya.

###

Pagi hari yang cerah, menyambut hari yang indah, saat itu Astrid terbangun dari tidurnya, dia merasa sedikit kaget karena di sampingnya ada Reza, dia pun hanya tersenyum malu, bahwa Reza kini telah menjadi suaminya.

“Pagi sayangku, bagaimana tidurmu semalam?” ucap Reza sambil mengecup keningnya. Pernikahan itu membuat keduanya bahagia, apalagi untuk Reza dia sangat mencintai Astrid. Apapun akan dilakukan oleh Reza demi kebahagiaan Astrid.

Mereka sangat bahagia meskipun setelah dua tahun mereka baru dianugerahkan seorang anak. Anaknya perempuan dan dia diberi nama Alysa Alriza,  orang tua bayi itu biasa memanggil Alysa. Kini Reza dan Astrid telah mempunyai keluarga kecil, meskipun penghasilan Reza tak begitu besar, tapi cukup untuk menghidupi keluarga. Mereka berdua begitu baik terhadap anaknya. Merawat dan membesarkan dengan penuh kasih sayang hingga Alysa berusia delapan belas tahun.

“Mah, Pah, kalau Alysa kuliah di Jakarta, gimana? Boleh, tidak?” tanya Alysa sesaat setelah pulang dari menghadiri perpisahan sekolahnya.

“Kamu yakin di sana? Biaya sampai berapa? Kami tentunya butuh waktu untuk mempersiapkan biayanya.” Ucap Astrid dengan lembut pada anak semata wayangnya.

“Iya Alysa, kira-kira berapa biayanya untuk kuliah di Jakarta?” tambah papanya, Reza.

“Mah, Pah, tenang aja ya. Alysa dapat beasiswa untuk kuliah di sana, jadi tidak terlalu besar biayanya,” jelas Alysa dengan senyuman yang lembut.

“Kalau begitu, Papa setuju, tapi di Jakarta kamu tidak boleh nakal ya,” jawab Reza.

“Beneran Pah? Alysa boleh kuliah di Jakarta?”

Alysa sangat bahagia, dia langsung mencium pipi papa dan mama. Astrid tersenyum bahagia melihat anaknya sudah beranjak dewasa. Alysa dengan riang masuk ke kamarnya, semua ini serasa seperti mimpi baginya. Selain mendapat peringkat satu di sekolahnya dia juga mendapat izin untuk kuliah di Jakarta.

“Pah,,,” paggil Astrid pada suaminya seraya menyandarkan kepala di bahu suaminya.

“Iya mah.. ada apa?" jawab Reza dengan lembut.

“Kalau anak kita tinggal di Jakarta, sepi dong rumah, cuma kita berdua saja.”

“Gak apa-apa, Mah, kita bulan madu ajah, dulu waktu kita jadi pengantin baru belum sempat bulan madu, karena Papa cuma dapat cuti kerja tiga hari.” Jelas Reza menggoda istrinya. Astrid tertawa seraya mengucapkan, “Ah, Papa, gak malu apa? Sadar Pah, udah empat puluh lebih usianya.”

Merekapun tertawa bersama, rasanya begitu indah, meskipun Reza sudah empat puluh enam tahun tapi dia selalu menjaga hubungan dengan istrinya sama seperti saat mereka berpacaran dulu.

Akhirnya Reza dan Astrid, berangkat ke Jakarta untuk mengantar anak semata wayangnya kuliah di Jakarta.

“Sayang, kamu jaga diri baik-baik ya di sini. Kalau ada apa-apa langsung telepon Mama atau Papa ya.” Ucap Astrid kepada anaknya saat Astrid dan suaminya hendak pergi untuk kembali ke Bandung.

“Iya, Mah, itu pasti, Mama dan Papa tenang aja ya.. Alysa pasti baik-baik aja di Jakarta.” jelas Alysa kepada orang tuanya.

“Pesan Papa, kamu rajin belajar, jangan nakal, hati-hati di Jakarta ya.”

Pesan demi pesan disampaikan kepada Alysa sambil memeluk erat tubuhnya. Rasanya tak ingin berpisah dengan anak kesayangannya, bahkan Astrid sampai menitikkan air mata, rasanya begitu berat untuk meninggalkan Alysa sendirian di Jakarta. Tapi, mungkin ini jalan yang terbaik untuk mewujudkan cita-cita anaknya. Rela tak rela Astrid dan Reza harus pulang ke Bandung.

Sepanjang jalan dari Jakarta menuju Bandung, Astrid tak bisa menahan air matanya. Rasanya seperti mimpi meninggalkan anaknya sendiri di tempat asing. “Udah, Ma, berdoa saja, semoga Alysa baik-baik saja di Jakarta, Mama jangan nangis terus nanti malah Alysa tidak tenang hatinya.” Ucap Reza dengan lirih menasehati istri tercintanya. Astrid hanya menganggukkan kepala dan terasa lelah. Begitu juga dengan Reza, dia sangat sedih, karena setiap hari Reza selalu bercanda dengan Alysa, kini tak bisa lagi.

###

Bagi Alysa, ini adalah kehidupan barunya, masih sangat terasa asing di keramaian Jakarta. Dia sendirian di kamar kost, tapi di luar pun terasa sepi, entah karena semuanya sedang sibuk, atau memang Alysa yang belum menemukan teman, sehingga dia merasa kesepian. Dia pun hanya mempersiapkan berkas-berkas pendaftaran untuk esok harinya.

Pagi yang panas mengawali hari untuk Alysa, dia berjalan menuju kampus, karena memang sengaja dia mencari rumah kost yang dekat dengan kampus, paling tidak dia bisa hemat untuk transportasinya. Sesampai di kampus itu, Alysa agak bingung, dia harus kemana pun tidak tahu. Dia putuskan untuk duduk sejenak di dekat taman. Tak berapa lama kemudian ada pemuda yang menghampirinya. Entah dia tulus ingin menolong Alysa, atau terpesona dengan Alysa tak ada yang tahu.

“Ada yang bisa saya bantu?” tanya pemuda itu dengan ramah. Alysa sedikit kaget karena ia sedang melamun.

“Hmm... boleh, Mas mau ban--tu saya?” tanya Alysa dengan terbata-bata, mungkin karena grogi atau terpesona dengan wajah tampan itu.

“Iya, Mbak, katakan saja, saya mahasiswa disini juga,” jelas pemuda itu. Alysa tersenyum manis, dia merasa lega ada yang membantunya. Pemuda itu menemani Alysa sampai segala keperluan Alysa selesai. Setelah itu mereka pun berpisah tanpa berkenalan terlebih dahulu.

“Kenapa aku tak tanya namanya?” celoteh Alysa dalam hatinya, haaah... tapi Alysa langsung melupakan masalah itu, dia berpikir pasti bisa bertemu lagi dengan pemuda itu, karena memang satu kampus.

Di kost Alysa sudah mulai berteman, dan dia juga punya sahabat baru, dia bernama Tina, satu kost dan satu kelas dengan Alysa. Mereka sangat dekat dan saling berbagi dan bercerita tentang kisah kehidupan masing-masing.

###

Hari demi hari telah terlewati hingga menjadi bulan. Tak terasa Alysa sudah empat bulan di Jakarta, dia bisa beradaptasi dengan baik, dan dia pun dekat dengan pemuda yang waktu pertama kali ke kampus telah menolongnya. Pemuda itu bernama Rio Andreas. Tanpa disadari mereka jatuh cinta. Hubungan asmara itu pun tumbuh kian bersemi, mereka berdua saling menyayangi, sepertinya mereka sulit untuk dipisahkan.

Kisah cinta mereka pun diceritakan kepada orang tuanya saat Alysa pulang ke Bandung, Astrid tersenyum dan dia bertanya, “Siapa pemuda itu yang telah mengambil putri kesayangan kita? Anak mana dia, Alysa?”

“Dia anak Jakarta Mah, dia baik sekali, tidak pernah marah, dan dia sangat pengertian.” Jelas Alysa kepada orang tuanya. Astrid tersenyum, ternyata anaknya sudah tumbuh dewasa.

###

Dua tahun telah berlalu, Alysa dengan Rio masih berpacaran, dan hubungan itu baik-baik saja. Tapi, hal yang tak terduga terjadi ketika Astrid sedang belanja di salah satu swalayan di Bandung. Dia terpaku dan terpana, hatinya sangat sakit merasa tertusuk dan tersayat kembali. Dia melihat Andre dengan Rio yang sedang mempresentasikan usaha barunya di Bandung. Ternyata Rio adalah anak Andre. Astrid pun merasa kecewa dan takut kalau-kalau putri kesayangannya mengalami nasib yang sama dengan dirinya waktu itu. Dicampakkan karena status sosial yang berbeda.

Entah ada angin apa yang membawa Astrid untuk menunggu presentasi itu selesai. Hal itu membuat teringat kembali masa itu saat mereka masih bersama, saat itu sepulang dari kuliah Astrid selalu menunggu di resepsionist saat Andre sedang meeting. Astrid setia menunggu hingga meeting itu selesai. Namun, kali ini Astrid menunggu dengan tujuan yang berbeda.

Baca juga: Tetap Menunggu

“Andre,” panggil lirih Astrid dengan perasaan ragu. Andre juga merasa ragu, seperti tak percaya dengan suara yang terdengar. Ya, suara yang khas milik Astrid, ternyata Andre masih mengingatnya. Andre menoleh ke belakang, tak pernah menduganya siapa yang memanggilnya. Melihat Astrid adalah hal yang paling membuatnya bahagia di dunia ini.

“Astriiid? Hei, bagaimana kabarmu?” sapa Andre dengan penuh semangat.

Tak lama kemudian mereka pun mencari tempat duduk yang santai. Astrid yang ingin menanyakan sesuatu kepada Andre agak terhambat. Tiba-tiba Andre menceritakan kisahnya, yang pada kenyataannya mereka telah bercerai sejak Rio berusia sembilan belas bulan. Dan tak disangka Andre mampu membesarkan Rio hingga sekarang ini. Dalam pandangan mata Andre tak dapat dipungkiri bahwa ia masih mencintai Astrid, tapi dia tak mengungkapkannya, karena Andre tahu sekarang Astrid bahagia dengan rumah tangganya. Melihat dan mendengar Astrid bahagia adalah hal yang terindah bagi Andre. Kini jalan hidup masing-masing telah berbeda dan mempunyai tanggung jawab yang berbeda juga. Mereka berdua mengobrol tentang kisah hidup mereka, setelah itu Astrid memberanikan diri untuk membicarakan masalah Rio dengan putrinya, Alysa.

“Andre, maaf, ada sesuatu yang harus aku bicarakan padamu.” Pinta Astrid kepada Andre.

“Oke, silakan saja Astrid, tak usah sungkan.” Balas Andre.

“Rio, de-ngan anakku.” Astrid tak bisa berbicara dengan tenang, dia terbata-bata.

“Ada apa dengan anakku dan putrimu?” tanya Andre dengan rasa penuh ingin tahu.

“Mereka berdua berpacaran, ucap Astrid, dan menghela nafas, setelah itu dia melanjutkan perkataanya, “Aku tak mau sesuatu terjadi yang membuat anakku sedih, jadi aku mohon, kalau Rio pada akhirnya nanti meninggalkan Alysa, aku mohon dengan sangat, bawa pergi Rio dari kehidupan anakku! Kutak ingin apa yang menimpaku terjadi lagi pada anakku, cukup hanya aku yang mengalaminya. Aku tak ingin melihat air mata pada anakku, aku mohon bawa pergi Rio dari kehidupan anakku sebelum Alysa terlalu dalam mencintai Rio.” Tak tertahankan air mata Astrid terjatuh, tak ada pikiran lain, selain apa yang terjadi jika Rio  meninggalkan Alysa, mungkin Alysa juga sama dengan dirinya, rapuh dan terluka.

“Tidak Astrid... itu tak mungkin terjadi, aku juga tak ingin Rio bernasib sama denganku, kehilangan orang yang dicintai itu sangat menyakitkan. Aku juga tak mau Rio mengalami luka hati yang sama sepertiku, jadi aku tak ingin memutuskan hubungan mereka, biarlah mereka jalani sendiri, biarkan mereka bahagia. Aku juga sudah pernah bertemu dengan Alysa, dia gadis yang baik, pantas Rio sangat menyayanginya. Biarkan mereka yang menentukan pilihan hidpunya.” Terasa sesak dada Andre ingin rasanya menangis, tapi tak bisa hanya bisa menahan emosi jiwa di dalam dada.

“Iya... kau benar,” ucap Astrid lirih, karena suaranya tercekat di tenggorokan, karena ia sedang menahan tangisnya.

“Sudahlah Astrid, tenangkan dirimu dan pulanglah, ini sudah sore, nanti Reza mencarimu.”

“Iya, terimakasih untuk semuanya Ndre..”

Astrid meninggalkan Andre sendiri, Andre masih melamun, tak menyangka anaknya pun jatuh cinta dengan keturunan Astrid. Lebih dari dua puluh dua tahun telah berlalu, tapi tak ada yang tahu bahwa Andre masih mencintai Astrid, tak ada orang yang mampu tuk menggantikan Astrid di hatinya. Dan dia selalu berdoa untuk kebahagiaan Asrid, kalau tidak, pasti sejak dari dulu Andre membawa Astrid untuk menikah dengannya dan membatalkan pernikahan Asrid dengan Reza. Karena pada saat itu Andre sudah resmi bercerai, tapi Andre selalu merahasiakannya hingga sekarang baru terbongkar.

Astrid sampai di rumahnya saat hari menjelang gelap. Sangat lusuh dan pucat. Suaminya sedang duduk menunggunya di ruang tamu.

“Mama dari mana saja? Apa yang terjadi dengan Mama?” tanya Reza saat melihat istrinya pulang dengan kelihatan pucat.

“Gak apa-apa, Pah, hanya kecapekan saja. Owh ya, Alysa mana?” jawab Astrid sambil menenangkan dirinya sendiri.

“Owh... ya udah mama istirahat saja sana. Alysa sedang pergis ama Rio. Owh ya.. kata Rio tadi mama bertemu dengan papanya Rio?”

“Iya Pah, tadi mama bertemu dengannya,” jawab Astrid dan langsung berjalan menuju kamarnya. Reza melihat istrinya tak biasa, akhirnya dia pun mengikuti langkah kaki Astrid, bahkan Reza merangkulnya. Setelah sampai di kamar, Reza mengajaknya untuk duduk di tempat tidur biar Astrid lebih santai, kemudian Reza beranjak mengambil segelas air putih untuk Astrid. Reza berpikir apa yang terjadi dengan istrinya? Tak pernah melihat Astrid pucat seperti ini.

Astrid mencoba menenangkan diri lagi, mengatur nafasnya dan merendahkan emosi yang sedang bergejolak dalam jiwanya.

“Pah, maafin mama ya, “ terucap lirih dari bibir Astrid memecah keheningan yang terjadi di ruangan itu.

“Iya, Mah, ada apa? Kenapa Mama seperti ini?” Reza membalasnya dengan penuh perhatian.

“Maafin Mama, tadi Mama lama di swalayan karena mengobrol dengan Andre,” terang Astrid dengan pandangan kosong, dan muka sendu.

“Lalu..?” tanya Reza singkat, dia tak berani melanjutkan pertanyaan, takut kalau-kalau Astrid ingin kembali dengan Andre.

“Ternyata... dia adalah ayahnya Rio, tadi mama ngobrol tentang Rio dengan Alysa,” lanjut Astrid.

“Maksud mama?” tanya Reza.

“Mama meminta ke dia kalau Rio hanya untuk mempermainkan hati Alysa, lebih baik Rio pergi dari kehidupan Alysa. Mama gak mau sesuatu yang buruk terjadi pada Alysa, Mama gak mau Alysa merasa sakit hatinya.”

Reza menghela nafas panjang saat mendengarkan penjelasan dari Astrid.

“Lalu, apa yang dikatakan Andre tentang hal ini? Apakah dia melarang Rio berhubungan dengan Alysa?” tanya Reza ingin tau.

“Tidak, dia tidak pernah mencampuri urusan anaknya,” jawab Astrid singkat.

“Ma... boleh papa bertanya sesuatu?”

“Iya..”

“Apa Mama masih cinta dengan Andre?” dengan sangat terpaksa Reza menanyakan hal itu, meskipun dia sendiri tak ingin menanyakannya, dia takut kalau Astrid mengiyakan jawaban dari pertanyaan itu.

“Ti..dak...” jawabnya lirih seraya menggelengkan kepalanya. “Rasa itu telah hilang, kalaupun masih ada, bukan cinta untuk ingin memilikinya, karena memang jalan yang diambil sudah berbeda, dan rasa itu bukan rasa sayang lagi, melainkan rasa sosial karena dia juga manusia dan kita semua hidup bersosialisi.” Pandangan Astrid masih kosong dan memang benar apa yang dikatakannya, rasa cinta kepada Andre sudah menghilang.

“Maafin Papa, Ma, Papa tidak bermaksud untuk curiga terhadap Mama, Papa hanya takut kehilangan Mama.” aku Reza sambil memeluk istrinya.

Mereka berdua tak menyadari bahwa sedari tadi Alysa berada di ambang pintu kamar dan mendengarkan semua pembicaraan orang tuanya. Alysa pun tak kuasa untuk menahan tangis. Alysa melangkah kecil mendekati orang tuanya.

“Mah, Pah, apakah Alysa salah mencintai Rio?”

“Tidak, Sayang, kamu tidak salah, hanya saja Mama takut kalau kamu terluka nantinya, Mama tak melarang kamu jatuh cinta pada siapapun.”

“Bener, Mah?”

“Iya,, tapi Mama hanya memberi saran, ketika orang yang kamu cintai tak bisa kamu miliki seutuhnya, jangan sekali-kali kamu melukai dirimu, dan jangan sekali-kali kamu mempunyai rasa dendam pada dia. Kamu tidak bisa memilikinya, karena itu adalah salah satu rahasia Tuhan, yang mungkin terkadang kamu tak mengerti.” pesan Astrid pada anak semata wayangnya.

“Iya, Mah, Alysa mengerti.” jawab Alysa.

Reza dan Astrid memeluk Alysa, menitihkkan air mata bersama.

“Sudah, sudah, sudah malam, sebaiknya kita istirahat,” ucap Reza pada anak dan istrinya.

“Iya, sudah malam, jaga kesehatan kamu Alysa.” tambah Astrid.

Mereka pun beranjak tidur, menutup hariyang begitu melelahkan, dan berharap esok hari menjadi lebih baik.

###

Pagi masih dingin, embun masih terasa segar, matahari baru akan menampakkan dirinya, Rio berangkat dari apartement menuju rumah Alysa. Sesaat sampai di rumah Alysa, ternyata Alysa belum mandi, masih terasa dingin di pagi itu. Tapi Rio tetap mengajaknya pergi. Dengan motor sportnya, Rio melaju dengan kecepatan tinggi, mereka berdua menuju tempat yang tenang untuk mengungkapkan semua rasa yang ada di hati Rio. Mereka sampai di perkebunan teh yang sejuk.

“Kenapa kesini?” tanya Alysa dengan sedikit cemberut.

“Iya, aku ajak kau ke sini, karena kau belum mandi, biar orang yang belum mandi tak kecium baunya, biar yang tercium itu daun teh yang masih segar .”

“Enak aja,, huu huu...” jawab Alysa sambil mencubit lengan Rio keras-keras.

“Ahh, sakita tahu!” teriak Rio karena kesakitan, tapi Alysa tertawa riang.

“Alysa... ada sesuatu yang ingin aku katakan pada dirimu,” ucap Rio.

“Iya..”

“Semalam papa menceritakan semuanya padaku, tentang apa yang telah terjadi pada masa lalunya, dan aku tak ingin kisah yang terjadi pada orang tua kita sama dengan kita. Aku mencintaimu Alysa, apapun yang terjadi, akan kujadikan kau milikku seutuhnya. Aku tak bisa hidup tanpamu, aku mohon padamu Alysa, jangan pernah tinggalkan aku..”

“Iya... Mama dan Papa juga semalam membahasnya, dan aku juga tak bisa hidup tanpamu, Rio, kau yang pertama kali mengenalkan cinta untukku, kau yang membauatku jatuh cint, dan aku tak tahu lagi bagaimana bila harus berpisah denganmu, aku tak sanggup, Rio, aku tak sanggup jauh darimu...”

Rio langsung memeluknya, “Kita akan menikah, segera mungkin”

“Apa? Tunggu aku lulus kuliah dulu ya,” pinta Alysa.

“Tidak, apakah orang menikah harus menunggu punya ijazah dulu? Gak perlu itu, Sayang, aku sangat mencintaimu, aku takut kalau aku harus kehilangan dirimu, menunggu waktu sampai lulus itu sangat lama untukku. Dan aku tak ingin hal yang terjadi pada ayahku, terjadi padaku, aku ingin hidup denganmu sayang”

“Iya, aku mau menikah denganmu,” Alysa merasa sangat bahagia, belum pernah dia merasakan bahagia seperti ini.

Rio dan Alysa, pada akhirnya pun menyatu dalam ikatan suci, kini tak ada lagi keraguan dalam hati mereka. Andre tetap berlapang dada, selama bertahun-tahun dia mencintai Astrid, tapi kesabaran itu berbuah untuk anak kesayangannya, dia mendapatkan seorang dari keturunan Astrid. Andre tersenyum setelah resepsi pernikahan Rio dan Alysa. Dia menuliskan sesuatu di salah satu jejaring sosialnya. Ayahnya Rio gaul, punya akun facebook lebih dari sepuluh akun, dan isinya kebanyakan game, dan tentang curahan hati untuk Astrid.

Baca juga: Media Sosial di Mataku


Cintailah apa yang kau milikki, maka hidupmu akan bahagia

Jangan pernah kau buat orang yang menyayangimu terluka karenamu

Karena ketika ada orang lain yang mengapus air matanya

Itu sangat menyakitkan untukmu sendiri, seperti apa yang terjadi padaku

Ketika kau menyia-nyiakan seorang gadis yang mencintaimu

Kau akan terluka lebih dari apa yang dia rasakan

Mungkin dia rapuh, tapi ketika dia menemukan orang yang membuatnya tersenyum

Kerapuhan itu berubah menjadi kekuatan, tangisan itu berubah menjadi tawa

Sungguh indah memang, tapi tak terjadi pada diriku

Aku mencintainya lebih dari mencintai diriku sendiri

Tapi aku harus merelakan dirinya dengan yang lain

Tuhan memang maha adil, Dia membahagiakan anakku

Meskipun gadis yang aku cintai tak pernah ku milikki

Tapi dia tetap menjadi bagian dari hidupku, dari anakku

Cinta, terkadang kau memang begitu rumit dan sulit dipahami

Dan mungkin aku bukanlah cinta sejatinya

Biarlah kutapak jalan yang telah ku daki ini

membawa kenangan-kenangan saat bersamamu

Sungguh indah, dan tak mungkin kulupakan, Cinta :)

No comments

Terima kasih telah membaca postingan pada blog saya. Silakan tinggalkan komentar, dimohon jangan menggunakan link hidup.
Terima kasih.
:) :)