Espania Plesir #1 - Jakarta

www.erycorners.com
Hotel Kawasan Kota Tua Jakarta
Perjalanan ini sebenernya sudah sangat lama, sudah tiga tahun yang lalu, tapi gak apalah baru aku ceritakan :D. Tepatnya tanggal 9 sampai 11 Juli 2010, berangkat dari Purbalingga, pulang kerja buru-buru langsung ke terminal, dan ternyata di terminal pun ketemu teman perusahaan meskipun beda tujuan nantinya, tapi gak apalah daripada sendirian di bus, perjalanan malam pula kan serem. "Akhirnya punya teman untuk diajak ngobrol juga," pikirku. Dan memang sesuai dengan yang diharapkan, cewek itu jauh lebih cerewet dari aku. Sepanjang jalan kita asyik ngobrol, dan rencananya saya mau turun di Grogol, gak jadi dia minta ditemenin sampai turun di terminal Lebak Bulus. Katanya gak berani sendirian, ya sudahlah aku mengalah toh ini temanku juga kalau gak ketemu di bus, aku juga bakalan sendirian, itu lebih ngeri. Sekitar pukul pukul 4 pagi kami sampai di terminal Lebak Bulus.

Di terminal ini sudah ramai, sudah banyak penjual makanan (makanan harus no. 1) kebetulan aku dan temanku, Tia juga sudah lapar. Sarapan pagi di terminal, dengan menu sederhana arem-arem, Pop Mie dan teh manis hangat. Kita sarapan sambil menunggu Bus Trans Jakarta mulai beroperasi, jadi sebelum nyampai ke tujuan kita kenyangkan dulu perut ini. Sekitar jam 5 pagi kita mengantri untuk naik Trans Jakarta, dan tujuanku ke Kawasan Kota Tua – Jakarta Kota, temanku ke Daan Mogot (padahal tadi pagi kita lewati jalan ini), karena tadi pagi dia gak berani turun sendirian di Daan Mogot, yaah.. bolak balik lah, gak apa-apa. Setelah Tia turun, tinggallah aku sendiri (sebenernya banyak orang, tapi gak ku kenal) menuju halte Harmoni. Sesampai di halte Harmoni, aku langsung sms temen ku, si Devi,

→ Dev, ku dah di Harmoni, bentar lagi aku nyampe di Mediteran.

Dan jawaban Devi,

← Haduuh, errrrr,, sorry, gue gak di Mediteran lagi, gue dah pindah kost di Pluit, gue jemput lu di Kota aja ya, jangan turun di Mediteran.

Gubraks, bener-bener bolak balik di pagi hari -_-. Kenapa juga aku gak sms Devi dari pagi, biar aku langsung ke Pluit.

→ Oke Dev, ku terus aja ke Kota, beneran lo jemput aku.

← Beres errr.. ttdj ya.

Di Jakarta Kota sudah ramai, karena matahari sudah mulai menampakkan dirinya, di Museum Bank Mandiri dan Fatahillah pun sudah banyak orang untuk pemotretan, atau sedang olah raga atau hanya sekedar jalan-jalan dengan teman atau pacar. Jadi teringat jaman dulu waktu aku masih tinggal di Jakarta, setiap sabtu pulang kerja pasti nongkrong di kompleks Museum Fatahillah. Nah, kembali ke aku dan Devi, tak berapa lama si Devi nongol, untung cepet juga dia jemputnya.

“Eerr,, gue lapeeer makan dulu yuk laaah, lu tahu gak gue sekarang banyak berubah,” ucapnya.

Aku masih berpikir, apanya yang berubah dari Devi?? Masih tetep gitu, wajah tetep, gak ada yang berubah dikit pun.

“Berubah apanya Dev? Perasaan aku lihat gak ada apa-apa sama dirimu?” tanyaku dengan sedikit bingung.

“Gue sekarang jadi doyan makan kayak loe..! yuk lah makan disini, mengingat kita dulu sering makan disini, kan udah setahun kita gak ketemu”

“Okelah..”

Nyam, nyam, kita makan nasi uduk, hmmm, cukup enak, dan buat perutku kekenyangen. Selesai makan kita cap cus ke kostnya Devi, sebab aku juga dah ngantuk dan capek sekali rasanya, ingin istirahat dulu. “Eh, Errr.. tapi sorry banget ya gue tar mau jalan pacarku, loe sendirian gak apa-apa kan di kost?” ungkapnya.

“Oke, gak masalah, lagian aku juga pengen tidur,, capek banget”

“Siip lah kalau gitu, dan tenang aja gue pulang gak malam-malam kok, tar gue pulang jam 4 an, terus sore kita jalan-jalan, gimana?”

“Ide bagus, ke Monas yah”

“Nah bener,, lihat air mancur.. gak ada loe gak ada yang nemenin gue kesana,”

Bewh, emang aku satpammu, pacarmu kemana?”

“Gak pernah mau diajak ke Monas,” Devi ekspresinya gitu sedih, pengen kali ke Monas.

Sampai di kost Devi, aku emang bener-bener langsung bleg, tidur. Devi pergi ma pacarnya. Untung saja di komplek ini udaranya tak terlalu tercemar masih bisa tenang dan tidak terlalu bising. Pinter juga Devi nyari kostnya. :D.

Dan ternyata belum jam 4 sore Devi dah pulang, aku masih tidur. Hihihi.

“Ya ampun loe tidur aja dari tadi,” celetuk Devi, ketika melihatku masih bermalas-malasan.

“He em, kok jam segini dah pulang katanya mau pulang sorean?” balasku.

“Dia ada acara ma temen-temennya, mandi sana, kita berangkat ke Monas sekarang,” pinta Devi.

“Iyeee...”


#


Jadi anak alay dikit di Monas, foto-foto gak jelas, gaya-gayanya pun aduuh, bener-bener ancuuur, sampai enggak pede buat dipajang di blog ini. Sambil menunggu air mancur yang bergoyang, kita makan dulu. Nasi Goreng Seafood, meskipun harganya agak mahal, tapi emang enak. Hari mulai gelap, tapi makin ramai. Yah, namanya juga Jakarta, makin malam, pasti makin ramai. Banyak wisata kuliner atau sesuatu yang dipertontonkan atau banyak bisa kita beli di pasar malam. Asyik melihat air mancur yang bergoyang, kita juga asyik makan siomay ikan (perasaan baru selesai makan nasi goreng). Kita asyik mengobrol, cerita kesana kesini, dan curhat-curhatan.

Dan setelah dari Monas kita ke Kawasan Kota Tua lagi, yang tadi pagi aku juga sempet sarapa disini. Rindu benar tempat ini, tempat yang menyimpan sejuta kenang-kenangan aku dan teman-temanku di Jakarta. Karena Jakarta ialah salah satu kota yang pernah aku tinggali. Iya, dulu aku kerja di Jakarta.

Sambil melihat ke kanan dan kiri yang banyak penjual, tentunya itu membuat saya khilaf. Iya, kebiasaan buruk cewek kalau lihat penjual baju pasti dilirik baju-baju itu. Kita mampir lah ke penjual baju yang ada di komplek Museum Fatahillah itu, tawar menawar, jadilah kita beli baju, padahal sebelumnya tidak ada niat untuk beli baju. Dan aku pun tak menyadarinya, bahwa uang di dompet ku menipis. Dan otak ku langsung berputar, besok ke tempat Paman dan Tante dech di Mangga Dua.

Dan beneran  setelah malamnya jalan-jalan ma Devi, paginya aku ke tempat Paman, minta uang saku buat pulang.

No comments

Terima kasih telah membaca postingan pada blog saya. Silakan tinggalkan komentar, dimohon jangan menggunakan link hidup.
Terima kasih.
:) :)