Romansa Cinta di Tanah España - Part 8

7:35:00 AM 0 Comments A+ a-

Part sebelumnya...

Hubungan kami sudah berjalan tiga bulan. Aku memperkenalkan Shelly kepada orang tua, mama sangat menyukai Shelly. Selain dia cantik, dia juga sangat baik dan keibuan. Kami sering menghabiskan waktu di Espania Resto, menikmati sajian yang membawa kita semua ke nuansa Indonesia.

Aku dan Shelly sering mengahabiskan liburan bersama. Menyaksikan pertandingan sepak bola di Santiago Bernabeu, berjalan-jalan di Plaza Mayor, dan kali ini kami mencoba menyaksikan pertandingan adu banteng yang sangat terkenal itu di Las Ventas. Arena ini dibangun pada tahun 1923. Satu abad lebih bangunan arena ini, tetapi masih kokoh. Selain dapat menyaksikan pertandingan El Matador, kami juga tidak melewatkan untuk berkeliling melihat peninggalan-peninggalan sejarah adu banteng zaman dulu seperti lukisan, patung, perlengkapan adu banteng dan hingga ke baju-baju matador.

Aku mencintai Shelly, dia adalah wanita pertama yang mampu menggetarkan hatiku. Apa pun akan aku lakukan untuk menjaga senyum yang begitu menawan. Dan hari ini, aku akan menemuinya. Aku mengirim pesan pada dia. Sepulang dari kerja aku segera menuju Parque del Buen Retiro. Aku menunggu dia di tempat ini, tapi Shelly tak kunjung datang juga.

Mungkin dia masih ada pemotretan.” Ucapku dalam hati. Aku menunggunya hingga malam datang. Aku masih menunggu, hingga aku melihat dia, tetapi dia tidak melihatku. Aku menghampirinya.

Luis, benarkah apa yang kau ucapkan?”
Shelly, apa kau tidak bisa memahamiku sedikitpun? Kita sudah menjalin hubungan lebih dari dua tahun dan kau masih belum bisa mengerti tentang keadaanku?”
Luis, kau menghilang tanpa kabar! Sembilan bulan aku menunggumu. Sembilan bulan aku mengirimmu pesan tapi tak ada satu jawaban darimu. Berkali-kali aku menelponmu, tapi kau terus merejectnya. Aku menunggu hingga hatiku lelah. Aku menunggumu hingga aku tidak tahu arah lagi ke mana aku harus berjalan. Aku menunggumu hingga hampir habis air mataku.”
Tapi sekarang tidak akan terjadi lagi. Aku tidak akan pergi lagi. No Amsterdam, No London, and no other place without you. Aku mencintaimu, Shelly.”
Aku tidak mencintaimu lagi!”
Kau bohong, Shelly!” laki-laki itu memegang bahu Shelly dan menatap matanya dalam. Shelly menitihkan air matanya. Laki-laki itu menarik tangan Shelly dan memeluknya erat.

(Sumber : Google Image)

Aku masih berdiri memandang mereka berdua dengan jarak yang cukup dekat. Mereka tak pernah menyadari aku sudah hadir di situ. Cincin yang akan kuberikan pada Shelly jatuh begitu saja. Mungkin terbawa angin, aku sendiri menatap ke bawah tak melihat cincin itu lagi. Aku tertunduk lesu. Aku merasa hancur dan terkhianati. Segala kesal, amarah, emosi dan kecewa telah menyatu dalam jiwaku. Kaki bergetar, aku tak bisa bergerak lagi. Aku tak bisa beranjak pergi meninggalkan mereka.

Shelly melepaskan pelukannya, tanpa sengaja dia melihatku yang ada di seberang samping kiri mereka. “Andre,” katanya. Mereka berdua akhirnya menatap kepadaku.
Siapa dia?” tanya laki-laki itu.
Dia Andre,” jawab Shelly.

Mereka berdua menghampiriku. Aku semakin tidak tahu harus bagaimana. Rasaku kini menjadi benci. Aku benci dengan mereka. Aku mencoba tetap tenang meski sesungguhnya badanku ini sudah bergetar, kakiku sudah tidak sanggup untuk menopang badanku lagi. Rasanya sudah hilang semua akal sehatku.

Shelly, siapa dia?” tanya Luis ke Shelly.
Dia Andre.”
Well, terserah kalian. Selesaikanlah yang belum selesai di antara kalian.” Ucap Luis ke Shelly.
Tidak ada yang perlu diselesaikan di antara kami. Aku dan Shelly tidak ada apa-apa. Kami hanya rekan kerja.” Ucapanku bertentangan dengan hatiku. Mataku masih sanggup untuk melihat, tapi jantungku telah tertancap pisau, hatiku telah merintih menahan kesakitan.

Shelly tak sanggup berakata lagi. Bibirnya bergetar ingin mengatakan sesuatu, tapi lagi-lagi dia hanya mampu menggigit bibirnya. Dia berada di dalam posisi yang sangat sulit dan membingungkan. Iya, aku tahu itu dari matanya yang begitu banyak menyimpan rahasia. Tapi ini keputusanku. Mungkin ini lebih baik.

Luis, beri aku waktu dengan dia untuk berbicara sebentar.” Pinta Shelly ke Luis.
Okay, fine,” Luis segera meninggalkan kami.

Aku masih berdiri dengan badan yang lemas, aku merasa tulang-tulangku sudah tidak ada lagi. Serasa jiwa ini sudah tidak pada raga lagi. Sungguh aku ingin menangis, tapi air mata ini tak bisa menetes sedikit pun. Aku ingin menjerit dan berteriak.

Andre,” ucap Shelly membuka pembicaraan.
Ada apa? Semuanya sudah jelas, tidak ada yang perlu dijelaskan lagi.” Kataku.
Maafkan aku, Andre. Aku sungguh tidak mengerti. Aku tidak pernah niat untuk menyakitimu. Tidak, Andre. Aku tahu kamu sangat baik, aku tidak ada niat sedikit pun untuk melukaimu.”
Tapi, pada kenyataannya, kau menyakitiku. Pada kenyataannya aku terluka. Pada kenyataannya aku hancur!” tangkasku dengan amarah yang masih mencekam di leherku.
Andre, maafkan aku. Aku tidak pernah menyangka kalau akan seperti ini. Sungguh aku tidak pernah menyangka. Aku kira Luis tidak akan pernah kembali, maka dari itu, saat kau mengungkapkan semuanya padaku, aku menerimanya. Maafkan aku, Andre, Maaf.”
Tidak usah kau sebut nama dia di depanku.” Aku membenci Luis dan Shelly saat itu juga. “Lalu, selama ini kau anggap aku ini apa, Shelly?! Apa aku ini hanya tempat persinggahan di saat cintamu menghilang, dan kau datang padaku untuk aku sembukan? Dan saat dia kembali kau meninggalkanku begitu saja? Berjuta kata maaf yang kau ucapkan itu, tidak akan mampu mengobati luka hatiku, Shelly!”
Iya, semua ini memang salahku. Tapi, percayalah rasaku padamu itu bukan main-main, Andre. Selama ini kita lewati bersama, selama ini melakukan banyak hal bersama. Itu juga tidak akan mudah bagiku untuk melupakan semuanya, Ndre. Namun, aku harus kembali kepada dia, aku harus memilih di antara kalian. Maafkan aku, bukan maksudku untuk menyakitimu. Tapi, aku harus kembali padanya.”
Pergilah, pergilah ke mana yang kau mau, karena sebesar dan setulus apa pun cintamu padaku, kau akan tetap memilih dirinya. Aku hanyalah tempat persinggahanmu! Kembalilah pada dia, biarkan aku sendiri, biarkan aku hilang dari ingatanmu, dan kamu hilang dari ingatanku.” Aku sudah tidak sanggup untuk berdiri. Aku tidak mau melihat Shelly lagi. Dan akhirnya pun dia pergi dengan air matanya. Sedangkan aku masih tetap berdiri memandangnya pergi dengan pria lain. Perlahan mereka hilang dari pandanganku. Aku terjatuh, kakiku sudah sangat lemas, aku sampai dibantu untuk duduk di sebuah kursi oleh seseorang.

Rasanya sakit sekali yang kurasakan. Terlalu sadis apa yang telah Shelly lakukan padaku. Dia lebih memilih kembali dengan orang yang telah membuatnya menitihkan air mata, dan meninggalkanku yang selalu berusaha untuk menghapus air matanya.

Aku mencoba berjalan untuk pulang, aku terhuyung-huyung seperti orang yang sedang mabok. Aku berjalan setengah menyeret kakiku. Setiap ada tiang lampu jalan, aku berhenti untuk bersandar. Aku tidak sanggup lagi. Aku ingin menangis, tetapi Tuhan tidak mengizinkan untuk menitihkan air mata. Aku telah tersingkir dari percintaan ini, aku telah dipecundangi dalam hal cinta. Aku telah menghancurkan hatiku sendiri karena cinta, bahkan hingga jiwaku ini ikut merasakan sayatan-sayatan lukanya.

Satu minggu aku tidak masuk kerja. Aku mencoba mengobati luka ini, tetapi tetap saja sukar untuk melupakan Shelly. Senyumnya masih terus terkenang di mataku, dan ketika itu terjadi, seketika itu hati teriris kembali. Mama mencoba menguatkanku, mengajakku berjalan-jalan sampai mengajak ke Barcelona, tetapi tetap saja, senyumku adalah senyum palsu. Dadaku terasa sesak seperti terhempas ke ruang hampa yang penuh kegelapan.

Setelah aku kembali bekerja, aku mendapat kabar bahwa Shelly tidak bekerja lagi menjadi model, dia sudah melepaskan kontrak kerja dengan majalah di sini. Dalam pikiranku, aku merasa senang dia ada lagi di sini. Aku senang tidak akan melihat dia lagi di sini. Karena aku juga tidak mau melihatnya. Aku sudah sangat membencinya. Tapi, hati selalu berkata lain, hatiku selalu mencarinya di mana dia, sedang apa, bagaimana kabarnya, apa yang dia lakukan hari ini? Hatiku terus bertanya-tanya tentang dia, inilah yang membuatku semakin tersiksa ketika akal sehat dan hatiku tidak sejalan. Aku seperti orang yang setengah gila meratapi semua kesedihan yang tak berujung.

Terima kasih telah membaca postingan pada blog saya. Silakan tinggalkan komentar, dimohon jangan menggunakan link hidup.
Terima kasih.
:) :)