Romansa Cinta di Tanah España - Part 1

3:16:00 PM 0 Comments A+ a-

Kali ini aku suguhkan sebuah cerita bersambung yang berlatarkan di negeri sepak bola. Sebenarnya ini keinginan diri sendiri yang ingin melancong ke tanah di mana Santiago Bernabeu berdiri megah. :3

Langsung saja ke ceritanya, kalau bahas Santiago Bernabeu nanti bahas sepak bola :D


ROMANSA CINTA DI TANAH ESPAÑA - Part 1

Oleh : Ery Udya


 
Hal yang paling menyebalkan dalam hidupku adalah ketika harus berpindah rumah. Bagaimana tidak? Kalian bisa membayangkannya sendiri bukan? Berpindah rumah atau pun tempat tinggal itu sangat-sangat ribut. Harus mengemas barang-barang ini, itulah, belum lagi baju yang sebanyak dua lemari itu harus dimasukkan ke dalam koper semua. Packing-packing ke dalam kardus, dan belum lagi aku tidak boleh meninggalkan sesuatu yang aku sukai, ya meskipun hanya sebuah bola. Tapi aku menyukainya. Karena ini permainan yang paling menyenangkan dan paling bisa menyedot semua atmosfir pada diri manusia. Termasuk kalian juga pasti kalian suka menonton pertandingan sepak bola bukan? Dengan sepak bola, semua orang akan bersatu untuk mendukung tim kesangannya.

Loh, sampai membahas sepak bola juga, kembali ke permasalahanku. Aku hari ini harus ikut orang tuaku yang harus meninggalkan negara Indonesia tercinta ini. Well, ayahku mendapatkan tugas di luar negeri, mau tidak mau aku sebagai anak yang berbakti harus meninggalkan semua yang ada di Indonesia. Aku pasti akan merindukan rendang, sate, mie ayam, bakso, rujak cingur, gudeg, soto, asinan, ketoprak dan masih banyak lainnya yang tidak aku sebutkan semuanya.

Andre, sudah selesai belum beres-beresnya? Buruan kita mau segera berangkat.” Suara mamaku yang mendera mendesakku untuk segera bergabung dengan mereka.
Iya Ma, sebentar. Tinggal buku-buku kesukaan Andre yang belum siap, masih kurang kardusnya.” Jawabku.
Andre! Buruan kita bisa telat, pesawat tiga puluh menit lagi berangkat.” Sela papaku.
Okay, okay,” terpaksanya aku harus meninggalkan beberapa buku-buku dan bola karena tidak muat lagi di koper. Berat rasanya harus meninggalkan kamar yang sudah ku huni selama belasan tahun.

Ini memang aneh, tetapi kenyataan. Meskipun aku sudah ikut tergesa-gesa ke bandara, dan paham akan kesibukan papaku yang harus ke luar negeri. Tapi, aku sampai di pesawat aku belum tahu ini akan pergi ke negara mana. Paspor, Visa, dan kelengkapan migrasi lainnya, tidak aku cek. Itu urusan bos besar, buatku yang penting jangan melawannya, kalau berani melawannya, bisa-bisa aku ditendang sebagai anak.

Setelah perjalanan udara yang memakan waktu hampir delapan belas jam, tibalah di bandara tujuan. Aku tertidur di pesawat, sehingga ketika pesawat berlandas, aku sedikit pusing dan bingung. Ini di mana? Dengan rasa malas yang masih menerpaku, aku ikuti saja langkah orang tuaku. Aku percaya mereka tidak akan membuangku di sini.

Aku berjalan mengikuti orang tuaku. Melirik ke kanan kiri, bertanya-tanya terus dalam hati. Ini di mana? Kenapa aku mendengar suara orang-orang seperti di telenovela-telenovela? Kenapa aku seperti masuk dalam kerajaan yang berabad-abad lampau. Suara khas mereka, aku masih asing dengan bahasa mereka. Yang jelas ini bukan Inggris, kalau di Inggris sudah pasti aku bisa menyesuaikan diri, karena biar bagaimana pun aku memiliki keahlian bahasa Inggris yang cukup baik.

Tidak berapa lama kemudian, kami dijemput oleh Staf Kedutaan Besar Rakyat Indonesia (KBRI) untuk menuju rumah dinas orang tuaku. Di sepanjang jalan kami disuguhkan dengan arsitektur-arsitektur kuno yang sangat megah. Aku terpesona melihatnya. Terdengar sayup-sayup alunan musik klasik yang begitu mengental di telingaku. Rasanya aku tidak asing lagi ini di mana. Musik itu, sering aku dengar, tetapi aku masih malas untuk mengingat apa yang pernah aku tahu. Yang terpenting bagiku sekarang adalah cepat sampai rumah dinas orang tuaku, dan aku mau langsung istirahat karena aku sudah sangat lelah.

Berapa lama lagi kita sampai ke tujuan, Pa?” tanya mama ke papa.
Sekitar tiga puluh menit lagi.” Jawab papa.
Mudah-mudahan tidak macet, Mama sudah capek mau istirahat.”
Tenang, Ma, ini bukan Jakarta, jadi jangan khawatir, tidak akan macet di sini.” Jelas papaku.
Dengan keadaan setengah tidur, dan setengah terjaga, aku mendengarkan obrolan kedua orang tuaku. Aku senang mengetahui kalau di sini tidak akan ada macet. Sungguh luar biasa. Aku bisa kemana-mana kalau bosan di rumah.

Memang benar kata papaku, tidak ada macet di sini. Akhirnya kami sampai rumah dinas tepat waktu. Kami tidak langsung mengemasi barang-barang. Barang-barang yang kami bawa masih kami letakan di ruang tamu secara berjejer dan menumpuk. Sungguh luar biasa barang-barang yang kami bawa. Tetapi aku menyesal kenapa aku harus membawa banyak baju, toh di sini nanti aku bisa membeli baju.

Aku mendengar papaku mengobrol dengan staf itu, tapi bahasa papa aneh, papa menggunakan bahasa negeri ini. Oh Tuhan, papaku bisa menggunakan bahasa seperti orang-orang yang di telenovela-telenovela itu? Sungguh ini pertama kali aku mengetahui, karena aku tidak pernah tahu akan hal ini sebelumnya. Aku pusing mendengarkan mereka mengobrol, aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan.

Aduh, kenapa aku lebih bodoh dari papaku? Memalukan sekali ini? Ah sudahlah, saat itu aku langsung masuk ke kamar dan membaringkan diri di kasur yang empuk. Aku tidur.

Terima kasih telah membaca postingan pada blog saya. Silakan tinggalkan komentar, dimohon jangan menggunakan link hidup.
Terima kasih.
:) :)