Seandainya Aku Menjadi Pemimpin, Akan Kubuat Peraturan yang Berdampak Baik Bagi Iklim di Indonesia

Seandainya Aku Jadi Pemimpin
Seandainya Aku Menjadi Pemimpin, Akan Kubuat Peraturan yang Berdampak Baik Bagi Iklim di Indonesia

Halo, teman-teman, apa kabar? Semoga dalam keadaan sehat dan bugar. Mengingat kondisi saat ini cuacanya tidak menentu. Bentar-bentar panas yang ngentang-ngentang bagaikan di gurun pasir, bentar-bentar hujan tiada henti sampai mengakibatkan banjir bandang. Saya sendiri melihat alam yang seperti ini makin miris. "Alam sudah rusak, nih," pikirku yang tak terima dengan kondisi cuaca sudah berubah dari zaman saya masih SD.

Dulu di zaman SD, saya diajarkan materi Geografi, dijelaskan kalau di Indonesia ada dua musim, yakni musim penghujan dan musim kemarau. Rentang waktunya pada saat musim hujan ialah pada bulan Oktober hingga Maret, sedangkan musim kemarau terjadi pada saat bulan April sampai September. Tetapi, kenyataannya sekarang, curah hujan semakin tinggi. Rentang waktu musim pun sudah tidak sesuai dengan dulu.

Di tempat saya yang tinggal di Purbalingga, curah hujan terjadi cukup tinggi dan sering, terlebih di bulan-bulan yang berakhiran 'ber' begini, bisa dikatakan tiada hari tanpa hujan. Bahkan, hujan yang lebat dan disertai dengan angin pula, tak jarang menjadi bencana. Dan kami menganggap semua itu terjadi karena iklim sudah berubah.

Penyebab Perubahan Iklim

Penyebab Perubahan Iklim
Penyebab terjadinya perubahan iklim


Karena cuaca yang tidak menentu, kadang hujan terus-terusan dan jangka waktu yang panjang lebih dari enam bulan, serta musim kemarau yang sesaat tetapi langsung terjadi kekeringan, tentunya kami berpendapat bahwa iklim di Indonesia tidak sebagus dulu lagi. Ini jelas sudah berubah. 

Tapi, apa memang benar iklim sudah berubah? Memang apa saja penyebabnya?

Dan berikut merupakan hal-hal yang menyebabkan iklim berubah.

1. Efek Gas Rumah Kaca

Secara sederhana, pengertian dari Efek Gas Rumah Kaca ialah panas matahari yang terperangkap oleh atmosfer bumi, karena gas-gas yang ada di bumi seperti karbondioksida (CO2) dan gas lainnya menahana panas sinar matahari untuk menyinari bumi, karena sinar matahari tersebut tertahan di dalam atmosfer bumi. Lama kelamaan, hal ini bisa berakibat fatal bagi bumi sebab bisa mempengaruhi iklim yang ada.

Efek gas rumah kaca terjadi juga karena aktivitas kita sebagai manusia seperti:

  • Polusi Udara dari Kendaraan Bermotor

Semakin banyak kendaraan bermotor yang beroperasi, tentu semakin banyak pula pembakaran dari hasil fosil. Dan ini semakin menyumbangkan tinggi untuk perubahan iklim yang terjadi saat ini.

  • Pencemaran Air Laut

Pada dasarnya air laut mampu menyerap CO2 dengan maksimal, tetapi berhubung saat ini sudah banyak sekali sampah-sampah yang masuk ke laut, terutama limbah industri, hal ini menyebabkan air laut berkurang menyerap karbondioksida tersebut.

  • Gas yang Dihasilkan dari Industri

Semakin banyak industri, tentunya semakin banyak pula gas yang dihasilkan. Dan ini sangat berbahaya bagi atmosfer bumi kita tercinta.

  • Sampah

Sampah-sampah yang dihasilkan oleh kita, ditimbun di satu titik, lama kelamaan akan menggunung. Dan sampah yang paling bawah akan membusuk, sehingga akan menimbulkan gas methana yang tidak baik bagi atmosfer bumi. Karena gas methana ialah merupakan hidrokarbon yang paling sederhana yang berbentuk gas. Yang berangsur-angsur bisa menjadi efek rumah kaca dan menjadikan pemanasan global.

  • Industri Pertanian dan Peternakan

Siapa sangka pertanian dan peternakan juga mengakibatkan efek gas rumah kaca. Pada pertanian, terjadi ketika para petani memberikan pupuk ke lahan, akan menghasilkan gas nitrous oxide, yang merupakan gas rumah kaca. Sedangkan pada peternakan, khususnya peternakan sapi, akan menghasilkan gas methana dan karbondioksida yang cukup besar. Gas tersebut dihasilkan dari kentut sapi. Iya, kentut sapi.

  • Penggunaan Cloro Flour Carbon (CFC) yang Semakin Meningkat

Hal ini tidak bisa dipungkiri lagi, bahwa kita yang memakai kulkas, menjadi penyumbang penyebab perubahan iklim. Kenapa? Karena kulkas terdapat CFC yang bisa menghasilkan efek gas rumah kaca dengan kadar besar. Bahkan lebih berbahaya dari karbondioksida (CO2). CFC ini bisa menghancurkan ozon, yang merupakan lapisan terpenting pada atmosfer bumi.

 

Efek gas rumah kaca
Ternyata kita juga penyebab efek gas rumah kaca

2. Pemanasan Global

Dari efek gas rumah kaca, lama kelamaan bumi semakin panas atau yang sering kita kenal sebagai Global Warming. Akibatnya, suhu bumi makin meningkat, es-es di kutub mencair dan ketinggian air laut semakin meningkat. Jika dibiarkan, sungguh ini sangat berbahaya sekali pada iklim dan kehidupan kita.

3. Kerusakan Hutan

Adanya penggundulan hutan menyebabkan fungsi hutan beralih fungsi. Areal hutan berubah menjadi lahan pertanian, peternakan dan lainnya. Pohon-pohon ditebang untuk berbagai kepentingan. Belum lagi, akibat pemanasan global, suhu bumi memanas dan tiba-tiba membakar hutan itu sendiri. Tentunya hal ini sangat parah karena fungsi hutan yang mampu menyerap air, menjaga dari longsor, banjir dan sebagainya tidak ada lagi. Curah hujan pun semakin meningkat dan tak ada daya tampung lagi.

Hutan Merupakan Aset Penting Bagi Masa Depan

Golongan Hutan


Melihat kondisi terkini yang di mana-mana terjadi kebakaran hutan, saya merasa sangatlah miris. Padahal hutan merupakan aset yang sangat penting bagi kehidupan kita untuk masa yang mendatang. Bayangkan saja kalau tidak ada hutan, sumber air pasti susah didapatkan. Lalu bagaimana dengan nasib anak cucu kita di kemudian hari, kalau air bersih saja tidak ada? Inilah yang menjadi PR bagi kita semua sebagai generasi muda.

Sebagai generasi muda kita juga harus berperan dan peduli terhadap lingkungan. Sudah saatnya action dan tanggap apa itu kerusakan hutan dan bagaimana cara 'menyembuhkan' hutan yang terluka.

Untuk ‘menyembuhkan’ luka hutan tersebut, peran generasi muda sangatlah penting. Dan berikut merupakan beberapa hal yang bisa dilakukan oleh generasi muda untuk menolong hutan kita.

1. Adopsi Hutan

Merupakan gerakan bersama-sama yang bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja untuk turut serta dalam menjaga dan melestarikan hutan.

Generasi muda wajib melakukannya. Karena hal ini cara yang termudah untuk kita lakukan. Bisa dalam bentuk melestarikan lingkungan dengan menanam pohon, ikut berdonasi untuk mengembalikan kejayaan hutan, membeli produk makanan hasil hutan yang sesungguhnya, dan bisa juga kita lakukan dengan cara mengurangi penggunaan plastik, serta menggunakan bahan-bahan bekas untuk dipakai lagi (reuse).

2. Membuat Kelompok Generasi Muda Peduli Lingkungan

Tak perlu malu ketika kita bercocok tanam. Aslinya malah hal yang sangat bagus ketika kita mau menanam pohon. Di sini, peran generasi muda harus ditunjukan sebagai aksi nyata, salah satunya membuat kelompok di masing-masing daerah untuk melakukan gerakan menanam pohon. Dengan begini, diharapkan semakin banyak pohon, semakin besar pula kemampuannya untuk menyerap berbagai karbon yang berbahaya bagi bumi kita.

3. Melakukan Kegiatan Bersih Kali

Hujan yang terus menerus membuat sungai sangat kotor dan tidak bisa dimanfaatkan untuk sanitasi. Sebagai generasi muda, mari kita lakukan kegiatan aksi bersih sungai. Membuang sampah-sampah yang ikut hanyut terbawa arus, sehingga airnya bisa dimanfaatkan untuk keperluan sehari-hari. Memang ini tidak berefek besar bagi iklim di Indonesia, setidaknya kita bisa bermanfaat bagi lingkungan.

4. Mediasi dengan Pemerintah

Ketika apa yang kita lakukan belum maksimal untuk mencegah kerusakan hutan, langkah yang terbaik ialah mediasi dengan pemerintah. Kita mediasi dengan pemerintah setempat terlebih dulu dan berkelanjutan. Kita perlu mediasi dengan pemerintah karena pemerintah yang mempunyai kebijakan-kebijakan untuk melindungi hutan dan sumber dayanya.

Seandainya Aku Menjadi Pemimpin, Akan Kubuat Peraturan yang Berdampak Baik Bagi Iklim di Indonesia

Seandainya aku jadi pemimpin Indonesia
Seandainya aku jadi pemimpin Indonesia


Jangan tertawa! Setiap orang punya mimpi. Dan ini angan-angan yang selalu kuimpikan, menjadi seorang Pemimpin. Yap, terdengar mustahil, memang. Tapi apa salahnya sih?

Dan ketika saya menjadi seorang pemimpin, tentunya akan ada kebijakan-kebijakan yang saya ambil, khusus terkait dengan hutan dan iklim di Indonesia agar lebih baik.

Berikut hal-hal yang akan saya lakukan seandainya menjadi seorang pemimpin:


  1. Mewajibkan setiap desa memiliki generasi muda yang peduli lingkungan. Minimal beranggotakan 10 orang.
  2. Mewajibkan setiap keluarga yang memiliki anggota keluarga baru (kelahiran baru) untuk menanam satu buah bibit pohon. Jika tidak memiliki lahan, bibit pohon tersebut bisa diserahkan ke generasi muda yang ada di wilayahnya.
  3. Mewajibkan setiap keluarga memiliki pembuangan sampah sendiri. Dipisahkan sampah organik dan anorganik.
  4. Pengontrolan ketat terhadap penggunaan plastik.
  5. Menyediakan transportasi masal yang efisien, efektif dan hemat energi di setiap daerah. Hal ini bertujuan semakin banyak masyarakat yang meninggalkan kendaraan pribadi untuk keperluan sehari-hari. Dengan begitu, gas karbondioksida yang dihasilkan dari kendaraan-kendaraan pribadi bisa berkurang.
  6. Melarang penggundulan hutan dengan alasan apapun.
  7. Minimal satu bulan sekali setiap warga menanam pohon, hal ini juga bisa disumbangkan melalui gerakan adopsi hutan.
  8. Pemerintah akan pro dan mengapresiasi peran generasi muda yang melakukan aksi tanggap terhadap kerusakan lingkungan.
  9. Melakukan tindakan tegas kepada orang-orang yang merusak hutan dengan alasan apapun.

Dengan kebijakan-kebijakan tersebut, diharapkan kerusakan hutan yang menyebabkan perubahan iklim bisa terkendali dan bisa diminimalisir. Sehingga kita bisa merasakan manfaat hutan lebih panjang dengan kualitas udara yang bagus.

Itulah sembilan point yang akan saya lakukan ketika saya menajdi seorang pemimpin. Pastinya akan ada pro dan kontra, tapi dilihat dari fungsi dan manfaatnya yang sangat besar, mengapa tidak dilakukan? Karena perubahan iklim sudah menjadi tanggungjawab kita semua. Efek dari perubahan iklim itu nyata dan berakibat fatal untuk kita. Jadi, kalau bukan kita yang menjaganya, siapa lagi?

Yuk, mulai sekarang, dukung terus untuk kelestarian hutan Indonesia. Semoga tetap menjadi paru-paru dunia yang menyehatkan.

Demikian opini saya tentang harapan atau hal-hal yang akan saya lakukan ketika menjadi seorang pemimpin. Semoga bisa bermanfaat bagi kita semua. Terima kasih sudah membacanya. Salam Lestari, Salam Rimba. :)

46 Comments

  1. Untuk bisa jadi pemimpin saat ini, gak musti pintar aja, tapi juga harus bisa berpikir out of the box. Bagus nih programnya, peduli lingkungan untuk kemaslahatan manusia jangka panjang. Tapi BTW saya belum pernah liat sapi kentut deh, bunyinya gimana ya? Berarti sapi salah satu penyumbang global warming dong hehehe

    ReplyDelete
  2. Saya sepakat dengan kesembilan poin yang ingin dijalankan seandainya jadi pemimpin. Sedih dengan kondisi lingkungan terutama hutan di Indonesia yang berdampak pada perubahan iklim ini. Benar adanya, jika jadi pemimpin, tentunya akan ada kebijakan-kebijakan yang bisa kita ambil, khusus terkait dengan hutan dan iklim di Indonesia agar lebih baik lagi nantinya

    ReplyDelete
  3. Kebakaran hutan, penggudulan hutan sepertinya emang jadi masalah paling serius dari dulu ya.. Padahal dari kecil juga udah diwanti-wanti soal reboisasi dan pelestarian hutan. Kalau iklim jadi kacau kayak sekarang ini sih wajar aja sih. Kondisi hutan kita emang udah mengkhawatirkan..

    ReplyDelete
  4. ah iya, sejak jaman SD, saya tuh berpatokan April - September itu ya musim kemarau. Tapi kini, perhitungan itu nggak bisa jadi patokan lagi. Kondisi alam yang berubah mempengaruhi juga siklus musim penghujan dan kemarau.

    Saya setuju dengan idenya setiap satu kelahiran di sebuah keluarga, disertai dengan penanaman 1 pohon.

    ReplyDelete
  5. Kalau di bisnis ada istilah sustainability. Sebuah bisnis harus juga memikirkan keberlanjutan dalam artian lingkungan sekitar. Sudah banyak perusahaan yang juga melakoni ini. Misalnya saja kayak perusahaan yang menghasilkan limbah plastik, tentu tidak mau dibilang pencemar lingkungan juga.
    Memang sampai saat ini konsep ini baru dari niat baik perusahaan saja, belum ada aturan khusus yang mengatur. Kalau sudah ada peraturan yang mengikat, bisa jadi kewajiban setiap perusahaan untuk memelihara dan menjaga keberlangsungan lingkungan hidup.

    ReplyDelete
  6. Pemimpin yang tegas anti korupsi memang sangat dibutuhkan di negeri tercinta ini, mbak. Ga tebang pilih ketika ada manusia2 yang berbuat jahat pada alam. Merusak hutan membabi-buta, menambah limbah pabrik yang sembarangan buangnya dll. Perubahan iklim yang ekstrim dapat terjadi salah satunya karena ulah manusia yang nakal2.

    ReplyDelete
  7. Love banget sama hutan, semoga terjaga terus kelestariannya, siapa lagi kalo bukan kita yang melakukannya yaa? Semoga perubahan iklim ini bisa teratasi dengan upaya2 di atas. Yuk sama2 menjaganyaa.

    ReplyDelete
  8. semoga impian dan cita cita yang mulia ini bisa diwujudkan walau tidak sekarang, insyaallah anak atau cucu kita yang mewujudkannya

    ReplyDelete
  9. Sebenarnya untuk urusan menjaga lingkungan udah jadi tanggung jawab semua pihak, termasuk masyarakat, agar kelestarian alam tetap terjaga.

    ReplyDelete
  10. Kebijakan yang berpihak pada alam tentu akan berdampak pada jangka panjang kedepannya. Kalau pemimpin berpikir seperti ini Indonesia akan kembali jadi paru paru dunia

    ReplyDelete
  11. ahh programnya bikin aku cinta, semoga ya pemimpin di masa mendatang melihat ini. Perubahan iklim ini yang paling bikin ngeri menurutku. Programnya bagus banget. suka dan setuju.

    ReplyDelete
  12. Banyak peraturan yang mungkin masih terkesan 'himbauan' terkait dengan perubahan iklim dan menjaga lingkungan ini...Semoga harapan mba tercapai ya, menjadi pemimpin yang lebih peduli dan bisa membuat linkungan tetap terjaga untuk anak cucu kita nanti

    ReplyDelete
  13. wah iya mbak benar, perubahan iklim ini jadi masalah serius yg harus segera ditangani bersama ya mbak..
    keren opininya

    ReplyDelete
  14. Generasi peduli lingkungan itu kayak kader lingkungan gitu ya mbak?
    Optimalisasi fungsinya aja yang kurang diperhatikan sama aparat/pemerintah desa atau kelurahan

    ReplyDelete
  15. Nggak apa2 mbak, setiap orang wajib punya mimpi dan setiap orang punya cara sendiri juga untuk mewujudkannya. Semangat!!!

    ReplyDelete
  16. Iya betul cuacanya gak bisa ditebak, kalau lagi panas minta ampun sampai kehausan. Aku uuga hapalnya gitu Indonesia dua musim sekarang msuimnya gak pasti ya akibat perubahan iklim. Banyak digalakan adopsi hutan untuk memperbaiki iklim salah satunya. Peduli lingkungan diawali sejak dini. AKu dukung programnya nih

    ReplyDelete
  17. Cara terbaik dalam mengatasi perubahan iklim adalah dengan melestarikan hutan dan stop pembukaan lahan dengan membakar sehingga menyebabkan kebakaran hutan yang tidak terkendali. Hal tersebut dikarenakan asap dari kebakaran hutan menjadi penyumbang terbesar adanya Emisi Gas Rumah Kaca. Parahnya CO2 yang sudah ada di atmosfer akan bertahan selama 300 tahun. Dari sinilah kita butuh pemimpin yang mampu mengatasi perubahan iklim ini. Semangat untuk Indonesia.

    ReplyDelete
  18. Sepakat, yuk jaga kelestarian hutan di bumi tempat kita berpijak ini. Siapa lagi kalau bukan kita yang peduli dengan alam.

    ReplyDelete
  19. Kita sepemikiran kak, saya juga lebih suka sama 9 kebijakan ini jika disaat menjadi pemimpin nanti. Tapi sekarang belum nemu pemimpin yang diatas, karna masih ada yg merusak hutan dan limbah plastik masih meningkat.

    ReplyDelete
  20. Pemimpin yang baik sudah selayaknya membuat kebijakan yang pro terhadap kelestarian lingkungan, termasuk hutan. Ngeri deh kalo udah ngebahas dampak perubahan iklim. Mirisnya, masih byk orang yg nggak ngeh atau abai...

    ReplyDelete
  21. Isu lingkungan ini sudah sejak lama digaungkan oleh pegiat lingkungan ya.
    Jadi ingat tahun 2019 kami bikin buku antologi picbook tentang aksi 5 sahabat selamatkan bumi dari sampah

    ReplyDelete
  22. Tingkat pencemaran udara di Indonesia nih udah naik terus, terutama d area perkotaan dan indistri. Sedih sih, tapi ya gimana karena kita juga perlu hasil dari industri itu. :(

    ReplyDelete
  23. Jika ada pemimpin yang bercita-cita seperti Mbak ery wah aku dukung 100% dan rela kampanye tanpa dibayar. Asli memang kita butuh pemimpin yang mendukung kelestarian lingkungan.

    ReplyDelete
  24. Kalau aku jadi pemimpin, aku mau bikin Perpres khusus tentang perlinduangan hutan adat. Karena sekarang sasaran pengusaha perkebunan itu adalah hutan2 adat. Diambil alih dengan cara kogalikog ama oknum pemerintah rasanya. Sedih banget rasanya. Semoga mimpi mbak terwujud...

    ReplyDelete
  25. Global Warming ini emang serem banget sih efeknya, semoga makin banyak dari kita yang semakin peduli dengan isu lingkungan yah. Perubahan kecil yang dimulai dari diri sendiri akan sangat berarti

    ReplyDelete
  26. Efek gas rumah kaca itu memang sangat buruk bagi iklim dan kehidupan makhluk hidup di bumi ya. Makanya gerakan untuk peduli lingkungan dan donasi hutan seperti ini bagus kalau terus disosialisasikan

    ReplyDelete
  27. Perubahan iklim ini terasa banget loh. Di malang aja, yang biasanya dingin, akibat efek rumah kaca dan pemanasan global, udaranya udah gak sedingin dulu.

    ReplyDelete
  28. Sedih melihat hutan yang terus berkurang... Semoga impiannya terwujud, suatu saat kebijakannya diadopsi sama pemimpin Indonesia :)

    ReplyDelete
  29. Siapapun pemimpinnya selalu ada pro kontra kan, begitu pun dengan kebijakan yang diambil. Tapi memang harus ada yang berani membuat kebijakan yang tidak biasa. Contohnya mengenai hutan kita. Semangat! Semoga impiannya bisa diwujudkan pemangku kebijakan yang sekarang.

    ReplyDelete
  30. Saya dukung banget mba ide-ide dari Mba Ery ini. Memang bener loh, kepedulian pada lingkungan itu harus dimunculkan sejak masa muda. Soalnya kalau terlanjur cuek pada lingkungan, sudah susah untuk mengubahnya ketika anak beranjak dewasa.

    ReplyDelete
  31. Mantab jiwa mbaaaa
    Kebijakan yg berpihak pada kelestarian lingkungan sungguh signifikan banget.
    semua pihak kudu berkontribusi dan bahu membahu mewujudkan bumi yg lebih baik!

    ReplyDelete
  32. Selain menjaga hutan untuk emreka yang tidak bisa berkontribusi langsung semisal masyarakat kota, bisa mencegah perubahan iklim dengan banyak menanam tanaman di pekarangan rumah. melakukan penghijauan di sekitar kompleks perumahan dan tidak membuang sampah sembarangan.

    ReplyDelete
  33. semua manusia bertanggungjawab dalam melestarikan lingkungan, menjaga kebersihannya, dan merawat apa yang sudah Allah berikan dalam bumi ini

    ReplyDelete
  34. Terasa banget ya, kota yang tadinya dingin kini panas, sampah juga jadi masalah besar..sedih..butuh pemimpin yang peduli masa depan generasi penerus..

    ReplyDelete
  35. perubahan iklim jadi masalah krusial yg perlu segera ditinfaklanjuti ya mbak...
    butuh peran banuak pihak, termasuk generasi muda juga

    ReplyDelete
  36. Jadi ingat obrolan saya dengan Mbak DK Wardhani beberapa waktu lalu. Menjaga bumi adalah bentuk tanggung jawab kita sebagai manusia. Selain itu juga sebagai bentuk ungkapan terima kasih kepada Tuhan karena sudah diberi tempat yang nyaman untuk ditinggali (bumi).

    Dan ketika kita menanam pepohonan, mengurangi sampah, sesungguhnya kita sedang mempersiapkan masa depan kita sendiri. Kalau kita cuek terhadap kerusakan alam, kelak kita juga yang akan merasakan akibatnya.

    ReplyDelete
  37. Aku mendukungmu Ery, kesembilan poin bila jadi pemimpin ini bagus banget diadopsi siapapun pemimpin masa depan. Sedih ya melihat cuaca yang sekarang udah gak seperti masa kita kecil dahulu. sekarang tuh hujan aja gak menentu meski udah masuk musim hujan. Dan ketika musim kemarau bisa mendadak hujan, kelihatan banget udah gak normal iklim di bumi ini

    ReplyDelete
  38. Menjaga lingkungan itu dimulai dari diri sendiri dan pemimpin punya tugas penting karena yang membuat kebijakan kan mereka. Paling senang kalau kehidupan pribadi pemimpin nya ramah lingkungan hehehe

    ReplyDelete
  39. Sedih sih, setiap kali baca tentang kerusakan alam. Masing-masing pribadi bisa berperan untuk menguranginya. Apalagi jika didukung dengan aturan pemerintah yang tegas. Pasti semakin maksimal hasilnya

    ReplyDelete
  40. Iya..
    Kini efek global warming menyebabkan musim mundur beberapa bulan. Dan bahkan ada beberapa daerah yang masih mengalami musim yang berbeda. Sedih sekali kalau Ibu mengeluh belum hujan.

    Semoga kita menyadari kebaikan untuk alam adalah warisan terindah untuk anak cucu kelak.

    ReplyDelete
  41. Idenya brilliant, Mbak. Memang harus ada yang berani membuat perubahan. Setiap perubahan juga memang psti ada pro kontra. Wajar. Tapi penting juga menunjukkan kepedulian kita.

    ReplyDelete
  42. Pendidikan tentang lingkungan ini bisa dibilang darurat secara global nggak sih Mak? Sekarang kalo ada orang gemar dengan sesuatu yang sustainable dan ramah lingkungan, kok dikit2 dibilang SJW (social justice warrior). Yha terus kenapaaaa gitu? Kita kan pengen hidup lebih sehat dan menyehatkan sekitar. Kayanya udah harus bener2 ditanamkan pendidikan seputar lingkungan sejak dini biar bisa jadi kebiasaan baik saat dewasa nanti :')))

    ReplyDelete
  43. Andai aku jadi pemimpin....banyak banget ya yang bisa kita rencanakan untuk dilakukan kalau jadi pemimpin...Semoga tekabul dan terlaksana nih ...Aminnnnn

    ReplyDelete
  44. Setuju banget, anak muda sejak dini harus ditanamkan cinta lingkungan ya..

    ReplyDelete
  45. Tulisan yang lengkap dan keren mb. Menginspirasi untuk lebih cinta lingkungan

    ReplyDelete
  46. Halo mba, salam kenal sesama blogger kota mendoan Purbalingga 😆. Bener bgt, skrg purbalingga nampaknya sudah menggantikan Bogor menjadi kota hujan yang tiada hentinya, apalagi di musim penghunan seperti ini. Dan nampaknya kegiatan sadar lingkungan masih menjadi privilege negara2 maju, negara kita masih terpaku pada peningkatan ekonomi berbasis eksploitasi alam.

    ReplyDelete

Terima kasih telah membaca postingan pada blog saya. Silakan tinggalkan komentar, dimohon jangan menggunakan link hidup.
Terima kasih.
:) :)