Sekolah untuk Pengamen

1:56:00 PM 3 Comments A+ a-

SEKOLAH UNTUK PENGAMEN
Oleh : Ery Udya
sekolah untuk pengamen

Indonesia, terlintas dalam benak tentang negeri ini. Negeri yang sudah mulai berumur, namun semua harapan rakyat belum terpenuhi semua. Negeri ini sebenarnya indah dipandang dan dihuni. Orang-orangnya yang ramah, hidup damai meski berbeda-beda. Di sini bisa dikatakan sebagai surganya duniawi. Di Indonesia begitu komplit akan hal-hal yang unik dan menarik.
Tak mengherankan jika banyak wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Indonesia. Selain menikmati pemadangan wisata alam yang menakjubkan, mereka juga menikmati kudapan khas nusantara yang begitu lezat dan membuat enggan untuk beranjak pergi dari meja makan sebelum makanan habis. Ya, Indonesia, gudangnya kuliner. Dari Sabang hingga ke Merauke semua tempat menyajikan hidangan khas yang unik nan menggoyang lidah.
Itu hal yang membanggakan dari Indonesia, tetapi di negeri ini juga begitu banyak polemik yang masih saja belum selesai. Kemiskinan, kelaparan, kesehatan tidak baik, moral yang kian hari kian menghilang, bahkan nilai-nilai luhur budaya bangsa ini sudah banyak yang tidak mengenalnya.
Anak-anak jalanan semakin hari semakin merajalela. Tak sedikit dari mereka yang rela melakukan tindakan kriminal di jalan.
Copet...!” teriak seorang perempuan, dia bingung harus melakukan apa, karena tas yang dibawanya tiba-tiba berpindah tangan dan dibawa lari oleh seorang anak laki-laki yang berusia sekitar tujuh belas tahun.
Orang-orang di jalan itu berlalu lalang, sebuah keributan yang menimbulkan makin hiruk pikuknya kota besar. Sebagian mendatangi perempuan itu, dan sebagiannya mencoba mengejar pembawa tas milik perempuan itu. Namun, anak muda itu begitu cepat dia berlari. Seperti sudah terbiasa dan terlatih lari dan dikejar orang.
Perempuan itu kesal dan kecewa karena di tas itu terdapat sejumlah uang, ponsel, kartu identitas, dan beberapa hal yang penting miliknya. Karena orang yang mengejar anak itu tak sanggup untuk mengejar pencopetnya, akhirnya perempuan itu memutuskan untuk pergi meninggalkan keramaian kota. Selanjutnya dia mengurusi beberapa kartu penting yang dibawa pencopet.
***
Aryo! Uang dari mana, ini?!” tanya seorang wanita yang berusia empat puluh tahunan itu. Nada pertanyaan itu sedikit keras dan penuh dengan kecurigaan.
Tadi ngamen di sepanjang jalan.” Jawab anaknya.
Aryo, jangan bohong sama Ibu!” ibu itu memaksa agar anaknya jujur dan mengembalikan sejumlah uang yang cukup banyak kepada anaknya. Anaknya masih terdiam, dia tidak ada jawaban atas pertanyaan ibunya.
Aryo, Aryo nyopet, Bu ...” jawabnya terbata-bata dan merasa ketakutan.
Astaghfirullohal’adziim! Aryo, apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu sampai bertindak seperti itu? Itu tidak baik, Aryo. Itu dosa!”
Dosa? Lebih dosa manakah seorang yang mencopet dengan para koruptor, Bu? Mereka memakan uang rakyat begitu saja, kenapa mereka bisa tersenyum di layar televisi? Lebih dosa mana, Bu? Aku yang mengambil uang milik orang lain, atau mereka yang telah menelantarkan kita?”
Aryo! Apa pun bentuk kejahatan dan mengambil yang bukan hak milik, itu adalah dosa!” tegas ibunya.
Aryo terdiam dan keluar dari ruang rumah. Dia duduk di teras rumah. Ya, rumah yang sederhana semi permanen dengan dinding kayu yang mulai berlubang. Aryo terdiam, dia memang merasa bersalah, tapi apa yang harus dia lakukan lagi? Selama ini dia mengamen untuk membantu ibunya yang berjualan pisang goreng. Selama ini dia sudah mencoba untuk mencari uang yang baik dan tetap. Akan tetapi, lagi-lagi kembali ke nasibnya. Dia hanya lulusan SMP, sedangkan pesaing-pesaingnya sekarang tingkat pendidikannya lebih tinggi. Tentu saja Aryo tersingkir, secara otomatis menjadi anak jalanan.
Aryo merasa bersalah kepada ibunya. Dia pergi dari rumah untuk mengamen di jalanan. Masih terpikirkan apa kalimat ibunya, bahwa mengambil apa pun yang bukan hak milik, itu adalah dosa. Aryo ingin mengembalikan tas milik perempuan yang telah dia copet, tapi dia tidak tahu harus kemana dia mengembalikannya.
Matahari telah bergelincir menuju ufuk barat. Senja mulai menyapa. Aryo bergegas pulang dengan membawa hasil mengamen yang tak seberapa.
Bu, Aryo boleh minta sesuatu?” tanyanya.
Ya,” ibunya masih sedikit jengkel karena anaknya tadi mencopet.
Tapi janji, Ibu jangan marah.”
Memang apa yang kamu minta, Aryo? Sampai-sampai Ibu harus berjanji tidak boleh marah?”
Aryo ingin melanjutkan sekolah, Bu. Aryo capek sering dihina orang karena mengamen. Aryo ingin melanjutkan sekolah agar bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, Bu.”
Sekolah lagi? Apa yang harus dijawab oleh seorang ibu yang yang hanya sebagai penjual pisang goreng? Sedangkan suaminya telah pergi meninggalkannya bertahun-tahun dan tak pernah kembali. Di sisi lain ibunya senang mendengarkan keinginan anaknya, di satu sisi, dari mana biayanya? Tapi, ibunya tak ingin Aryo kecewa. Ia pun mengangguk tanda setuju anaknya untuk meneruskan sekolah.
***
Hari penerimaan murid baru pun tiba, Aryo mencoba mendaftarkan diri ke sekolah, namun pihak sekolah menolaknya dengan alasan Aryo seorang pengamen, anak jalanan. Aryo mencoba mencari sekolah yang mau menerima dirinya, tetapi tetap nihil, semua sekolah menolaknya. Ia pun tertunduk lesu, dalam benaknya bertanya-tanya, “Apakah seorang pengamen tidak berhak untuk mengenyam pendidikan? Apakah hanya mereka-mereka yang kaya yang berhak sekolah? Bukankah pendidikan itu hak dari setiap warga di negara ini? Kenapa seperti ini? Apakah ini adil untukku?”
Aryo pulang ke rumah dengan wajah yang tertunduk lesu. Tanpa menanyakan apa yang terjadi, ibunya sudah tahu. Ibunya memang sudah mengira, anaknya akan sulit untuk diterima untuk melanjutkan sekolah.
Aryo, makan dulu, Ibu sudah masak untukmu.” Ucapnya mencoba menghibur hati Aryo.
Aryo mengangguk tanda setuju. Di wajahnya masih tersimpan kesedihan dan kekecewaan, tapi dia menyembunyikannya. Dia tidak ingin ibunya sedih. Dia hanya berharap, semoga saja ada jalan keluar agar dia bisa diterima sekolah. Untuk menghibur, ibunya meminta Aryo menjajakan pisang goreng yang sudah siap untuk dijual.
Pisang goreng, pisang goreng ....” Aryo mengeraskan suaranya menjajakan pisang goreng di tengah hiruk pikuknya kota. Silih berganti pembeli menghampiri Aryo.
Dek, pisang greongnya masih?” tanya seorang wanita muda ke Aryo.
Masih, Kak. Kakak mau beli? Silakan.” Aryo menawarkan.
Aryo tidak asing dengan wajah perempuan itu. Seketika tubuh Aryo bergemetar dan wajahnya pucat.
Kamu kenapa, Dek? Sakit?” tanya perempuan itu.
Kakak, saya minta maaf.” Jawabnya.
Maaf? Untuk apa?” perempuan itu bingung.
Maaf, sekali lagi Aryo minta maaf. Aryo sudah mencopet tas Kakak. Tapi, Aryo tidak memakai uang Kakak. Tas Kakak masih utuh. Aryo akan mengembalikannya.” Dengan bibir yang bergetar Aryo menjelaskannya. Dia ketakutan. Sungguh takut.
Perempuan itu ingin sekali marah, tapi melihat kondisi Aryo dan sikap kejujurannya, dia pun tersenyum. Aryo mengajak perempuan itu ke rumahnya. Aryo mengembalikan tas dan seisinya ke perempuan itu. Perempuan yang belum diketahui namanya itu merasa iba melihat keadaan Aryo dan ibunya. Dia bertanya-tanya beberapa hal ke Aryo.
Aryo menceritakan semuanya, termasuk juga tentang keinginannya untuk bersekolah.
Jika Aryo mau,, Aryo bisa bersekolah di sekolah alam milik Kakak. Tempatnya tidak jauh dari sini.” Ujarnya.
Benarkah itu? Pengamen jalanan seperti Aryo bisa sekolah? Lalu bagaimana dengan biayanya, Kak?”
Tentu saja bisa. Semua orag bisa bersekolah. Dari mana pun asalnya, semua orang berhak mendapatkan pendidikan yang layak. Untuk biaya tidak usah khawatir, sekolah alam ini gratis bagi siapa pun yang berminat. Dan, ini alamatnya.” Perempuan itu meninggalkan kartu nama.
Sesuai yang tertulis di kartu namanya. Nama perempuan itu Arina. Aryo dan ibunya sangat bersyukur bisa bertemu dengan perempuan seperti dia.
Di saat negeri ini mulai kehilangan saling gotong royong dan saling membantu, Tuhan masih menitipkan malaikat-malaikat yang begitu baik untuk membantu negeri ini. Apa pun yang terjadi, nilai luhur bangsa itu tidak akan pernah hilang. Inilah ciri bangsa Indonesia, selalu ada keramahan dan saling membantu bagi sesama. Inilah Indonesiaku, selalu ada kebaikan di tengah-tengah kekacauan bangsa.


***TAMAT***

3 comments

Write comments
Anisa AE
AUTHOR
January 29, 2016 at 9:54 PM delete

Ahhh seandainya semua anak bisa jujur seperti Aryo. :)

Reply
avatar
eri udiyawati
AUTHOR
February 1, 2016 at 6:54 AM delete

Hihihihi,, memang tidak semuanya mereka jujur, tapi tetap ada yang jujur di antara mereka2 yang hidup di pinggir jalan :)

Reply
avatar

Terima kasih telah membaca postingan pada blog saya. Silakan tinggalkan komentar, dimohon jangan menggunakan link hidup.
Terima kasih.
:) :)