Fiksi : Ini Jalanku

1:27:00 PM 5 Comments A+ a-

Ini Jalanku
INI JALANKU

Oleh : Eri Udiyawati

Hari ini, aku sedang tergesa-gesa. Tepatnya sedang terburu-buru mengejar dosen pembimbing skripsi. Minggu ini adalah minggu terakhir untuk menyelesaikan skripsi. Aku harus lulus tahun ini, setelah tahun lalu skripsiku gagal karena konsentrasiku terpecah ke tour de Australia yang diselenggarakan kekasihku, Doni. Setelah berjam-jam aku mencari dosen pembimbing, Bapak Ismail, akhirnya aku bisa bertemu di ruang perpustakaan.

Singkat dan jelas dia mengoreksi tumpukan kertas yang aku sodorkan kepada beliau. Dia mencermati dengan seksama. “Bagus, “ komentarnya. Itu membuat senang, semoga saja tidak ada yang perlu direvisi kembali. Dan benar, Pak Ismail menandatangani sejilid kertas setebal 200 halaman itu. Aku sangat lega. Akhirnya, aku bisa wisuda tahun ini. Aku bersorak gembira di dalam hati. Jika diekspresikan mungkin saja satu gedung kampus akan mendengarkan suaraku.

Setelah lega karena skripsiku sudah lolos, aku langsung menuju kantin. Rasa lapar dan haus setelah berjam-jam mencari orang penting itu rasanya sungguh sesuatu. Sampai di kantin aku langsung memesan bakso dan jus jambu kesukaan. Sambil menunggu pesanan, aku membuka hp, dan ternyata, sudah begitu banyak pesan yang masuk. Satu per satu aku baca, di antaranya ada pesan dari Doni, ada dua belas pesan dengan kalimat yang sama. Ya, karena pesan belum pernah aku balas, dia terus mengirimkannya. Itulah kebiasaannya.

Isi pesan itu, dia memintaku untuk hadir di acara pesta ulang tahunnya ke dua puluh lima. Tentu saja aku membalas bahwa aku akan datang. Selain itu, aku juga mengabarkan bahwa skripsiku sudah disetujui.

Malam yang ditunggu pun hadir, tamu undangan dari teman-teman dan relasi bisnis orang tuanya, sekitar empat ratus tamu yang datang. Aku mengenakan gaun berwarna putih oriental dengan sepatu hak yang tingginya mencapai 10 cm. Aku berjalan dengan anggun menuju kekasihku. Dia melempar senyum yang manis untukku. Aku melihat dia sangat bahagia karena melihat aku hadir di antara kerabat dan keluarganya.

Saat sedang asyik berbicang dengan Doni, ibunya membuat pengumuman. Hal itu menjadikan semua yang hadir memperhatikannya.

Selamat malam, semua,” sapanya.
Malam,” jawab serempak kami yang menghadiri.
Sebelumnya, saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh rekan, kerabat, dan relasi, yang telah berkenan hadir di acara ulang tahun anak tunggal kami, Doni Hendrawan.”

Semua orang menatapnya, menunggu apa yang akan disampaikan oleh wanita cantik berusia 52 tahun itu.

Di kesempatan ini, saya akan mengumumkan, bahwa, anak kami, akan segera bertungangan.”
Bertunangan?” semua orang saling menatap dan bertanya tak terkecuali aku. Aku langsung bertanya pada Doni, tapi dia hanya menggelengkan kepala tanda bahwa dia tidak tahu.

Aku menunggu jeda waktu apa yang akan disampaikan oleh ibunya. Aku merasa sedikit bahagia, aku yakin ibunya akan menyebut namaku. Keluarganya sudah mengetahui bahwa Doni dan diriku menjalin sebuah ikatan sejak dua tahun yang lalu.

Langsung saja, di samping kanan saya ini, dia adalah calon istri Doni. Dia baru saja menamatkan kuliahnya di Sydney. Gadis cantik ini bernama Shella Feriawan.”

Semua orang bertepuk tangan, tapi aku dan Doni hanya saling memandang. Apa maksud semua ini? Tanpa sadar aku menitihkan air mataku. Aku merasa dipermalukan di tempat ini. Perlahan tapi pasti, aku meninggalkan Doni meski dia mencoba mencegahku.


Semua mata tertuju padaku. Aku yang seperti kalah dalam sayembara cinta ini melangkah dengan rasa malu, sakit dan hancur. Aku sangat tidak tahan di gedung ini. Dengan setengah berlari, aku menuju tempat parkir di mana aku bisa segera meluncur dengan jazz warna merah. Ini adalah hal yang paling buruk yang pernah ada di hidupku. Di permalukan di depan umum!

***

Ini Jalanku
Aku mencoba bertahan dari semua puing-puing hati yang telah hancur. Orang yang aku cintai, dia harus memilih orang lain. Aku tidak tahu, mengapa semua ini terjadi padaku? Mengapa dia tidak pernah bercerita sebelumnya? Salah apa aku ini? Sekian bulan aku terus bertanya-tanya pada diri sendiri. Doni, menerima dia? Lalu, aku dianggap sebagai apa? Sedangkan aku orang yang telah lama mengenalnya.

Hari ini aku wisuda, tanpa Doni, dia sudah tiga bulan menikah, tapi aku masih merasakan kehancuran di hati. Doni hanya mengirim pesan meminta maaf karena harus menuruti kedua orang tuanya demi kelangsung hidup perusahaannya. “Aku benar-benar merasa dipecundangi, seandainya saja aku punya perusahaan besar, mungkin cintaku tidak akan kandas seperti ini.” Pikirku.

Seusai wisuda, aku masih belum terpikir untuk melangkah kemana. Aku mendaftar kerja kemana pun aku tidak tahu. Pikiran dan hatiku masih sakit. Aku mencoba berjalan di atas reruntuhan nestapa. Dan pada akhirnya aku temukan sedikit jalan untuk melupakan Doni. Ada pengumuman tentang beasiswa untuk kuliah di luar negeri. Aku tertarik dengan hal ini. Aku bisa di luar negeri, meninggalkan semua kenangan manis dengan Doni.

Ini sudah tekadku, meski kedua orang tuaku melarangku untuk kuliah di negeri orang. Tapi, apa dayaku. Di negeri yang ku cintai ini, masih tercium aroma tentang Doni. Aku tidak ingin terluka terus menerus. Diri dan hatiku, harus pulih kembali, karena aku juga mencintai diriku sendiri. Aku tidak akan pernah rela diri ini tersakiti lagi. Ini sudah jalanku. Aku harus pergi.

Sehari sebelum aku terbang ke Itali, Doni menemuiku. Entah dari mana dia tahu kalau aku akan pergi ke Eropa. Menahanku dan juga meminta maaf karena telah melukaiku. Dia mengungkapkan semua penyesalan menikah dengan Shella. Doni tidak pernah merasa bahagia dengan pernikahan itu, dia berniat akan menceraikan Shella dan kembali padaku.

Mendengar penjelasan tentang perasaan Doni yang masih mencintaiku, membuatku melayang lagi. Seperti menghirup udara segar di pagi hari. Namun, logikaku berjalan. Tidak! Aku tidak akan menerima Doni kembali. Aku memang masih sangat mencintainya, tapi jika aku kembali dengannya, pasti diri akan terluka lagi. Dan mungkin akan lebih terluka dari ini.

Ini sudah menjadi jalanku. Aku harus pergi. Harus, tidak boleh tidak, karena aku juga mencintai diri ini. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitinya lagi. Terlebih, aku harus mengembangkan bakatku tentang design grafis di Negeri Pizza. Aku tidak mau menangisi dan meratapi terus tentang hilangnya kekasih hati. Untuk itu, kupilih meninggalkan Doni, biarkan kenangan di antara kita terkubur dan usang dimakan waktu.

5 comments

Write comments
artha amalia
AUTHOR
March 21, 2017 at 11:09 AM delete

Saya tahan napas loh bacanya. Tegang...trus sedih 😥😩
Ini cerpen atau beneran curhat?
Ugh...keren!

Oiya...coba deh cari buku2 kepenulisan. Bisa lewat priceza.co.id yang bantuin kamu banget, bisa ngasih solusi shop terpercaya dengan harga murah. Kalau udah dapat referensi bukuw kepenulisan, pasti makin kece deh karyanya. Terus kirim ke media, bakal dimuat!

Reply
avatar

Terima kasih telah membaca postingan pada blog saya. Silakan tinggalkan komentar, dimohon jangan menggunakan link hidup.
Terima kasih.
:) :)