Lucy Maud Montgomery Birthday

10:22:00 AM 2 Comments A+ a-


Hari ini, www.google.com kembali memperingati peristiwa penting, 30 November, secara spesial menghadirkan sebuah doodle di halaman mukanya sebagai peringatan ulang tahun ke-141 tahun Lucy Maud Montgomery, seorang novelis kenamaan asal Kanada. Novelis yang dikenal dengan inisial L.M. Montgomery ini telah menerbitkan lebih dari 20 buku dan ratusan cerita pendek serta puisi, termasuk di dalamnya karya monumental berjudul Anne of Green Gables.



Buku Anne of Green Gables sendiri hingga kini masih menjadi salah satu buku cerita anak-anak terpopuler di dunia. Diterbitkan pertama kali di tahun 1908, buku ini mengisahkan tentang seorang anak perempuan usia 11 tahun yang diadopsi oleh pasangan kakak-adik Matthew dan Marilla Cuthbert. Pasangan kakak dan adik yang tinggal di desa Green Gables tersebut tadinya berniat mengadopsi anak laki-laki agar dapat membantu mengurus tanah pertanian mereka. Meskipun begitu, kehadiran Anne lambat laun berhasil menarik hati Matthew dan warga Green Gables.



Kehadiran Anne membawa suasana baru di Green Gables, membuatnya kian hidup dan berwarna. Anne memiliki keperibadian yang menyenangkan, ramah pada setiap orang, dan penuh daya imajinasi. Banyak hal-hal menarik yang ditemuinya diberikan nama unik seperti Kanopi Kekasih, Permadani Violet, dan lain-lain. Namun jangan pernah menyebut Anne sebagai wortel, karena hal tersebut dapat membuatnya marah dan bahkan menjadikannya musuh.



Walaupun disukai oleh banyak orang dan memiliki banyak kawan, namun ternyata kehadiran Anne masih kurang disukai oleh Marilla. Menurutnya, Anne adalah anak perempuan yang bersikap di luar kewajaran anak-anak perempuan di masanya. Oleh karena itu, Marilla merasa perlu untuk mengajarinya sopan santun dan tata krama. Lama kelamaan, sikap polos dan bersahabat yang ditunjukkan oleh Anne membuat hati Anne luluh dan tidak tega untuk melanjutkan niatannya mengembalikan si gadis kecial periang tersebut ke panti asuhan.



Naskah Anne of Green Gables sempat ditolak oleh empat penerbit sebelum akhirnya diterima oleh sebuah penerbit di Kota Boston, Massachusetts, Amerika Serikat (AS, pada tahun 1908. Sejak itu, Lucy menjalin kerja sama yang erat dengan penerbit tersebut dalam menerbitkan ratusan karya apiknya. Meskipun selalu diterbitkan di AS, namun sebagian besar karya Lucy dikerjakan di kampung halamannya di Prince Edward Island, Kanada, yang kini menjadi landmark bagi ranah kesusastraan negeri Kanada.

Romansa Cinta di Tanah España - Part 4

10:54:00 AM 0 Comments A+ a-

Part sebelumnya...

Aku meninggalkan kantor sekitar jam sembilan malam. Orang di rumah sudah menunggu untuk makan malam. Ini tidak biasanya aku pulang terlambat seperti ini.

“Baru plang, Ndre?” tanya Mama.
“Sudah punya pacar, jadi pulang telat?” Papa mulai meledek.
“Ma, Pa, Andre pulang telat itu bukan karena ada pacar, tapi karena pekerjaan.” Aku berkilah. Karena memang aku belulm punya pacar. Jomblo dan bangga, itu gayaku. Hahahaha....
“Mau mandi dulu atau mau makan malam sama kami?” teriak Mama. saat kumasuk ke kamar.
“Andre mandi dulu, badan Andre sudah panas.”

Sebenarnya makan malam sendiri seperti ini sungguh tidak enak. Tapi mau apa lagi. Terpaksa makan malam sendiri, aku harus memaksanya makan karena perut sudah mulai tidak tahan dengan rasa lapar. Selesai makan, kembali masuk ke kamar, sebenarnya tidak tidur, tetapi ingin mencari sesuatu di internet. Aku mencoba mencari tahu tentang Shelly Hernandez. Ternyata mudah untuk kutemukan tentang dia. Sebuah artikel yang cukup relevan ini membuatku tersenyum lebar.

--
Shelly Hernandez, gadis berusia 23 tahun. Lahir di kota Pontianak pada tanggal 13 Desember 1987. Gadis yang berdarah campuran antara Indonesia dengan Spanyol ini memiliki wajah yang sangat rupawan. Ibunya seorang rumah tangga biasa, dan ayahnya dulu adalah pebisnis yang singgah di kota Pontianak untuk berlibur di Kapuas menikmati panas di garis khatulistiwa.

Orang tuanya dulu bertemu ketika sang ayahnya mampir ke warung makan, dan di situ ibunya masih menjadi pemilik warung. Dari pandangan pertama itulah mereka jatuh cinta, yang kemduian menikah dan dikarunia seorang putri dan memberinya nama 'Shelly Hernandez'. Mereka tinggal di kota Pontianak sampai Shelly berumur lima belas tahun.

Karena pasang surut usaha di Pontianak saat itu tidak stabil, akhirnya mereka memutuskan untuk ke Spanyol, tempat kelahiran ayah Shelly. Shelly tumbuh dan berkembang di negara Matador, hal yang luar biasa, dia bisa beradaptasi dengan cepat. Karena memiliki paras yang menawan, banyak fotografer-fotografer yang mencari dia untuk menjadikannya model. Dari semua model yang telah dilakoni, dia memilih terjun ke model fashion sejak usia delapan belas tahun. Kini sudah menjadi model yang terkenal di negeri Matador, bahkan tersiar kabar, dia sering menjadi bintang tamu di Mancester, England...
--

Mataku berat, sehingga tidak bisa melanjutkan membaca artikel tentang Shelly. Saat terbuka mata ini, aku mendapati laptop yang sudah mati karena kehabisan baterai. Seperti orang yang sedang mabuk, terhuyung-huyung mencari ponsel. Mengecek jam, ternyata masih jam 2 pagi. Setelah memindahkan laptop di meja samping tempat tidur, kuterlelap kembali dalam alam mimpi.

Esok pagi terbangun dari suara-suara musik klasik di jalanan. Aku mengintip dari jendela kamar untuk melihat orang-orang tumpah ke jalanan. Dengan sekuat tenaga, kucoba membuka mata, menguceknya agar bisa melihat dengan jelas. “Mungkin sedang ada festival,” pikirku. Aku tak ambil pusing dengan kegiatan apa itu. Mungkin juga sudah menjadi tradisi di kota ini. Mereka berarak beriringan memainkan dan menyanyikan lagu klasik.

Bingung pun melanda di weekend ini. Orang tuaku sudah pergi untuk berkencan dan meninggalkan anaknya yang semata wayang berwajah tampan ini sendiri di rumah. Terlihat di meja makan sudah ada sandwitch dan jus mangga untuk sarapan. “Ini makanan Eropa!” keluhku sambil mengunyah sandwitch. Terkenangku akan makanan rumah yang dulu, kumerindukan makanan Indonesia yang kaya dengan rempah-rempah.

Aku termenung sendiri di rumah, akhirnya memutuskan untuk pergi sekedar jalan-jalan atau menikmati kota Madrid. Saat duduk di alun-alun Plaza Mayor, ada seorang anak kecil yang sedang memainkan bola. Langsung melintas di pikiranku, kenapa tidak main ke Stadion Santiago Bernabeu yang merupakan markas besar untuk F.C. Real Madrid? Tidak pikir panjang segera meninggalkan Plaza Mayor menuju Santiago Bernabeu. Aku merasa diri ini sangat bodoh sekali. Sudah berbulan-bulan tinggal di Madrid, tetapi belum sekalipun aku mengunjungi ke Santiago Bernabeu.

Ini adalah kesempatan pertamaku singgah di stadion yang megah nan mewah. Berpuluh-puluh ribu orang sudah mengantri untuk membeli tiket pertandingan malam ini. Mungkin ini yang dinamakan magnet dari sepak bola raksasa. Masih pagi saja ribuan orang sudah mengantri. Bagusnya, mereka tertib, tidak berdesak-desakkan.

Untuk mengisi waktu luang, aku mengikuti tour keliling Santiago Bernabeu. Di sana bisa melihat ruang ganti pakaian para pemain sepak bola yang terkenal. Selain itu juga diajak untuk melihat Press Room dan ruang piala yang telah jadi milik Real Madrid. Dari pagi aku berjalan-jalan mengililing Santiago Bernabeu, dan tak terasa sudah mulai malam. Kian malam kian ramai, ini lah pusat sepak bola Madrid. Bergemuruh tumpah menjadi satu, lautan manusia kini pindah ke sebuah stadion.

Aku ikut berdesak-desakan dengan semua orang, tetapi mereka masih bisa tertib. Kami ramai-ramai berjalan menuju tribun untuk menyaksikan pertandingan sepak bola. Aku mencari tempat duduk di tribun, nomor 22267. Aku kurang memperhatikan siapa saja yang ada di sekliling, karena memang aku tidak mengenal mereka. Tak sengaja aku menabrak seseorang dan kepala kami berbenturan.

“Aw....” keluhnya. Mungkin terasa sakit karena kami berbenturan. Kepalaku juga terasa pusing. Aku mengulurkan tangannya untuk menolong, karena dia sampai terjatuh.
“Andre?” ucapnya terkejut.
“Shelly? Benarkah ini?” aku lebih terkejut lagi.
“Kita bertemu lagi. Aku senang bertemu denganmu di sini.” Ucapnya.
“Iya, aku juga senang berjumpa denganmu di sini. Dan maaf aku tidak sengaja menabrakmu.” Aku meminta maaf karena telah membuatnyaterjatuh.
“Ah, tidak apa-apa.”

Akhirnya kami duduk berjejer, sebenarnya nomor duduk Shelly 22265, tetapi dia berhasil merayu salah satu penonton untuk menukar tiketnya. Jadi, kami duduk berdua di antara ribuan orang untuk menyaksikan Cristiano Ronaldo dan kawan-kawan bertanding.

“Apa aku tidak salah?” aku mencoba memecah kebisuan di antara kami.
“Salah kenapa?” tanyanya.
“Kau menyukai pertandingan sepak bola?”
Dia hanya tersenyum dan tidak menjawabnya.
“Kenapa tersenyum? Apa salah dengan pertanyaanku?” aku bertanya lagi.
“Kau tidak salah, karena aku memang menyukai sepak bola Eropa.” Dia mengakui kalau menyukai sepak bola Eropa.
“Aku kira seorang model itu tidak akan pernah menyukai hal-hal seperti ini.”
“Kau salah, aku dari kecil sangat senang ketika melihat pertandingan sepak bola seperti ini. Dan aku sangat mencintai klub Real Madrid ini.”
Sumber : Google Image

Aku tersenyum mendengar penjelasannya, tak ku sangka seorang gadis yang anggun juga bisa menyukai sepak bola. Bagiku, ini adalah akhir pekan yang sangat membahagiakan untukku. Melihat senyumnya yang begitu mempesona dan bola mata yang indah, membuat siapa saja ingin tetap di dekatnya. Meskipun aku tahu, sepertinya hal ini tidak mungkin. Siapalah aku, sedangkan dia seorang model. Mungkin juga semua orang merasakan hal yang sama, mengagumi dia karena dia model.

Tetap Menunggu

10:14:00 AM 0 Comments A+ a-


TETAP MENUNGGU



Oleh : Ery Udya

Sebelumnyatak pernah terlintas dalam benakku
Bahwa diriku akan mencintaimu seperti ini
Sebelumnya, tak pernah ku rasakan jatuh cinta
Yang benar-benar tulus mencintai

Kini kau hadir dan mampu membuatku tergoda
Hingga aku rela korbankan seluruh jiwa dan ragaku
Hanya untuk demi bisa bersamamu


Meskipun hanya Tuhan yang tahu
Bahwa sesungguhnya aku sangat mendambamu
Sampai akhir nafasku, ku kan tetap menunggumu
Hingga akhirnya engkau menjadi milikku

-
Purbalingga, 26 November 2015.

Selamat Hari Guru Nasional, 25 November 2015

10:29:00 AM 0 Comments A+ a-

Haii, para pembaca di seluruh Nusantara tercinta. Tentu kalian tahu, hari ini tanggal berapa? Ya, Rabu, 25 November 2015. Di Indonesia, pada tanggal ini adalah tanggal yang sangat penting, karena memperingati Hari Guru Nasional Indonesia. Karena hari yang penting ini, www.google.com pun ikut memperingatinya. Sebuah apresiasi yang besar bagi guru-guru di seluruh Nusantara.

Guru, namamu selalu dikenang dan diingat. Engkau yang selalu memberikan bimbingan tanpa kenal lelah. Mengajarkan anak-anak untuk mengerti huruf, mengenal angka. Kemudian, mengajarkan bagaimana cara membaca, menghitung, dan masih banyak lagi yang engkau ajarkan. Berjuta puisi dan ribuan bunga pun tak sanggup untuk membalas jasamu, Guru.

Guru, memang pantas menyandang gelar Pahlawan Tanpa Tanda Jasa. Pengorbanan yang dilakukan untuk mendidik generasi bangsa begitu luar biasa. Guru juga bisa dikatakan sebagai orang tua kedua bagi anak-anak. Mengapa demikian? Karena guru juga mengajarkan segala hal kebaikan layaknya orang tua di rumah.

Untuk menyatukan seluruh guru di Indonesia, maka dibuatlah organisasi yang bernama Persatuan Guru Republik Indonesia, atau yang biasa kenal dengan sebutan PGRI. Organisasi ini beranggotakan seluruh warga negara Indonesia yang berprofesi sebagai guru.

Sebelum bernama PGRI, organisasi persatuan guru bernama Persatuan Guru Hindia Belanda pada tahun 1912. Organisasi tersebut dibentuk dengan semangat perjuangan guru pribumi  pada zaman Belanda. Setelah kemerdekaan, tepatnya pada tanggal 25 November 1945, lahirlah Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI).
Salah satu prangko untuk memperingati Hari Guru Nasional. Sumber : Wikipedia

Itulah secuil sejarah mengenai hari guru nasional. Guru oh guru, jasamu begitu besar. Selamat untukmu, Guru. Teruslah mengajarkan kebaikan, meski perjuangan yang kau curahkan begitu banyak pengorbanan. Demi negeri ini, lanjutkanlah. :)

41 Tahun Penemuan LUCY

7:42:00 AM 0 Comments A+ a-

Hari ini, Selasa, 24 November 2015, Google merayakan hari spesial lagi, yaitu merayakan 41 Tahun Penemuan Lucy. Apakah itu Penemuan Lucy?

Australopithecus Afarensis (Lucy) adalah seekor hominid punah yang hidup sekitar 3,9 dan 2,9 juta tahun yang lalu. Tak jauh berbeda dengan Australopithecus Africanus, Australopithecus afarensis memiliki tubuh yang ramping. Para ilmuwan mempercayai bahwa Australopithecus afarensis adalah nenek moyang dari Homo, yang juga berarti nenek moyang dari manusia modern, Homo sapiens.

Sampai saat ini, fosil-fosil Australopithecus afarensis hanya ditemukan di wilayah Timur Afrika. Wilayah yang paling terkenal sebagai tempat penemuan fosil ini adalah Hadar, Ethiopia. Di sanalah fosil "Lucy", seekor Australopithecus afarensis betina, ditemukan. Tempat lain di mana fosil Australopithecus afarensis ditemukan adalah di Omo, Maka, Fejej, dan Belohdelie di Ethiopia, dan Koobi Fora dan Lothagam di Kenya.

Lucy meninggalkan ketergantungan dari pohon dan memulai gaya kehidupan berbasis di tanah. Fosil baru menegaskan anggota spesies Lucy sudah bisa membuat jejak kaki sebelum 3.6 juta tahun lalu yang ditemukan dalam abu vulkanik yang mengeras di Laetoli, Tanzania. Australopithecus afarensis dianggap merupakan peralihan primata bipedal.

Di awal tahun 2007, Lucy pernah dipamerkan di Amerika Serikat selama enam tahun, namun setelah itu dikembalikan ke pemerintah Ethiopia pada tanggal 1 Mei 2013.

Lalu siapa Lucy si Australopithecus ini? Lucy adalah nama umum dari AL 288-1, representasi 40 persen tulang spesimen Australopithecus afarensis yang ditemukan pada tahun 1974 di Hadar, Lembah Awash, Depresi Afar, Ethiopia.

Karena hari ini adalah bersejerah dan penting, maka Google.com pun ikut merayakan atau mengingat kembali tentang sejarah masa lampau. Semoga bermanfaat untuk nilai sejarahnya. :)

UMK Jawa Tengah 2016

2:04:00 PM 1 Comments A+ a-

Akhirnya, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo telah memutuskan hasil yang telah ditunggu-tunggu. Dan berikut UMK 2016 untuk Kabupaten dan Kota di Jawa Tengah: 


Sumber : Google Image
  1. Kota Semarang Rp 1.909.000,
  2. Kabupaten Demak Rp 1.745.000,
  3. Kabupaten Kendal Rp 1.639.600,
  4. Kabupaten Semarang Rp 1.610.000,
  5. Kota Salatiga Rp1.450.953,
  6. Kabupaten Grobogan Rp 1.305.000,
  7. Kabupaten Blora Rp 1.328.500,
  8. Kabupaten Kudus Rp 1.608.200,
  9. Kabupaten Jepara Rp 1.350.000,
  10. Kabupaten Pati Rp 1.310.000,
  11. Kabupaten Rembang Rp 1.300.000,
  12. Kabupaten Boyolali Rp 1.403.500,
  13. Kota Surakarta Rp 1.418.000,
  14. Kabupaten Sukoharjo Rp 1.396.000,
  15. Kabupaten Sragen Rp 1.300.000,
  16. Kabupaten Karanganyar Rp 1.420.000,
  17. Kabupaten Wonogiri Rp 1.293.000,
  18. Kabupaten Klaten Rp 1.400.000,
  19. Kota Magelang Rp 1.341.000,
  20. Kabupaten Magelang Rp 1.410.000,
  21. Kabupaten Purworejo Rp 1.300.000,
  22. Kabupaten Wonosobo Rp 1.326.000,
  23. Kabupaten Kebumen Rp1.324.600,
  24. Kabupaten Banyumas Rp 1.350.000
  25. a. Kabupaten Cilacap Wilayah Kota Rp 1.608.000,
    b. Kabupaten Cilacap Wilayah Timur Rp 1.490.000,
    c. Kabupaten Cilacap Wilayah Barat Rp 1.483.000,
  26. Kabupaten Temanggung Rp 1.313.000 27,
  27. Kabupaten Banjarnegara Rp1.265.00,
  28. Kabupaten Purbalingga Rp1.377.500,
  29. Kabupaten Batang Rp1.467.500,
  30. Kota Pekalogan Rp1.500.000,
  31. Kabupaten Pekalongan Rp1.463.000,
  32. Kabupaten Pemalang Rp 1.325.000,
  33. Kota Tegal Rp1.385.000,
  34. Kabupaten Tegal Rp 1.373.000,
  35. Kabupaten Brebes Rp1.310.000.
Kenaikan UMK tertinggi di Indonesia, terjadi pada Kabupaten Purbalingga, yaitu naik hingga 25%. Hal ini disebabkan karena begitu menjamurnya perusahaan-perusahaan industri bulu mata dan rambut palsu di kota Purbalingga. Selain dari kedua industri tersebut, banyak juga usaha-usaha kecil yang terus berkembang di kota Perwira ini.

1 atau 99?

7:17:00 AM 0 Comments A+ a-

Pembalap Movistar Yamaha, Jorge Lorenzo mengaku masih bingung akan menggunakan nomor 1 atau 99 di balapan pada tahun 2016. Lorenzo belum mengambil keputusan dalam menentukan nomor balapnya tahun depan, demikian yang ia nyatakan kepada AS. Ia pun mengaku punya beberapa hal yang harus dipertimbangkan.

Sebagai juara dunia, Lorenzo berhak menggunakan #1 tahun depan, namun nomor ini dikenal dengan kutukannya di MotoGP. Dalam beberapa tahun terakhir, pebalap yang menggunakan #1 biasanya gagal mempertahankan gelar. Dengan alasan ini, beberapa pebalap seperti Barry Sheene, Valentino Rossi dan Marc Marquez ogah menggunakannya.

"Saya belum mengambil keputusan. Saya punya beberapa keraguan. Saat melakukan selebrasi gelar, saya meminta pendapat anggota tim saya dan mayoritas memilih nomor 99. Tapi keputusan akhir ada di tangan saya dan saya belum menentukannya," ujarnya.

Plat #1 sendiri sudah tak lagi digunakan sejak Casey Stoner saat membela Repsol Honda pada 2012. Lorenzo pernah menggunakannya pada tahun 2011, yakni semusim setelah meraih gelar dunia MotoGP pertamanya. Meski begitu ia memutuskan tetap menggunakan #99 pada tahun 2013 setelah merebut gelar dunia 2012.

"Akan sangat menyenangkan mendapat nomor 1, tapi 99 begitu mewakili saya. Saya belum tahu, karena dengan begitu banyak perayaan gelar saya belum punya waktu untuk memikirkannya," tutup Por Fuera.

Lorenzo memulai karirnya di MotoGP 2008 dengan #48, yang juga ia gunakan saat masih turun di kelas balap yang lebih ringan. Nomor ini merupakan nomor balap mantan manajernya, Dani Amatriain. Lorenzo pun mulai menggunakan #99 pada tahun 2009 melalui voting penggemar setelah ia berpisah dengan Amatriain.

--
Kalau menerut saya, lebih baik nomor 99, itu lebih mewakili dirinya sendiri dan lebih keren tentunya dengan nomor 99.

Lorenzo - Rossi Tetap Satu Tim

1:02:00 PM 0 Comments A+ a-

Setelah motoGP 2015 berakhir, banyak yang membuat spekulasi bahwa rider dari Yamaha, Jorge Lorenzo akan hengkan dari Yamaha. Namun, berita itu telah ditepis oleh pihak Yamaha Movistar sendiri.

Dari sumber informasi, mengatakan bahwa Managing Director Yamaha Motor Racing, Lin Jarvis kembali menegaskan pihaknya tak akan menghadirkan dinding pembatas antara duet Movistar Yamaha MotoGP, Jorge Lorenzo dan Valentino Rossi tahun depan meski keduanya bersitegang di penghujung musim ini.
Sumber : Google Image

Dinding pembatas ini sempat ada di tengah garasi Yamaha saat Lorenzo dan Rossi bertandem di Fiat Yamaha pada tahun 2008-2010, yakni saat hubungan keduanya cukup buruk. Dinding itupun menghilang saat Rossi kembali pada tahun 2013, dan keduanya sepakat berbagi data.

"Tim kami akan tetap bersatu, begitu pula untuk tahun depan. Saya mengonfirmasi bahwa data telemetri Jorge dan Vale akan tersedia untuk satu sama lain. Dalam hal ini Yamaha tak punya keraguan. Tak akan ada garasi terpisah dan tak akan ada tembok pembatas antara keduanya," ujar Jarvis kepada Corriere dello Sport.

Pendapat Jarvis inipun didukung oleh kepala mekanik Lorenzo, Ramon Forcada yang yakin tak adanya dinding pembatas bisa menguntungkan dua belah pihak. "Kenapa harus mengubah sesuatu yang menghasilkan keberhasilan?" tutur Forcada kepada AS.

Cinta atau Komitmen?

12:33:00 PM 0 Comments A+ a-

Kembali lagi dalam masalah cinta. Memang kalau membahas cinta itu tidak akan pernah ada ujungnya. :D

Cinta atau Komitmen? Sering kali kita bertanya sebenarnya apa sih yang membuat hubungan itu langgeng hingga akhir hayat? Cinta yang begitu besarkah? Atau sebuah komitmen yang dilakukan oleh kedua pasangan?

Jika sebuah cinta yang membuat langgengnya sebuah hubungan, tentu saja tidak akan pernah ada yang tersakiti dan menyakiti. Tidak akan pernah ada perceraian atau pun perpisahan yang menguras air mata. Cinta memang terkadang rumit. Memang cinta pada padangan pertama itu selalu ada. Tapi, sebenarnya untuk tetap berlangsungnya sebuah hubungan bukan hanya cinta. Karena dalam perjalanan cinta, sang waktu akan menguji, di situlah sebuah komitmen akan berperan. Mau melepaskan? Atau mau mempertahankan?

Memang harus diakui bagi sebagian orang, mendapatkan cinta itu tidak mudah. Apalagi mereka yang pernah mengalami sakitnya mencintai. Tentu saja mereka akan berpikir dan berhati-hati ketika harus kembali dalam dunia cinta. Namun, perlu diketahui, mendapatkan cinta itu tidak sesulit mempertahankannya, karena sesungguhnya mempertahankan cinta itu akan banyak mengalami ujian dari setiap langkah yang dilaluinya.

Meskipun sudah terbiasa bersama dan saling mencintai, ketika tidak ada komitmen itu pun percuma, sama saja, pasti akan berakhir. Karena sesungguhnya yang paling penting dalam sebuah hubungan adalah komitmen. Lihat saja mereka yang sudah berkeluarga. Seorang istri akan bangun pagi-pagi untuk menyiapkan segala keperluan suaminya. Kalau bukan sebuah komitmen dan tanggung jawab dia sebagai istri, mana mau, karena ketika masih menjadi seorang gadis, dia jarang sekali memikirkan keperluan orang lain di pagi-pagi. Pasti dia yang dipikirkan persiapannya sendiri untuk beraktivitas.

Lalu, seorang suami, dia pergi pagi untuk bekerja, menafkahi istrinya. Yang mana sebelumnya dia bekerja untuk dirinya sendiri atau pun keluarganya sendiri. Tetapi, kehidupan setelah menikah membuatnya bertanggung jawab untuk mencukupi segala kebutuhan dirinya dan wanita yang disebut sebagai istrinya itu. Kalau bukan sebuah komitmen, untuk apa dia capek-capek tapi hasilnya dia berikan kepada istrinya?

Sebesar apa pun cinta yang dimiliki, jika tidak ada komitmen, semuanya pun akan hancur. Sepeduli apa pun sebuah komitmen jika tidak ada cinta, maka semuanya akan tandus. Ibarat sebuah tanaman namun tidak pernah dirawat, maka akan gersang dan kering.

Romansa Cinta di Tanah España - Part 3

10:25:00 AM 0 Comments A+ a-

Part sebelumnya...

Keahlianku adalah tentang design grafis. Sebenarnya berawal dari suka mengedit-edit foto di laptop. Tetapi, pada akhirnya itu menjadi keahlianku untuk merancang sebuah design. Dengan hal itu aku diterima dengan mudah di salah satu perusahaan majalah yang terkenal di Spanyol. Bahagia rasanya bisa bekerja sama dengan orang-orang yang mempunyai dedikasi tinggi.

Aku memiliki seorang atasan, dia tulen dari tanah Catalan, Barcelona. Hmm, mendengar nama 'Barcelona' aku menjadi ingin ke sana juga. Selain ingin melihat Camp Nou yang merupakan markas dari FC Barcelona, di sana juga merupakan tempat yang indah. Pantai Barcelona itu sungguh mendamaikan. Pemandangannya indah dan nuansa romantis selalu ada di Barcelona. Tapi bicara tentang romantisme, pergi dengan wanita mana, aku? Kekasih pun tiada. Entahlah, pernah kujatuh cinta pada seorang wanita, tetapi dia akhirnya pun lepas dariku. Dia lebih memilih dengan laki-laki lain. Semenjak itu, hampir lima tahun ini belum pernah kujumpai lagi seseorang yang mampu menggetarkan hatiku.

Ah, membahas tentang cinta dan wanita tidak akan pernah ada habisanya. Lebih baik aku kembali ke dunia kerjaku yang baru. Aku menyukai tempat kerjaku ini. Meskipun berbeda bangsa, tapi mereka saling tetap menghargaiku selama aku memiliki kemampuan dan berhasil membuktikan bahwa karya yang aku ciptakan itu layak untuk dipasarkan. Aku berhasil membuat design cover majalah yang membuat mereka takjub. Ini memang tentang fashion tetapi aku tahu tentang bagaimana mengemas fashion dalam satu buku.

Hari ini ada atasanku mengatakan akan ada seorang model yang ingin menemui karena hasil design coverku. Aku sendiri grogi dan gugup. Mimpikah itu? Atau hanya sebuah halusinasiku saja? Seorang model di Spanyol ingin bertemu dengaku? Tapi ini ternyata benar-benar terjadi, dia memintaku untuk menemuinya di Cafe Plaza Mayor pukul lima sore.

Dari kejauhan aku memandang siapa yang sedang menungguku di Cafe Plaza Mayor meja nomor 47. Dia memakai gaun berwana merah yang menyala seperti banteng yang akan menyuruduk. Matanya tajam berwarna biru, hidungnya hampir mirip dengan paruh burung gagak, jika dibandingkan dengan hidungku, tentu hidungku ini sangat pesek. Bibirnya sedikit tebal dengan warna lipstik merah muda, bulu matanya menggunakan bulu mata palsu tapi sangat mirip dengan bulu mata asli. Dia memakai sepatu hak tinggi yang buatku itu bisa menyakitkan kaki karena hak sepatu itu sekitar tujuh belas senti meter.
Ah, wanita, selalu berusaha untuk tampil sempurna. Apa lagi dia seorang model.” Pikirku.

Aku berjalan terus menghampirinya. Sampai di depannya aku bingung harus mengatakan apa. Gugup dan sebagainya. Aku tidak tahu harus bersikap bagaimana, mungkin karena dia tahu aku gugup, dia memulai untuk menyapa.
Sumber : Google Image

Hai, buen día , ¿Es cierto que usted es el Andre amo?” dia menyapaku.

Oh, matilah aku, dia menggunakan bahasa Spanyol. Bahasa Spanyolku belum lancar. Baru belajar beberapa bulan.

Yes, right, and I'm sorry, what it's your name, Miss?” terpaksanya aku menggunakan bahasa Inggris. Sungguh tidak bisa lancar untuk mengobrol dengan dia.

I'm Shelly Fernandez,” jawabnya mengikuti menggunakan bahasa Inggris. Mungkin dia tahu aku kurang fasih dalam bahasa Spanyol.

Nice to meet you, Miss Shelly.” Balasku.

Fine, and call me ‘Shelly’,” jawabnya. Kami berdua duduk berhadapan. Kini aku melihat dengan jelas siapa yang ada di depan mataku. Wajahnya begitu lembut, kerlingan matanya membuatku sulit untuk melepaskan pandangan dari dia. Dan lebih gilanya lagi aku masih merasakan jemarinya di tanganku saat berjabat tangan dengan dia.

Aku memesan minum yang sama dengan dia, karena aku sendiri tidak tahu harus memesan apa di sini. Terlebih aku takut kalau lidahku ini tidak cocok dengan lidah orang Spanyol. (Untuk memudahkan pemabaca, obrolan ini kujadikan menjadi bahasa nusantara).

Aku sudah melihat majalah yang terbit edisi minggu ini. Aku suka sekali dengan designnya. Aku menghubungi ke kantor majalahnya, dan mereka mengatakan bahwa andalah yang membuat design cover itu. Maka dari itu, saya ingin menemui Anda. Apakah tidak masalah buat Anda?” dia memulai membukat topik. Ini yang ku harapkan agar aku tidak gugup jika hanya diam saja.

Oh ya, benar, Nona Shelly, mmm... maksudnya Shelly. Apa Anda ingin design cover yang khusus?” tanyaku.

Ya, begitulah, aku model fashion di majalah tersebut. Aku mau Anda mendesign covernya dengan warna yang lebih terang lagi. Aku suka warna-warna yang cerah seperti pink, merah, hijau muda dan biru laut. Aku ingin memadukan fashion dengan keindahan alam. Apakah sekiranya Anda bisa, Tn. Andre?”

Ya akan saya usahakan. Mmm... dan maaf juga, panggil nama saya saja,” balasku. Aku tidak nyaman dipanggil dengan sebutan 'Tuan', apa lagi aku ini masih muda. Papaku saja yang sering keluar masuk luar negeri dan sudah berumur lebih dari lima puluh, yang memanggil 'Tuan' itu hanya beberapa orang tidak sampai lima orang yang memangil papaku dengan sebutan itu.

Bagiku, pertemuan dengan Shelly adalah pertemuan yang menyenangkan. Esok harinya dia sudah datang di kantor dan menemuiku di ruang kerja. Dia mengarahkan bagaimana design cover majalah edisi selanjutnya. Ini tugas penting bagiku! Aku tidak boleh menyia-nyiakan dan mengecewakan semua orang. Apa lagi sampai mengecewakan wanita cantik itu.
Sumber : Google Image

Waktu terus bergulir, aku merasa nyaman dengan Shelly, dia seorang model tetapi dia tidak pernah menyombongkan diri. Dia memiliki semuanya, tetapi dia tetap rendah hati. Kepada seluruh staf di sini, dia bersikap sangat sopan. Aku semakin ingin tahu siapa dia, tetapi aku sendiri takut untuk menanyakan hal-hal yang lebih detail kepada dia. Aku takut dia marah atau tersinggung, aku harus menyimpan semua pertanyaan-pertanyaanku sampai waktu yang tepat itu tiba.

Andre,” sapanya.

Iya, saya.”

Maaf sebelumnya, aku lupa besok itu weekend, untuk tabloid pribadiku aku belum menyelesaikan covernya. Kau bisa menolongku?” pintanya dengan wajah yang memelas.

Tabloid pribadi? Hmm, tentang apa? Dan mau seperti apa designnya?” tanyaku.

Iya, tabloid pribadiku ini tentang resep masakan. Aku lupa kalau besok Sabtu harus dicetak, tetapi aku belum mengambil foto untuk makanan yang akan menjadi ikon di tabloid itu.”

Okay, saya bisa. Saya akan buatkan designnya juga, yang penting foto itu sudah ada.”

Sebentar, aku menunggu foto kiriman dari koki. Aku harap dia sudah selesai memasak dan segera mengirimkan gambarnya untukku.”

Aku dan Shelly menunggu beberapa menit foto dari sang koki. Sebenarnya jam kerjaku sudah selesai, tapi aku tidak tega meninggalkan dia sendiri dalam kesulitan seperti ini. Terlihat dengan jelas kecemasan dalam wajahnya yang membuktikan bahwa foto itu harus segera diedit dan dijadikan cover untuk tabloid makanannya.

Ini dia sudah dikirim fotonya.” Dia menunjukkan foto itu padaku. Aku tidak tahu makanan apa itu. Sepintas terlihat seperti daging sapi yang direbus, tetapi dicampur dengan rempah-rempah dan sayuran lainnya.

Boleh aku tahu apa nama makanan itu?” tanyaku.

Ya, tentu saja, ini bernama ‘Cocido’, ini terbuat dari bahan dasar daging sapi atau daging yang lainnya dicampur dengan sayur dan kacang-kacangan. Ini merupakan makanan khas di kota ini, Madrid. Kau belum pernah mencobanya?”

Belum,” jawabku singkat.

Dia memberikan ponselnya kepadaku, agar aku bisa mengambil foto itu. Segera aku mengedit foto itu di laptop. Aku buat seoriginal mungkin, agar orang-orang tertarik untuk membaca dan datang ke restorannya.

Oh ya, tolong tambahkan nama restoranku di bagian bawah makanan ini. Hurufnya yang cantik dan berwarna biru muda.” Ucapnya.

Apa nama restorannya?”

Nama restoranku ‘Espania Resto’.” Jawabnya.

Kalau boleh tahu, sudah berapa lama Espania Resto ini berjalan?”

Baru mau tiga tahun ini. Makanan Cocido adalah makanan pertama yang akan kami masak. Selama ini kami memasak makanan dari Timur Tengah dan Asia. Kali ini aku ingin memberikan sajian yang baru bagi para pengunjung setia kami.” Terangnya.

Timur Tengah? Asia? Kenapa tidak memaksa makanan Eropa?” tanyaku ingin tahu dan penasaran. Kenapa dia memasak makanan dari Timur Tengah dan Asia?

Lidahku kurang cocok dengan lidah orang Eropa, karena biar bagaimana pun aku ada darah Asia. Waktu kecil aku tinggal di Pontianak, tempat kelahiran ibuku. Tapi karena bisnis ayahku tidak berkembang di sana, akhirnya ayahku memutuskan kembali ke Spanyol.” Dia menjelaskannya kepadaku. Dan ternyata dia memiliki darah orang Indonesia juga.

Ternyata kita masih satu rumpun.” Balasku.

Iya, wajahmu, aku mengenal wajah-wajah orang Indonesia. Mereka ramah semuanya. Aku senang sekali. Dan hari ini aku sangat bahagia, orang yang membantuku juga orang Indonesia.”

Kami melewati waktu hingga jam delapan malam. Akhirnya cover tabloid itu selesai juga. Aku merasa senang melihat dia tersenyum lagi.

Oh, Muchas gracias. Aku tidak tahu lagi harus bagaimana jika tidak ada kau di sini. Mungkin aku sudah berlari-lari mencari seorang designer grafis untuk membuat cover tabloid ini.” Ungkapnya.

Igualmente, selama aku bisa membantu, aku pasti akan melakukannya.”

Dia melempar senyum yang sangat manis padaku. Itu membuat hatiku tidak menentu. Dia sempat mengajakku untuk pulang bersama dia, tetapi aku menolaknya. Aku tahu dia pasti akan sangat sibuk dengan tabloidnya. Dia pergi meninggalkanku dengan berlari. Dia sangat tergesa-gesa. Tabloidnya besok harus sudah beredar. Aku terus melihatnya dari jauh hingga dia benar-benar hilang dari pandanganku.



***Bersambung ke Part-4

Menuju Ketenangan Jiwa - Bag. 2

12:33:00 PM 0 Comments A+ a-


Hari yang ditunggu-tunggu seluruh pegawai dan karyawan mana saja adalah hari libur lebaran. Hari ini sudah H-3, seluruh karyawan termasuk Indri libur bersama untuk hari raya Idul Fitri. Mereka semua bahagia, selain mendapatkan THR yang besar, mereka tentunya akan berkumpul dengan keluarga tercinta. Sedangkan Indri? Dia masih bingung mau kemana libur tahun ini? Tahun lalu dia menghabiskan waktu di luar kota yang sangat terpencil, dan tahun ini? Indri belum ada gambaran apa pun dalam benaknya mengenai libur lebaran tahun ini. Dia belum mendapat petunjuk, dia masih belum bisa merapikan hatinya.

Hari telah berlalu, sebagian warga kota besar sudah mudik ke kampung halaman. Indri masih sendiri di dalam kamar, sunyi, mengintip jalan dari bilik jendela terlihat sepi. Tak seperti biasanya. Dia bingung, mau apa dan harus bagaimana. Untuk menghilangkan beberapa kebingungannya, dia mengapack beberapa baju ke dalam tas rangsel. Dia juga menyiapkan uang cash secukupnya. Dia berniat mau pergi, meski entah kemana. Setelah itu, dia ke stasiun kereta api, tapi sayangnya tiket sudah habis dan full booking. Indri tak putus asa untuk mengembara, dari stasiun dia ke terminal bus. Di terminal bus hampir saja tidak kebagian tiket lagi, tapi beruntung dia masih dapat tiket meski harus mengantri seharian penuh.

Perjalanan dengan bus di saat mudik seperti ini, sungguh tidak mengasyikan. Ada beberapa penumpang lain yang mabuk darat, ada yang tidur sesuka hati, berbau pengap dan aroma tak sedap dari bau badan semua orang. Meskipun sudah menggunakan bus AC tetapi tetap saja panas menghampiri, belum lagi macet yang berkepanjangan. Sungguh perjalanan yang tidak mengenakan, harusnya Indri membawa mobilnya saja. Dia bebas akan berhenti di peristirahatan yang mana, tidak seperti ini, capek di jalan.

Setelah menempuh jarak yang jauh, dan dengan penuh kemacetan akhirnya perjalanan berakhir di terminal kota tujuan. Perjalanan itu ditempuh selama dua hari satu malam. Perjalanan yang sangat mengurus tenaga dan membuat remuk tulang-tulang.

Mba Indri? Mau naik angkot? Mari naik angkot saya saja, ini sudah mau jalan.” Ucap seorang sopir angkot ke Indri ketika dia baru turun dari bus.

Iya pak,” jawab Indri dengan bingung. Siapa dia? Kenapa tahu namaku? Ucapnya dalam hati.

Indri tak banyak tanya lagi, dia naik angkot itu, rasanya sangat hafal dengan jalan ini. Nuansa yang sangat kental saat hari raya Idul Fitri datang. Suara takbir berkumandang, aroma dapur yang penuh kelezatan melekat pada Indri selama perjalanan. Kurang dari tiga puluh menit, angkot itu berhenti. Indri turun, dia merasa sangat tidak asing dengan yang ada di depan matanya saat ini.

Seiring dengan alunan takbir yang berkumandang, Indri melangkahkan kakinya. Perlahan namun pasti. Ragu, cemas, malu, dan takut menjadi satu. Saat setelah di depan pintu, Indri ragu untuk mengucap salam atau pun mengetuknya. Namun, tiba-tiba pintu terbuka, seperti tahu bahwa akan ada yang datang. Indri terkejut, tertegun dan terdiam. Dengan lambat dia memperhatikan siapa yang membukakan pintu untuknya. Dia melihat dari ujung kaki hingga ke wajahnya. Lalu...

Ibuu....” Indri menjerit dan segera memeluk wanita paruh baya yang di depannya itu. Wanita itu masih terdiam, dia hanya meneteskan air matanya.

Maafin Indri bu, maaf karena Indri sudah meninggalkan ibu dan bapak...” air mata mereka pun tak bisa dibendung lagi. Uraian tangisan itu bercampur dalam rasa haru, sedih, penyesalan tetapi bahagia.

Indri...! kamu sehat-sehat saja kan nak?” ibunya memeluknya kian erat. Mereka pun masuk ke ruang keluarga agar bisa berbincang lebih santai.

Ibu, bapak, maafkan Indri, Indri sudah pergi dari rumah tanpa berpamitan,” rasa bersalah dan penyesalan itu kini hadir pada diri Indri.

Sudahlah nak, jangan ungkit masa lalu itu. Yang ibu rasa itu kangen sekali dengan kamu, Nak, dua kali lebaran kamu tidak ada. Rumah terasa sepi. Biasanya kalau malam takbir seperti ini kamu yang selalu buat ketupat. Setiap ibu buat ketupat, ibu selalu teringat kamu,” ucapan ibunya tercekat di tenggorokan, sesak rasanya hingga tak bisa melanjutkan kata-kata lagi. Ruangan itu kini memecah mengharu biru, tumpahan air mata dan segala kesedihan tumpah menjadi satu.

Indri bercerita semuanya kepada orang tuanya, bahwa dua tahun yang lalu dia pergi tanpa pamit karena dia tidak mau dijodohkan, akhirnya Indri diam-diam kabur dari rumah. Dia pergi ke kota besar untuk menemui kekasihnya. Dan ternyata setelah tiga bulan tinggal di kota besar, kekasihnya itu ketahuan selingkuh, dan Indri pun ditinggalkan. Beruntung dia masih punya pekerjaan yang cukup baik, kalau tidak mau makan apa Indri di kota besar tak ada yang kenal.

Selama ini Indri ingin pulang, tapi rasa malu dan takut selalu menghantuinya. Namun, semua itu sudah terbayar sudah. Karena kegelisahan dan gundah gulana Indri telah membawanya kembali kepada orantuanya yang sangat mencintainya. Namun, ibunya pun ingin tahu di mana sekarang orang yang telah menyakiti hati putri kesayangannya.

Lalu, di mana Pras sekarang? Kamu tidak coba menghubunginya?” tanya ibunya ke Indri. Indri masih terdiam tak menjawabnya.

Saya di sini, Bu.” Jawab seorang pria di ujung pintu depan.

Indri dan ibunya kaget mendengar suara itu, mereka menghampiri ke depan.“Mas Pras? Mau apa kamu ke sini?” ketus Indri.

Silakan masuk, Pras.” Ucap ibunya.

Tidak usah disuruh masuk orang seperti ini bu, lebih baik dia pergi dari sini.” Indri jengkel dan masuk ke kamarnya.

Maaf, jika anak saya bersikap kasar.” Ucapnya.

Tidak apa-apa bu, saya paham itu.” Jawab pria itu. “Saya mengerti dan terima jika Indri bersikap kasar terhadap saya. Memang saya yang salah.”

Kemudian pria itu dipersilakan masuk, sedangkan ibunya masuk ke kamar Indri untuk menasehatinya.

Jangan kamu simpan dendam di dalam hatimu, nak.” Ucap Ibunya.

Tapi bu, ...” kata Indri.

Ibunya menggelengkan kepala dan berkata, “Dendam hanya akan merusak hati dan jiwamu. Di mana pun kamu berada, dan apa pun yang kamu dapat di dunia ini, ketika hatimu masih menyimpan dendam, maka seumur hidupmu tak akan pernah tenang, Nak.”
Setelah dinasehati oleh ibunya, Indri menurunkan egonya, dia mau memaafkan Prasetya, dan mau menerimanya kembali. Dan malam takbir ini adalah malam takbir yang paling indah yang pernah dirasakan oleh Indri. Minta maaf itu hal yang mulia, dan memaafkan itu hal yang lebih berat, karena dengan memaafkan maka tidak akan ada perasaan dendam lagi. Dan terlebih yang membuat Indri bahagia, saat ini hati dan jiwanya telah tenang. Tidak seperti kemarin-kemarin yang selalu gelisah.

*****TAMAT*****

Menuju Ketenangan Jiwa - Bag. 1

12:23:00 PM 0 Comments A+ a-

 Masih dalam cerita yang bernuansa islami. Ini juga pernah diikutkan untuk mengikuti event menulis cerpen dalam nuasan Idul Fitri. Namun, saat itu peserta tidak mencukupi kuota, sehingga event tersebut dicancel.

MENUJU KETENAGAN JIWA

Oleh : Ery Udya

Dua tahun telah berlalu, waktu berjalan begitu cepat. Namun, kenangan masa lalu itu masih terngiang selalu dalam benak Indri. Masih terukir dengan jelas dalam ingatan Indri, ketika dia mengendap-endap seperti pencuri yang telah berhasil memboyong semua barang berharga di suatu rumah. Dia sudah berusaha untuk melupakan hal itu, tapi hati nuraninya berkata lain. Nuraninya bergejolak menguntai semua kenangan itu. Membawa Indri ke masa yang pahit. Di mana masa itu Indri pergi kabur dari rumah di tengah malam melalui jendela dan hanya meninggalkan pesan secarik kertas di bantal tidurnya.

Allahu Akbar.. Allahu Akbar..” kumandang Azan Maghrib membuyarkan lamunan Indri. Segeralah dia beranjak untuk berbuka puasa. Nuansa berbuka puasa yang cukup menyedihkan, hanya sendiri, di kota besar. Air matanya tak tertahankan untuk menahan kesedihan. Sudah seminggu lewat, ketika waktu berbuka puasa, saat itu pula air matanya bercucuran tak tertahankan.

Bulan puasa ini, terasa berat untuk Indri. Beban hatinya terasa sudah memuncak hingga mencecik di tenggorokan. Jeritan tangisan hatinya sudah sangat memilukan. Setiap hari dia melalui hidup yang begitu berat, meski banyak uang yang dia miliki, meski punya jabatan di tempat kerjanya. Namun, apa lah arti semua itu jika kedamaian hati tak pernah ia dapatkan. Berkali-kali dia berakhir pekan untuk menghilangkan jenuh dengan kerja, tetapi tetap saja, tak ada yang bisa melenyapkan kegundahan hatinya.

Waktu berbuka sudah berlalu, dan kini berganti kumandang azan untuk Isya. Indri melangkahkan kakinya menuju masjid dekat rumah. Hanya berjarak sekitar seratus meter saja. Dia datang dengan tetangga-tetangganya. Untuk sejenak dia merasa tersenyum, berbaur dengan lingkungannya, tapi hatinya siapa yang tahu?

Senyum, ramah tamah dan segala sopan santun Indri rasanya masih kurang lengkap. Dalam dirinya masih saja ada yang kurang. Dia selalu bertanya pada dirinya sendiri, kenapa hal itu sampai terjadi. Selama Ramadhan ini, Indri mengalami guncangan yang cukup berarti. Gejolak jiwanya begitu meletup-letup seperti buihan air mendidih. Nuraninya sedang membrontak pada dirinya, hingga ia tak kuasa, hingga lagi-lagi dia hanya mampu meneteskan air matanya. Dia merasa ini adalah cobaan yang paling berat yang ia terima selama hidup ini. Langkah kakinya seperti sudah tak menapak pada bumi ini. Sudah merasa melayang seperti cenayang yang tak mampu menginjakkan kaki di bumi. Jalannya sudah terhuyung-huyung seperti orang sedang mabuk.

Keramaian kota besar tak mampu menghilangkan rasa sepi Indri. Dia bekerja dari pagi hingga sore, berbaur dengan beberapa orang, baik sesama pegawai kantor maupun dari customer perusahaan. Tapi, semua itu tak ada arti bagi Indri. Semua itu rasanya sia-sia. Bagi Indri, itu hanyalah rutinitas manusia hidup, yaitu bekerja agar bisa memenuhi semua kebutuhan, agar tidak kekurangan.

Ramadhan kian beranjak merapat ke hari kemenangan. Libur hari raya Idul Fitri sudah sangat dekat, di kantor mulai dibagikan Tunjangan Hari Raya dan informasi hari libur dari tanggal berapa sampai tanggal berapa.

Permisi mba Indri,” ucap Sekretaris di depan pintu ruangan kerja Indri.

Ya, saya. Mba Rina, silakan masuk.” Ucap Indri. 
 
Rina, seorang sekretaris, masuk ke ruangan Indri dan berkata, “Mba Indri, Mba dipanggil bos. Mungkin ada yang penting menyangkut hari liburan lebaran ini.” Jelas Rina.

Hal penting apa ya, Mba Rina?” tanya Indri.

Sepertinya yang berkaitan dengan customer, karena dari customer luar negeri tidak ada yang libur lebaran.” Jawabnya.

Baiklah, saya segera ke ruangan bapak.” Indri dan Rina meninggalkan ruangan. Rina menuju ruangannya sendiri, dan Indri menuju ruangan bosnya.

Tok..Tok.. Indri mengetuk pintu, dan “Permisi, Pak,” kata Indri.

Ya, Indri silakan masuk.” Jawab pak bos.

Indri masuk ke ruangan, kemudian duduk di kursi dekat meja pak bos.

Bapak memanggil saya?” tanya Indri. Dia berharap tidak ada tugas di hari libur.

Iya Ndri, sebentar lagi libur lebaran yang hanya tinggal hitungan hari,” ucapnya. Kemudian dia melanjutkan, “Kita libur lebaran mulai H-3, dan masuk H+4, tolong kamu atur dengan beberapa customer di luar negeri, agar untuk urusan kerjaan lebih baik setelah kita libur. Karena saat ini kita juga masih sibuk untuk memberikan tunjangan hari raya, persiapan libur, belum lagi yang mudik ke luar kota.” 
 
Mendengar kata “Mudik” membuat gejolak hati Indri bangkit lagi, membuat hatinya teriris lagi. Selama ini dia belum pernah sekalipun mudik, baik libur lebaran atau libur-libur nasional yang lainnya.

Bagaimana Ndri, kamu bisa?” tanya bos untuk memastikan bahwa Indri bisa melakukan pekerjaan ini dengan baik.

Iya, Pak, saya usahakan, akan saya atur untuk jadwal meeting dan presentasi dengan customer-customer di luar negeri.” Jawab Indri penuh keyakinan.

Baik, bagus. Jadi, nanti kita libur lebaran bisa menikmatinya dengan tenang menghabiskan waktu dengan keluarga besar. Tidak seperti tahun kemarin, libur lebaran masih tetap saja ada email masuk menanyakan pekerjaan.”

Oh ya, satu lagi, untuk THR kamu, mau ditransfer atau cash?” tanya bos.

Ditransfer saja, Pak, cash sepertinya cukup berbahaya, kadang rawan di jalan raya kalau saya membawa uang cash cukup banyak.” Jelas Indri.

Baik, ya sudah. Tolong segera atur dengan customer luar negeri, itu tugas utama kamu.”
Ya pak, Indri permisi dulu.”

Indri meninggalkan ruangan bosnya, dan kembali ke ruangannya sendiri. Dia segera melaksanakan tugas yang diperintahkan oleh bosnya itu. Bagi Indri itu hal yang mudah, dia sudah terbiasa berkomunikasi dengan customer-customer dari luar negeri. Menghadapi negosiasi harga, melayani Customer Complain Services, dan melakukan promosi produk perusahaan, itu semua hal yang sangat-sangat biasa. Sangat mudah bagi Indri. Hal yang sulit bagi Indri saat ini adalah berdamai dengan hatinya sendiri. Sampai saat ini, nuraninya terus memberontak. Hatinya kian menjerit hingga batin Indri tersiksa.
***

Berhubung ditulis di blog, sehingga saya buat dua halaman.