English Is The Best, Teacher Is The Beast

7:29:00 AM 1 Comments A+ a-


Namanya Rani, dia anak yang rajin di sekolah dan di rumah. Anak yang ramah kepada semua orang. Dia selalu tersenyum meskipun sedang bersedih. Dia berasal dari keluarga yang sederhana. Ayahnya seorang nelayan, dan ibunya penjual dendeng atau pindang ikan. Rani masih duduk di kelas 3 SMP, dan adiknya, Santi masih kelas 5 SD. Dua perempuan yang bersaudara itu sangat rukun. Mereka selalu membantu orang tuanya. Setelah pulang sekolah, Rani ikut membantu menjual dendeng dan atau pindang di kampungnya. Terkadang dia menjajakan dendeng sampai malam, dan ketika malam datang tinggalah lelah yang ada pada dirinya. Sering kali dia tidak belajar karena kelelahan, tapi Sang Kuasa berkehendak lain. Meskipun dia jarang belajar dia selalu mendapat peringkat 1 di sekolahnya.

Untuk menempuh ke sekolah tak jarang Rani berjalan kaki. Hal itu ia lakukan agar ia bisa berhemat dan menabung. Dia anak yang benar-benar sabar, dan teguh hati. Guru dan teman-temannya juga menyukai Rani, selain pandai, Rani juga peduli terhadap teman-temannya. Dia sering membantu belajar teman-teman yang kesulitan akan materi pelajaran, terutama untuk pelajaran bahasa Inggris.

Hari ini adalah hari Senin, seperti biasa pasti di sekolah mengadakan upacara bendera. Dan ada pengumuman tentang pemenang lombat debat bahasa Inggris. Tentu saja satu sekolah sudah tahu, siapa lagi kalau bukan Rani. Dan Senin ini ada tambahan yang berbeda, yaitu diperkenalkan guru baru untuk materi pelajaran bahasa Inggris. Guru tersebut khusus mengajar di kelas 3, yang beberapa bulan lagi akan menghadapi UAN. Guru itu memang terlihat sangat smart. Seorang wanita yang berambut gelombang sebahu. Dia memakai kaca mata tebal yang menjadi penghias wajahnya. Nama guru itu adalah Ibu Susan Herlina, dia single, dan berusia 31 tahun.

Perkenalan selanjutnya dilakukan bu Susan di dalam kelas. Dan kebetulan jam pertama untuk kelas Rani.

"Okay anak-anak..!! Ibu tidak akan cerita panjang lebar. Hal itu akan mengganggu jam pelajaran. Dan langsung saja kalian buka buku paketnya halaman 14. Dan tugasnya dikerjakan, langsung dikumpulkan saat pelajaran ini selesai."

Suasana kelas mendadak menjadi tegang, anak-anak belum pernah bertemu dengan guru yang seperti ini. Dalam hati sang murid-murid, mereka semua mengeluh, seharusnya pelajaran ini diberi arahan terlebih dulu. Tidak langsung seperti ini. Mereka belum terbiasa.

"Sssstt... Rani..." sebut dengan lirih seorang murid laki-laki. Dia duduk di seberang Rani.

"Raniii... Raaaniiii...." ucapnya lagi, tapi Rani tidak mendengarnya, karena memang suaranya sangat lirih.

"Ranii... Ra aan..." suaranya terpotong, tiba-tiba saja bu Susan sudah ada di hadapannya.

"Siapa nama kamu?!!" tanya bu Susan dengan tegas.

Seisi kelas semakin tegang memperhatikan bu Susan dan seorang murid laki-laki itu.

"Ibu tanya, siapa nama kamu?" tanya bu Susan sekali lagi.

"Ddii.. Dii.. Dion, bu..." jawabnya dengan badan bergemetar.

"Dion!! Kali ini ibu maafkan.. Tapi jangan ulangi lagi. Kalau ada tugas harus dikerjakan sendiri, mengerti kamu?!!"

"I Iyaa bu.. Dion mengerti."

Bu Susan kembali ke depan kelas, dengan keras dia berbicara.

"Ini perhatian untuk semuanya. Siapa saja yang mencotek atau bekerja sama mengerjakan tugas, kalian saya hukum mengerjakan tugas di lapangan basket. Dan kalau ada yang tidak suka dengan saya, kalian boleh tidak mengikuti pelajaran saya. Kalian paham?!!"

"Iya bu, paham..." jawab murid dengan serempak.

"Sudah, lanjutkan tugas kalian, waktu masih 15 menit. Selesai tidak selesai tetap harus dikumpulkan."

##

Hampir setiap pelajaran English, murid-murid merasa tersiksa. Hingga suatu hari Rani berlaku tidak seperti biasanya.

"Rani... Kalau kamu diberi hukuman sama bu Susan, gimana?" ucap Silvi teman sebangku Rani.

"Tidak apa-apa, Silvi. Saat ini aku sangat lelah, benar-benar sakit. Aku harus ke UKS, aku butuh istirahat." ujar Rani.

"Lalu, bagaimana kalau bu Susan menanyakan kamu?" tanya Silvi.

"Jawab saja aku sakit, sedang di UKS."

"Baiklah Rani, tapi kamu harus siap-siap juga, pasti bu Susan akan marah, mengira kamu tidak menyukainya."

"Tak apa-apa, Silvi.."

Rani menuju UKS dan Silvi menuju kelas. Kesehatan Rani memang terlihat menurun. Dia terlihat pucat, dan tampak lesu. Dari tadi dia memegang dadanya, entah penyakit apa yang dideritanya, tak ada yang tahu, karena Rani tidak pernah checkup ke dokter.

"Selamat siang anak-anak.." sapa bu Susan di depan kelas.

"Selamat siang bu.." jawabnya para murid dengan kompak.

Bu Susan memperhatikan satu per satu murid di kelas. Terlihat bangku kosong di sebelah Silvi.

"Silvi, kemana Rani?" tanya bu Susan.

"Rani sakit bu, sekarang sedang istirahat di UKS."

"Sakit apa dia?" tanya bu Susan lagi.

"Saya kurang tahu bu, tapi Rani terlihat sangat pucat." jawab Silvi.

"Okay,, kalian pelajari modul baru ini. Tolong ketua kelas membagi modul ini. Ibu keluar sebentar."

Bu Susan curiga terhadap Rani, dia menyangka bahwa Rani tidak menyukainya. Mungkin benar seperti itu. Dengan penuh penasaran, bu Susan menuju ruang UKS untuk mengetahui keadaan Rani yang sesungguhnya. Bu Susan masih di balik pintu UKS, tapi di mengurungkan niatnya menjenguk Rani. Di dalam UKS terlihat bu Niken yang sedang merawat Rani. Bu Niken adalah guru English kesukaan Rani. Selain baik hati, bu Niken juga pandai membimbing murid-murid dengan baik.

"Bu Niken..." panggil Rani dengan suara parau. Suaranya seperti tercekat di tenggorokan.

"Iya Rani,," jawab bu Niken.

"Kenapa bukan bu Niken yang mengajar Rani? Apa Rani ada salah ke bu Niken?" ungkap Rani.

Bu Niken tersenyum, dan berkata, "Rani, siapa bilang Rani ada salah sama ibu? Tidak ada nak, dan kalau pun ada, pasti ibu maafkan. Rani kan baik. Dan untuk belajar dengan ibu, Rani masih bisa belajar dengan ibu, kapan saja selain di jam sekolah." jelas bu Niken dengan lembut.

"Benarkah bu.?" tanya Rani meyakinkan.

"Iya nak.."

Di balik pintu UKS, bu Susan mendengar semua obrolan antara Rani dengan bu Niken. Bu Susan merasa dicurangi dan dikhianati oleh Rani dan bu Niken. Dari balik pintu, bu Susan menunggu bu Niken keluar.

"Bu Niken, maaf bu Niken. Mau sampai kapan bu Niken memanjakan Rani?" cetus bu Susan.

"Bu Susan? Maksud bu Susan, apa?" bu Niken masih belum mengerti.

"Bu Niken tidak usah pura-pura tidak tahu, saya sudah melihat dan mendengarnya sendiri."

"Bu Susan, maaf.. Saya rasa ini hanya salah paham saja." balas bu Niken dengan sabar.

"Salah paham? Salah paham bagaimana? Jelas-jelas bu Niken memberikan perhatian yang berlebihan kepada Rani, sehingga dia tidak mau mau dengan guru yang lain."

"Maaf bu Susan, saya perhatian kepada semua murid di sini. Saya tidak pernah membatasi mereka untuk belajar apa pun dan dengan siapa pun. Selama itu dalam kebaikan."

Mendengar jawaban dari bu Niken, bu Susan merasa tersinggung. Dia kembali ke kelas dengan penuh emosi. Dengan cepat dia sudah di depan kelas. Dengan cepat pula dia mengambil buku di tasnya. Dengan langkah yang khas, dia menghampiri Silvi.

"Silvi, pulang sekolah tolong kasih buku ini ke Rani." perintah bu Susan ke Silvi.

"Iya bu, maaf buku apa ini?"

"Itu buku soal-soal bahasa Inggris yang harus selesai dan diserahkan ke saya besok. Tolong sampaikan ke Rani."

"Tapi Rani sedang sakit bu,, kasihan dia.."

"Kalau dia memang benar-benar anak yang pandai bahasa Inggris, dia tidak akan menolaknya dalam keadaan apa pun!"

Silvi pun menyerah, menerima buku yang berisi soal-soal untuk dikerjakan Rani.

"Sungguh keterlaluan, guru gak punya hati, gak punya peri kemanusiaan. Apa dia tidak kasihan ke Rani? Atau mungkin dia tidak pernah sakit?" Gerutu Silvi dengan kesal. Setelah jam pelajaran selesai, Silvi bergegas menemui Rani di UKS.

"Rani.. Maafkan aku.." ucap Silvi.

"Silvi? Maaf..? Untuk apa? Kamu tidak salah apa-apa."

"Hmmm.. Ini Rani, tugas dari bu Susan, maafkan aku Rani. Aku tak bisa mencegah bu Susan untuk memberikanmu tugas sebanyak ini." Silvi benar-benar merasa bersalah. Dan Rani tersenyum, berusaha untuk sabar.

##

Hari sudah terlalu larut, Rani masih sibuk mengerjakan tugas dari bu Susan. Orang tuanya telah mengingatkan Rani untuk beristirahat, karena kondisi Rani juga sedang lemah. Rani masih terus berusaha untuk mengerjakannya. Dengan sisa-sisa tenaga dan pikirannya, ia terus mengerjakan tugas dari bu Susan. Namun, rasa lelah dan kantuk jua lah yang mengalahkan Rani. Dia pun tertidur.

Esok hari, dia bangun seperti biasa, meskipun ia tidur sudah larut. Sebelah berangkat ke sekolah, dia membantu orang tuanya membersihkan rumah. Setelah semuanya selesai dan rapi, Rani pergi ke sekolah. Hari ini dia naik angkot, dia menyadari tubuhnya sudah sangat lemah. Jika dibiarkan jalan kaki, pasti tidak sanggup lagi.

Tugas dari bu Susan belum selesai, pasti Rani akan mendapat celaka dari bu Susan.

"Katanya kamu pandai pelajaran bahasa Inggris, tapi kenapa belum selesai?!!!" bentakan bu Susan begitu nyaring terdengar, hingga satu ruang kelas tertunduk.

"Maaf bu, saya kecapekan dan ketiduran." Rani berusaha jujur.

"Tidak usah beralasan, sekarang juga cepat kerjakan! Dan anak-anak yang lain, lanjutkan belajarnya!"

Rani memenuhi perintahnya, dengan badan yang lemah dia mencoba berkonsentrasi. Sesekali dia bersandar sebentar pada Silvi. Tubuh Rani yang kecil sudah tidak sanggup lagi untuk menopang diri sendiri.

Waktu terus berjalan, Rani belum selesai mengerjakan tugas. Sebentar lagi harus dikumpulkan. Entah apa yang dia lakukan, dia menyelipkan secarik kertas di tengah-tengah buku tugasnya. Silvi berpikir mungkin itu jawaban yang ditulis Rani pada kertas terpisah.

Bel istirahat berbunyi, anak-anak keluar kelas untuk menghilangkan penat dan rasa tertekan. Sedangkan Rani menghampiri bu Susan yang masih duduk di depan kelas. Rani menyerahkan buku tugas itu. Dan kemudian dia berlalu meninggalkan bu Susan. Saat Rani masih di ambang pintu kelas, bu Susan berteriak.

"RAANNIII...!! Apa-apa an kamu?!!" bu Susan menghampiri Rani dan melempar kertas yang ada di dalam buku tugas Rani.

Rani terdiam, dia menyadari memang bersalah, dia seharusnya tidak melakukan hal itu. Tapi Rani sudah tidak tahan dengan perlakuan bu Susan.

Teman-teman yang di luar kelas, berlari menuju Rani. Tetapi mereka mendapati Rani sudah jatuh pingsan di kelas. Di lantai ada secarik kertas, dan berisi tulisan "ENGLISH IS THE BEST, BUT TEACHER IS THE BEAST!!"



Dalam kelas semakin gaduh, tak pernah menyangka Rani berani menulis seperti itu. Dan dengan rasa takut yang sangat dalam, akhirnya Rani jatuh pingsan. Bu Susan terdiam, masih mencerna dari tulisan yang Rani buat. Bu Susan tertunduk diam di ruang kelas, sementara anak-anak ramai untuk membawa Rani ke rumah sakit.

Setelah hampir dua jam di rumah sakit, Rani baru menyadarkan diri. Pandangannya masih belum jelas, nafasnya terengah-engah dan badannya juga masih lemas. Tetapi dia tidak mau dirawat di rumah sakit, dia tidak mau merepotkan orang tua dan adiknya. Meskipun, semua biaya perawatan dijamin oleh pihak sekolah. Rani masih tetap bersikeras ingin pulang, akhirnya pun Rani diizinkan untuk beristirahat di rumah, dan masuk sekolah setelah benar-benar sembuh.

##

Esok pagi di sekolah, murid-murid sudah berkumpul di lapangan. Mereka tidak akan berolah raga, tidak juga untuk upacara, tapi anak-anak kelas III sebagian berkumpul di lapangan. Terlihat Silvi bermuka pucat, bermuram durja, bibirnya tak sanggup berkata-kata lagi. Semua yang berkumpul di lapangan terlihat sedih. Bu Susan yang hendak mengajar di kelas II, menghampiri mereka.

"Selamat pagi anak-anakku..." sapa bu Susan dengan penuh semangat. Suaranya kini terdengar lebih lembut. Bahkan memanggil "anak-anak" ada tambahan "ku" di belakang kata itu.

"Pagi juga bu Susan.." jawab serentak para murid.

"Ada apa dengan kalian? Kenapa kalian berkumpul di lapangan seperti ini? Apa kelas III tidak ada pelajaran?" bu Susan sedikit was-was, takut mereka berkumpul untuk mendemonya agar tidak mengajar lagi di sekolah ini.

"Kita semua mau ke rumah Rani." jawab Dion.

"Rani.? Kalian mau menjenguknya?" tanya bu Susan.

"Iya bu.."

"Ibu tidak ingin menjenguknya?" tiba-tiba Silvi berbicara. Kalimat itu membuat hati bu Susan bergetar. Mungkin dia merasa bersalah.

"Kapan kalian ke sana? Ibu ikut dengan kalian." kalimat yang keluar dari bibir cantik bu Susan, membuat semua murid tercengang. Mereka seperti salah dengar.

"Sebentar lagi bu, kami sedang menunggu bu Niken dan Bapak Kepala Sekolah." jawab Silvi.

Bu Susan akhirnya ikut dengan rombongan anak-anak. Selama perjalanan, bu Susan terdiam, mencoba menebak separah apa sakitnya Rani, karena semua yang ikut dalam rombongan ini tertunduk lesu. Kurang dari 30 menit akhirnya sampailah di rumah Rani yang berada di pesisir pantai.

Sudah terlihat ramai di rumah itu, bu Niken dan lainnya mempercepat langkahnya menuju rumah Rani. Ternyata di dalam rumah, terlihat begitu sunyi, aura dingin menyelimutinya. Haru biru, isak tangis yang tercengkam memuai di rumah Rani. Bu Susan pun memecah kebisuan dalam ruangan itu. Dia mencoba berkata, tapi bibirnya bergetar, air matanya pun tak bisa dibendung lagi.

"Ti..ti-dak mung-kin Raa..ni meningalkan kita begitu cepat.." bu Susan berlari menuju jenazah Rani, dia membuka kain penutup pada wajah Rani. Bu Susan masih belum bisa percaya kalau Rani sudah meninggal.

"Raniiii....!! Maafkan ibu nak,,, banguuun... Maafkan ibu..." bu Susan menangis histeris. Tapi semuanya sudah terlambat, nasi sudah menjadi bubur. Bu Susan menangis hingga air matanya kering pun, Rani tak bisa kembali ke dunia lagi. Dia sudah menghadap Sang Khalik.

Bu Niken dan murid lainnya mencoba menenangkan bu Susan. Bu Susan benar-benar merasa bersalah. Andai saja hari itu dia tak mendapat tugas bahasa Inggris, pastilah Rani masih ada. Kalimat itu bermunculan dalam benak bu Susan.

"Maafkan saya pak, bu.. Saya lah orang yang paling bersalah terhadap Rani. Saya yang menyebabkan Rani pergi meninggalkan kita." ungkap bu Susan.

"Tidak bu, tidak ada yang perlu disalahkan. Ini sudah menjadi kehendak yang Kuasa." jawab bapak Rani.

"Maaf, kalau boleh saya tahu, Rani meninggal karena sakit apa?" tanya bu Susan lagi.

"Sejak lahir, dia memang sudah terkena kanker paru-paru." jawab ibunda Rani dengan penuh derai air mata.

Bu Susan juga belum berhenti menitihkan air mata. Dia mendapat pukulan yang pelak setelah tahu Rani mengidap kanker paru-paru. Padahal Ayah bu Susan seorang dokter spesialis paru-paru. Rasa salah dan iba mengalir ke dalam jiwa bu Susan. Dia berjanji pada dirinya sendiri, dia akan menjadi guru yang baik untuk semua murid.

Dari meninggalnya Rani, bu Susan mampu mengambil hikmahnya. Sekarang dia menjadi guru yang baik untuk semua murid. Dia mengajar dengan hati dan perasaan ikhlas. Tak hanya itu, dia juga membuka les English gratis bagi siapa saja di rumahnya setiap hari Jum'at dan Sabtu. Kini, para murid dan guru, bahkan Kepala Sekolah menyukai bu Susan. Bukan lagi  
"English is the best, but Teacher is the beast" melainkan "ENGLISH AND TEACHER IS THE BEST"



Harapan Cinta #Part - 1

3:51:00 PM 0 Comments A+ a-


 
Tepat pukul 4.36 waktu setempat, Vina menginjakkan kaki untuk kali pertama di negeri orang, Korea Selatan. Perasaan grogi, canggung, dan takut ada di dalam hatinya. Apakah bisa tinggal dengan baik dan nyaman di negeri orang? Mampukah beradaptasi dengan baik? Bagaimanakah orang-orang di sini. Pikiran Vina mulai banyak pertanyaan-pertanyaan yang muncul dan diiringi hiruk pikuk di Incheon International Airport, Seoul, Korea Selatan. Yang merupakan bandara terbesar di Korea Selatan, dan salah satu bandara tersibuk di dunia. Bandara ini terletak 70 km (43 mil) dari Seoul, ibu kota dan kota terbesar di Korea Selatan. Bandar Udara Internasional Incheon adalah terminal utama bagi Korean Air, Asiana Airlines dan Polar Air Cargo. Bandara ini dibangun di atas tanah yang direklamasi dari lautan, sama halnya seperti bandara Kansai yang ada di Jepang. Bandara ini merupakan terminal bagi transportasi udara sipil internasional dan lalu lintas kargo di Asia Timur. Bandar Udara Internasional Incheon saat ini merupakan bandara tersibuk ke delapan di Asia dalam hal penumpang, kelima di dunia dalam hal bandar udara tersibuk kargo dan pengiriman, dan kesebelas di dunia sebagai bandara tersibuk dalam hal penumpang internasional pada tahun 2006.

Sambil menunggu orang yang menjemputnya, Vina masih duduk di terminal B untuk menuju tempat yang akan ia tinggal. Serasa tidak yakin dengan hal ini. Ini seperti mimpi. Benar-benar seperti mimpi. Vina berharap, bisa melupakan semua masa lalunya, terlebih dengan Anton. Harus, harus bisa melupakan Anton. Tak boleh mengingat-ingat lagi tentang Anton. Jika ingat tentang Anton, itu hanya akan membuat sakit hati sendiri. Mudah-mudahan di kota Seoul ini, Vina bisa menemukan harapan baru, cinta baru, yang lebih indah dan bisa terwujud.
Maaf, apa anda nona Vina dari Jakarta?” Tanya seorang pria yang menggunakan safari serba hitam.

Iya, benar, saya Vina. Maaf anda siapa?” Vina membalasnya. “Mungkin dia yang akan menjemputku” Pikirnya.

Saya Lee Yung Ju, saya bertugas untuk menjemput anda ke hotel dan bertemu dengan Ny. Lani.” Jawabnya, sambil mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.

Owh, baiklah...” Vina tersenyum dan mengikuti orang itu.

Vina beranjak mengikuti dia, melewati koridor-koridor bandara yang tak pernah sepi. Perjalanan pertama Vina di kota Seoul. Takut, Vina takut ditipu orang, dan atau takut diculik orang, karena dia berada di dalam mobil dengan orang yang tidak dikenal. Pikiran Vina mulai bermunculan, hal-hal yang menakutkan mulai mengisi penuh otaknya. Lamunanannya buyar, ketika Lee Yung Ju menyapanya.
Nona, sudah sampai di hotel.”

Oh ya, terima kasih.” Vina melempar senyum dan merasa lega. Lee Yung Ju benar-benar orang yang diperintah untuk menjemputnya.

Biar saya yang membawa tas-tas anda.” Pintanya, dan bermaksud membantu Vina. Lagi-lagi Vina tersenyum, merasa senang bisa bertemu dengan orang baik di negeri orang. Dan negeri ini merupakan negeri yang diimpikan oleh banyak orang untuk berkunjung. Untuk melihat budaya, sejarah, dan atau hanya untuk menikmati kuliner-kuliner khas negeri ini.

Vina mengikuti langkahnya, pelan tapi pasti. Gaya berjalan orang itu sungguh berbeda dengan gaya Vina. Gayanya begitu elegan, tetapi natural. Vina kagum pada orang itu. Sampai-sampai dia tersenyum sendiri. Lee mengantarkan Vina sampai ke depan kamarnya. Dengan cepat Lee juga pergi meninggalkan Vina sebelum Vina mengucapkan terima kasih.
Aneh orang itu, kadang terlihat baik, tetapi kadang terlihat menyeramkan.” ujar Vina sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Setelah berberes sebentar, Vina langsung menemui ibu Lani di ruangannya. Mata sembab karena menangis beberapa jam yang lalu telah tertutupi dengan make-up. Vina menampilkan wajah yang penuh suka cita dan ceria. Tidak ingin ibu Lani mengetahui kalau Vina ke Korea dengan alasan ingin melupakan Anton. Sungguh tidak masuk akal jika sebuah pekerjaan dicampur adukkan dengan masalah hati. Itu akan berantkan. Sangat berantakan. Dari ruangan bu Lani, Vina beranjak beristirahat, untuk mempersiapkan diri esok hari, mulai bekerja lagi, mulai mengawali dengan sesuatu yang baru.

Vina mulai menata kehidupan baru di Korea. Dia aktif di Korea. Mengikuti les bahasa Korea, ikut membantu mengajar matematika di salah satu sekolah dasar. Dia juga menyukai traveling di beberapa kota di negeri Ginseng. Setiap akhir pekan, dia menghabiskan waktunya untuk berlibur. Menghilangkan penat dan jenuh di hotel. Minggu ini dia berlibur di Museum Seni Ho-Am terkenal karena memamerkan lebih dari 5.000 karya seni. Sekitar 80 tempat pembakaran keramik terpusat di kawasan Festival Keramik Icheon yang diselenggarakan pada bulan September tiap tahunnya. Yang lebih besar lagi, Biennale Keramik Dunia diselenggarakan secara tersebar di Incheon, Gwangju, dan Yeoju tiap tahun ganjil. Di tempat ini Anda bisa menikmati warna misterius seladon Goryeo dan warna putih murni dari porselen Korea.

Vina selalu pergi jalan-jalan, hal itu semata-mata ia lakukan untuk melupakan Anton. Hingga detik ini, bayangan wajah Anton masih jelas di kelopak mata Vina. Entah sampai kapan Vina akan dihantui oleh bayang-bayang masa lalu. Dan entah sampai kapan Vina akan mendapat ganti cinta yang baru dan lebih indah.

##

Bulan Mei, Vina mendapatkan email dari Ferdy. Ternyata yang masih peduli terhadap Vina itu Ferdy. Anton sama sekali tidak ada kabar. Ferdy juga mengajak Vina untuk membuat akun jejaring sosial. Vina pun tertarik ajakan Ferdy. Teman pertama Vina di jejaring sosial adalah Ferdy, kemudian Sally. Vina mencoba iseng, mencari sebuah nama “Anton Kurniawan”, dan ternyata ada. Vina memberanikan diri untuk mengirim permintaan pertemaan ke Anton. Sudah dua minggu, permintaan pertemanan ke Anton tidak dikonfirmasi oleh Anton. Vina lesu.

Vina berpikir bahwa Anton sudah benar-benar bahagia dengan keluarganya. Vina harus menyingkarkan Anton dari benaknya. Tak boleh mengingat sedikitpun tentang Anton, itu hanya akan membuat menangis. Tekad Vina untuk melupakan Anton benar-benar sudah bulat. Vina harus bisa membuka hati untuk orang lain. Yah, mungkin cinta yang lain. Karena obat hati yang hilang adalah dengan cara menemukan hati yang baru, maka dengan itu mampu untuk melupakan masa lalunya.

Sebulan menggunakan jejaring sosial, teman Vina sudah mencapai lebih dari 500 akun. Dari teman sekolah dasar hingga teman masa kuliah. Di status Vina selalu membuat hal yang puitis. Dengan catatan-catatannya itulah Vina memiliki banyak teman di jejaring sosial.

Dua bulan kemudian Vina berjumpa dengan seorang pemuda saat sedang bersantai di Seoul Park tepatnya di Myeong-dong, yang merupakan tempat bersantai di waktu senja di kota Seoul. Pemuda itu terlihat manis, mereka berdua masih saling canggung untuk menyapa. Mereka hanya selayang pandang. Seminggu kemudian, Vina datang lagi ke tempat itu, dia bermaksud menghilangkan penat dan suntuk karena seharian lelah dengan urusan perhotelan. Tak pernah disangka, pemuda itu ada di tempat itu juga. Dengan gaya dan duduk di tempat yang sama dengan minggu lalu. Pemuda itu melihat Vina, kali ini menghampiri Vina. Tentu saja mereka akhirnya berkenalan.

"Hai... Maaf, mengganggu waktumu sebentar. Bolehkah aku mengenalmu?" cara yang cukup sopan untuk berkenalan dari seorang pemuda.

"Oh ya, aku tidak merasa terganggu. Iya boleh.." balas Vina.

"Namaku Ali, mmm lengkapnya Ali Hermansyah, kalau kau? Siapa namamu?" ucap pemuda yang bernama Ali.

"Aku Vina, Vina... Senang berkenalan denganmu di sini." Mereka berdua berjabat tangan.

"Oh ya, kalau boleh tahu, apakah kamu dari Indonesia juga?" imbuh Vina.

"Iya, aku dari Surabaya, kalau kamu?"

"Aku dari Tana Toraja, Sulawesi Selatan." jawab Vina.

"Waw.. Very nice.." pemuda itu tersenyum ke Vina.

Mereka berdua mencari tempat yang nyaman untuk mengobrol. Cuaca yang dingin membawa mereka ke sebuah restaurant tradisional Korea. Dengan menu utama Sup Seolleongtang. Ini adalah kali pertama bagi Vina mencicipi hidangan khas tradisional Korea itu. Tetapi bagi Ali, hal ini sudah sering.

Ali tinggal di Seoul sudah hampir 4 tahun. Dia merupakan staff di salah satu pabrik Laptop di Korea. Dia ahli dalam masalah-masalah yang berkaitan dengan teknologi. Dari kecerdasannya itulah, dia terbang ke Korea. Setiap tahun dia selalu pulang ke Surabaya. Dia sangat mencintai keluarganya dia mempunyai 3 orang adik. Adik yang pertama seorang perempuan, dan seusia Vina, dia bernama Yuna Azizi. Merupakam bidan yang baik di kotanya. Kemudian adik yang kedua bernama Irna Sarah, dia masih menjadi mahasiswa kesenian di wilazah Surabaya. Dan adik yang ketiga, atau yang terakhir, seorang laki-laki bernama Rifaldi Prayoga, masih duduk di kelas 1 SMP.

Vina sangat tertarik dengan cerita-cerita Ali. Begitu terdengar harmonis di keluarganya. Vina merasa beruntung bisa mengenal Ali, paling tidak ada teman bagi Vina di negeri orang.

Pertemuan yang sangat menyenangkan bagi keduanya. Pada akhirnya mereka membuat janji untuk bertemu lagi di akhir pekan di tempat yang sama.

Sebelum mereka berpisah untuk kembali ke rumah, mereka bertukar nomor ponsel.

"Aku akan menunggumu di sini, di akhir pekan." ucap Ali.

"Iya, aku pasti datang ke sini."

Senyuman yang manis menjadi penutup perjumpaan mereka.

##

Sabtu pagi Ali menelpon Vina, memastikan bahwa nanti petang bisa bertemu.

"Hallo... Pagi Vina, bagaimana kabarmu?" Sapa Ali.

"Hallo, selamat pagi juga Ali, yah tentu aku baik, bagaimana denganmu?"

"Aku juga baik. Owh ya, nanti petang bagaimana? Kau bisa datang? Kau tidak lupa kan dengan acara kita nanti petang?"

"Ahahahahaha.. Iya aku ingat, tapi maaf aku pasti terlambat. Weekend di hotel justru sangat ramai." jelas Vina ke Ali.

"Baiklah, tidak masalah. Jam berapa pun kamu akan datang, aku akan tetap menunggu. Bahkan sampai pagi sekalipun aku akan tetap menunggu, selama kau pasti datang. Aku pasti mau menunggunya." ucap Ali dengan serius.

"Iya, aku pasti datang." jawab Vina.

"Okay, selamat pagi dan selamat beraktivitas, nona manis."

"Hahahaha, iya..terima kasih. Selamat pagi dan selamat beraktivitas juga."

Mereka menutup teleponnya, Vina tertawa sendiri. Tak pernah menyangka Ali orangnya begitu serius, tetapi kadang bisa membuat tawa. Vina berharap hari ini akan menjadi akhir pekan yang indah.

Di kantor, benar-benar akhir pekan yang padat. Hari Sabtu justru banyak pengunjung di hotel. Ada yang singgah sementara karena hari Senin akan memulai bisnis baru, ada juga yang akan menikmati akhir pekan di jantung negeri ginseng yang ramai.

Hari mulai menyengat dengan panasnya, Vina masih sibuk dengan laporan-laporan mingguannya. Ada juga pengunjung yang memaksa untuk meminta bertemu dengan Vina. Entah apa tujuan utamanya. Pengunjung itu mungkin penggemar Vina, karena pengunjung itu sering melihat Vina ketika mengajar matematika. Setelah dia bertemu dengan Vina, dia berfoto bareng dengan Vina. Kemudian pengunjung itu berlalu begitu saja. "Manusia aneh, ada-ada saja." ungkap Vina dalam hati.

Matahari telah meredup, senja kini telah hadir, Vina segera bergegas menuju tempat Myeong-dong, dia harus menepati janjinya ke Ali. Dia tidak ingin membuat Ali kecewa, karena memang mereka berdua sudah berjanji untuk bertemu. Dan benar, Ali sudah menunggunya.

"Maaf, aku telat datang." ucap Vina.

"Tak apa, aku juga belum lama di sini. Oh ya, kau sudah makan?" Ali bertanya.

"Belum..." jawab Vina.

"Ayo kita makan... Biar aku yang traktir.." ajak Ali dan menggandeng tangan Vina.

"Aaahh,, baiklah, aku juga lapar."

Mereka berdua berjalan, mencari makanan yang unik dan enak, tentunya pas dengan lidah mereka. Dan malam ini mereka menyantap Bibimbap (masakan tradisional khas Korea)/

Ali merasa nyaman berada di dekat Vina. Bahka Ali sering memperhatikan Vina secara diam-diam. "Senyummu begitu menggodaku.." celetuk Ali dalam hati. Mengenal Vina adalah hal terbesar dan terindah yang pernah Ali rasakan. Apa lagi bisa menikmati makan malam berdua seperti ini. Tak pernah sebelumnya Ali merasa senyaman ini di dekat seorang perempuan. Vina, kini telah sedikit mengalihkan dunia Ali.

Menikmati makan di malam yang indah, dan bersama orang yang special itu adalah dambaan semua orang, tak terkecuali Ali. Meskipun belum lama mengenal tapi mereka sudah bisa akrab. Vina mulai berubah, dia sedikit sudah membuka hati, yang dulunya terkunci rapat-rapat hanya untuk Anton.

Kunci Keberkahan Hidup

7:22:00 AM 0 Comments A+ a-




7:96 

 
Dan sekiranya suatu penduduk negeri beriman dan bertakwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka dengan apa yang mereka kerjakan." (Q.S. Al-A'raf [7]:96)

Kebahagiaan hidup merupakan dambaan setiap orang. Ada pun sumber kebahagiaan itu hanyalah dari Allah Yang Maha Rahman dan Rahim. Salah satu sebab kebahagian, karena adanya keberkahan dalam kehidupan. Dan kunci meraih keberkahan hidup itu adalah benar serta kokohnya keimanan dan ketakwaan kepada Allah.

Kalimat barakâtin pada ayat di atas bentuk jamak dari barakah. Secara bahasa bermakna ast-tsubût (tetap), al-luzûm (terus melekat), an-namâ (berkembang) az-ziyâdah (kebahagiaan). Dengan demikian, keberkahan merupakan kebaikan yang bersumber dari Allah yang ditetapkan atas sesuatu sebagaimana mestinya sehingga apa yang diperoleh dan dimiliki akan selalu berkembang dan bertambah manfaat dan kebaikannya, untuk meraih kebahagiaan.

Syaikh Sya'rawi mengilustrasikan hakikat keberkahan, dengan seorang pegawai yang memperoleh gaji terbatas, namun dapat hidup bersama istri dan anak-anak dalam keadaan bahagia serta damai tanpa ada kesusahan. Timbul pertanyaan ; "bagaiman mereka dapat hidup bahagia?" Jawabannya adalah "karena berkah."

Buya Hamka dalam tafsir Al-Azhar menguraikan, bahwa keimanan dan takwa kepada Allah akan membuka pintu rezeki, sebab pikirannya terbuka dan ilham pun datang. Mampu membangun silaturahim dan kerjasama yang baik. Sehingga turunlah keberkahan dari langit dan menyembur berkah dari bumi. Beliau menyebutkan, bahwa keberkahan ada dua macam :
Pertama, yang hakiki yaitu berupa hujan yang membawa kesuburan bumi, maka suburlah tumbuhan dan keluarlah segala hasil bumi.

Kedua, yang maknawi, yaitu timbulnya fikiran-fikiran yang baru dan petunjuk dari Allah, baik berupa wahyu yang dibawakan oleh Rasul atau ilham yang ditumpahkan oleh Allah kepada orang-orang yang berjuang dengan ikhlas.

Bentuk Keberkahan
Secara umum, keberkahan yang diberikan Allah kepada orang-orang yang beriman bisa kita bagi ke dalam tiga bentuk berikut :
Pertama, berkah dalam makanan. Syarat memperoleh keberkahan pada makanan adalah halal dan thayyib. Sebagaimana Firman Allah, "Dan makanlah dari apa yang telah diberikan Allah kepadamu sebagai rezeki yang halal dan baik, dan bertakwalah kepada yang kamu beriman kepada-NYA." (Q.S. Al-Mâidah [5] :88)

Bagi orang yang beriman, makanan bukan sekedar untuk mengenyangkan. Namun bernilai ibadah, maka ia harus memperhatikam aspek halal dan thayyib, dari sisi cara mendapatkannya, kandungan zatnya dan cara pengolahannya, termasuk berdo'a sebelum makan. Sehingga apa yang kita makan, akan Allah tambahkan kebaikan dan manfaatnya, serta menjadikan kita semakin bersemangat dalam menunaikan ibadah kepada-NYA. Sebaliknya kita harus menghindari makanan yang haram, seperti hasil menipu, korupsi, suap, minuman keras, dan lain sebagainya. Selain tidak berkah dan tidak menyehatkan, termasuk sebagai penghalang atas dikabulkannya do'a kita oleh Allah..

Kedua, berkah dalam keturunan. Keberkahan dalam keturunan adalah dengan lahirnya anak cucu yang shaleh. Menjadi generasi yang kuat imannya, luas ilmunya dan banyak amal shalehnya. Sebagaimana dikisahkan Allah dalam Al-Quran mengenai Nabi Ibrahim a.s dan istrinya Sarah. "Dan istrinya berdiri (di balik tirai) lalu tersenyum. Maka Kami sampaikan kepadanya kabar gembira tentang (kelahiran) Ishaq dan dari Ishaq (akan lahir putranya) Ya'qub. Dia (istrinya) berkata, 'sungguh ajaib, mungkinkah aku akan melahirkan anak, padahal aku sudah tua, dan suamiku pun sudah dalam keadaan sudah tua pula? Sesungguhnya ini benar-benar sesuatu yang sangat ajaib.' Mereka (para malaikat) berkata, mengapa engkau merasa heran tentang ketetapan Allah? (itu adalah) rahmat dan keberkahan-NYA (barakâtu), dicurahkan kepada kamu, wahai ahlul bait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji dan Maha Pengasih." (Q.S. Hûd [11] : 71-73)

Keturunan yang shaleh merupakan dambaan kita semua, namun generasi yang shaleh akan lahir dari orang tua yang shaleh pula serta mendidiknya secara benar dan baik. Keturunan yang shaleh, tidak hanya membawa keberkahan ketika seseorang masih hidup, bahkan ia menjadi investasi pahala yang terus mengalir ketika sudah wafat dan di akhirat kelak. Selain membawa kebahagiaan dan penyejuk hati, anak juga bisa menjadi ujian dan musibah apabila tidak dididik berlandaskan iman dan mengharapkan bimbingan Allah. Oleh karena itu, jangan heran bila kita menyaksikan fenomena anak yang sulit diatur, melawan orang tua, bahkan sampai tega membunuh orang tua yang telah membesarkannya.

Ketiga, berkah dalam waktu. Waktu yang tersedia dimanfaatkan untuk kebaikan, merupakan keberkahan yang menghindarkan kita dari kerugian. Oleh karena itu, agar umur semakin berkah harus diisi dengan iman, amal shaleh, saling menasehati dan menegakkan amar ma'ruf nayi munkar. Allah berfirman, "Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan amal shaleh serta saling nasihat-menasihati dalam kebenaran dan saling nasihat dan menasihati dalam kesabaran." (Q.S. Al-'Ashr : 1-3).

Adapun kunci untuk memperoleh keberkahan hidup, di antaranya ada dua upaya, yaitu :

1. Iman dan takwa yang benar serta kokoh. Pada ayat di atas, sudah dikemukaan bahwa Allah akan menganugerahkan keberkahan kepada hamba-hamba yang beriman dan bertakwa kepada-NYA. Ibnu Katsir menjelaskan, yaitu hati mereka beriman kepada ajaran yang dibawa oleh Rasul, membenarkannya dan mengikutinya, serta bertakwa dengan melaksanakan ketaatan dan meninggalkan perkara yang diharamkan.

2. Berpedoman dan mengamalkan nilai-nilai Al-Quran. Al-Quran merupakan sumber keberkahan, sehingga apabila kita menjalankan pesan Al-Quran dan berpedoman kepadanya, niscaya kita akan memperoleh keberkahan. Allah berfirman, "Dan Al Quran ini adalah suatu Kitab (peringatan) yang mempunyai berkah yang telah Kami turunkan. Maka mengapakah kamu mengingkarinya?" (Q.S. Shâd [38] : 50).

Al-Quran dan Al-Hadist merupakan warisan Rasulullah, yang apa bila kita berpegang teguh kepadanya, niscaya tidak akan pernah tersesat untuk selamanya. Oleh karena itu, untuk meraih keberkahan, maka kita harus menjadikan diri kita dan keturunan, untuk selalu dekat dengan Al-Quran; membaca, mempelajari dan mengamalkannya di dalam kehidupan. Namun pada akhir ayat di atas, Allah pun menegaskan, bahwa sebagian manusia tidak beriman, justru mendustakan ayat-ayat-Nya, melakukan perbuatan syirik dan bermaksiat, maka Allah, akan mengadzabnya disebabkan perbuatannya.

Sehingga bila iman dan takwa tak lagi subur dan kokoh, maka segala nikmat dan keberkahan akan Allah angkat dan cabut, sehingga musibah datang silih berganti. Hujan bukan lagi rahmat, tapi menjadi azab baginya, bukan memberikan kesuburan melainkan banjir yang merugikan. Interaksi sosial yang tercabut dari nilai ukhuwah, sehingga maraknya tawuran dan permusuhan, meskipun terhadap orang tuanya. Karena tidak dibangun berdasarkan konsep serta aplikasi iman dan takwa.

Oleh karena itu, kita harus menjadikan iman dan takwa sebagai perhiasan diri dalam akhlak, bukan slogan dan retorika. Tapi terwujud dalam seluruh aspek kehidupan, baik keluarga maupun masyarakat.
Wallahu A'lam.


Sumber : Buletin Da'wah oleh Muhammad Zaini.

6 Ciri Wantia yang Gampang Selingkuh

12:09:00 PM 4 Comments A+ a-


Postingan ini semua adalah opini dodolz, yang meruapkan dedengkot #england allnetwork (irc). Dan perlu saya tegaskan lagi, ini adalah benar-benar opini pribadi dari seorang dodolz, seorang yang aktif di dunia maya lebih dari 10 tahun (kakak yang paling dudut yang pernah saya kendal :D). Meskipun dia menulis “original opini no repost no copy”, tapi saya akan tetap mengcopy-nya. :D, ya saya tahu, pasti nanti dia akan “menceramahi” saya karena saya udah copas tulisan dia (tapi sudah biasa diceramhi,, hihihiihihi). Dan berikut adalah 6 Ciri Wanita yang Mudah Selingkuh, menurut dodolz :

  1. MUDAH CURHAT KE ORANG LAIN TERUTAMA BANYAK PRIA
Kebiasaannya mengumbar cerita pribadinya kepada orang lain, terutama dengan lebih dari satu pria (apalagi baru kenal sebentar), menjadi salah satu tanda bahwa wanita model ini gampang berpaling pada pria lain dan tak akan pernah puas dengan pasangannya (Apakah anda termasuk di dalamnya? Segera perbaiki diri!!).

  1. GAMPANG DIRAYU
Hal ini memang menjadi kelemahan setiap wanita, namun wanita yg sudah punya pasangan tidak akan gampang untuk dirayu.

  1. LABIL
Wanita labil yang saya lihat lebih mudah untuk selingkuh karena dia belum yakin pada dirinya sendiri. Dia bahkan belum memiliki pandangan jelas tentang hidupnya, mungkin saat ini dia punya pasangan, namun sikap labil ini merupakan kelemahannya. Jika sang "pasangan”nya tidak menyikapi dengan tindakan yang tepat wanita labil akan mudah untuk dibelokkan

  1. GAMPANG EMOSI
Wanita yang emosional juga termasuk tipe pasangan yang harus Anda waspadai. Sikap emosional tanpa alasan jelas merupakan tanda "ketidakpuasan" karena sejak zaman masih hutan rimba (karna dodolz kebanyakan hidup di hutan), sudah dituliskan bahwa wanita adalah makhluk yang penyabar

  1. POSESIF
Wanita yang terlalu posesif juga berpotensi untuk selingkuh. Kenapa? Karena tipe wanita semacam ini biasanya tidak menunjukkan sifat aslinya dan justru kemungkinan besar dia lah yang bermain di belakang Anda. Dia bersikap posesif hanya untuk menutupi kebohongannya. Ngerti posesif tidak? Dan cara-cara trik posesifnya?? Wanita type posesif ini banyak terutama di FB sekarang ini. Asal tulis status 'ramah' dan atau kutipan 'ayat-ayat suci', sok tegas dan wibawa, hal itu juga masuk posesif jadi teman-teminku yang cowok perhatikanlah lebih mendalam cewek yangg akan kamu TEMBAK (Doooorr...! Mati Donk, Gak Jadi Jatuh Cinta)

  1. TIDAK PUNYA SAHABAT LAWAN JENIS
Wanita yang tidak punya sahabat/teman dekat pria biasanya lebih gampang selingkuh. Why? Karena seorang wanita yang mempunyai sahabat pria, lebih dewasa dalam memandang suatu hubungan. Sudah bisa membedakan arti hubungan percintaan dan persahabatan.

Ya begitulah, menurut dodolz, wanita yang gampang selingkuh itu ciri-cirinya ada 6 (enam). Apakah di antara kalian ada yang mau menambahkan? Atau mungkin mau memberikan opini lain? Silakan, mari berdiskusi untuk hal kebaikan :)


Note : Berarti saya dewasa ya, kan saya punya teman lawan jenis :D (jangan panggil aku anak kecil lagi, dan aku si “Cengeng” -_-”)


Wajahmu

10:11:00 AM 0 Comments A+ a-


Waktu selih berganti tanpa ku sadari
Ada rasa yang begitu kuat untukmu
Walau ku tak pernah tahu
Apa sebenarnya rasa ini
Namun, rasa itu kian menyiksa hatiku

Wajahmu kini selalu hadir di kelopak mataku
Indah rasanya melihat wajahmu selalu
Bagaimana bisa kau selalu hadir di setiap langkahku
Ingin ku bertanya kepadamu

Saat bertemu denganmu, saat menatap matamu
Oh Tuhan,,, pertemukan aku dengan dia
Namanya kini telah melekat di dalam hatiku
Oh.. sepertinya, aku jatuh cinta