Sang Bintang #Bagian 4

12:34:00 PM 0 Comments A+ a-

***Bagian Sebelumnya...

"Aleeeeeeeeeexxx..." Mesty berteriak dan mengejarnya. Seakan-akan tak rela berpisah dengan Alex. Alex menghentikan langkahnya. Tapi dia tak menoleh ke belakang, karena itu akan membuatnya tak tega ketika menatap wajah Mesty. Mesty akhirnya meraih Alex, dia memeluknya dari belakang.

"Aku juga mencintaimu..." Ucap Mesty dengan tegas. Makin tidak karuan perasaan Alex, dia pun membalikan badan dan memeluk Mesty.

"Jangan bersedih, aku pasti akan kembali." Alex menghapus air mata Mesty.
"Ini untukmu, udara di sini dingin ketika malam." Lanjut Alex. Dia mengenakan syalny ke Mesty. Mesty tersenyum.

"Hmmmm.. Tunggu dulu, di Eropa lebih dingin. Ini untukmu saja." Mesty memakaikan syal di leher Alex. "Aku menunggu kau kembali di sini." Ucap Mesty.

Sekali lagi Alex memeluk dan mencium keningnya. Perlahan ia menghilang dari pandangan Mesty.


Mesty menangis, ia menyadari bahwa dirinya telah jatuh cinta ke Alex. Dengan langkah yang berat, ia pergi meninggalkan bandara. Membawa serta kenangan dan kehilangan Alex. Mesty hanya bisa menunggunya. Lima belas menit kemudian, Mesty sampai di kantor. Kali ini ia melanggar jam kerja, seharusnya sebelum ke bandara berpamitan terlebih dulu. Nasi sudah menjadi bubur, waktu tidak bisa diputar lagi.

"Dari mana saja kau? Apa kau sudah lupa ini masih jam kerja?" Andara sudah tampak emosi.

"Maaf nona, saya baru saja dari bandara. Alex berangkat ke Milan siang ini." Jelas Mesty dengan gugup.

"Apa? Kau melanggar jam kerja hanya untuk mengantar Alex? Tidak biasanya kau seperti ini. Sebenarnya apa yang terjadi di antara kalian?" Andara harus tahu pastinya. Mesty terdiam, masih bingung mencari jawaban yang tepat.

"Jawab Mesty!! Apa kalian memiliki hubungan yang special?"

"Iya nona.." Jawaban yang singkat dari Mesty. Namun, jawaban itu mampu membuat Andara tampak lesu dan pucat. Terasa aliran daranya begitu lemah, sangat lemah. Andara berharap apa yang dikatakan Mesty hanyalah sebuah mimpi.

Andara berpegangan kursi, dia mencoba menahan diri agar tidak terjatuh. Langkahnya yang kecil membawanya pergi ke ruangannya. Menangis, hanya itu yang bisa ia lakukan. Andara tidak bisa berkonsentrasi untuk bekerja. Kacau. Benar-benar kacau pikirannya Dengan keadaan yang lusuh, ia pergi meninggalkan kantor. Mencari suasana yang baru. Dia butuh oksigen yang lebih segar. Andara meluncur dengan kecepatan sangat tinggi. Tanpa arah tujuan yang pasti. Tak terencana pula ia akan pergi kemana. Ia hanya mengikuti nalurinya. Speedometer mobil menunjukkan angka 200km/jam. Beruntung jalanan sepi, sehingga tidak ada kecelakaan.

Hari mulai meredup, panas sudah menghilang. Andara memarkirkan mobil di sebuah tempat, dan tepat di bawah pohon yang rindang. Tak tahu kini ada di mana, yang jelas dia telah meninggalkan kota sejauh 300 km. Dalam jarak pandang 100 meter, Andara melihat bangunan yang unik. Dia mendekat ke bangunan itu. Jalan setapak tetapi rapi dan bersih.
Dikelilingi dengan berbagai taman bunga. Sungguh cantik pemandangan di sini. Tempat ini begitu menyejukan, menyegarkan, sekaligus menenangkan.

Andara meneruskan langkahnya, dia menuju pos penjagaan.

"Permisi.. Selamat sore... " Ucap Andara ke Satpam yang sedang berjaga.

"Selamat sore juga ibu, ada yang bisa kami bantu?"

"Maaf pak, ini di daerah mana, saya tidak menyadari kalau saya mengemudi sampai tempat ini." Jawab Andara.

"Disini Bukit Ketenger. Di sini tempat yang cocok untuk pesinggahan. Apakah anda tertarik untuk singgah di sini?"

"Hmmm... Ada apa saja di sini?" Andara ingin tahu secara jelas.

"Di sini ada pemandian air hangat, ada vila atau penginapan. Dari vila anda bisa menikmati alam pegunungan yang sangat cantik. Di belakang vila, hanya berjarak 50 meter, ada perkebunan strawberry. Di sana anda bisa menikmati buah strawberry yang masih segar, karena anda memetiknya langsung dari pohonnya. Dan di sebelah barat vila, berjarak 20 meter, ada sebuah air terjun. Airnya begitu jernih. Selain itu, anda bisa berkeliling menaiki kuda untuk menikmati pemandangan pegunungan yang sangat indah. Atau anda bisa memberi makan ke ikan-ikan mas yang ada di kolam."

Andara begitu menikmati penjelasan dari satpam itu. Andara sangat tertarik, karena merasa tempat ini sangat cocok untuk menengkan hati.

"Baiklah pak, saya booking satu vila. Saya akan tinggal untuk beberapa hari di sini."

Andara kembali ke mobil dan mengemudikan ke arah vila. Tempat yang sangat bagus. Jauh dari kebisingan kota. Jauh dari masalah bisnis dan hal-hal lain yang membuat stres otak.

Layanan special diberikan untuk Andara. Hal yang pertama Andara lakukan adalah mandi air hangat. Air hangat ini bersumber langsung dari kaki gunung, jadi bukan air biasa yang dimasak. Andara menghabiskan waktu hampir 3 jam di kolam air hangat. Sendiri, mencoba melupakan kejadian siang tadi.

Ketika malam mulai menghitam, cahaya bintang berkelip memberi pijar yang membuat semakin indah suasana malam. Di balik jendela, Andara menatap dengan jelas hamparan keindahan Maya Padha ciptaan sang Kuasa. Begitu Agung nan elok. Membuat siapa saja yang melihatnya menjadi damai dan tentram hatinya. Tak pernah sebelumnya Andara memiliki jiwa yang tenang dan damai seperti ini. Sungguh luar biasa. Malam yang bertabur bintang, kini menjadi teman setia Andara, hingga ia terlelap
dalam tidur.


Pagi buta Andara sudah bergegas menuju perbukitan. Dia tidak ingin melewatkan kesempatan istimewa, yaitu melihat sunrise. Cahaya orange keemasan dari ufuk timur dengan megahnya. Andara begitu terpesona dan mengabadikannya dengan jepretan kameranya. Setelah puas menikmati sunrise, dia menuruni bukit-bukit dan turun di lembah strawberry. Terlihat embun yang bening membasahi dedaunan dan buahnya. Andara sangat menikmati suasana di sini, bahkan dia lupa tentang apa yang telah terjadi di hari sebelumnya.

##

Sudah dua hari Andara tidak ada kabar. Mesty merasa bersalah, harusnya ia mampu menutupi hubungannya dengan Alex. Dengan hati yang penuh bimbang dan ragu, malam ini Mesty akan ke rumah Andara. Mesty berniat untuk meminta maaf dan meminta agar Andara segera merancang busana.
Apa lagi sudah dikejar deadline dari majalah pesona, yang akan segera menerbitkan edisi terbaru.

Ragu-ragu, rasa itu kian ada di dalam diri Mesty. Dia sudah memarkirkan mobil di depan rumah Andara. Mesty belum juga turun, dia masih di dalam mobil hingga belasan menit. Dengan segala rasa yang ada di dalam hati, Mesty mulai berani melangkahkan kakinya, sangat pelan langkahnya.

Mesty mengetuk pintunya. Tak ada jawaban apa pun dari dalam. Rumah itu terlihat sangat sepi. Sekali lagi Mesty mengetuk pintunya.

"Selamat malam... Maaf, saya mengganggu di malam seperti ini.." Ucap Mesty.

"Selamat malam juga.. Oh tidak apa-apa, mari silakan masuk.." Jawab wanita yang membuka pintu dan mempersilakan Mesty masuk.

"Hmmm.. Tidak usah,, di sini saja. Oh ya, apakah saya bisa bertemu nona Andara sebentar?"

"Maaf, nona Andara tidak ada di rumah.." Tatapannya mulai kosong.

"Boleh saya tahu kemana nona Andara pergi?"

"Saya juga tidak tahu kemana perginya nona Andara. Sudah dua hari nona Andara tidak pulang. Saya juga bingung, karena tidak biasanya nona Andara seperti ini." Jelas pengurus rumah Andara ke Mesty.

"Ohh,, baiklah.. Kalau begitu saya permisi dulu." Mesty pergi meninggalkan rumah Andara. Dia terus bertanya-tanya dalam hati, "Kemana Andara?"

Di rumahnya, Andara tak ada. Mesty berinisiatif ke rumah Rony. Mungkin Rony akan membantu mencari Andara, karena Rony mencintai Andara. Namun, setelah sampai di depan rumah Rony, Mesty mengurungkan niatnya. Dia pulang ke rumah untuk beristirahat...

"Sebenarnya ada apa ini? Andara menghilang, dan rumah Rony didatangi polisi. Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah dua hal ini berhubungan?"

Mesty menerka-nerka mencoba mencari tahu apa yang telah terjadi.

"Dan salahkah aku yang mencintai Alex?"

Setahu Mesty, tak ada hal yang salah dalam mencintai. Yang salah hanyalah ego yang terlalu besar. Dalam cinta memang selalu ada pilihan yang pahit yang kadang harus diambil. Kau memilih hidup denganya, bahagia dengannya. Tetapi ada orang di sekitarmu terluka. Atau kau membiarkan orang yang kau cintai hidup dengan orang lain, tetapi hatimu sendiri yang terluka. Selalu seperti itu pilihannya. Tetapi, percayalah cinta sejati itu juga ada, bagi mereka yang mau berusaha untuk mendapatkan, menjaga dan mempertahankannya. Dan, menjaga dan mempertahankan cinta itu jauh lebih sulit, dibandingkan dengan untuk mendapatkannya. Karena ketika kau sedang mempertahankan cinta akan banyak ujian yang datang padamu. Dari rasa bosan, jenuh, dan bahkan hadirnya orang ketiga. Semakin sulit ujiannya, maka cinta itu kian abadi.

Pagi yang cerah, Mesty sudah di kantor, berharap sesosok perempuan yang cantik nan tegas sudah ada di ruangannya. Mesty menunggunya, tetapi tetap tak ada. Andara tak hadir lagi. Dan yang menghampiri Mesty bukan Andara, melainkan Rony.

"Andara hari ini masuk jam berapa? Tumben sekali jam segini tak ada di ruangan." Tanya Rony ke Mesty.

"Maaf tuan, nona Andara sudah tiga hari ini tidak masuk kantor." Jawab Mesty dengan pelan.

"Kenapa dia? Apa dia sakit?" Rony ingin tahu.

"Saya kurang tahu, nona Andara sudah tiga hari tidak ada kabar. Semalam saya ke rumahnya, tapi hanya ada pembantunya." Jelas Mesty.

"Apa??!! Kenapa kau diam tak memberitahuku?!!"

"Semalam saya ke rumah tuan, tapi ada polisi di rumah tuan, jadi saya tidak masuk."

Rony kebingungan, pikirannya mulai kacau. Ahhh, kemana Andara?

"Ya sudah, biar aku yang mencarinya."

Rony segera bergegas mencari Andara. Rony juga belum tahu pasti kemana Andara pergi. Tapi dia harus mencarinya sampai ketemu.

"Andara... Andara.. Kenapa kau lakukan ini? Kalau kau punya masalah, tak seharusnya seperti ini."

"Tapi aku akan menemukanmu, karena aku tahu kebiasaanmu." Rony terus melaju dengan kecepatan tinggi. Dia yakin dia akan menemukan Andara.

Rony terus melaju dengan kecepatan tinggi. Dia sangat bertekat untuk bertemu dengan Andara. Selain dia mencintainya, dia juga harus menagih karya-karya Andara untuk edisi majalah pesona yang akan segera terbit.

Setalah menempuh jarak sekian ratus kilometer, Rony sampai di tempat yang sunyi. Karena teramat sunyinya, kicauan burung dan gemerciknya air terjun pun terdengar jelas di telinga. Nyanyian alam yang sangat indah. Rony berhenti sejenak, menikmati suara burung-burung yang sedang bernyanyi. Kemudian Rony melanjutkan langkahnya, menuruni semak-semak belukar, seperti di hutan, tetapi tidak begitu terjal.



Dari atas air terjun, Rony berkata, “Apa yang sedang kau lakukan di sini?” Tanya Rony ketika melihat Andara sedang di bawah air terjun.

Andara kaget, mencari suara itu. Suara yang tidak asing di telinganya. Tapi di mana? Tak berwujud. Andara berpikir itu hanya sebuah halusinasi saja. Tak mungkin Rony bisa menemukannya di sini.

Aku ada di atasmu. Kenapa kau menghilang dan menepi di sini?” Rony beranjak turun menyusuri air terjun.

Andara tak menyangka Rony akan menemukannya.

Seharusnya aku yang bertanya kepadamu. Kenapa kau berada di tempat ini? Apa yang sedang kau lakukan?” ucap Andara.

Aku ke sini karena ingin menjemputmu pulang, sudah banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan. Jadi, aku mohon padamu, pulanglah bersamaku.” Pinta Rony.

Apa urusanku dengan pekerjaanmu? Kenapa harus menungguku? Kenapa kau tidak selesaikan sendiri?” Andara menocba menolak untuk pulang.

Rony semakin mendekati Andara. Dan terus mendekatinya. Tehenti sejenak, menatap mata Andara dalam. Dan mendekatinya lagi. Rony memeluk Andara. Pelukan yang sangat hangat, hingga Andara tak bisa berkata dan berbuat apa-apa.

Pulanglah denganku..” Lembut bisikan Rony di telinga Andara.
Rony melepaskan pelukannya. Andara masih terdiam, dia masih tidak mengerti, apa yang sebenarnya sudah terjadi.

Masih banyak pekerjaan yang harus kita selesaikan. Kalau kau ingin berlibur, nanti akan aku temani setelah deadline kita terselesaikan.”

Aku belum ingin pulang, aku masih betah di sini. Sepertinya pekerjaanmu tidak perlu bantuanku.”

Aaah.. Sepertinya kau memang sedang benar-benar bermimpi. Meskipun aku sangat mencintaimu, tetapi untuk masalah pekerjaan, aku tetap menuntutmu sebagai desainer baju. Karya-karyamu belum satu pun masuk di dalam daftar majalah pesona untuk terbit minggu depan. Kau harus segera pulang dan buatlah karyamu.”


Aku masih butuh waktu di sini, untuk menenangkan hatiku.”

Memangnya, apa yang sebenarnya terjadi padamu? Ceritakanlah padaku, mungkin aku tidak bisa memecahkan masalahmu, tetapi aku bisa menjadi teman untuk mendengarkan keluh kesahmu.”

Sudahlah, aku sedang tidak ingin membahasnya.”

Baiklah, yang penting hari ini kau harus pulang, dan selesaikan baju-bajunya. Riana desainer baru itu sudah muncul karya barunya dari seminggu yang lalu. Kau tidak ingin kalah dari desianer baru itu bukan?”

Apa kau bilang?!! Kenapa kau baru sekarang mengatakannya? Kenapa tidak sedari tadi kau sampai di sini?”

Bagaimana aku bisa mengatakannya, sedari tadi kau penuh emosi.” Rony tersenyum.

Baiklah, aku ikut denganmu, tapi bagaimana kau bisa menemukanku di tempat ini. Aku rasa tidak ada yang tahu tempat ini. Aku ke sini juga tidak sengaja.”

Aku mengenalmu Andara, kau pergi dari kantor dengan keadaan kesal, mana mungkin kau akan berbelok ke arah kanan. Kau pasti dari area parkir langsung lurus jalan ke kiri agar kau mudah mengemudikan mobilmu. Dan tempat ini, tempat diujung jalan yang paling lurus. Makanya kau berhenti disini. Aku tahu kau tak akan pergi mencari jalan lain, selain jalan lurus ini.”

Andara tersenyum mendengar penjelasan, memang begitu kenyataannya. Analisa Rony benar-benar tepat.

Andara mengikuti perintah Rony untuk kembali hari ini. Dia harus siap untuk membuat karya yang bagus. Dan harus kembali bertempur di dunia fashion. Untuk masalah hatinya, mungkin masih bisa terabaikan dengan kesibukan yang akan mengelilinginya.

Sejarah Kerajaan Singasari dan Kisahnya

12:32:00 PM 0 Comments A+ a-




Singasari adalah nama dari sebuah daerah yang terletak di sebelah timur Gunung Kawi di hulu sungai Brantas. Saat ini daerah tersebut termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Malang di Propinsi Jawa Timur Indonesia. Pada abad ke-13, Singasari hanya merupakan sebuah desa kecil yang tidak berarti. Keadaan ini lambat laun berubah bertepatan dengan munculnya seorang pemuda bernama Ken Arok dari desa Pangkur, yang berhasil merebut daerah tersebut dari wilayah kekuasaan Kerajaan Kediri yang saat itu diperintah oleh Raja Kertajaya pada tahun 1222 Masehi. Sejak saat itu ia mendirikan kerajaan yang berpusat di desa Kutaraja serta mengambil nama gelar kebangsawanan sebagai Rajasa Sang Amurwabhumi. Baru kemudian pada tahun 1254 Masehi, wilayah tersebut diganti nama dengan nama Singasari oleh cucunya yang bergelar Jaya Wisnuwardhana. Singasari menjadi kota kerajaan yang menguasai wilayah Jawa bagian Timur dari tahun 1222 sampai 1292 Masehi. 

Kerajaan Singasari memiliki keterkaitan dengan kerajaan Majapahit yang didirikan oleh Nararya Sanggramawijaya pada tahun 1293 Masehi. Sanggramawijaya atau yang lebih dikenal oleh masyarakat sebagai Raden Wijaya adalah cucu dari Narasingamurti dan menantu dari Raja Kertanegara. Kertanegara adalah raja Singasari terakhir yang meninggal terbunuh dalam peperangan melawan tentara pemberontak yang mengatas namakan Kerajaan Kediri di bawah pimpinan Jayakatwang. Raden Wijaya secara resmi menjadi raja Majapahit setelah berhasil mengalahkan tentara Jayakatwang yang telah merebut Singasari. Raden Wijaya melakukannya dengan bantuan tentara Tartar dari China yang awalnya datang ke Jawa untuk tujuan menaklukkan Singasari yang ternyata sudah terlebih dahulu diruntuhkan oleh Jayakatwang.

Kisah tentang kerajaan Singasari, pertama kali disiarkan dalam karya J.L.A. Brandes, Pararaton of het boek der konigen van Tumapel en van Majapahit uitgegeven en toegelicht, di tahun 1896. Dalam karya tersebut J.L.A. Brandes membahas tentang kisah pendiri Singasari sebagaimana tertulis di dalam Serat Pararaton atau yang juga disebut sebagai Katuturanira Ken Arok. Dimulai dengan cerita tentang Ken Arok yang kemudian menjadi pendiri kerajaan Tumapel dan mengambil nama abhiseka Rajasa Sang Amurwabhumi setelah mengalahkan Raja Kertajaya dari Kediri. Sejak saat itu, cerita Ken Arok mulai dikenal di lingkungan kesejarahan Indonesia. 

Pararaton adalah manuskrip jawa kuno yang ditulis dalam bentuk dongeng yang berbeda dengan bentuk tulisan sejarah. Oleh karena itu beberapa ahli sejarah menolak kebenaran naskah tersebut. Namun, perlu diperhatikan bahwa cerita itu tidak diperuntukkan bagi para ahli sejarah, melainkan bagi masyarakat Jawa Kuno yang pada saat itu banyak mendapat pengaruh dari kepercayaan Hindu. Maka dengan sendirinya, manuskrip tersebut dikisahkan sesuai dengan alam pikiran masyarakat yang membacanya. Ajaran hinduisme, meliputi diantaranya dewa-dewa, titisan, karma dan yoga. Ajaran itu mempengaruhi alam pikiran masyarakat Jawa dan kesusasteraannya. Pararaton adalah hasil sastra dari zaman itu, maka dengan sendirinya sastra Pararaton juga bersudut pandang ajaran Hinduisme. 
Berikut ini adalah ringkasan cerita tentang Ken Arok sebagaimana tertulis di dalam naskah Pararaton. 

Bhatara Brahma berjinak-jinak dengan Ken Ndok di lading Lalateng, kemudian berpesan agar Ken Ndok jangan lagi berkumpul dengan suaminya. Larangan Dewa Brahma itu mengakibatkan perceraian dengan suaminya Ken Ndok, Gajah Para. Ken Ndok pulang ke Desa Pangkur, diseberang utara sungai; Gajah Para kembali ke Desa Campara, di seberang selatan. Lima hari kemudian, Gajah Para meninggal, konon karena ia melanggar larangan Dewa Brahma dan karena anak yang masih di dalam kandungan. Setelah sampai bulannya, Ken Ndok melahirkan bayi laki-laki, yang segera dibuang di kuburan akibat menanggung malu. Pada malam harinya, seorang pencuri bernama Lembong tercengang melihat sinar berpancaran di kuburan tersebut. Saat sinar itu didekatinya nampaklah seorang bayi sedang menangis. Karena kasihan maka bayi tersebut dibawanya pulang. Segera tersiar kabar bahwa Lembong mempunyai anak pungut berasal dari kuburan. Mendengar kabar itu, Ken Ndok dating mengunjungi Lembong dan mengaku bayi itu anaknya, lahir dari kekuasaan Bhatara Brahma. Anak itu diberi nama Ken Arok. 

Ken Arok tinggal di desa Pangkur sampai dapat menggembalakan kerbau, namun ia suka berjudi. Harta kekayaan Ayah pungutnya habis diperjudikan. Ketika ia disuruh menggembalakan kerbau kepala desa Lebak, kerbau itupun diperjudikannya juga. Akibatnya ayah pungutnya harus membayar uang ganti rugi. Karena kesal, Ken Arok pun diusir dari rumah. Ditengah jalan ia bertemu dengan Bango Samparan, penjudi dari Desa Karuman. Ken Arok dibawa ke tempat perjudian. Pada waktu itu Bango Samparan menang; menurut anggapannya berkat kehadiran Ken Arok. Oleh karena itu Ken Arok diajaknya pulang dan dijadikan anak pungut istri tua Bango Samparan yang kebetulan mandul. Di Karuman, Ken Arok merasa kesepian, karena ia tidak dapat bergaul dengan anak-anak Tirtaja, istri muda Bango Samparan. Kemudian ia pergi dan bertemu dengan Tita, anak Sahaja, kepala desa Siganggeng dan belajar bersama pada seorang guru bernama Janggan. Di rumah Janggan, ia menunjukkan kenakalannya. Buah jambu milik Janggan yang masih mentah diambil dan diruntuhkan. Melihat perbuatan itu, Janggan marah. Ken Arok tidak berani masuk rumah, lalu tidur di luar di atas timbunan jerami kering. Ketika Janggan keluar di malam hari, ia terkejut melihat sinar berpancaran dari timbunan jerami. Ketika didekatinya, ternyata sinar itu berasal dari Ken Arok. Sejak saat itu Janggan sangat menyayangi Ken Arok. 

Ken Arok dan Tita tinggal di sebuah pondok di sebelah timur Siganggeng untuk menghadang para pedangang yang lewat, namun kenakalannya tidak sampai disitu saja. Ia berani pula merampok dan merogol gadis penyadap di Desa Kapundungan. Ken Arok menjadi perusuh yang mengganggu keamanan wilayah Tumapel dan menjadi buruan Akuwu (Penguasa daerah). Ken Arok lari dari satu tempat ke tempat lain. Tiap tempat yang didatanginya menjadi tidak aman, namun ia selalu dapat lolos dari bahaya berkat perlindungan Bhatara Brahma. 

Ketika Ken Arok berguru kepada Mpu Palot di Turnyatapada, ia diutus untuk mengambil emas pada kepala desa Kabalon. Orang-orang Kabalon tidak percaya bahwa ia adalah utusan Mpu Palot. Karena marah, salah seorang diantara mereka ditikamnya, lalu ia lari ke rumah kepala desa. Segenap penduduk Desa Kabalon mengejarnya, masing-masing bersenjatakan golok atau palu. Sekonyong-konyong terdengar suara dari langit yang berkata: “Jangan kau bunuh orang itu. Ia adalah puteraku. Belum selesai tugasnya di dunia!”. Mendengar suara itu para pengejarnya berhenti, lalu bubar. 

Sementara itu, diketahui oleh orang-orang Daha (Kediri) bahwa Ken Arok bersembunyi di Turnyatapada. Dalam kejaran orang-orang Daha, Ken Arok lari ke Desa Tugaran, dari Tugaran ke Gunung Pustaka dan dari situ mengungsi ke Desa Limbahan; dari Desa Limbahan ke Desa Rabut, akhirnya sampai Panitikan. Atas nasihat seorang nenek ia bersembunyi di Gunung Lejar. Dalam persembunyiannya di Gunung Lejar, ia mendengar keputusan para Dewa bahwa ia telah ditakdirkan menjadi raja yang akan menguasai Pulau Jawa. 

Brahmana Lohgawe datang dari India ke Pulau Jawa menumpang di atas tiga helai daun kakatang, diutus oleh Bhatara Brahma untuk mencari orang yang bernama Ken Arok. Ciri-cirinya: tanganya panjang melebihi lutut; rajah telapak tangan kanannya ialah cakra, rajah telapak tangan kirinya bertanda cangkang kerang. Kata Bhatara Brahma, ia adalah titisan Dewa Wisnu di suatu candi. Dengan jelas diberitahukan kepadanya, Dewa Wisnu tidak ada lagi di candi pemujaan, karena telah menitis pada orang yang bernama Ken Arok di Pulau Jawa. Ia diperintahkan mencarinya di perjudian. Oleh karena itu, sesampainya Brahmana Lohgawe di Pulau Jawa, ia segera menuju Desa Taloka bertemu dengan Ken Arok.



Ken Arok dibawanya menghadap Akuwu Tumapel bernama Tunggul Ametung. Setelah mendengar uraian pendeta Lohgawe bahwa ia baru saja dating dari Jambudwipa dan maksud kedatangannya ialah untuk menitipkan anak angkatnya, Ken Arok diterima oleh Tunggul Ametung sebagai pembantu. 

Istri Tunggul Ametung sangat cantik bernama Ken Dedes, anak tunggal seorang pendeta Budha di Panawijen bernama Mpu Purwa. Konon ketika Tunggul Ametung datang di Panawijen untuk meminang Ken Dedes, kebetulan Mpu Purwa sedang bertapa di tegal. Karena tidak dapat menahan nafsunya, Ken Dedes dilarikan ke Tumapel dan dikawininya. Ketika Mpu Purwa pulang dari pertapaan, mendapatkan rumahnya kosong, lalu menjatuhkan kutuk: “Semoga yang melarikan anak saya tidak akan selamat hidupnya; semoga ia mati kena tikaman keris. Semoga sumur dan sumber air di Panawijen semuanya kering sebagai hukuman kepada para penduduknya, karena mereka itu segan memberitahukan penculikan anak saya. Semoga anak saya yang sudah mendapat wejangan karma amamadangi tetap selamat dan mendapat bahagia!”. 

Ketika Ken Arok datang di Tumapel, Ken Dedes telah hamil. Bersama suaminya, ia naik kereta berpesiar ke taman Baboji. Pada waktu Ken Dedes turun dari kereta, tersingkap kain dari betis sampai pahanya. Ken Arok terpesona melihatnya karena rahasia Ken Dedes berpancaran sinar. Sepulangnya dari taman, peristiwa itu diceritakan oleh Ken Arok kepada pendeta Lohgawe. Jawab Lohgawe: “Wanita yang rahasianya menyala, adalah wanita nareswari. Betapapun nestapanya lelaki yang menikahinya, ia akan menjadi raja besar.” Mendengar ujaran itu, Ken Arok terdiam. Timbul niatnya untuk membunuh Tunggul Ametung, namun Lohgawe tidak setuju. 

Ken Arok meminta izin untuk mengunjungi ayah angkatnya Bango Samparan di Desa Karuman. Sesampainya disana, ia menceritakan pengalamannya di taman Baboji kepada Bango Samparan dan menegaskan niatnya untuk membunuh Tunggul Ametung serta kemudian mengawini Ken Dedes. Bango Samparan member nasihat agar Ken Arok sebelum melaksanakan niatnya supaya pergi dulu ke Lulumbang menemui pandai keris bernama Mpu Gandring, ia adalah kawan karib Bango Samparan. Konon barang siapa kena tikam keris buatannya pasti mati. Nasihatnya, supaya Ken Arok memesan keris kepadanya. Hanya setelah keris pesanan itu selesai ia baru boleh melaksanakan niatnya. Ken Arok berangkat ke Lulumbang dan memesan keris kepada Mpu Gandring. Dalam waktu lima bulan, keris itu supaya sudah selesai. Namun jawab Mpu Gandring, supaya ia diberi waktu setahun agar matang pembuatannya. Ken Arok tetap pada permintaannya, lalu ia pergi. Lima bulan kemudian, Ken Arok kembali ke Lulumbang untuk mengambil keris pesanannya, namun keris itu sedang digerinda. Karena marahnya, keris itu direbut dan ditikamkan pada Mpu Gandring, kemudian dilemparkan ke lumpang pembebekan gerinda. Lumpang pun pecah terbelah. Dilemparkan lagi ke landasan, namun landasan pun pecah berantakan. Ken Arok yakin bahwa keris itu benar-benar ampuh. Sementara itu, Mpu Gandring yang sedang berlelaku, mengumpat: “Hei Arok! Kamu dan anak cucumu sampai tujuh keturunan akan mati karena keris itu juga!” setelah menjatuhkan umpat itu, ia pun mati. Pikir Ken Arok: “Kalau kelak saya benar jadi orang besar, anak cucu Gandring akan mendapat balas jasa,” lalu, Ken Arok pun pulang tergesa-gesa ke Tumapel. 

Di Tumapel, Ken Arok memiliki seorang sahabat karib bernama Kebo Hijo. Kebo Hijo sangat dipercaya oleh Tunggul Ametung, tetapi wataknya suka pamer. Ketika ia melihat keris Ken Arok yang berukiran kayu cangkring, ia meminta Ken Arok untuk meminjamkan kepadanya. Memang itulah maksud Ken Arok, keris kemudian dipinjamkan lalu dipamer-pamerkan Kebo Hijo kepada orang banyak, sehingga segenap orang Tumapel tahu bahwa Kebo Hijo mempunyai keris baru. Ken Arok menduga bahwa saat yang dinanti-nantikannya telah tiba. Keris diambil oleh Ken Arok tanpa sepengetahuan Kebo Hijo. Pada malam hari waktu telah sepi, Ken Arok masuk ke rumah Tunggul Ametung, ia langsung menuju tempat tidur Tunggu Ametung yang sedang tidur nyenyak, segera ditikamnya dengan keris Gandring. Baru keesokan harinya diketahui bahwa Tunggul Ametung telah mati ditusuk dengan keris milik Kebo Hijo yang masih tertancap di dadanya. Dengan serta merta, Kebo Hijo disergap oleh sanak saudara Tunggul Ametung, dikeroyok dan ditusuki dengan keris Gandring. Anaknya Kebo Randi menangisi kematian ayahnya. Melihat peristiwa itu, iba hati Ken Arok dan berjanji akan mengambilnya sebagai pekatik (abdi). 

Sepeninggal Tunggul Ametung, Ken Arok menjadi akuwu di Tumapel dan mengawini Ken Dedes. Di antara warga Tumapel, tidak ada seorangpun yang berani menentang. Pada waktu itu Tumapel adalah daerah bawahan Daha (Kediri), yang diperintah oleh Raja Kertajaya. Konon Raja Kertajaya juga disebut sebagai Dandang Gendis. Ia sedang berselisih dengan para pendeta Siwa-Budha, karena keinginannya untuk disembah sebagai Dewa. Keinginan itu ditolak, karena belum pernah terjadi pendeta menyembah raja. Untuk memperlihatkan kemampuannya, Kertajaya menancapkan tombaknya di tanah dan duduk diatas ujungnya. Namun, para pendeta tetap pada pendiriannya. Beberapa pendeta meninggalkan Daha dan pergi mencari perlindungan di Tumapel. Hal ini menambah jumlah pengikut Ken Arok yang sudah agak besar. Keturunan dan kerabat yang pernah berbuat baik kepada Ken Arok dipanggil ke Tumapel untuk menerima balas jasa dan diminta untuk menetap disana. Oleh para pengikutnya, Ken Arok diangkat sebagai raja dan mengambil nama abhiseka sebagai Rajasa Sang Amurwabhumi. Sejak saat itu, Ken Arok tidak lagi menghadap Raja Kertajaya di Daha. Hal itu menimbulkan rasa curiga pada Kertajaya. Ken Arok diduga akan memberontak. Kertajaya bersumbar bahwa Daha tidak akan dapat ditundukkan oleh siapa pun, kecuali oleh Bhatara Guru (Dewa Siwa). Mendengar sesumbar itu, Ken Arok memanggil para pendeta dan rakyatnya untuk menyaksikan bahwa ia mengambil nama sebagai Bhatara Guru dan memerintahkan tentara Tumapel untuk bergerak menyerbu Daha. Pertempuran sengit antara tentara Tumapel dan Daha berkobar di sebelah utara Desa Ganter. Dalam pertempuran itu, Mahisa Walungan dan Gubar Baleman, hulubalang Daha, tewas. Sehingga bala tentara Daha terpukul mundur dan lari mencari perlindungan. Raja Kertajaya pun melarikan diri mencari perlindungan di dalam candi. Daha pun jauh dalam kekuasaan Tumapel pada tahun 1222 Masehi. 

Dari perkawinannya dengan Ken Dedes, Ken Arok memperoleh tiga orang putera dan seorang puteri, yaitu Mahisa Wunga Teleng, Panji Saprang, Agnibaya dan Dewi Rimbu. Dan perkawinan keduanya dengan Ken Umang, Ken Arok juga mempunyai tiga putera dan seorang puteri yaitu Panji Tohjaya, Panji Sudatu, Tuan Wregola dan Dewi Rambi. Putera sulung Ken Dedes keturunan Tunggul Ametung bernama Anusapati. 

Bertahun-tahun lamanya kisah pembunuhan Tunggul Ametung dirahasiakan oleh Ken Dedes terhadap Anusapati. Namun, ketika Anusapati telah remaja dan ia merasa diperlakukan lain daripada saudara-saudaranya oleh Sang Amurwabhumi, muncullah rasa curiga di dalam hati Anusapati. Atas desakan pengasuhnya, Anusapati bertanya kepada Ken Dedes, mengapa Sang Amurwabhumi bersikap demikian. Jawab Ken Dedes, “Jika engkau ingin tahu, ayahmu yang sebenarnya ialah mendiang Tunggul Ametung. Ayahmu telah mati, ketika engkau masih di dalam kandungan. Pada waktu itu aku dikawini oleh Sang Amurwabhumi.” Anusapati bertanya lagi, “Apa sebabnya ayah meninggal?” Jawab Ken Dedes, “Dibunuh oleh Sang Amurwabhumi”. Pada saat itu Ken Dedes terdiam, merasa telah membocorkan rahasia. Anusapati bertanya lagi,”Ibunda, bolehkan saya melihat keris Gandring pusaka Sang Amurwabhumi?” Keris pun diperlihatkan Ken Dedes kepada Anusapati. 

Anusapati mempunyai seorang pengalasan berasal dari Desa Batil. Pengalasan itu segera dipanggil dan diberi perintah untuk membunuh Sang Amurwabhumi dengan keris Gandring. Tanpa membantah, pengalasan itu pun pergi untuk membunuh Ken Arok. Dengan serta merta, Sang Amurwabhumi yang sedang bersantap ditikam dari belakang, mati seketika itu juga. Ketika itu hari Kamis Pon, wuku Landep, waktu senja matahari baru saja tenggelam, tahun Saka 1169 (1297 Masehi). Setelah menikam, pengalasan itu pun lari untuk memberi laporan kepada Anusapati. Anusapati kemudian memberinya hadiah imbalan. Katanya:”Telah mati terbunuh, oleh hamba, ayah paduka!” Dengan serta merta pula, pengalasan itu dihabisi hidupnya oleh Anusapati. Karenanya tersiar kabar: “Sang Prabu mati kena amuk orang dari Desa Batil. Anusapati telah membalaskan dendam dengan membunuh pengalasan itu. Rajasa Sang Amurwabhumi pun dicandikan di Kagenengan. 




Sumber : https://www.facebook.com/Sejarah.Dunia7?fref=ts

Udang Kremes

11:58:00 AM 0 Comments A+ a-


Bahan utama:
250 gr udang segar besar, belah punggung dan keluarkan kotorannya
Merica bubuk ¼ sendok teh
Garam ¼ sendok teh
Air secukupnya

Bahan kremes:
100 gram tepung tapioka
300 ml air
3 siung bawang putih
1 sendok teh bumbu kaldu bubuk rasa ayam
½ sendok teh gula pasir
½ sendok teh merica bubuk
1 buah kuning telur

Cara membuat:
1. Rendam udang dengan merica, garam dan air selama 15 menit.
2. Haluskan bawang putih, campur dengan air kaldu bubuk, gula dan merica.
3. Masukkan tepung tapioka. Lalu aduk dan masak sampai adonan kental sekali dan bening.
4. Kemudian adonan kremes yang sudah jadi digiling dengan mesin blender. Lalu masukkan kuning telur, blender lagi sampai halus dan tercampur rata.
5. Tiriskan udang, lalu celup satu persatu di adonan kremes. Goreng sampai kremesan renyah dan kuning keemasan. Sajikan.



Sumber : YahooNews