Sang Bintang #Bagian 3

10:35:00 AM 0 Comments A+ a-


***Bagian Sebelumnya...

Malam yang cukup larut untuk beristirahat setelah seharian bekerja ekstra keras. Rony sendiri di dalam kamar yang luas. Berbaring di tempat tidur dan memandang ke dinding. Sebuah foto keluarga yang menjadi objeknya. Rindu itu ada. Rindu itu selalu hadir di setiap sudut kesunyian dirinya. Rindu kedua orang tuanya yang selalu menyayangi. Kenangan-kenangan manis itu hingga kapan pun tak kan pernah terlupakan.

Tuan muda, maaf mengganggu.” Terdengar sayup-sayup suara dari luar kamar, dan ketukan pintu.

Iya mbok, sebentar.” Rony menjawab dengan suara parau, ia kemudian menghapus air mata yang telah menetes di pipi. Ia bergegas membuka pintu kamar.

Ada apa mbok?” Tanya Rony ke mbok Narti.

Maaf Tuan muda, ada tiga orang polisi yang sedang menunggu anda di ruang tamu.” Jawab pengasuh sekaligus pengurus rumah Rony.

Polisi?? Ada apa mbok?” Tanda tanya besar muncul dalam benak Rony. Dipikir-pikir, Rony tidak pernah melakukan tindakan kriminal apa pun. Urusan keuangan perusahaan selalu jujur terhadap pemerintah. Tidak ada kasus korupsi di lingkup perusahaannya. Tidak juga melanggar lalu lintas. Ada apa ini? Polisi malam-malam berkunjung ke rumah Rony?

Maaf Tuan, saya juga kurang tahu maksud kedatangan mereka.”

Oh ya sudah, buatkan minum untuk mereka.”

Baik Tuan muda.” Mbok Narti segera menuju ke dapur membuat suguhan untuk ketiga polisi tersebut.

Selamat malam pak Rony.” Ucap salah satu dari ketiga polisi itu. Dilihat dari pakainnya, dia sepertinya seorang jenderal.

Selamat malam juga pak, maaf saya agak lama tadi. Jadi anda-anda semua menunggu.” Jawab Rony.

Oh tidak apa-apa, justru kami yang minta maaf karena sudah menganggu istirahat anda.”

Tidak apa-apa, tapi maaf, ada apa ya bapak-bapak datang larut malam seperti ini? Apakah saya terlibat kasus hukum yang saya tidak tahu?”

Tidak, tidak, tidak ada. Jadi begini, maksud kedatangan kami adalah ingin memberi tahu kepada anda mengenai pembunuhan Ny. Erlina, ibu anda.”

Benarkah? Sungguh?” Rony senang, hampir saja dia melompat dari kursinya.

Okay, kami perkenalkan dulu dari diri kami. Di samping kanan saya ini bapak Let. Jend. Septianto, yang merupakan pengembang kasus pembunuhan terhadap ibu anda. Dan di samping kiri saya adalah detektif yang bernama Yuda Ismail, yang merupakan pengumpul dan pencari barang bukti. Saya sendiri Jend. Irwanudin. Dalam kasus pembunuhan sepuluh tahun yang lalu, itu ada empat orang tersangka.”

Empat tersangka?” Rony memotong ucapan dari Jend. Irwanudin.
Iya, empat tesangka. Satu tersangka telah kami tembak. Dia merupakan pembunuh bayaran dari sebuah geng yang sering berkeliaran di kota ini. Sebelum dia meninggal, dia yang memberi tahu kepada kami, bahwa dia dan kedua temannya dibayar 300 juta untuk membunuh Ny. Erlina. Tapi sayangnya, dia hanya mengatakan yang menyuruhnya adalah teman dekat Ny. Erlina. Dia tidak menyebutkan siapa yang menyuruhnya, dan profesinya sebagai apa.” Jelas Jend. Irwanudin.

"Lalu..??!" Rony semangat sekali mendengarkan penjelasan dari polisi.

"Jadi, kami mohon bantuan Tuan Rony untuk menginformasikan siapa saja yang menjadi teman dekat ibu anda."

Rony berpikir, kembali ke masa lalu, mengingat-ingat siapa yang paling dekat dengan ibunya. Rony tidak ingat semuanya, karena Rony jarang berinteraksi dengan teman-teman ibunya.

"Sebentar pak, untuk hal ini saya kurang tahu siapa saja yang dekat dengan ibu saya. Tapi, tunggu sebentar pak, saya mencari sesuatu dari kamar orang tua saya." Rony beranjak menuju kamar orang tuanya. Kamar ini selalu dirawat, sehingga semuanya masih tertata rapi. Setelah mengambil sesuatu, Rony kembali ke ruang tamu.

"Ini pak, mungkin bisa menjadi petunjuk untuk kasus pembunuhan ibu saya. Saya pribadi juga sangat berharap pelakunya segera ditemukan. Saja juga ingin tahu, apa yang menjadi motif pembunuhan terhadap ibu saya. Dan beri mereka hukuman yang setimpal." Rony begitu menggebu-gebu.

"Data apa saja yang ada di sini?" Tanya detektif.

"Di flash disk itu terdapat video dan foto-foto ibu dengan teman-temannya. Ibu saya selalu mengabadikan kebersamaan dengan teman-temannya. Mudah-mudahan itu bisa menjadi petunjuk dan titik terang kasus pembunuhan terhadap ibu saya. Saya sangat berharap segera ditemukan semua pelakunya." Terselip rasa dendam kepada pelaku pembunuhan di dalam hati Rony. Hatinya merasa sangat sakit, orang yang dicintainya telah dihabisi masa hidupnya, tanpa alasan yang jelas.

Baiklah Tuan Rony, terima kasih atas informasinya. Dan maaf, kami telah mengganggu istirahat anda. Kami akan bekerja keras untuk mengungkap pelaku dan otak pembunuhan terhadap ibu anda.”

Seberkas cahaya terang kini mulai mengungkap teka-teki pembunuhan Ny. Erlina. Rony sangat antusias, dan ingin segera mengerti siapa pelakunya.

Iya, sama-sama, saya tunggu kabar baik dari anda semua.”

Kami permisi dulu, dan selamat malam.” Ketiga polisi itu pun beranjak pergi dari rumah Rony.
Rony mengantar mereka hingga di ambang pintu. Setelah mereka pergi, Rony kembali duduk di ruang tamu. Rony kembali berpikir, siapa orang dekat itu? Kenapa sampai tega menyuruh orang untuk membunuh ibunya? Apakah persaingan di dunia model? Atau persaingan di dunia penerbit? Atau..? Apalagi..? Setahu dan seingat Rony, ibunya orang yang baik. Meskipun ia seorang Top Model kala itu, dia tak pernah sombong. Terhadap lawan terberatnya pun masih bisa tersenyum manis. Dicurangi atau dikejar-kejar wartawan juga ia tak pernah marah-marah kepada juru tinta itu. Ia hanya berkeluh kesah terhdap suaminya, Agung.

Maaf Tuan muda. Apa pembunuh Nyoya sudah ditemukan?” Mbok Narti mengagetkan Rony, dia juga ingin tahu siapa yang telah membunuh majikannya tercintanya.

Oh, mbok Narti, satu pelaku sudah tertembak, polisi sedang mencari tiga tersangka lainnya.”

Mudah-mudahan kasus ini cpeat terungkap. Mbok juga tak habis pikir kenapa ada yang tega membunuh Nyonya.”

Entahlah...” Mata Rony mulai berkaca-kaca.

Tuan muda, sebaiknya tuan muda beristirahat. Ini sudah sangat laurt.” Mbok Narti tidak tega melihat Rony bersedih. Dan tidak ingin juga air matanya dilihat oleh Rony.

Mbok Narti pembantu yang sangat baik. Dia dan suaminya, tukang kebun di rumah itu selalu perhatian terhadap keluarga Rony. Sudah seperti keluarga sendiri. Mbok Narti dan suami tinggal di rumah itu sejak Rony masih bayi. Jadi, sudah sepantasnya rasa kasih sayang itu pun sangat besar, terlebih mbok Narti tidak bisa mempunyai anak karena penyakit yang dideritanya, dokter melarang untuk hamil.

Rony mencoba merebahkan badannya di dalam kamar. Tetapi, tetap saja mata tak bisa terpejam. Benaknya terus bertanya-tanya, siapa otak pembunuhan itu? Apa tujuannya? Apa sebabnya?

##

Pagi yang cerah, Mesty sudah semangat untuk bekerja. Hari ini dia lebih ceria dari biasanya. Entah apa yang membuat ceria pada gadis itu. Andara juga sedikit heran dengan sikap Mesty. Biasanya pagi-pagi selalu berwajah muram durja. Mungkinkah dia sedang jatuh cinta atau kasmaran atau mungkin dia kembali menulis dan akan diterbitkan? Hanya Mesty yang tahu apa yang dirasakannya.

Mesty, ke ruanganku sebentar.” Andara memanggilnya melalui saluran line telepon di kantor.

Baik nona.”

Mesty menduga, pasti ini tentang review majalah pesona yang terbit kemarin.

"Kenapa kau memilih Riana sebagai desainer yang akan menyaingiku?" Andara langsung menuju topik pembicaraan.

"Iya Nona.."

"Bukankah karya dia masih sederhana?" Andara ingin tahu detailnya.

"Iya. Justru dengan kesederhanaan banyak pelanggan yang tertarik.Biasanya seorang pria lebih menyukai sesuatu yang sederhana atau simple, tidak rumit, tetapi elegan." Mesty menjelaskan tentang review isi majalah pesona.

Andara mengernyitkan alisnya. Kali ini ia sadar bahwa pendapat Mesty benar.

"Baiklah, terima kasih untuk review ini. Dan jika analisamu benar, apa pun yang kau minta ku penuhi. Tetapi jika salah, tiada maaf bagimu."

"Iya Nona. Terima kasih." Mesty tersenyum manis.

"Ya sudah, kembali bekerja." Hari ini sedikit aneh dengan Andara. Ketusnya berkurang, ya..mudah-mudahan berkurang terus.

Mesty kembali bekerja, meneliti bahan untuk Fashion yang akan keluar selanjutnya. Sangat teliti, sangat rapih, cacat sedikit saja langsung dinyatakan "bahan rejected" (tidak terpakai/rusak). Pola-pola baju itu berserakan, Mesty memungut dan membereskannya. Dan satu pola yang ia suka, ia mengambil dan menduplikat pola itu di bukunya. Entah apa yang akan ia lakukan, yang ia tahu, ia menyukai pola itu.

Setelah kembali ke ruangan, Andara mendekatinya.

"Siang ini aku akan pergi menemui Rony. Tolong kau yang mengurus sesuatu di sini. Mungkin aku akan lama di tempat penerbit majalah pesona."

"Baik Nona."

Mesty sendiri di kantor, sepi dan sunyi menemaninya. Ingin berjumpa dengan Alex. Tapi sayangnya Alex sedang sibuk di bengkelnya. Banyak mobil dan motor yang minta untuk dimodifikasi. Alex harus ikut turun tangan karena dia yang tahu detailnya.

Mesty benar-benar merasa jenuh, tidak ada yang menarik untuk dikerjakan. Untuk membunuh waktu, Mesty berselancar di internet. Dia mencari sebuah nama "Riana". Satu pesatu link itu dibuka, tetapi bukan Riana sang desainer muda. Mesty mencari hingga ke beberapa halaman. "Riana Dewayanti", Mesty meng-klik link itu, dan munculah berita tentangnya.

Riana Dewayanti, merupakan desainer muda yang baru 1 tahun menginjakan karirnya di kancah modeling. Dia mendesaign beberapa model baju, baik model baju perempuan maupun laki-laki. Tapi beberapa bulan terakhir ini dia mencoba memberanikan diri dengan mendesaign baju pria dalam kuantitas yang jauh lebih banyak dari pada baju untuk wanita. Riana bekerja sama dengan Son Tailor, sang penjahit khusus pria. Riana belum cukup modal untuk membuka konveksi sendiri, sehingga dia bekerja sama dengan Son Tailor.

Riana lahir 21 tahun yang lalu, ibunya dulu seorang model yang cukup terkenal. Dan dari ibunya lah dia terinspirasi untuk menjadi desainer. Karya-karya Riana memang belum terkenal, tetapi dia memasuki pasar mayarakat, paling tidak dia merambah pasar kecil pada masyarakat luas...

"Waawww... Hebat juga dia, berani ambil resiko." Komentar Mesty yang terkagum melihat keberanian Riana. Mesty juga meng-klik semua foto hasil karya Riana. Mesty mencetak semua artikel dan foto-fotonya.

##

Andara sampai di kantor Rony. Rony merasa sangat senang. Tak menyangka Andara akan datang ke kantornya.

"Selamat siang Nona cantik."

"Siang juga Tuan muda Rony."

"Silakan duduk Andara, oh ya.. Kau mau minum sesuatu?" Tawar Rony.

"Kopi pahit saja."

"Tunggu sebentar." Rony sendiri yang menyediakan kopi untuk Andara.
"Dan,, maaf... Ada angin apakah yang membawamu kemari?"

"Apa kau tidak suka dengan kehadiranku di sini?"

"Heii... Jangan emosi. Tentu saja aku sangat senang karena kau ada di sini. Setiap hari kau datang ke sini, itu akan membuatku bahagia."

"Aku mohon kau berhenti mengoceh sesuatu yang tidak penting." Andara sedikit kesal, dan dia langsung menyodorkan berkas ke Rony.

"Apa ini?" Rony penasaran, apakah Andara akan menawarkan kontrak kerja sama?

"Review majalah Pesona yang terbit kemarin." Andara bersandar di kursi, menunggu komentar dari Rony.

"Bagus, sangat bagus. Siapa yang membuatnya? Ini benar-benar good jobs."

"Benarkah?" Andara terkujut, tak menyangka pekerjaan Mesty akan dipuji oleh Rony.

"Iya, apa dia seorang penulis?"

"Bukan, Mesty yang melakukannya."

"Mesty? Sudah seharusnya kau memberikan perhatian lebih padanya,sebelum kau menyesal pada akhirnya. Bagi seorang desainer pastilah membutuhkan masukan yang kritis seperti ini. Dan bagi penerbit tentu saja menyukai gaya tulisan ini. Jaga dia baik-baik jika kau tak ingin kehilangan karirmu."

"Apa kau sedang mengancamku? Atau kau menginginkan dia untuk menulis artikek di majalahmu?"

"Aku tak akan pernah mengancam wanita yang ku cintai. Tetapi, aku juga tidak munafik. Semua penerbit tak terkecuali diriku pastilah menginginkan penulis artikel dengan tulisan yang sempurna seperti ini."

Andara menghela nafas panjang setelah mendengar penjelasan dari Rony. Mencoba membayangkan Mesty pergi dari karirnya dan memilih desainer lain. Oh, tidak-tidak, ini tidak boleh terjadi pada Andara.

"Oh ya..." Ucap Rony.

"Ahh..." Andara kaget dengan suara Rony.

"Sebelumnya aku minta maaf. Pesona edisi bulam depan akan mengurangi halaman dari semua desainer, termasuk dirimu."

"Apa?!!! Apa kau sudah bosan dengan dunia model?"

"Tidak, hanya untuk edisi bulan depan."

"Ya, terus halaman yang lain akan kamu isi apa? Bagaimana dengan pelangganmu?"

"Aku ingin menampilkan foto-foto ibuku pada saat menjadi model."

"Apa...?"

"Dari halaman pertama hingga separuh majalah akan berisi karya-karya desainer dan para modelnya. Dan selebihnya sampai halaman terakhir akan berisi foto-foto ibuku."

"Apa yang sedang terjadi padamu?" Andara mulai memperhatikan Rony.

"Tidak terjadi apa-apa, hanya sedang sangat rindu pada ibu." Jawaban yang diplomatis dari Rony.

Andara menganggukan kepala, memaklumi Rony, karena memang orang tuanya sudah tidak ada.

Pukul tiga sore, Andara kembali ke kantor. Dia langsung masuk ke ruangan Mesty.

"Apakah hari ini ada sesuatu yang menarik?" tanya Andara. Intonasinya kini lebih lembut dari biasanya.

"Iya nona," jawab Mesty, dan menyerahkan artikel, serta foto-foto.

"Siapa ini?"

"Itu Riana, desainer muda yang baru."

Mata Andara terbuka lebar. Benar-benar artikel yang menarik. Benar kata Rony, jangan sampai Mesty pergi darinya.

"Okay, thanks a lot. Dan tolong carikan artikel tentang Ny. Erlina Hermawan."

"Baik Nona."

Dengan cepat Mesty mendapat informasi tentang Ny. Erlina. Sangat cantik, benar-benar sangat cantik. Mesty takjub melihat keanggunan dan pesona dari Almh. ibunda Rony. Setelah mendapakan informasi yang cukup, Mesty segera menyerahkan artikelnya ke Andara. Hari ini Andara benar-benar mendapatkan informasi yang sangat special. Jika dia tidak mengambil spekulasi yang akurat, berarti Andara memang lemah. Informasi-informasi sudah ada dengan sangat komplit, hanya keputusan Andara yang akan menentukan. Mudah-mudahan ia tidak salah langkah.

Sore yang cerah, Mesty menutup laptopnya dan membereskan ruangannya. Dia harus segera pulang dan memanjakan diri di rumah. Masak, berenang atau menonton TV di rumah, pasti menyenangkan. Sesampainya di rumah, ternyata Alex sedang menunggunya.

"Kau sudah lama menunggu? Kenapa kau tidak mengirim pesan padaku?"

Alex tersenyum, dan berkata, "Aku tidak ingin mengganggu kau bekerja, karena aku tak ingin kau mendapat ceramah dari Andara."

"Jangan seperti itu. Oh ya, bagaimana modifikasi untuk mobil dan motornya? Apa sudah selesai?"

"Sudah, makanya aku ke sini."

Mesty tersenyum manis, mata mereka saling menatap.

"Tunggu sebentar, aku buatkan minum." Mesty ke dapur membuatkan the manis. Dan segera kembali ke teras membawa hidangan untuk Alex.

"Mesty..."

"Iya..."

Mereka berdua saling menatap mata dalam-dalam.

"Besok aku ke Milan. Apa kau besok bisa mengantarku?"

"Apa? Ke Milan? Secepat inikah Alex..?"

"Iya,, maafkan aku Mesty. Ada show di sana."

Mesty lesu mendengarnya.

"Besok jam 3 sore aku berangkat dari bandara. Kamu bisa kan mengantarku?" Pinta Alex.

"Iya, tentu bisa..." Mesty tak ingin jauh dari Alex. "Berapa lama kau di sana?" Lanjut Mesty.

"Mungkin 2 minggu."

Oh Tuhan.. dua minggu, itu waktu yang sangat lama bagi mereka yang sedang jatuh cinta. Sehari saja tidak bertemu rasanya satu tahu, apa lagi ini 2 minggu.

Penantian Semu

9:45:00 AM 0 Comments A+ a-

Aku tak pernah menyadari dan tak pernah menyangka, aku bisa jatuh cinta. Ya, jatuh cinta dengan orang yang belum pernah aku lihat dalam wujud aslinya. Aku hanya mengenal dia via online, awalnya memang hanya chating saja. Tapi hari berganti hari dia begitu mempesona, dia pandai menulis yang membuat hatiku luluh. Kita pun bertukar nomor hp, jadi kita bisa saling sms-an atau telpon. Hari terus berganti, dan akhirnya pun aku menerima cinta dia, “Iya, aku juga menyukai mu, aku mau jadi pacar kamu.” Jawabku via telepon, sesaat setelah dia menyatakan bahwa dia cinta padaku.

Semenjak jadian dengan dirinya, aku pun menjadi rajin online, agar bisa sering mengobrol dengan dia. Senang, bahagia, tetapi ragu pun masih ada dalam hatiku. “Apakah aku benar-benar jatuh cinta pada dia, apakah aku benar-benar sayang pada dia? Aku belum pernah melihatnya, aku belum pernah bertemu dengan dia, hanya dari internet aku mengenalnya.” Sering sekali hati dan pikirian ku berkata seperti itu. Ingin rasanya datang menemui dia, tapi dia juga berada di tempat sangat jauh dari kotaku. Dia tinggal di bagian barat Indonesia, sedangkan aku masih di daerah pulau yang sudah padat penduduknya. Untuk mengetahui dia benar-benar jatuh cinta padaku, aku harus berani bertanya tentang kesungguhannya.

Apa kau benar-benar mencintaiku?” tanyaku dari telepon.

Iya, aku benar-benar mencintaimu, apa kau tidak percaya padaku?” balasnya meyakinkan.

Jika kau mencintaiku, bisa kah kau menemuiku, aku ingin bertemu denganmu.” aku sedikit memaksa, karena aku juga harus tahu siapa dia.

Aku pasti aku menemui, tapi bukan sekarang saatnya, percayalah, aku sangat mencintai mu.” Suaranya begitu jelas dan begitu meyakinkan. Dan aku kembali mengiyakan.

Tak terasa telah dua tahun lebih cinta jarak jauh ini terjadi, rasa kesal, emosi dan cemburu, sering sekali menghampiri kita. Tapi, aku selalu percaya pada dia, dia tak pernah selingkuh dariku, dia tak ada wanita lain, hanya diri ku yang dia cinta. Aku percaya itu. Namun, hasratku yang tak bisa ku tahan lagi, aku ingin sekali bertemu dengan dia. Jiwa ku telah tersiksa, menunggu janjinya untuk menemui diriku. “Kapan...?” Seringkali aku bertanya pada dia, tapi dia hanya menjawab, “Sabar sayang, aku pasti akan menemuimu, saat ini aku masih sangat sibuk dengan pekerjaan-pekerjaanku.”

Yah, aku terima saja apa pun ucapan dia, meskipun sesungguhnya hatiku telah lelah, rasanya tak ingin lagi mempertahankan hubungan ini. Tapi, aku juga harus menyadarinya, bahwa aku sudah sangat mencintai dirinya. Sehari tak mengobrol dengan dia pun aku tak bisa. Mungkin aku telah terjangkit cinta buta. Teman-teman ku banyak yang tak setuju dengan cinta yang ku alami. Mereka bilang, “ini hanya cinta semu, hanya bayangan.” Aku tak peduli dengan orang-orang yang komplain.

Hampir tiga tahun aku menjalani hubungan ini, makin hari makin berat cobaan yang kita hadapi. Hingga dari orang tuanya yang tak merestui hubungan ini. Mereka anggap ini adalah sebuah kegilaan. Hatiku pun langsung teriris perih, jika ini hanya sebuah kegilaan kenapa hati ku tersayat seperti ini? Jika ini sebuah khayalan, kenapa aku bisa merasakan dalamnya cintaku pada dirinya? Aku mencoba bertahan dari semua godaan di sekitar, aku bertahan menjaga cinta yang ia berikan. Bertahan dalam puing-puing ketidakpastian yang mencabik nurani. Telah ku lakukan semua, agar dia menjadi milikku. Tapi, Takdir pun berkata lain, memaksa diriku lelah dalam kehampaan penantian yang tiada pasti.

Suatu malam aku kembali menyakan pada dirinya, seriuskah dengan hubungan yang kita jalani?

Meskipun tak ada yang setuju dengan cinta kita ini, aku tetap mencintai mu.” ucapnya yang mulai tercekat, dia juga merasakan apa yang aku rasakan. Rasa sayang, cinta dan ingin bertemu melebur menjadi satu.

Aku ingin bertemu denganmu, jujur saja, aku sudah lelah dengan semua ini. Hati dan jiwaku ini sepertinya tak sanggup lagi untuk menanti dirimu yang tak pasti.” air mata ku pun mulai terurai.

Apa maksud kamu? Kenapa kau bicara seperti itu?” dia terkejut dengan apa yang aku ucapkan. Aku menahan nafas, menahan rasa sakit yang ada di dalam dada.

Maafkan aku, sekali lagi aku minta maaf.. aku sudah sangat lelah dengan hubungan ini. Hubungan yang tak jelas ini.” Dia hanya menghela nafas mendengarkan ku, terdengar lirih isak tangisnya.

Hubungan ini hanya sebuah bayangan, yang tak mungkin menjadi nyata. Sudah aku pertahankan rasa cinta, sayang dan semua asa terhdapmu, tetapi makin hari makin semu saja yang aku rasakan. Maafkan aku, aku harus mengakhiri semua ini. Aku akui, aku sangat mencintaimu. Bahagialah dirimu dengan yang lain, agar kau juga tidak tersisa batin dan jiwa. Aku tahu kau sangat mencintaiku, begitu juga diriku. Tapi ini lah jalan yang harus kita ambil, selama hampir tiga tahun ini, kita hanya menyiksa batin, ingin berjumpa tapi tak bisa, ingin bersama tapi tak bisa. Hanya suara yang bisa kita dengar. Sudah saatnya kita akhiri semua ini.” aku pun tak berdaya lagi, tubuhku bergetar, aura dingin merasuk dalam sanubariku, air mata terus mengalir dan tak berhenti.

Baiklah, jika itu mampu membuatmu lebih bahagia, aku terima dengan ikhlas. Itu sudah menjadi keputusanmu, percuma juga kalau kita pertahankan...” suaranya terhenti, dan dia memutuskan teleponnya.
Lemah rasanya jiwa dan ragaku ini, rasa sakitnya begitu nyata.

Maya yang tergantung mata, semua yang menyisakan tangis. Begitulah yang aku rasakan, dia tak bisa ku lihat, tak bisa ku sentuh. Tetapi rasa itu benar-benar nyata, menyiksa batin. Kini semua telah berakhir mencoba hidup tanpa mendengar suaranya.

Upah Minimum Kota/Kabupaten Jawa Tengah 2014

12:35:00 PM 0 Comments A+ a-

Sumber : Google Image

Surat Keputusan Gubernur Jawa Tengah Nomor 560/60 Tahun 2013 tanggal 18 Nopember 2013 tentang Upah Minimum Kota/Kabupaten (UMK) tahun 2014 Provinsi Jawa Tengah, memutuskan Upah Minimum K Kota / Kabupaten di Jawa Tengah sebagai berikut :

1. Kota Semarang Rp 1.423.500
2. Demak Rp 1.280.000
3. Kabupaten Semarang Rp 1.208.200
4. Kendal Rp 1.206.000
5. Kota Salatiga Rp 1.170.000
6. Kota Pekalongan Rp 1.165.000
7. Kabupaten Magelang Rp 1.152.000
8. Kudus Rp 1.150.000
9. Sukoharjo Rp 1.150.000
10. Batang Rp 1.146.000
11. Kab Pekalongan Rp 1.145.000
12. Kota Surakarta Rp 1.145.000
13. Cilacap Kota Rp 1.125.000
14. Boyolali Rp 1.116.000
15. Pemalang Rp 1.066.000
16. Karanganyar Rp 1.060.000
17. Temanggung Rp 1.050.000
18. Kota Tegal Rp 1.044.000
19. Kota Magelang Rp 1.037.000
20. Klaten Rp 1.026.600
21. Purbalingga Rp 1.023.000
22. Pati Rp 1.013.027
23. Blora Rp 1.009.000
24. Banyumas Rp 1.000.000
25. Jepara Rp 1.000.000
26. Tegal Rp 1.000.000
27. Brebes Rp 1.000.000
28. Wonosobo Rp 990.000
29. Rembang Rp 985.000
30. Kebumen Rp 975.000
31. Cilacap Timur Rp 975.000
32. Sragen Rp 960.000
33. Wonogrii Rp 954.000
34. Cilacap Barat Rp 950.000
35. Grobogan Rp 935.000
36. Banjarnegara Rp 920.000
37. Purworejo Rp 910.000

Sang Bintang #Bagian 2

9:53:00 AM 0 Comments A+ a-

***Bagian Sebelumnya...

Datang pagi-pagi di kantor, seperti tidur di kantor. Atau seperti di rumah sendiri. Masih sepi gedung ini, hanya ada office boy dan girl yang sedang membersihkan ruangan. Mesty sendiri di ruang kerja, cepat-cepat dia melaksanakan tugasnya. Ternyata cukup pandai untuk menganalisa sebuah trend fashion. Dia juga tidak ingin mengecewakan bos, meskipun bos itu bisa dikatakan seperti nenek sihir. Buat Mesty hal itu tak menjadi masalah, selama gaji di situ sesuai dengan porsi kerja kerasnya.

Matahari mulai tampak utuh dengan cahaya orange keemasan. Sumber panas tertinggi itu mulai menyinari kota. Dengan penuh percaya diri Andara memasuki kantornya. Langkahnya pasti. Tap tap tap tap... Andara langsung meminta laporan tentang Fashion Week of Milan. Pagi ini benar-benar sesuai rencana. Semua lancar, aman dan terkendali, serta tidak ada satu pun yang terlewatkan. Bisa dikatakan pagi yang sempurna. Ya, sungguh sempurna.

Karena sangat menikmati pekerjaan, jam istirahat datang tak terasa. Semua bergegas untuk makan siang, jalan-jalan sebentar, atau tidur sejenak.

"Alex...?! Sedang apa dia di sini?" Andara bergumam ketika melihat Alex di lobby kantornya. Andara mendekati, berharap Alex akan mengajak makan siang dengannya.

"Apa yang sedang kau lakukan di sini? Kenapa kau datang tidak memberitahuku?" Tanya Andara dengan penuh rasa ingin tahu.

"Seberapa pentingnya aku, sampai-sampai datang ke sini harus melapor terlebih dulu?" Alex masih tenang tanpa ekspresi.

"Ya, tentu saja penting, karena kau Top Model di sini". Andara menaikan alis kanannya, "Apa kau sedang menunggu seseorang? Aku perhatikan sejak tadi kau melihat jam tangan terus. Apa kau sudah ada janji dengan seseorang?"

"Iya, aku sedang menunggu seseorang. Dan dia sedang berjalan mendekatiku". Jawab Alex, memalingkan wajah ke Mesty yang sedang mendekat ke Alex.

"Apa??!!! Aku tidak salah lihat? Kau sejak tadi di sini hanya untuk menunggu Mesty?!" Andara shock..!! Seperti mimpi buruk, seharusnya Alex menunggunya, bukan Mesty. Tanpa satu kata, Alex pergi meninggalkan Andara begitu saja, Alex menggandeng tangan Mesty. Andara melihat semua itu. Benar-benar kurang ajar mereka.

"Keterlaluan, ini tidak boleh terjadi lagi. Cukup sekali, ini untuk pertama dan terakhir kali. Aku tak mau melihat mereka jalan berdua lagi". Andara kesal, merasa dikecewakan oleh Alex. Andara tidak rela melihat Alex menggandeng tangan wanita lain, terlebih Mesty.

"Kenapa nona cantik? Jangan merusak wajahmu dengan cemberut. Itu akan menghilangkan kecantikanmu". Ucap seorang pria sambil menyerahkan majalah "Pesona" yang tebal hingga 200 halaman. Andara tersenyum.

"Terima kasih Tn. Muda Rony Hermawan, bos penerbit majalah Pesona. Senang bertemu dengan anda". Andara sesungguhnya tidak nyaman dengan orang ini. Akan tetapi, orang ini bos penerbit, maka Andara harus menjaga hubungan baik agar karya-karyanya tetap ada di majalah pesona.

"Makan siang denganku?" Rony mengajaknya makan siang bersama.

"Boleh..” Jawab Andara singkat.

"Iya,,, bagus begitu, makan siang denganku saja. Jangan menghiraukan model yang sedang jatuh cinta kepada wanita lain". Kalimat itu seperti silet yang menyayat lambung Andara, begitu nyata dan tak bisa mengelaknya.

"Aku tidak pernah ikut campur dengan urusan pribadi para model."
Tak ada pilihan lain, Andara mengikuti kemauan Rony. Kesal memang ada, seharusnya Andara berdua deng Alex, bukan dengan Rony. "Aduuuh,,, mimpi apa aku semalam, kenapa harus pergi dengan Rony?" Andara mengomel dalam hati.

Tak disangka, tak diduga. Andara dan Rony satu Restaurant dengan Alex yang mengajak Mesty. Andara kian geram. Seandainya saja makan siang bukan dengan bos penerbit, pasti Andara sudah marah-marah ke Alex dan Mesty.

"Kau mau pesan apa?" tanya Rony ke Andara.

"Terserah, apa saja."

"Baiklah..." Rony memesan dua porsi menu utama. Dia berharap Andara menyukainya.

Andara tidak fokus dengan orang yang ada di depannya. Dia selalu memperhatikan dua orang yang ada di seberang mejanya. Untung saja jaraknya agak jauh. Sehingga tidak mengganggu Alex dan Mesty yang sedang menikmati makan siang. Andara ingin menghampirinya, ingin menjambak rambutnya dan atau menamparnya. Andara tidak suka melihat Alex dengan Mesty berduaan. Tak ada alasan pasti mengapa Andara tidak suka hal itu. Rony menyadarinya, ia berpura-pura tidak tahu apa yang diperhatikan Andara. Sesekali Rony bermain dengan gadget-nya untuk menghilangkan rasa jenuh.

Hidangan yang dipesan Rony datang juga. Mau tidak mau Andara harus mengurangi perhatian ke Alex. Andara harus makan yang telah dipesan oleh bos penerbit majalah pesona. Sangat-sangat terpaksa Andara makan siang dengan Rony. Andai saja Tuhan berpihak kepada Andara, Andara akan makan siang dengan Alex, bukan dengan pemilik Pesona yang banyak diincar orang karena kesuksesannya.

Majalah pesona lahir sejak tahun tahun 1982. Pendirinya adalah Agung Hermawan, yang merupakan ayah dari Rony Hermawan. Majalah pesona lahir karena keinginan dari ibu Rony. Dahulu dia seorang model yang sangat terkenal. Suatu hari ia dicurangi oleh penerbit. Fashion Show yang ia bintangi tak ada satu pun masuk majalah. Dan akhirnya dia meminta ke suami untuk membuat majalah tentang dunia Fashion.

Keinginan itu tercapai. Dengan segala pasang surut, dan mengalami saling sikut menyikut dengan beberapa penerbit, Pesona mampu bertahan, dan kini menjadi majalah nomor wahid yang paling aktual. Ibu Rony, Ny. Erlina Hermawan meninggal dunia saat setelah Fashion Show. Dia ditembak oleh orang yang tak dikenal. Sampai sekarang polisi belum bisa menemukan pelakunya. Waktu itu Rony masih duduk di kelas III SMA. Setahun setelah ibunya meninggal, ayah Rony terserang berbagai macam penyakit. Agung Hermawan sakit karena terlalu mengenang mendiang istrinya. Dengan kondisi tubuh yang kian melemah, akhirnya dia meninggal. Satu-satunya wasiat dari ayah Rony adalah teruskanlah Majalah Pesona agar menjadi besar, karena itu adalah impian ibunya yang tidak boleh ditolak.

Rony masih berusia sembilan belas tahun, dia mulai mengurus perusahaan yang sedang berkembang. Rony belajar hidup mandiri. Berkali-kali juga nyawanya hampir melayang. Pernah ada yang melakukan tembakan, tetapi salah sasaran. Yang tertembak bukanlah Rony, melainkan asisten pribadinya. Rony Hermawan, dia salah satu wirausahawan muda yang sukses. Banyak yang mengincarnya, baik untuk bekerja sama dalam bisnisnya, atau pun karena ingin membunuhnya.

Rony sampai saat ini belum menemukan belahan jiwa. Mungkin karena dia terlalu sibuk mengurusi bisnis. Dan satu-satunya wanita yang mampu menggetarkan hatinya hanyalah Andara. Yang saat ini berada di hadapannya, dan makan siang bersama.

"Apa menunya kurang enak?" Rony bertanya ketika melihat Andara hanya memainkan sendok dan garpu di piring.

"Hmmm... Ini enak sekali, aku suka ini". Andara berusaha menutupi kalau dia sedang kesal karena melihat Alex berdua dengan Mesty.

Rony tersenyum, ia sudah menyadari hal itu sejak pertama masuk restaurant.
"Apa kau mencintai model itu?" Pertanyaan yang konyol itu muncul lagi dari Rony.

"Apa yang kau ucapkan?!! Apakah aku tidak salah dengar?! Catat baik-baik, aku tidak akan pernah jatuh cinta kepada seorang model!!"

"Kalau tidak mencintainxa, tak usah kau perhatikan mereka berdua. Jika pada kenyataannya mereka jatuh cinta, biarkan saja". Rony memojokkan Andara. Bagi Andara, kalimat Rony itu seperti samurai yang mencincang hatinya, begitu tajam dan menyayat.

Andara pergi meninggalkan Rony. Tak pernah menyadari apa yang sebenarnya terjadi, Andara menangis. Menangis adalah hal yang sangat langka yang terjadi pada Andara. Sesampainya ia di kantor, ia cepat-cepat masuk ke ruangannya dan bersolek. Hal itu cukup untuk menutupi wajahnya yang kusut dan mata yang sembab.

##

Mesty kembali ke kantor tepat pukul 13.00. Dalam hati Mesty sudah tidak karuan, pasti kena marah dari Andara. Bagaimana tidak akan kena marah, Mesty ketahuan makan siang dengan Alex.

"Bagaimana makan siangnya? Lezat? Senang? Dan puas bisa makan siang deng top model?" Andara mulai menyerocos ke Mesty.

Mesty sabar, harus sabar, tak boleh emosi. Apa lagi hal seperti ini sudah kerap terjadi.
"Iya.." hanya itu yang keluar dar mulut Mesty.

"Baguslah, jika kau makan siang dengan senang, berarti kau bisa bekerja dengan senang, cepat dan tentunya akurat".

"Iya.." tak ada jawaban lain dari Mesty.

"Hari ini aku tidak mau tahu dan tidak mau menerima alasan apa pun. Kau harus mereview majalah pesona yang terbit hari ini. Mana saja yang berat untuk menjadikan sainganku, dan sertakan alasan yang tepat". Andara menyerahkan majalah pesona itu ke Mesty, lalu dia pergi ke ruangannya lagi.

Meriview majalah dengan tebal 200 halaman bukanlah hal mudah. Isinya begitu banyak. Dari mulai aksesoris baju hingga deretan sejumlah nama desainer dengan karyanya. Mesty harus benar-benar jeli dan teliti untuk menganalisa, siapakah yang benar-benar menjadi kuda hitam untuk Andara? Jika ada satu hal saja yang terlewatkan, maka akan sangat fatal hasilnya, bisa menjadi boomerang untuk Andara. Selain memperhatikan desainer, Mesty juga harus memperhatikan gaya dan modelnya. Apakah nanti akan banyak diminati oleh pelanggan, atau hanya ramai untuk sesaat.

Mesty memutar otaknya untuk bekerja keras. Harus selesai hari ini. Tidak boleh tidak. Setelah menemukan cara untuk mereview, Mesty begitu asyik memperhatikan majalah itu. Artikel-artikelnya juga sangat bagus, berbeda dengan gaya tulisan majalah lain. Memang pantas Pesona menjadi majalah nomor wahid.

Tepat pukul 16.00, Andara berkemas untuk meninggalkan kantor. Wajahnya terlihat pucat dan lesu. Mungkinkah Andara sakit? Apa karena kejadian di restaurant siang tadi benar-benar mengguncang hatinya? Tak ada yang tahu. Hanya Andara yang tahu. Laporan Mesty diletakan begitu saja tanpa dibaca dulu, padahal tadi siang Andara meminta harus selesai hari ini. Sia-sia rasanya, Mesty kecewa, sudah bekerja keras, tetapi hasilnya ditumpuk di meja.

Setelah beberapa menit Andara pulang, Mesty juga ikut pulang. Ingin istirahat, sudah terlalu lelah untuk hari ini.

"Dev, aku pulang dulu ya.." Mesty berpamita ke teman sekantornya, Devi.

"Oke Mes, hati-hati di jalan." Jawabnya.

"Iya, sampai besok."

Mesty pergi menuju ke tempat parkir. Mencari mobil yang semalam menginap. Mesty ingin segera pulang dan beristirahat, tapi dipikir-pikir, di rumah sepi. Kedua adiknya pasti sibuk bermain bola, tentu saja di rumah tak ada seorang pun. Orang tua mereka tinggal di daerah asal, di sebuah kota kecil. Mesty dan kedua adiknya pulang ke kampung halaman dua atau tiga bulan sekali.

Mendengarkan radio di dalam mobil sembari menikmati perjalanan sore yang cerah. Sungguh hal yang mengasyikan. Ada iklan di radio tentang Film Hollywood kesukaannya. Ide bagus untuk menonton film. Mesty segara meluncurkan mobil dengan cepat menuju bioskop. Masih ada kesempatan untuk menonton, meskipun harus antri untuk mendapatkan tiketnya. Setelah mendapatkan tiket, Mesty segera masuk ke ruangan, mencari kursi duduk sesuai dengan nomor yang tertera pada tiket. Pas sekali, posisi di tengah-tengah, sehingga mata memandang lurus ke layar lebar.

"Mesty..?!" Ucap seorang pria yang duduk di sebelahnya.

"Kau..? Sedang apa kau di sini?" Mesty balik bertanya.

"Tentu saja mau nonton film, emang mau ngapain lagi di sini?"

"Kebetulan sekali, apa kau juga suka film ini?"

"Ini bukan kebetulan, tapi ini rencana Tuhan. Atau mungkin ini yang dinamakan jodoh."

Kalimat itu membuat mata Mesty terbuka lebar. "Kau jangan bercanda Alex.."

"Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan ucapanku. Film-nya seru." Alex mencoba mengalihkan perhatian Mesty ke Film.

"Iya.."

Mesty dan Alex sangat menikmati Film-nya. Sungguh film yang mengesankan. Dalam hening dan larut ke dalam film yang dilihat, Alex masih bisa mencuri pandang untuk melihat wajah Mesty.
"Kau sangat cantik..." Bisiknya ke Mesty. Mesty seolah-olah tak mendengar ucapan Alex. Mesty menyibukan diri memakan popcorn. Hanya itu yang bisa ia lakukan, karena sesungguhnya Mesty sangat grogi berdekatan dengan Alex.

Alex memberanikan diri untuk menatap mata Mesty. Pandangannya begitu tajam, membuat Mesty salah tingkah.
"Setelah ini, apa kau ada acara lain?" Alex bertanya.

"Tidak ada" Singkat jawaban Mesty.

"Jika film sudah selesai, kita makan malam berdua, bagaimana?"

Mesty hanya mengangguk. Itu tanda setuju.

Mereka dinner dengan menu Sushi. Dan Mesty, lagi-lagi seperti mimpi bisa berduaan dengan Alex.

"Aku mencintaimu." Kalimat yang keluar dari mulut Alex, yang membuat Mesty terkejut. Mesty terdiam dan mematung, kalimat itu seperti kalimat sihir yang mampu menghentikan saraf-saraf dalam tubuh Mesty.

"A--pa a-paa... Kau tidak sedang bercanda?" Mesty terbata-bata.

"Tidak. Aku sangat serius. Aku sangat mencintaimu."

Ini benar-benar jauh seperti mimpi. Untuk menghilangkan rasa groginya, Mesty langsung meneguk segelas air minum dengan cepat. Ingin berpura-pura ke toilet, tapi itu tidak mungkin. Itu hal konyol kalau ke toilet, membuat malu diri sendiri. Mesty kepanasan, mungkin ucapan Alex itu membuat tubuh Mesty merasa panas.

Aku akan mengantarkan mu pulang.” Alex mencoba menormalkan kembali suasana yang sedikit hening namun panas.

Emm... tidak usah, aku bawa mobil sendiri.” Jawab Mesty dengan meringis.

Tidak apa-apa, aku akan mengikutimu, aku harus memastikan kau sampai rumah dengan selamat.”

Owh,,, baiklah,, terserah kau saja.” Mesty hanya tersenyum.

Malam yang indah untuk dua sejoli yang sedang jatuh cinta. Mesty memang belum mengungkapkan isi hati yang sebenarnya, tetapi dari tatapan matanya, sudah sangat jelas Mesty juga mempunyai rasa sesuatu untuk Alex.


Manfaat Shalat Dhuha

10:08:00 AM 0 Comments A+ a-

Selamat pagi menjelang siang teman-teman. Sudah shalat Dhuha belum?
Saya tadi pagi mendapat kiriman catatan penting dari teman saya melalui akun gmail di Gtalk (Google Talk). Saya sendiri juga jarang sholat Dhuha, dan mulai hari ini marilah kita biasakan untuk Shalat Dhuha. Langsung aja deech, kebanyakan prolog nanti... hihihi..


Bismillahir-Rahmaanir-Rahim... Sahabatku tercinta, sudahkah kita membiasakan sholat dhuha? Bacalah berita gembira dari Rasulullah bagi penikmat/pecandu shalat dhuha.

"Setiap pagi, setiap persendian salah seorang diantara kalian harus (membayar) sedekah, maka setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, amar ma’ruf adalah sedekah, mencegah kemungkaran adalah sedekah, sungguh dua raka’at dhuha sudah mencukupi semua hal tersebut” (HR Muslim).

Dari Abu Hurairah, kekasihku Rasulullah telah berwasiat kepadaku dengan puasa tiga hari setiap bulan, dua rakaat dhuha dan witir sebelum tidur. (Bukhari, Muslim, Abu Dawud).

“Barang siapa shalat Dhuha 12 rakaat, Allah akan membuatkan untuknya istana di surga” (H.R. Tarmiji dan Abu Majah).

“Siapapun yang melaksanakan sholat dhuha dengan langgeng, akan diampuni dosanya oleh Allah, sekalipun dosa itu sebanyak busa lautan.” (H.R Turmudzi).

“Sholat dhuha itu (shalatul awwabin) shalat orang yang kembali kepada Allah setelah orang-orang mulai lupa dan sibuk bekerja, yaitu pada waktu anak-anak onta untuk bangun karena mulai panas tempat berbaringnya". (HR Muslim).

Allah memberkahi waktu dhuha dengan surah Adh Dhuha ...
Sahabatku, ayoo semangat membiasakan sholat dhuha walau hanya dua rakaat ...

Semoga kita semua mempunyai sifat2 yang berakhlak mulia yang senantiasa takut akan dosa dan menjauhi semua larangan-Nya.
... Aamiin Allahumma Aamiin ...

 Dan tambahan satu lagi, mudah-mudahan ini juga bermanfaat :)
Waktu waktu di ijabahnya doa dan keinginan...

-07 s/d 10 (dhuha)
-Sujud terakhir dalam shalat
-ashar terakhir sebelum magrib(17.00 lewat ke maghrib)
-1/3 malam (00.00 s/d 03.00) tahajud
-saat datang hujan


Semoga tulisan ini dapat membuka pintu hati kita yang telah lama terkunci.

Rantai Sutera

7:31:00 AM 0 Comments A+ a-


Kala rembulan menyusup dalam kegelapan malam
Memberi secercah cahaya dalam keheningan
Berharap kunang-kunang pun hadir di malam ini
Agar aku bisa titipkan salam untuk dia yang jauh

Salam yang kian menyiksa hati
Salam yang kian hari kian berkecamuk
Salam yang mampu menghapus gelora
Jiwa yang teraniaya karena jarak

Jarak yang memisahkan kita
Namun, jarak yang menjadikan rantai sutera
Dua hati menyatu, terpisah dalam jarak dan waktu
Hanya rantai sutera yang mampu mempertemukannya

Bertemu mengukir kisah dalam keanggunan
Menyulam mimpi menjadi nyata
Merajut, dan mengabadikan cinta
Dalam kisah kasih nan elok

Mendoan

12:34:00 PM 0 Comments A+ a-



Mendoan, salah satu makanan tradisional khas Barlingmascap (Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap). Terbuat dari bahan dasar tempe dan tepung. Makanan ini sudah terkenal hingga merambah kota-kota besar seperti di Jakarta, Bandung, Semarang dan Jogja. Bahkan ada teman saya yang dari Mancanegara, tepatnya berkebangsaan Australia. Dia sangat suka dengan mendoan. Dia mengatakan, salah satu yang membuat rindu Indonesia adalah “Mendoan”.

Ingin kembali ke Indonesia, ingin menikmati mendoan lagi. Saya kangen sekali dengan Mendoan”. Ungkapnya pada saya. (Apakah dia tidak kangen padaku?? -_-” ) Hehehe..

Nah,, dari pada penasaran seperti apa sich mendoan itu? Yukk,, kita lihat bahan-bahannya, dan cara membuatnya.

Bahan :
  1. Tempe
  2. Tepung terigu ¼ kg
  3. Tepung beras 1 ons
  4. Daun Bawang / Muncang
  5. 300 cc air
  6. Minyak Goreng
  7. Bumbu yang dihaluskan : 4 siung bawah putih, ½ sendok makan ketumbar, 2 pcs kemiri, garam secukupnya.

Cara Memasak :
    • Pertama tama Campur jadi satu semua bahan yaitu tepung terigu dan tepung beras, air putih, bumbu yang dihaluskan, daun bawang serta garam
       
      adonan dan tempe yang akan digoreng.

  • Kemudian aduk aduk sampai rata, celupkan dengan hati-hati (takut bubuk) semua potongan tempe ke dalam adonan tepung.
  • Terakhir Goreng dalam minyak yang panas, sebentar saja asal menguning keemasan jangan terlalu lama.
  • Angkat dan hidangkan hangat-hangat.

    saran penyajian
 

Malam Satu Suro

7:26:00 AM 0 Comments A+ a-


Kedatangan tahun baru biasanya ditandai dengan berbagai kemeriahan, seperti pesta kembang api, keramaian tiupan terompet, maupun berbagai arak-arakan di malam pergantian tahun.
Lain halnya dengan pergantian tahun baru Jawa yang jatuh tiap malam 1 Suro (1 Muharram) yang tidak disambut dengan kemeriahan, namun dengan berbagai ritual sebagai bentuk introspeksi diri.
Saat malam 1 Suro tiba, masyarakat Jawa umumnya melakukan ritual tirakatan, lek-lekan (tidak tidur semalam suntuk), dan tuguran (perenungan diri sambil berdoa).
Bahkan sebagian orang memilih menyepi untuk bersemedi di tempat sakaral seperti puncak gunung, tepi laut, pohon besar, atau di makam keramat.
Ritual 1 Suro telah dikenal masyarakat Jawa sejak masa pemerintahan Sultan Agung (1613-1645 Masehi).
Saat itu masyarakat Jawa masih mengikuti sistem penanggalan Tahun Saka yang diwarisi dari tradisi Hindu. Sementara itu umat Islam pada masa Sultan Agung menggunakan sistem kalender Hijriah.
Sebagai upaya memperluas ajaran Islam di tanah Jawa, kemudian Sultan Agung memadukan antara tradisi Jawa dan Islam dengan menetapkan 1 Muharram sebagai tahun baru Jawa.
Bagi masyarakat Jawa, bulan Suro sebagai awal tahun Jawa juga dianggap sebagai bulan yang sakral atau suci, bulan yang tepat untuk melakukan renungan, tafakur, dan introspeksi untuk mendekatkan dengan Yang Maha Kuasa.
Cara yang biasa digunakan masyarakat Jawa untuk berinstrospeksi adalah dengan lelaku, yaitu mengendalikan hawa nafsu.
Lelaku malam 1 Suro, tepat pada pukul 24.00 saat pergantian tahun Jawa, diadakan secara serempak di Kraton Ngayogyakarta dan Surakarta Hadiningrat sebagai pusat kebudayaan Jawa.
Di Kraton Surakarta Hadiningrat kirab malam 1 Suro dipimpin oleh Kebo Bule Kyai Slamet sebagai Cucuking Lampah.
Kebo Bule merupakan hewan kesayangan Susuhunan yang dianggap keramat. Di belakang Kebo Bule barisan berikutnya adalah para putra Sentana Dalem (kerabat keraton) yang membawa pusaka, kemudian diikuti masyarakat Solo dan sekitarnya seperti Karanganyar, Boyolali, Sragen dan Wonogiri.
Sementara itu di Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat memperingati Malam 1 Suro dengan cara mengarak benda pusaka mengelilingi benteng kraton yang diikuti oleh ribuan warga Yogyakarta dan sekitarnya.
Selama melakukan ritual mubeng beteng tidak diperkenankan untuk berbicara seperti halnya orang sedang bertapa. Inilah yang dikenal dengan istilah tapa mbisu mubeng beteng.
Selain di Kraton, ritual 1 Suro juga diadakan oleh kelompok-kelompok penganut aliran kepercayaan Kejawen yang masih banyak dijumpai di pedesaan. Mereka menyambut datangnya tahun baru Jawa dengan tirakatan atau selamatan.
Sepanjang bulan Suro masyarakat Jawa meyakini untuk terus bersikap eling (ingat) dan waspada. Eling artinya manusia harus tetap ingat siapa dirinya dan dimana kedudukannya sebagai ciptaan Tuhan.
Sedangkan waspada berarti manusia juga harus terjaga dan waspada dari godaan yang menyesatkan.
Karenanya dapat dipahami jika kemudian masyarakat Jawa pantang melakukan hajatan pernikahan selama bulan Suro.
Pesta pernikahan yang biasanya berlangsung dengan penuh gemerlap dianggap tidak selaras dengan lelaku yang harus dijalani selama bulan Suro.
Terlepas dari mitos yang beredar dalam masyarakat Jawa berkaitan dengan bulan Suro, namun harus diakui bersama bahwa introspeksi menjelang pergantian tahun memang diperlukan agar lebih mawas diri.
Dan bukankah introspeksi tak cukup dilakukan semalam saat pergantian tahun saja? Makin panjang waktu yang digunakan untuk introspeksi, niscaya makin bijak kita menyikapi hidup ini. Inilah esensi lelaku yang diyakini masyakarat Jawa sepanjang bulan Suro.

Sumber: http://forumbebas.com

Sang Bintang #Bagian 1

11:56:00 AM 1 Comments A+ a-

"Apa kau tidak bisa bekerja secara cepat?!!! Ini sudah jam berapa? Fashion Show akan segera dimulai!! Kenapa kau masih berkutat memilih baju untuk para model? Harusnya mereka sudah siap tampil!!!" Bentak seorang bos ke asistennya. Asistennya hanya terdiam, dia merasa bersalah karena datang terlambat. Harusnya para model sudah siap untuk tampil di atas panggung. Ingin menangis, tapi takut dicerca terus oleh bos, asisten itu pun terus melanjutkan memilih baju untuk para model.

"Biarkan aku yang memilih baju rancangan bos-mu dengan caraku sendiri. Kau urus saja model yang lain." Ucap salah seorang model, orang ini adalah model yang paling keren dan digandrungi banyak fans, terutama kaum hawa. Model pria berusia 27 tahun ini memiliki body yang ideal, wajah tampan, maskulin, mata tajam, hidung mancung, bibir seksi, dan tentu saja memiliki dada yang bidang. Dia sangat angkuh,  terutama dan ter-khusus untuk desainer bajunya. Meskipun dia modelnya, tetapi dia tetap cuek kepada yang memberi job itu.

"Iya, aku siapkan baju dan make up untuk yang lain, pentas sebentar lagi tiba." Jawab asisten, dan pergi meninggalkan model ganteng itu.

Panggung yang gemerlap dengan kerlap kerlip lampu yang menawan, suasana ramai dan antuisiasme para penonton. Terlihat di deretan VVIP penonton sudah bersorak ramai. Ada juru tinta, ada fotografer dan sebagainya. Mereka berkumpul menjadi satu di ruangan itu. Man Fashion Show selalu hadir dengan tampilan berbeda, begitu inovatif dan kreatif. Ketika semua desainer berlomba-lomba untuk busana wanita, tetapi Andara sang desiner muda nan cantik ini memilih untuk merancang busana pria. Karya-karyanya begitu terkenal, pelanggannya sampai ke mancanegara.

Satu per satu para model itu memamerkan busananya. Hadirin yang di panggung itu sangat antusias. Ramai dengan tepuk tangan, kamera ada di mana-mana. Bagi Andara sendiri hal ini adalah sesuatu yang sangat membanggakan.

"Kau tidak boleh melewatkan satu model untuk tidak kau liput dan besok pagi kita harus yang pertama mencetak majalah tentang Fashion Show malam ini." Bos penerbit majalah itu menyemangati anak buahnya yang sedang asyik memotret para model.

"Siap bos." Jawabnya singkat, dia terlalu konsen dengan kamera dan model.

"Dan jangan lupa, ambil gambar sang desiner cantik itu."
Sang fotografer hanya tersenyum, dia sudah tahu apa yang ada di dalam otak bosnya. Dari dulu hingga kini bos penerbit itu memang cinta kepada desiner muda yang bernama Andara. Mereka sama-sama bos muda, secara financial mereka cocok untuk saling jatuh cinta. Tetapi, akankah cinta itu bermuncul dari sebuah materi dan kekayaan?

Terakhir keluar untuk mementaskan baju itu adalah Alex. Sang model tampan akhirnya muncul juga, semua orang di panggung mengambil gambarnya, tak terkecuali sang desiner muda, Andara. Diam-diam Andara selalu mengambil gambar Alex ketika di atas panggung untuk mementaskan hasil karyanya. Andara selalu melakukannya, tanpa ada yang mengetahuinya. Hingga larut malam Man Fashion Show baru selesai. Orang-orang berlalu lalang untuk pergi meninggalkan panggung kecuali pemilik, crew, staff dan model.

"Cepat bereskan semua baju-bajunya!!" Perintah Andara ke asistennya.

"Iya nona" Hanya itu yang terucap dari mulut Mesty.

"Dan besok kau harus berangkat pagi, siapkan laporan dan info mengenai busana pria yang ada di kota Milan. Bulan depan kita akan mengangakat tema Milan sebagai kiblat Man Fashion." Ucapan Andara itu menggelegar seperti petir, seperti suara piring-piring yang pecah. Mesty hanya mengangguk, sudah tidak heran lagi dia diperlakukan seperti itu oleh bosnya.

"Apa kau tidak bisa bersikap lembut terhadap staff-mu? Jika tak ada Mesty acaramu berantakan, dia yang susah payah merancang panggung dan memilih make-up untuk para model. Kau memang yang menciptakan baju-bajunya, tapi jika tak ada team yang mendukungmu, kau tidak ada apa-apanya." Alex mencoba membela Mesty, ia tidak tega melihat Mesty selalu tertindas oleh atasannya. Salah atau benar tetap saja Mesty tak pernah berarti bagi Andara.

Gadis yang memiliki nama lengkap Andara Vita Agustin, lahir pada 26 tahun silam ini, memang memiliki sifat yang keras, angkuh, sedikit sombong dan kurang ramah. Semenjak menginjakkan kakinya di Milan untuk belajar Fashion, dia menjadi gadis yang berbeda dari gadis-gadis lainnya. Dia selalu beranggapan bahwa semua orang itu tak ada apa-apanya, apalagi pegawainya.

"Apa urusanmu dengan sikapku terhadap pegawaiku? Mau aku apakan pegawaiku, itu urusanku!! Kau hanya model, kau tak tahu apa-apa tentang Manajemenku. Tugasmu hanya bekerjaa dengan baik di atas panggung, selebihnya tak ada lagi. Ingat itu baik-baik!!" Tukas Andara dengan ketus, kemudian dia berlalu meninggalkan Alex dan Mesty.

"Biarkan ku bantu membereskan ruangan ini." Alex menawarkan diri untuk membantu Mesty. Tak tega melihat Mesty yang sudah kelelahan.

"Taa--pii... " Sudah tak ada kata-kata lagi yang mampu terucap, Mesty sudah sangat-sangat lelah.

"Sudahlah, kau istirahat saja, biarkan aku yang membereskannya." Alex menuntun Mesty untuk duduk di kursi, ia pun memberi segelas susu untuk Mesty. Mesty hanya menurut, mau menolak juga sudah tidak berdaya lagi. Sungguh lelah badannya. Matanya sudah mengantuk. Dengan samar-samar Mesty memperhatikan Alex sedang membereskan pekerjaannya dengan teman-teman yang lain. Mesty kembali tersenyum, ternyata model ini baik juga, meskipun kadang-kadang sedikit galak dan keras kepala.

Mesty Meliana, merupakan sarjana dari sastra bahasa Indonesia. Cita-cita pertama dia sebenarnya menjadi seorang penulis. Tapi entahlah, dia terjun ke dunia Fashion. Kalau dipikir-pikir dia juga seperti tidak percaya. Kenapa harus mengurussi model-model, menyiapkan baju-baju terbaru rancangan "nenek sihir", dan atau membereskan ruangan ketika fashion show sudah selesai. Harusnya dia sudah menjadi penulis hebat, bisa menerbitkan ratusan atau bahkan ribuan cerita dan mungkin memiliki berbagai macam artikel, dan masuk di dalam majalah terkenal seperti majalah "Pesona".
Terlintas tentang memori-memori lama Mesty.

"Tulisan kamu seperti tulisan anak kecil." Komentar dari seorang penerbit saat mengomentari tulisan Mesty. Mesty langsung berpamitan saat itu dan pergi mencari penerbit lain.

"Tulisan kamu masih kaku, belum ada ciri khasnya." Ditolak lagi tulisan Mesty. Tapi dia tetap berusaha, dia terus-menerus mencari penerbit yang mau menerbitkan tulisannya.

"Cerita yang kau buat terlalu rumit, sulit untuk ku pahami. Maaf, kali ini belum bisaa ku terima, coba perbaiki lagi dan datang kesini lagi. Siapa tahu setelah kau perbaiki kami bisa menerbitkanya."

"Baaaik, akan saya perbaiki."

Hari berikutnya Mesty datang lagi ke penerbit itu, cerita yang ada telah ia perbaiki. Dia sangat-sangat berharap ini semua akan menjadi langkah awalnya di dunia tulis menulis.

"Cukup bagus, tunggu saja, dalam dua minggu ini akan kami terbitkan."
Mesty tersenyum mendengarnya, serasa kemenangan ada di tangannya.

"Iya, dengan senang hati saya akan menunggunya." Jawab Mesty dengan penuh harap.

Dengan tidak sabar, Mesty menunggu hari-hari dimana ceritanya akan diterbitkan. Mesty kini hanya menghitung hari. Rasanya sangat senang, sudah tidak sabar lagi. Sungguh tidak sabar lagi melihat ceritanya itu diterbitkan. Dua minggu yang telah dijanjikan ke Mesty datang juga. Dia harus menjadi orang pertama yang melihat tulisannya terpajang di etalase-etalase toko buku. Dia mengecek di setiap etalase, tetapi tak ada tulisan dia. Dia pulang dengan lesu. "Mungkin besok baru akan muncul di toko buku." Gumamnya dalam hati. Hampir setiap hari Mesty ke toko buku, bahkan tidak hanya satu toko, dia menjelajahi semua toko buku yang ada di kotanya. Hasilnya tetap nihil, tak ada tulisannya yang terpajang. Satu bulan telah berlalu, tak ada juga tulisan Mesty yang muncul di toko buku. Mesty memutuskan untuk pergi lagi ke penerbit, dia bermaksud menanyakan kenapa naskahnya tidak diterbitkan, padahal sudah lewat dari waktu yang telah dijanjikan.

"Maafkan kami nona, kami belum bisa menerbittkaan, karena penulis handal kami telah memberikan naskahnya untuk kami. Dan ini naskah anda nona."
Seperti mendapatkan pukulan tinju yang sangat keras di perutnya. Mesty merasa begitu sakit, kecewa dan malu tentunya. Dia rasa dirinya adalah orang yang paling bodoh di dunia. Sampai di rumah dia langsung membakar naskah itu, dan dia berjanji tak akan pernah menulis lagi, apa pun alasannya.

Mesty sudah sangat-sangat sakit hati dan kecewa dengan sebuah tulisan/cerita/naskah atau apalah itu. Lalu dia berpikir untuk mencari pekerjaan lain, dan sangat kebetulan Sang Desiner muda sedang membutuhkan seorang asisten. Tak pikir panjang Mesty mengambil kesempatan itu. Mesty tak pernah tahu bagaimana sifat Desiner itu, yang ada dipikirannya hanya dapat kerja dan mempunya penghasilan untuk memperbaiki financial-nya.

"Mesty... " Panggil Alex dengan lembut.

"Mesty..." Alex mengelus pundaknya, dan membuyarkan lamunan Mesty.

"Eehh.. iya, bagaimana? Maaf,, akuu....."

"Kita pulang, semua sudah beres, kau harus istirahat." Alex memotong kalimat Mesty. Mesty masih bingung, setengah tidak percaya bahwa ruangannya sudah sangat rapi, baju-baju sudah tertata dengan cantik, lantai sudah bersih.

"Bagaimana kau bisa lakukan semua ini?" Mesty berusaha meyakinkan dirinya sendiri, bahwa Alex telah mengerjakan apa yang seharusnya ia kerjakan.

"Sudah,,,, jangan dipikirkan lagi. Biar aku antar kau pulang." Alex malam ini begitu baik, entah ada angin apa, Mesty bisa berduaan dengan model yang tertampan dan menjadi idola para gadis. hihihiihii..

"Mm... ti--dak usaah.. Aku bawa mobil sendiri." Mesty mencoba menolaknya.

"Kau sudah mengantuk, biar aku yang mengantar kamu pulang."
Mesty tak kuasa untuk menolaknya. Dan apa salahnya juga diantar pulang oleh Alex. Oh.. Sungguh seperti mimpi duduk bedua berjejer di dalam mobil sport. Andai saja Mesty bukanlah seorang asisten, atau dia tidak bekerja untuk sebuah Fashion, mungkin Mesty sudah berani untuk meminta foto bareng atau meminta tanda tangan Alex.

"Apa kau sudah pernah ke Milan?" Pertanyaan Alex membuat Mesty gugup.

"Oh.. eemm... belum..."

"Lalu bagaimana kau akan membuat laporan tentang busana di Milan?" Alex mulai kritis terhadap Mesty.

"Oh, itu.. Aku mencarinya dari artikel-artikel yang ada di internet, ada situs Milan yang khusus untuk mengupas tentang busana pria." Mesty menjelaskannya.

"Oh,, kau hebat juga, hanya dari artikel kau bisa membuat laporan." Alex mulai memuji dan mereka hanya tersenyum. Saling memandang saja. Alex bermaksud mengajak untuk makan dengan Mesty. Tapi dilihat dari kondisinya, Mesty harus beristirahat. Esok pagi banyak tugas yang harus diselesaikan, kalau tidak selesai, Andara pasti akan marah besar dan memaki Mesty. Alex menyadari hal itu, kemudian dia memacu kecepatan mobilnya. Suasana kembali tenang, tak ada sepatah kata dari Alex maupun Mesty. Sampai di depan rumah, Mesty hanya mengucapkan terima kasih. Turun dari mobil dan berjalan menuju pintu rumah saja rasanya lama sekali seperti sedang melewati bukit-bukit dan lembah, langkahnya begitu berat. Alex hanya tersenyum melihatnya, dan pergi dengan kecepatann maksimal. Ya itu salah satu hoby Alex, selain menjadi model dia juga suka balapan di jalanan. Bahkan tak jarang dia sering kena tilang polisi.

Dia memang anak yang bengal, dari dulu, dari jaman dia SMA. Bukan. Tapi dari jaman dia SMP, dia sudah berani membawa sepeda motor dengan kecepatan 110 sampai 130  km per jam. Kecelakaan yang dia alami dari jaman SMP sudah tidak bisa dihitung lagi, sudah ratusan kali ia mengalami kecelakaan lalu lintas. Hal itu tidak pernah membuat ia jera. Kecelakaan paling parah saat dia merayakan kelulusaaan SMA. Dia membawa motor sport 250 cc. Beradu cepat di jalan raya dengan teman-temannya. Saat itu dia sedang menyalip temannya, tak sadar bahwa di depannya sudah ada truck kontainer. Dan. Terjadilah tabrakan itu. Alex terpental sejauh 50 meter. Motornya rusak seperti barang rongsok di tempat pembuangan sampah akhir. Teman-teman segera melarikannya ke Rumah Sakit, dan ternyata tangan dan kaki kanan Alex patah, harus dirawat intensif, tidak boleh membawa kendaraan sendiri untuk waktu yang cukup lama.

"Ini terkahir kali ayah medengar kamu kecelakaan" Ayahnya kesal, sudah dinasehati berkali-kali tetap saja Alex melakukan balapan liar di jalan raya. Alex hanya meringis mendengar kata-kata ayahnya.

"Iya Lex, jangan ngebut lagi, kan jadi kamu juga yang terluka." Teman-temannya takut kena marah dari ayah Alex, mereka berpura-pura menasehati Alex. Padahal mereka juga yang mengajak balapan liar di jalan raya. Memang anak muda jaman sekarang, kebanyakan tidak bertanggung jawab. Mata teman-teman dan Alex saling lirik-lirikaan. "Aaah.. sialan kalian, giliran ada bokap gue, kalian sok bersih, gak suka balapan." Alex menggerutu dalam hati.

"Payah kaliaan..!" Alex mulai mamaki teman-temannya setelah ayahnya keluar dari ruangan Alex dirawat.

"Giliran ada bokap gue, kalian sok-sok an gak suka balapan.. Aah,, cemen kaliaan...!!" Lanjut Alex

"Jangan marah gitu donk Lex, lu tahu sendiri kan bokap loe gimana. Bukan maksud gue ma yang lain gak baik ma loe. Tapi,, lihat kenyataan donk, loe aja gak berkutik apa-apa di depan bokap loe, apa lagi kita-kita.." Bagus teman Alex menjelaskan maksud ucapan teman-teman.

"Aaah,, udahlah, ini sampai kapan tangan ama kaki gue gini?"

"Kata teman bokap loe, katanya sampai tiga bulanan loe baru sembuh total, itu pun kalau loe rajin terapi." Jawab Andre.

"Jadi yang ngurusin gue sakit itu si dokter Roy yang menyebalkan itu? Makin susah dah kalau dia yang ngurus. Pasti dikit-dikit lapor ke bokap." Makin kesal Alex, dia akan melewati hari-harinya dengan minum obat, sudah begitu yang mengurus adalah dokter andalan dari RS-nya. Makin susah untuk berinteraksi dengan dunia luar. Khususnya dunia balap.

Hari demi hari Alex melewati dengan minum obat, terapi untuk kelemasan otot-otot kaki dan tangannya yang patah. Dia sangat serius menjalani terapi itu, karena dia sendiri sudah bosan duduk di kursi roda. Sesekali melihat garasi rumah, sudah tidak ada motor sport 250 cc itu, Alex menjadi sedih. Ingin memiliki lagi motor sport itu. Dengan dorongan ingin balapan lagi, maka Alex sangat rajin untuk terapi. Coba saja kalau tidak ada dorongan untuk balapan, boro-boro semangat terapi, datang dan bertemu dengan dokter saja di RS sudah sangat malas. Bukan sangat malas. Tepatnya sangat tidak suka, meskipun RS itu milik orang tuanya.

Dua bulan empat hari, Alex sudah sembuh total pasca kecelakaan balapan perayaan kelulusan SMA. Teman-teman sudah mendaftarkan diri di berbagai universitas negeri dan atau swasta yang ternama. Kemana daftar kuliah Alex? Sudah pasti orang tuanya mendaftarkan di universitas kedokteran. Itu sanga-sangat bertentangan dengan Alex. Alex memutar otak dengan keras agar opininya bisa diteirma oleh kedua orang tuanya.

"Alex ingin kuliah otomotif di Jepang." ungkapnya di sela-sela makan malam keluarga.

"Apaa??!!" Ayahnya kaget, setengah emosi.

"Iya, pengen bisa buat motor sport sendiri, selama ini kan Alex hanya menggunakan motor, jadi Alex ingin membuat motor yang lebih canggih, kalau ditabrak gak jadi barang rongsok." Jelasnya sambil sedikit takut, pasti akan kena ceramah dari ayah.

"Waaah.. kakak hebat... aku setuju kalau kakak bisa buat motor sendiri, pasti keren kak, Rena suka sekali...!" Adiknya memuji, Rena saat itu masih kelas 2 SMP.

"Rena,diam..!" Rena kena bentak karena membela kakaknya.

"Nah, Rena aja setuju, kalau Alex bisa buat motor sendiri kan keren..." Alex mulai memojokan ayah.

"Terserah kamu sajalah, tapi awas saja kalau kamu kecelakaan lagi, ayah gak mau urusin." Akhirnya kalah juga debat dengan Alex, meskipun kurang setuju.

"Yeaaah,, makaish ayah.."

"Tapi ingat, jangan balapan di jalan raya, kalau mau balapan itu di Sirkuit."

"Haduuuh haduuuuh.. Makan dulu kenapa... Dari tadi mama perhatiin kok ribut mulu." 
Mama Alex menimpali obrolan suami dan anak-anaknya.

"Iya mah, tapi kok ayam kecapnya abis ma? Tadi banyak di piring, kok udah gak ada mah?" Rena kaget sudah tidak ada lauk lagi.

"Dimakan mama semua lah, salah siapa kalian ribut saja, makan itu diem. Makan kok bahas macam-macam. Kalau mau ayam kecap masak sendiri aja yaaaach.. mama sich udah kenyang.. hehehehe.." Mama Alex mulai ngelawak.

"Mamaaaaaaaaaaaaaahhhh...." Ayah dan kedua anaknya serentak.

Setelah disetujui kuliah di jepang, Alex mulai mengubah penapilan. Dia mulai bergaya. Sampai-sampai ada majalah yang menawarkan dia untuk menjadi model. Alex terima itu, itung-itung sampingan bisa dapat duit. Namun, pekerjaan dia bergaya di depan kamera atau berjalan di cat walk membuatnya ketagihan. Hingga pada akhirnyla dia memutuskan untuk menjadi seorang model. Tap cita-cita awalnya tetap dia laksanakan. Dia kini sudah memiliki bengkel otomotif khusus untuk memodifikasi motor atau mobil agar kecepatannya bertambah.

Pagi-pagi sekali sekitrar jam 6, Mesty sudah siap untuk berangkat kerja. Banyak sekali pekerjaan hari ini. Dia harus datasng lebih awal sebelum bos datang. Dan semua yang urgent juga harus selesai. Mobil dia tak ada semalam di tinggal di kantor, Mesty harus cepat-cepat dapat taksi.

"Heeii.. kau?? sedang apa kau disini? Mm,, sejak kapan kau disini?" Mesty kaget ketika membuka pintu rumah, ternyata Alex sudah duduk di terasnya. Alex tersenyum, kali ini wajahnya lebih ramah dan lebih enak dipandanng.

"Aku menjemputmu." Singkat jawabnya.

"Aku bisa naik taksi." 
Alex langsung menarik tangan Mesty, dan menuntun ke mobilnya.

"Echh.. kau lepaskan tanganku." Mesty berusaha melepaskan genggamannya, tapi tak bisa. Genggamannya erat tapi lembut.

"Kau duduk dan diam saja, akan mengantarmu ke kantor." Kata-kata Alex sedikit memaksa, Mesty senang dengan nada dan gaya bicara Alex. Ada rasa yang tidak wajar di antara keduanya, entah apa itu. Alex meluncur menuju kantor Mesty.

"Nanti siang aku datang lagi" Nadanya datar tapi jelas, dan mengikat. Harus dituruti, dan tidak boleh ditolak.

"Mmmm..." Mesty belum menjawabnya. Alex sudah pergi dengan kecepatan tinggi.

"Apa begitu ya gaya para model, Aneh, suka mengilang tapi suka muncul dengan tiba-tiba dan membuat ku kaget." Mesty merasa heran sendiri, dan benar-benar seperti mimpi.