Sang Bintang #Bagian 4

12:34:00 PM 0 Comments A+ a-

***Bagian Sebelumnya...

"Aleeeeeeeeeexxx..." Mesty berteriak dan mengejarnya. Seakan-akan tak rela berpisah dengan Alex. Alex menghentikan langkahnya. Tapi dia tak menoleh ke belakang, karena itu akan membuatnya tak tega ketika menatap wajah Mesty. Mesty akhirnya meraih Alex, dia memeluknya dari belakang.

"Aku juga mencintaimu..." Ucap Mesty dengan tegas. Makin tidak karuan perasaan Alex, dia pun membalikan badan dan memeluk Mesty.

"Jangan bersedih, aku pasti akan kembali." Alex menghapus air mata Mesty.
"Ini untukmu, udara di sini dingin ketika malam." Lanjut Alex. Dia mengenakan syalny ke Mesty. Mesty tersenyum.

"Hmmmm.. Tunggu dulu, di Eropa lebih dingin. Ini untukmu saja." Mesty memakaikan syal di leher Alex. "Aku menunggu kau kembali di sini." Ucap Mesty.

Sekali lagi Alex memeluk dan mencium keningnya. Perlahan ia menghilang dari pandangan Mesty.


Mesty menangis, ia menyadari bahwa dirinya telah jatuh cinta ke Alex. Dengan langkah yang berat, ia pergi meninggalkan bandara. Membawa serta kenangan dan kehilangan Alex. Mesty hanya bisa menunggunya. Lima belas menit kemudian, Mesty sampai di kantor. Kali ini ia melanggar jam kerja, seharusnya sebelum ke bandara berpamitan terlebih dulu. Nasi sudah menjadi bubur, waktu tidak bisa diputar lagi.

"Dari mana saja kau? Apa kau sudah lupa ini masih jam kerja?" Andara sudah tampak emosi.

"Maaf nona, saya baru saja dari bandara. Alex berangkat ke Milan siang ini." Jelas Mesty dengan gugup.

"Apa? Kau melanggar jam kerja hanya untuk mengantar Alex? Tidak biasanya kau seperti ini. Sebenarnya apa yang terjadi di antara kalian?" Andara harus tahu pastinya. Mesty terdiam, masih bingung mencari jawaban yang tepat.

"Jawab Mesty!! Apa kalian memiliki hubungan yang special?"

"Iya nona.." Jawaban yang singkat dari Mesty. Namun, jawaban itu mampu membuat Andara tampak lesu dan pucat. Terasa aliran daranya begitu lemah, sangat lemah. Andara berharap apa yang dikatakan Mesty hanyalah sebuah mimpi.

Andara berpegangan kursi, dia mencoba menahan diri agar tidak terjatuh. Langkahnya yang kecil membawanya pergi ke ruangannya. Menangis, hanya itu yang bisa ia lakukan. Andara tidak bisa berkonsentrasi untuk bekerja. Kacau. Benar-benar kacau pikirannya Dengan keadaan yang lusuh, ia pergi meninggalkan kantor. Mencari suasana yang baru. Dia butuh oksigen yang lebih segar. Andara meluncur dengan kecepatan sangat tinggi. Tanpa arah tujuan yang pasti. Tak terencana pula ia akan pergi kemana. Ia hanya mengikuti nalurinya. Speedometer mobil menunjukkan angka 200km/jam. Beruntung jalanan sepi, sehingga tidak ada kecelakaan.

Hari mulai meredup, panas sudah menghilang. Andara memarkirkan mobil di sebuah tempat, dan tepat di bawah pohon yang rindang. Tak tahu kini ada di mana, yang jelas dia telah meninggalkan kota sejauh 300 km. Dalam jarak pandang 100 meter, Andara melihat bangunan yang unik. Dia mendekat ke bangunan itu. Jalan setapak tetapi rapi dan bersih.
Dikelilingi dengan berbagai taman bunga. Sungguh cantik pemandangan di sini. Tempat ini begitu menyejukan, menyegarkan, sekaligus menenangkan.

Andara meneruskan langkahnya, dia menuju pos penjagaan.

"Permisi.. Selamat sore... " Ucap Andara ke Satpam yang sedang berjaga.

"Selamat sore juga ibu, ada yang bisa kami bantu?"

"Maaf pak, ini di daerah mana, saya tidak menyadari kalau saya mengemudi sampai tempat ini." Jawab Andara.

"Disini Bukit Ketenger. Di sini tempat yang cocok untuk pesinggahan. Apakah anda tertarik untuk singgah di sini?"

"Hmmm... Ada apa saja di sini?" Andara ingin tahu secara jelas.

"Di sini ada pemandian air hangat, ada vila atau penginapan. Dari vila anda bisa menikmati alam pegunungan yang sangat cantik. Di belakang vila, hanya berjarak 50 meter, ada perkebunan strawberry. Di sana anda bisa menikmati buah strawberry yang masih segar, karena anda memetiknya langsung dari pohonnya. Dan di sebelah barat vila, berjarak 20 meter, ada sebuah air terjun. Airnya begitu jernih. Selain itu, anda bisa berkeliling menaiki kuda untuk menikmati pemandangan pegunungan yang sangat indah. Atau anda bisa memberi makan ke ikan-ikan mas yang ada di kolam."

Andara begitu menikmati penjelasan dari satpam itu. Andara sangat tertarik, karena merasa tempat ini sangat cocok untuk menengkan hati.

"Baiklah pak, saya booking satu vila. Saya akan tinggal untuk beberapa hari di sini."

Andara kembali ke mobil dan mengemudikan ke arah vila. Tempat yang sangat bagus. Jauh dari kebisingan kota. Jauh dari masalah bisnis dan hal-hal lain yang membuat stres otak.

Layanan special diberikan untuk Andara. Hal yang pertama Andara lakukan adalah mandi air hangat. Air hangat ini bersumber langsung dari kaki gunung, jadi bukan air biasa yang dimasak. Andara menghabiskan waktu hampir 3 jam di kolam air hangat. Sendiri, mencoba melupakan kejadian siang tadi.

Ketika malam mulai menghitam, cahaya bintang berkelip memberi pijar yang membuat semakin indah suasana malam. Di balik jendela, Andara menatap dengan jelas hamparan keindahan Maya Padha ciptaan sang Kuasa. Begitu Agung nan elok. Membuat siapa saja yang melihatnya menjadi damai dan tentram hatinya. Tak pernah sebelumnya Andara memiliki jiwa yang tenang dan damai seperti ini. Sungguh luar biasa. Malam yang bertabur bintang, kini menjadi teman setia Andara, hingga ia terlelap
dalam tidur.


Pagi buta Andara sudah bergegas menuju perbukitan. Dia tidak ingin melewatkan kesempatan istimewa, yaitu melihat sunrise. Cahaya orange keemasan dari ufuk timur dengan megahnya. Andara begitu terpesona dan mengabadikannya dengan jepretan kameranya. Setelah puas menikmati sunrise, dia menuruni bukit-bukit dan turun di lembah strawberry. Terlihat embun yang bening membasahi dedaunan dan buahnya. Andara sangat menikmati suasana di sini, bahkan dia lupa tentang apa yang telah terjadi di hari sebelumnya.

##

Sudah dua hari Andara tidak ada kabar. Mesty merasa bersalah, harusnya ia mampu menutupi hubungannya dengan Alex. Dengan hati yang penuh bimbang dan ragu, malam ini Mesty akan ke rumah Andara. Mesty berniat untuk meminta maaf dan meminta agar Andara segera merancang busana.
Apa lagi sudah dikejar deadline dari majalah pesona, yang akan segera menerbitkan edisi terbaru.

Ragu-ragu, rasa itu kian ada di dalam diri Mesty. Dia sudah memarkirkan mobil di depan rumah Andara. Mesty belum juga turun, dia masih di dalam mobil hingga belasan menit. Dengan segala rasa yang ada di dalam hati, Mesty mulai berani melangkahkan kakinya, sangat pelan langkahnya.

Mesty mengetuk pintunya. Tak ada jawaban apa pun dari dalam. Rumah itu terlihat sangat sepi. Sekali lagi Mesty mengetuk pintunya.

"Selamat malam... Maaf, saya mengganggu di malam seperti ini.." Ucap Mesty.

"Selamat malam juga.. Oh tidak apa-apa, mari silakan masuk.." Jawab wanita yang membuka pintu dan mempersilakan Mesty masuk.

"Hmmm.. Tidak usah,, di sini saja. Oh ya, apakah saya bisa bertemu nona Andara sebentar?"

"Maaf, nona Andara tidak ada di rumah.." Tatapannya mulai kosong.

"Boleh saya tahu kemana nona Andara pergi?"

"Saya juga tidak tahu kemana perginya nona Andara. Sudah dua hari nona Andara tidak pulang. Saya juga bingung, karena tidak biasanya nona Andara seperti ini." Jelas pengurus rumah Andara ke Mesty.

"Ohh,, baiklah.. Kalau begitu saya permisi dulu." Mesty pergi meninggalkan rumah Andara. Dia terus bertanya-tanya dalam hati, "Kemana Andara?"

Di rumahnya, Andara tak ada. Mesty berinisiatif ke rumah Rony. Mungkin Rony akan membantu mencari Andara, karena Rony mencintai Andara. Namun, setelah sampai di depan rumah Rony, Mesty mengurungkan niatnya. Dia pulang ke rumah untuk beristirahat...

"Sebenarnya ada apa ini? Andara menghilang, dan rumah Rony didatangi polisi. Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah dua hal ini berhubungan?"

Mesty menerka-nerka mencoba mencari tahu apa yang telah terjadi.

"Dan salahkah aku yang mencintai Alex?"

Setahu Mesty, tak ada hal yang salah dalam mencintai. Yang salah hanyalah ego yang terlalu besar. Dalam cinta memang selalu ada pilihan yang pahit yang kadang harus diambil. Kau memilih hidup denganya, bahagia dengannya. Tetapi ada orang di sekitarmu terluka. Atau kau membiarkan orang yang kau cintai hidup dengan orang lain, tetapi hatimu sendiri yang terluka. Selalu seperti itu pilihannya. Tetapi, percayalah cinta sejati itu juga ada, bagi mereka yang mau berusaha untuk mendapatkan, menjaga dan mempertahankannya. Dan, menjaga dan mempertahankan cinta itu jauh lebih sulit, dibandingkan dengan untuk mendapatkannya. Karena ketika kau sedang mempertahankan cinta akan banyak ujian yang datang padamu. Dari rasa bosan, jenuh, dan bahkan hadirnya orang ketiga. Semakin sulit ujiannya, maka cinta itu kian abadi.

Pagi yang cerah, Mesty sudah di kantor, berharap sesosok perempuan yang cantik nan tegas sudah ada di ruangannya. Mesty menunggunya, tetapi tetap tak ada. Andara tak hadir lagi. Dan yang menghampiri Mesty bukan Andara, melainkan Rony.

"Andara hari ini masuk jam berapa? Tumben sekali jam segini tak ada di ruangan." Tanya Rony ke Mesty.

"Maaf tuan, nona Andara sudah tiga hari ini tidak masuk kantor." Jawab Mesty dengan pelan.

"Kenapa dia? Apa dia sakit?" Rony ingin tahu.

"Saya kurang tahu, nona Andara sudah tiga hari tidak ada kabar. Semalam saya ke rumahnya, tapi hanya ada pembantunya." Jelas Mesty.

"Apa??!! Kenapa kau diam tak memberitahuku?!!"

"Semalam saya ke rumah tuan, tapi ada polisi di rumah tuan, jadi saya tidak masuk."

Rony kebingungan, pikirannya mulai kacau. Ahhh, kemana Andara?

"Ya sudah, biar aku yang mencarinya."

Rony segera bergegas mencari Andara. Rony juga belum tahu pasti kemana Andara pergi. Tapi dia harus mencarinya sampai ketemu.

"Andara... Andara.. Kenapa kau lakukan ini? Kalau kau punya masalah, tak seharusnya seperti ini."

"Tapi aku akan menemukanmu, karena aku tahu kebiasaanmu." Rony terus melaju dengan kecepatan tinggi. Dia yakin dia akan menemukan Andara.

Rony terus melaju dengan kecepatan tinggi. Dia sangat bertekat untuk bertemu dengan Andara. Selain dia mencintainya, dia juga harus menagih karya-karya Andara untuk edisi majalah pesona yang akan segera terbit.

Setalah menempuh jarak sekian ratus kilometer, Rony sampai di tempat yang sunyi. Karena teramat sunyinya, kicauan burung dan gemerciknya air terjun pun terdengar jelas di telinga. Nyanyian alam yang sangat indah. Rony berhenti sejenak, menikmati suara burung-burung yang sedang bernyanyi. Kemudian Rony melanjutkan langkahnya, menuruni semak-semak belukar, seperti di hutan, tetapi tidak begitu terjal.



Dari atas air terjun, Rony berkata, “Apa yang sedang kau lakukan di sini?” Tanya Rony ketika melihat Andara sedang di bawah air terjun.

Andara kaget, mencari suara itu. Suara yang tidak asing di telinganya. Tapi di mana? Tak berwujud. Andara berpikir itu hanya sebuah halusinasi saja. Tak mungkin Rony bisa menemukannya di sini.

Aku ada di atasmu. Kenapa kau menghilang dan menepi di sini?” Rony beranjak turun menyusuri air terjun.

Andara tak menyangka Rony akan menemukannya.

Seharusnya aku yang bertanya kepadamu. Kenapa kau berada di tempat ini? Apa yang sedang kau lakukan?” ucap Andara.

Aku ke sini karena ingin menjemputmu pulang, sudah banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan. Jadi, aku mohon padamu, pulanglah bersamaku.” Pinta Rony.

Apa urusanku dengan pekerjaanmu? Kenapa harus menungguku? Kenapa kau tidak selesaikan sendiri?” Andara menocba menolak untuk pulang.

Rony semakin mendekati Andara. Dan terus mendekatinya. Tehenti sejenak, menatap mata Andara dalam. Dan mendekatinya lagi. Rony memeluk Andara. Pelukan yang sangat hangat, hingga Andara tak bisa berkata dan berbuat apa-apa.

Pulanglah denganku..” Lembut bisikan Rony di telinga Andara.
Rony melepaskan pelukannya. Andara masih terdiam, dia masih tidak mengerti, apa yang sebenarnya sudah terjadi.

Masih banyak pekerjaan yang harus kita selesaikan. Kalau kau ingin berlibur, nanti akan aku temani setelah deadline kita terselesaikan.”

Aku belum ingin pulang, aku masih betah di sini. Sepertinya pekerjaanmu tidak perlu bantuanku.”

Aaah.. Sepertinya kau memang sedang benar-benar bermimpi. Meskipun aku sangat mencintaimu, tetapi untuk masalah pekerjaan, aku tetap menuntutmu sebagai desainer baju. Karya-karyamu belum satu pun masuk di dalam daftar majalah pesona untuk terbit minggu depan. Kau harus segera pulang dan buatlah karyamu.”


Aku masih butuh waktu di sini, untuk menenangkan hatiku.”

Memangnya, apa yang sebenarnya terjadi padamu? Ceritakanlah padaku, mungkin aku tidak bisa memecahkan masalahmu, tetapi aku bisa menjadi teman untuk mendengarkan keluh kesahmu.”

Sudahlah, aku sedang tidak ingin membahasnya.”

Baiklah, yang penting hari ini kau harus pulang, dan selesaikan baju-bajunya. Riana desainer baru itu sudah muncul karya barunya dari seminggu yang lalu. Kau tidak ingin kalah dari desianer baru itu bukan?”

Apa kau bilang?!! Kenapa kau baru sekarang mengatakannya? Kenapa tidak sedari tadi kau sampai di sini?”

Bagaimana aku bisa mengatakannya, sedari tadi kau penuh emosi.” Rony tersenyum.

Baiklah, aku ikut denganmu, tapi bagaimana kau bisa menemukanku di tempat ini. Aku rasa tidak ada yang tahu tempat ini. Aku ke sini juga tidak sengaja.”

Aku mengenalmu Andara, kau pergi dari kantor dengan keadaan kesal, mana mungkin kau akan berbelok ke arah kanan. Kau pasti dari area parkir langsung lurus jalan ke kiri agar kau mudah mengemudikan mobilmu. Dan tempat ini, tempat diujung jalan yang paling lurus. Makanya kau berhenti disini. Aku tahu kau tak akan pergi mencari jalan lain, selain jalan lurus ini.”

Andara tersenyum mendengar penjelasan, memang begitu kenyataannya. Analisa Rony benar-benar tepat.

Andara mengikuti perintah Rony untuk kembali hari ini. Dia harus siap untuk membuat karya yang bagus. Dan harus kembali bertempur di dunia fashion. Untuk masalah hatinya, mungkin masih bisa terabaikan dengan kesibukan yang akan mengelilinginya.

Sejarah Kerajaan Singasari dan Kisahnya

12:32:00 PM 0 Comments A+ a-




Singasari adalah nama dari sebuah daerah yang terletak di sebelah timur Gunung Kawi di hulu sungai Brantas. Saat ini daerah tersebut termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Malang di Propinsi Jawa Timur Indonesia. Pada abad ke-13, Singasari hanya merupakan sebuah desa kecil yang tidak berarti. Keadaan ini lambat laun berubah bertepatan dengan munculnya seorang pemuda bernama Ken Arok dari desa Pangkur, yang berhasil merebut daerah tersebut dari wilayah kekuasaan Kerajaan Kediri yang saat itu diperintah oleh Raja Kertajaya pada tahun 1222 Masehi. Sejak saat itu ia mendirikan kerajaan yang berpusat di desa Kutaraja serta mengambil nama gelar kebangsawanan sebagai Rajasa Sang Amurwabhumi. Baru kemudian pada tahun 1254 Masehi, wilayah tersebut diganti nama dengan nama Singasari oleh cucunya yang bergelar Jaya Wisnuwardhana. Singasari menjadi kota kerajaan yang menguasai wilayah Jawa bagian Timur dari tahun 1222 sampai 1292 Masehi. 

Kerajaan Singasari memiliki keterkaitan dengan kerajaan Majapahit yang didirikan oleh Nararya Sanggramawijaya pada tahun 1293 Masehi. Sanggramawijaya atau yang lebih dikenal oleh masyarakat sebagai Raden Wijaya adalah cucu dari Narasingamurti dan menantu dari Raja Kertanegara. Kertanegara adalah raja Singasari terakhir yang meninggal terbunuh dalam peperangan melawan tentara pemberontak yang mengatas namakan Kerajaan Kediri di bawah pimpinan Jayakatwang. Raden Wijaya secara resmi menjadi raja Majapahit setelah berhasil mengalahkan tentara Jayakatwang yang telah merebut Singasari. Raden Wijaya melakukannya dengan bantuan tentara Tartar dari China yang awalnya datang ke Jawa untuk tujuan menaklukkan Singasari yang ternyata sudah terlebih dahulu diruntuhkan oleh Jayakatwang.

Kisah tentang kerajaan Singasari, pertama kali disiarkan dalam karya J.L.A. Brandes, Pararaton of het boek der konigen van Tumapel en van Majapahit uitgegeven en toegelicht, di tahun 1896. Dalam karya tersebut J.L.A. Brandes membahas tentang kisah pendiri Singasari sebagaimana tertulis di dalam Serat Pararaton atau yang juga disebut sebagai Katuturanira Ken Arok. Dimulai dengan cerita tentang Ken Arok yang kemudian menjadi pendiri kerajaan Tumapel dan mengambil nama abhiseka Rajasa Sang Amurwabhumi setelah mengalahkan Raja Kertajaya dari Kediri. Sejak saat itu, cerita Ken Arok mulai dikenal di lingkungan kesejarahan Indonesia. 

Pararaton adalah manuskrip jawa kuno yang ditulis dalam bentuk dongeng yang berbeda dengan bentuk tulisan sejarah. Oleh karena itu beberapa ahli sejarah menolak kebenaran naskah tersebut. Namun, perlu diperhatikan bahwa cerita itu tidak diperuntukkan bagi para ahli sejarah, melainkan bagi masyarakat Jawa Kuno yang pada saat itu banyak mendapat pengaruh dari kepercayaan Hindu. Maka dengan sendirinya, manuskrip tersebut dikisahkan sesuai dengan alam pikiran masyarakat yang membacanya. Ajaran hinduisme, meliputi diantaranya dewa-dewa, titisan, karma dan yoga. Ajaran itu mempengaruhi alam pikiran masyarakat Jawa dan kesusasteraannya. Pararaton adalah hasil sastra dari zaman itu, maka dengan sendirinya sastra Pararaton juga bersudut pandang ajaran Hinduisme. 
Berikut ini adalah ringkasan cerita tentang Ken Arok sebagaimana tertulis di dalam naskah Pararaton. 

Bhatara Brahma berjinak-jinak dengan Ken Ndok di lading Lalateng, kemudian berpesan agar Ken Ndok jangan lagi berkumpul dengan suaminya. Larangan Dewa Brahma itu mengakibatkan perceraian dengan suaminya Ken Ndok, Gajah Para. Ken Ndok pulang ke Desa Pangkur, diseberang utara sungai; Gajah Para kembali ke Desa Campara, di seberang selatan. Lima hari kemudian, Gajah Para meninggal, konon karena ia melanggar larangan Dewa Brahma dan karena anak yang masih di dalam kandungan. Setelah sampai bulannya, Ken Ndok melahirkan bayi laki-laki, yang segera dibuang di kuburan akibat menanggung malu. Pada malam harinya, seorang pencuri bernama Lembong tercengang melihat sinar berpancaran di kuburan tersebut. Saat sinar itu didekatinya nampaklah seorang bayi sedang menangis. Karena kasihan maka bayi tersebut dibawanya pulang. Segera tersiar kabar bahwa Lembong mempunyai anak pungut berasal dari kuburan. Mendengar kabar itu, Ken Ndok dating mengunjungi Lembong dan mengaku bayi itu anaknya, lahir dari kekuasaan Bhatara Brahma. Anak itu diberi nama Ken Arok. 

Ken Arok tinggal di desa Pangkur sampai dapat menggembalakan kerbau, namun ia suka berjudi. Harta kekayaan Ayah pungutnya habis diperjudikan. Ketika ia disuruh menggembalakan kerbau kepala desa Lebak, kerbau itupun diperjudikannya juga. Akibatnya ayah pungutnya harus membayar uang ganti rugi. Karena kesal, Ken Arok pun diusir dari rumah. Ditengah jalan ia bertemu dengan Bango Samparan, penjudi dari Desa Karuman. Ken Arok dibawa ke tempat perjudian. Pada waktu itu Bango Samparan menang; menurut anggapannya berkat kehadiran Ken Arok. Oleh karena itu Ken Arok diajaknya pulang dan dijadikan anak pungut istri tua Bango Samparan yang kebetulan mandul. Di Karuman, Ken Arok merasa kesepian, karena ia tidak dapat bergaul dengan anak-anak Tirtaja, istri muda Bango Samparan. Kemudian ia pergi dan bertemu dengan Tita, anak Sahaja, kepala desa Siganggeng dan belajar bersama pada seorang guru bernama Janggan. Di rumah Janggan, ia menunjukkan kenakalannya. Buah jambu milik Janggan yang masih mentah diambil dan diruntuhkan. Melihat perbuatan itu, Janggan marah. Ken Arok tidak berani masuk rumah, lalu tidur di luar di atas timbunan jerami kering. Ketika Janggan keluar di malam hari, ia terkejut melihat sinar berpancaran dari timbunan jerami. Ketika didekatinya, ternyata sinar itu berasal dari Ken Arok. Sejak saat itu Janggan sangat menyayangi Ken Arok. 

Ken Arok dan Tita tinggal di sebuah pondok di sebelah timur Siganggeng untuk menghadang para pedangang yang lewat, namun kenakalannya tidak sampai disitu saja. Ia berani pula merampok dan merogol gadis penyadap di Desa Kapundungan. Ken Arok menjadi perusuh yang mengganggu keamanan wilayah Tumapel dan menjadi buruan Akuwu (Penguasa daerah). Ken Arok lari dari satu tempat ke tempat lain. Tiap tempat yang didatanginya menjadi tidak aman, namun ia selalu dapat lolos dari bahaya berkat perlindungan Bhatara Brahma. 

Ketika Ken Arok berguru kepada Mpu Palot di Turnyatapada, ia diutus untuk mengambil emas pada kepala desa Kabalon. Orang-orang Kabalon tidak percaya bahwa ia adalah utusan Mpu Palot. Karena marah, salah seorang diantara mereka ditikamnya, lalu ia lari ke rumah kepala desa. Segenap penduduk Desa Kabalon mengejarnya, masing-masing bersenjatakan golok atau palu. Sekonyong-konyong terdengar suara dari langit yang berkata: “Jangan kau bunuh orang itu. Ia adalah puteraku. Belum selesai tugasnya di dunia!”. Mendengar suara itu para pengejarnya berhenti, lalu bubar. 

Sementara itu, diketahui oleh orang-orang Daha (Kediri) bahwa Ken Arok bersembunyi di Turnyatapada. Dalam kejaran orang-orang Daha, Ken Arok lari ke Desa Tugaran, dari Tugaran ke Gunung Pustaka dan dari situ mengungsi ke Desa Limbahan; dari Desa Limbahan ke Desa Rabut, akhirnya sampai Panitikan. Atas nasihat seorang nenek ia bersembunyi di Gunung Lejar. Dalam persembunyiannya di Gunung Lejar, ia mendengar keputusan para Dewa bahwa ia telah ditakdirkan menjadi raja yang akan menguasai Pulau Jawa. 

Brahmana Lohgawe datang dari India ke Pulau Jawa menumpang di atas tiga helai daun kakatang, diutus oleh Bhatara Brahma untuk mencari orang yang bernama Ken Arok. Ciri-cirinya: tanganya panjang melebihi lutut; rajah telapak tangan kanannya ialah cakra, rajah telapak tangan kirinya bertanda cangkang kerang. Kata Bhatara Brahma, ia adalah titisan Dewa Wisnu di suatu candi. Dengan jelas diberitahukan kepadanya, Dewa Wisnu tidak ada lagi di candi pemujaan, karena telah menitis pada orang yang bernama Ken Arok di Pulau Jawa. Ia diperintahkan mencarinya di perjudian. Oleh karena itu, sesampainya Brahmana Lohgawe di Pulau Jawa, ia segera menuju Desa Taloka bertemu dengan Ken Arok.



Ken Arok dibawanya menghadap Akuwu Tumapel bernama Tunggul Ametung. Setelah mendengar uraian pendeta Lohgawe bahwa ia baru saja dating dari Jambudwipa dan maksud kedatangannya ialah untuk menitipkan anak angkatnya, Ken Arok diterima oleh Tunggul Ametung sebagai pembantu. 

Istri Tunggul Ametung sangat cantik bernama Ken Dedes, anak tunggal seorang pendeta Budha di Panawijen bernama Mpu Purwa. Konon ketika Tunggul Ametung datang di Panawijen untuk meminang Ken Dedes, kebetulan Mpu Purwa sedang bertapa di tegal. Karena tidak dapat menahan nafsunya, Ken Dedes dilarikan ke Tumapel dan dikawininya. Ketika Mpu Purwa pulang dari pertapaan, mendapatkan rumahnya kosong, lalu menjatuhkan kutuk: “Semoga yang melarikan anak saya tidak akan selamat hidupnya; semoga ia mati kena tikaman keris. Semoga sumur dan sumber air di Panawijen semuanya kering sebagai hukuman kepada para penduduknya, karena mereka itu segan memberitahukan penculikan anak saya. Semoga anak saya yang sudah mendapat wejangan karma amamadangi tetap selamat dan mendapat bahagia!”. 

Ketika Ken Arok datang di Tumapel, Ken Dedes telah hamil. Bersama suaminya, ia naik kereta berpesiar ke taman Baboji. Pada waktu Ken Dedes turun dari kereta, tersingkap kain dari betis sampai pahanya. Ken Arok terpesona melihatnya karena rahasia Ken Dedes berpancaran sinar. Sepulangnya dari taman, peristiwa itu diceritakan oleh Ken Arok kepada pendeta Lohgawe. Jawab Lohgawe: “Wanita yang rahasianya menyala, adalah wanita nareswari. Betapapun nestapanya lelaki yang menikahinya, ia akan menjadi raja besar.” Mendengar ujaran itu, Ken Arok terdiam. Timbul niatnya untuk membunuh Tunggul Ametung, namun Lohgawe tidak setuju. 

Ken Arok meminta izin untuk mengunjungi ayah angkatnya Bango Samparan di Desa Karuman. Sesampainya disana, ia menceritakan pengalamannya di taman Baboji kepada Bango Samparan dan menegaskan niatnya untuk membunuh Tunggul Ametung serta kemudian mengawini Ken Dedes. Bango Samparan member nasihat agar Ken Arok sebelum melaksanakan niatnya supaya pergi dulu ke Lulumbang menemui pandai keris bernama Mpu Gandring, ia adalah kawan karib Bango Samparan. Konon barang siapa kena tikam keris buatannya pasti mati. Nasihatnya, supaya Ken Arok memesan keris kepadanya. Hanya setelah keris pesanan itu selesai ia baru boleh melaksanakan niatnya. Ken Arok berangkat ke Lulumbang dan memesan keris kepada Mpu Gandring. Dalam waktu lima bulan, keris itu supaya sudah selesai. Namun jawab Mpu Gandring, supaya ia diberi waktu setahun agar matang pembuatannya. Ken Arok tetap pada permintaannya, lalu ia pergi. Lima bulan kemudian, Ken Arok kembali ke Lulumbang untuk mengambil keris pesanannya, namun keris itu sedang digerinda. Karena marahnya, keris itu direbut dan ditikamkan pada Mpu Gandring, kemudian dilemparkan ke lumpang pembebekan gerinda. Lumpang pun pecah terbelah. Dilemparkan lagi ke landasan, namun landasan pun pecah berantakan. Ken Arok yakin bahwa keris itu benar-benar ampuh. Sementara itu, Mpu Gandring yang sedang berlelaku, mengumpat: “Hei Arok! Kamu dan anak cucumu sampai tujuh keturunan akan mati karena keris itu juga!” setelah menjatuhkan umpat itu, ia pun mati. Pikir Ken Arok: “Kalau kelak saya benar jadi orang besar, anak cucu Gandring akan mendapat balas jasa,” lalu, Ken Arok pun pulang tergesa-gesa ke Tumapel. 

Di Tumapel, Ken Arok memiliki seorang sahabat karib bernama Kebo Hijo. Kebo Hijo sangat dipercaya oleh Tunggul Ametung, tetapi wataknya suka pamer. Ketika ia melihat keris Ken Arok yang berukiran kayu cangkring, ia meminta Ken Arok untuk meminjamkan kepadanya. Memang itulah maksud Ken Arok, keris kemudian dipinjamkan lalu dipamer-pamerkan Kebo Hijo kepada orang banyak, sehingga segenap orang Tumapel tahu bahwa Kebo Hijo mempunyai keris baru. Ken Arok menduga bahwa saat yang dinanti-nantikannya telah tiba. Keris diambil oleh Ken Arok tanpa sepengetahuan Kebo Hijo. Pada malam hari waktu telah sepi, Ken Arok masuk ke rumah Tunggul Ametung, ia langsung menuju tempat tidur Tunggu Ametung yang sedang tidur nyenyak, segera ditikamnya dengan keris Gandring. Baru keesokan harinya diketahui bahwa Tunggul Ametung telah mati ditusuk dengan keris milik Kebo Hijo yang masih tertancap di dadanya. Dengan serta merta, Kebo Hijo disergap oleh sanak saudara Tunggul Ametung, dikeroyok dan ditusuki dengan keris Gandring. Anaknya Kebo Randi menangisi kematian ayahnya. Melihat peristiwa itu, iba hati Ken Arok dan berjanji akan mengambilnya sebagai pekatik (abdi). 

Sepeninggal Tunggul Ametung, Ken Arok menjadi akuwu di Tumapel dan mengawini Ken Dedes. Di antara warga Tumapel, tidak ada seorangpun yang berani menentang. Pada waktu itu Tumapel adalah daerah bawahan Daha (Kediri), yang diperintah oleh Raja Kertajaya. Konon Raja Kertajaya juga disebut sebagai Dandang Gendis. Ia sedang berselisih dengan para pendeta Siwa-Budha, karena keinginannya untuk disembah sebagai Dewa. Keinginan itu ditolak, karena belum pernah terjadi pendeta menyembah raja. Untuk memperlihatkan kemampuannya, Kertajaya menancapkan tombaknya di tanah dan duduk diatas ujungnya. Namun, para pendeta tetap pada pendiriannya. Beberapa pendeta meninggalkan Daha dan pergi mencari perlindungan di Tumapel. Hal ini menambah jumlah pengikut Ken Arok yang sudah agak besar. Keturunan dan kerabat yang pernah berbuat baik kepada Ken Arok dipanggil ke Tumapel untuk menerima balas jasa dan diminta untuk menetap disana. Oleh para pengikutnya, Ken Arok diangkat sebagai raja dan mengambil nama abhiseka sebagai Rajasa Sang Amurwabhumi. Sejak saat itu, Ken Arok tidak lagi menghadap Raja Kertajaya di Daha. Hal itu menimbulkan rasa curiga pada Kertajaya. Ken Arok diduga akan memberontak. Kertajaya bersumbar bahwa Daha tidak akan dapat ditundukkan oleh siapa pun, kecuali oleh Bhatara Guru (Dewa Siwa). Mendengar sesumbar itu, Ken Arok memanggil para pendeta dan rakyatnya untuk menyaksikan bahwa ia mengambil nama sebagai Bhatara Guru dan memerintahkan tentara Tumapel untuk bergerak menyerbu Daha. Pertempuran sengit antara tentara Tumapel dan Daha berkobar di sebelah utara Desa Ganter. Dalam pertempuran itu, Mahisa Walungan dan Gubar Baleman, hulubalang Daha, tewas. Sehingga bala tentara Daha terpukul mundur dan lari mencari perlindungan. Raja Kertajaya pun melarikan diri mencari perlindungan di dalam candi. Daha pun jauh dalam kekuasaan Tumapel pada tahun 1222 Masehi. 

Dari perkawinannya dengan Ken Dedes, Ken Arok memperoleh tiga orang putera dan seorang puteri, yaitu Mahisa Wunga Teleng, Panji Saprang, Agnibaya dan Dewi Rimbu. Dan perkawinan keduanya dengan Ken Umang, Ken Arok juga mempunyai tiga putera dan seorang puteri yaitu Panji Tohjaya, Panji Sudatu, Tuan Wregola dan Dewi Rambi. Putera sulung Ken Dedes keturunan Tunggul Ametung bernama Anusapati. 

Bertahun-tahun lamanya kisah pembunuhan Tunggul Ametung dirahasiakan oleh Ken Dedes terhadap Anusapati. Namun, ketika Anusapati telah remaja dan ia merasa diperlakukan lain daripada saudara-saudaranya oleh Sang Amurwabhumi, muncullah rasa curiga di dalam hati Anusapati. Atas desakan pengasuhnya, Anusapati bertanya kepada Ken Dedes, mengapa Sang Amurwabhumi bersikap demikian. Jawab Ken Dedes, “Jika engkau ingin tahu, ayahmu yang sebenarnya ialah mendiang Tunggul Ametung. Ayahmu telah mati, ketika engkau masih di dalam kandungan. Pada waktu itu aku dikawini oleh Sang Amurwabhumi.” Anusapati bertanya lagi, “Apa sebabnya ayah meninggal?” Jawab Ken Dedes, “Dibunuh oleh Sang Amurwabhumi”. Pada saat itu Ken Dedes terdiam, merasa telah membocorkan rahasia. Anusapati bertanya lagi,”Ibunda, bolehkan saya melihat keris Gandring pusaka Sang Amurwabhumi?” Keris pun diperlihatkan Ken Dedes kepada Anusapati. 

Anusapati mempunyai seorang pengalasan berasal dari Desa Batil. Pengalasan itu segera dipanggil dan diberi perintah untuk membunuh Sang Amurwabhumi dengan keris Gandring. Tanpa membantah, pengalasan itu pun pergi untuk membunuh Ken Arok. Dengan serta merta, Sang Amurwabhumi yang sedang bersantap ditikam dari belakang, mati seketika itu juga. Ketika itu hari Kamis Pon, wuku Landep, waktu senja matahari baru saja tenggelam, tahun Saka 1169 (1297 Masehi). Setelah menikam, pengalasan itu pun lari untuk memberi laporan kepada Anusapati. Anusapati kemudian memberinya hadiah imbalan. Katanya:”Telah mati terbunuh, oleh hamba, ayah paduka!” Dengan serta merta pula, pengalasan itu dihabisi hidupnya oleh Anusapati. Karenanya tersiar kabar: “Sang Prabu mati kena amuk orang dari Desa Batil. Anusapati telah membalaskan dendam dengan membunuh pengalasan itu. Rajasa Sang Amurwabhumi pun dicandikan di Kagenengan. 




Sumber : https://www.facebook.com/Sejarah.Dunia7?fref=ts

Udang Kremes

11:58:00 AM 0 Comments A+ a-


Bahan utama:
250 gr udang segar besar, belah punggung dan keluarkan kotorannya
Merica bubuk ¼ sendok teh
Garam ¼ sendok teh
Air secukupnya

Bahan kremes:
100 gram tepung tapioka
300 ml air
3 siung bawang putih
1 sendok teh bumbu kaldu bubuk rasa ayam
½ sendok teh gula pasir
½ sendok teh merica bubuk
1 buah kuning telur

Cara membuat:
1. Rendam udang dengan merica, garam dan air selama 15 menit.
2. Haluskan bawang putih, campur dengan air kaldu bubuk, gula dan merica.
3. Masukkan tepung tapioka. Lalu aduk dan masak sampai adonan kental sekali dan bening.
4. Kemudian adonan kremes yang sudah jadi digiling dengan mesin blender. Lalu masukkan kuning telur, blender lagi sampai halus dan tercampur rata.
5. Tiriskan udang, lalu celup satu persatu di adonan kremes. Goreng sampai kremesan renyah dan kuning keemasan. Sajikan.



Sumber : YahooNews

Sang Bintang #Bagian 3

10:35:00 AM 0 Comments A+ a-


***Bagian Sebelumnya...

Malam yang cukup larut untuk beristirahat setelah seharian bekerja ekstra keras. Rony sendiri di dalam kamar yang luas. Berbaring di tempat tidur dan memandang ke dinding. Sebuah foto keluarga yang menjadi objeknya. Rindu itu ada. Rindu itu selalu hadir di setiap sudut kesunyian dirinya. Rindu kedua orang tuanya yang selalu menyayangi. Kenangan-kenangan manis itu hingga kapan pun tak kan pernah terlupakan.

Tuan muda, maaf mengganggu.” Terdengar sayup-sayup suara dari luar kamar, dan ketukan pintu.

Iya mbok, sebentar.” Rony menjawab dengan suara parau, ia kemudian menghapus air mata yang telah menetes di pipi. Ia bergegas membuka pintu kamar.

Ada apa mbok?” Tanya Rony ke mbok Narti.

Maaf Tuan muda, ada tiga orang polisi yang sedang menunggu anda di ruang tamu.” Jawab pengasuh sekaligus pengurus rumah Rony.

Polisi?? Ada apa mbok?” Tanda tanya besar muncul dalam benak Rony. Dipikir-pikir, Rony tidak pernah melakukan tindakan kriminal apa pun. Urusan keuangan perusahaan selalu jujur terhadap pemerintah. Tidak ada kasus korupsi di lingkup perusahaannya. Tidak juga melanggar lalu lintas. Ada apa ini? Polisi malam-malam berkunjung ke rumah Rony?

Maaf Tuan, saya juga kurang tahu maksud kedatangan mereka.”

Oh ya sudah, buatkan minum untuk mereka.”

Baik Tuan muda.” Mbok Narti segera menuju ke dapur membuat suguhan untuk ketiga polisi tersebut.

Selamat malam pak Rony.” Ucap salah satu dari ketiga polisi itu. Dilihat dari pakainnya, dia sepertinya seorang jenderal.

Selamat malam juga pak, maaf saya agak lama tadi. Jadi anda-anda semua menunggu.” Jawab Rony.

Oh tidak apa-apa, justru kami yang minta maaf karena sudah menganggu istirahat anda.”

Tidak apa-apa, tapi maaf, ada apa ya bapak-bapak datang larut malam seperti ini? Apakah saya terlibat kasus hukum yang saya tidak tahu?”

Tidak, tidak, tidak ada. Jadi begini, maksud kedatangan kami adalah ingin memberi tahu kepada anda mengenai pembunuhan Ny. Erlina, ibu anda.”

Benarkah? Sungguh?” Rony senang, hampir saja dia melompat dari kursinya.

Okay, kami perkenalkan dulu dari diri kami. Di samping kanan saya ini bapak Let. Jend. Septianto, yang merupakan pengembang kasus pembunuhan terhadap ibu anda. Dan di samping kiri saya adalah detektif yang bernama Yuda Ismail, yang merupakan pengumpul dan pencari barang bukti. Saya sendiri Jend. Irwanudin. Dalam kasus pembunuhan sepuluh tahun yang lalu, itu ada empat orang tersangka.”

Empat tersangka?” Rony memotong ucapan dari Jend. Irwanudin.
Iya, empat tesangka. Satu tersangka telah kami tembak. Dia merupakan pembunuh bayaran dari sebuah geng yang sering berkeliaran di kota ini. Sebelum dia meninggal, dia yang memberi tahu kepada kami, bahwa dia dan kedua temannya dibayar 300 juta untuk membunuh Ny. Erlina. Tapi sayangnya, dia hanya mengatakan yang menyuruhnya adalah teman dekat Ny. Erlina. Dia tidak menyebutkan siapa yang menyuruhnya, dan profesinya sebagai apa.” Jelas Jend. Irwanudin.

"Lalu..??!" Rony semangat sekali mendengarkan penjelasan dari polisi.

"Jadi, kami mohon bantuan Tuan Rony untuk menginformasikan siapa saja yang menjadi teman dekat ibu anda."

Rony berpikir, kembali ke masa lalu, mengingat-ingat siapa yang paling dekat dengan ibunya. Rony tidak ingat semuanya, karena Rony jarang berinteraksi dengan teman-teman ibunya.

"Sebentar pak, untuk hal ini saya kurang tahu siapa saja yang dekat dengan ibu saya. Tapi, tunggu sebentar pak, saya mencari sesuatu dari kamar orang tua saya." Rony beranjak menuju kamar orang tuanya. Kamar ini selalu dirawat, sehingga semuanya masih tertata rapi. Setelah mengambil sesuatu, Rony kembali ke ruang tamu.

"Ini pak, mungkin bisa menjadi petunjuk untuk kasus pembunuhan ibu saya. Saya pribadi juga sangat berharap pelakunya segera ditemukan. Saja juga ingin tahu, apa yang menjadi motif pembunuhan terhadap ibu saya. Dan beri mereka hukuman yang setimpal." Rony begitu menggebu-gebu.

"Data apa saja yang ada di sini?" Tanya detektif.

"Di flash disk itu terdapat video dan foto-foto ibu dengan teman-temannya. Ibu saya selalu mengabadikan kebersamaan dengan teman-temannya. Mudah-mudahan itu bisa menjadi petunjuk dan titik terang kasus pembunuhan terhadap ibu saya. Saya sangat berharap segera ditemukan semua pelakunya." Terselip rasa dendam kepada pelaku pembunuhan di dalam hati Rony. Hatinya merasa sangat sakit, orang yang dicintainya telah dihabisi masa hidupnya, tanpa alasan yang jelas.

Baiklah Tuan Rony, terima kasih atas informasinya. Dan maaf, kami telah mengganggu istirahat anda. Kami akan bekerja keras untuk mengungkap pelaku dan otak pembunuhan terhadap ibu anda.”

Seberkas cahaya terang kini mulai mengungkap teka-teki pembunuhan Ny. Erlina. Rony sangat antusias, dan ingin segera mengerti siapa pelakunya.

Iya, sama-sama, saya tunggu kabar baik dari anda semua.”

Kami permisi dulu, dan selamat malam.” Ketiga polisi itu pun beranjak pergi dari rumah Rony.
Rony mengantar mereka hingga di ambang pintu. Setelah mereka pergi, Rony kembali duduk di ruang tamu. Rony kembali berpikir, siapa orang dekat itu? Kenapa sampai tega menyuruh orang untuk membunuh ibunya? Apakah persaingan di dunia model? Atau persaingan di dunia penerbit? Atau..? Apalagi..? Setahu dan seingat Rony, ibunya orang yang baik. Meskipun ia seorang Top Model kala itu, dia tak pernah sombong. Terhadap lawan terberatnya pun masih bisa tersenyum manis. Dicurangi atau dikejar-kejar wartawan juga ia tak pernah marah-marah kepada juru tinta itu. Ia hanya berkeluh kesah terhdap suaminya, Agung.

Maaf Tuan muda. Apa pembunuh Nyoya sudah ditemukan?” Mbok Narti mengagetkan Rony, dia juga ingin tahu siapa yang telah membunuh majikannya tercintanya.

Oh, mbok Narti, satu pelaku sudah tertembak, polisi sedang mencari tiga tersangka lainnya.”

Mudah-mudahan kasus ini cpeat terungkap. Mbok juga tak habis pikir kenapa ada yang tega membunuh Nyonya.”

Entahlah...” Mata Rony mulai berkaca-kaca.

Tuan muda, sebaiknya tuan muda beristirahat. Ini sudah sangat laurt.” Mbok Narti tidak tega melihat Rony bersedih. Dan tidak ingin juga air matanya dilihat oleh Rony.

Mbok Narti pembantu yang sangat baik. Dia dan suaminya, tukang kebun di rumah itu selalu perhatian terhadap keluarga Rony. Sudah seperti keluarga sendiri. Mbok Narti dan suami tinggal di rumah itu sejak Rony masih bayi. Jadi, sudah sepantasnya rasa kasih sayang itu pun sangat besar, terlebih mbok Narti tidak bisa mempunyai anak karena penyakit yang dideritanya, dokter melarang untuk hamil.

Rony mencoba merebahkan badannya di dalam kamar. Tetapi, tetap saja mata tak bisa terpejam. Benaknya terus bertanya-tanya, siapa otak pembunuhan itu? Apa tujuannya? Apa sebabnya?

##

Pagi yang cerah, Mesty sudah semangat untuk bekerja. Hari ini dia lebih ceria dari biasanya. Entah apa yang membuat ceria pada gadis itu. Andara juga sedikit heran dengan sikap Mesty. Biasanya pagi-pagi selalu berwajah muram durja. Mungkinkah dia sedang jatuh cinta atau kasmaran atau mungkin dia kembali menulis dan akan diterbitkan? Hanya Mesty yang tahu apa yang dirasakannya.

Mesty, ke ruanganku sebentar.” Andara memanggilnya melalui saluran line telepon di kantor.

Baik nona.”

Mesty menduga, pasti ini tentang review majalah pesona yang terbit kemarin.

"Kenapa kau memilih Riana sebagai desainer yang akan menyaingiku?" Andara langsung menuju topik pembicaraan.

"Iya Nona.."

"Bukankah karya dia masih sederhana?" Andara ingin tahu detailnya.

"Iya. Justru dengan kesederhanaan banyak pelanggan yang tertarik.Biasanya seorang pria lebih menyukai sesuatu yang sederhana atau simple, tidak rumit, tetapi elegan." Mesty menjelaskan tentang review isi majalah pesona.

Andara mengernyitkan alisnya. Kali ini ia sadar bahwa pendapat Mesty benar.

"Baiklah, terima kasih untuk review ini. Dan jika analisamu benar, apa pun yang kau minta ku penuhi. Tetapi jika salah, tiada maaf bagimu."

"Iya Nona. Terima kasih." Mesty tersenyum manis.

"Ya sudah, kembali bekerja." Hari ini sedikit aneh dengan Andara. Ketusnya berkurang, ya..mudah-mudahan berkurang terus.

Mesty kembali bekerja, meneliti bahan untuk Fashion yang akan keluar selanjutnya. Sangat teliti, sangat rapih, cacat sedikit saja langsung dinyatakan "bahan rejected" (tidak terpakai/rusak). Pola-pola baju itu berserakan, Mesty memungut dan membereskannya. Dan satu pola yang ia suka, ia mengambil dan menduplikat pola itu di bukunya. Entah apa yang akan ia lakukan, yang ia tahu, ia menyukai pola itu.

Setelah kembali ke ruangan, Andara mendekatinya.

"Siang ini aku akan pergi menemui Rony. Tolong kau yang mengurus sesuatu di sini. Mungkin aku akan lama di tempat penerbit majalah pesona."

"Baik Nona."

Mesty sendiri di kantor, sepi dan sunyi menemaninya. Ingin berjumpa dengan Alex. Tapi sayangnya Alex sedang sibuk di bengkelnya. Banyak mobil dan motor yang minta untuk dimodifikasi. Alex harus ikut turun tangan karena dia yang tahu detailnya.

Mesty benar-benar merasa jenuh, tidak ada yang menarik untuk dikerjakan. Untuk membunuh waktu, Mesty berselancar di internet. Dia mencari sebuah nama "Riana". Satu pesatu link itu dibuka, tetapi bukan Riana sang desainer muda. Mesty mencari hingga ke beberapa halaman. "Riana Dewayanti", Mesty meng-klik link itu, dan munculah berita tentangnya.

Riana Dewayanti, merupakan desainer muda yang baru 1 tahun menginjakan karirnya di kancah modeling. Dia mendesaign beberapa model baju, baik model baju perempuan maupun laki-laki. Tapi beberapa bulan terakhir ini dia mencoba memberanikan diri dengan mendesaign baju pria dalam kuantitas yang jauh lebih banyak dari pada baju untuk wanita. Riana bekerja sama dengan Son Tailor, sang penjahit khusus pria. Riana belum cukup modal untuk membuka konveksi sendiri, sehingga dia bekerja sama dengan Son Tailor.

Riana lahir 21 tahun yang lalu, ibunya dulu seorang model yang cukup terkenal. Dan dari ibunya lah dia terinspirasi untuk menjadi desainer. Karya-karya Riana memang belum terkenal, tetapi dia memasuki pasar mayarakat, paling tidak dia merambah pasar kecil pada masyarakat luas...

"Waawww... Hebat juga dia, berani ambil resiko." Komentar Mesty yang terkagum melihat keberanian Riana. Mesty juga meng-klik semua foto hasil karya Riana. Mesty mencetak semua artikel dan foto-fotonya.

##

Andara sampai di kantor Rony. Rony merasa sangat senang. Tak menyangka Andara akan datang ke kantornya.

"Selamat siang Nona cantik."

"Siang juga Tuan muda Rony."

"Silakan duduk Andara, oh ya.. Kau mau minum sesuatu?" Tawar Rony.

"Kopi pahit saja."

"Tunggu sebentar." Rony sendiri yang menyediakan kopi untuk Andara.
"Dan,, maaf... Ada angin apakah yang membawamu kemari?"

"Apa kau tidak suka dengan kehadiranku di sini?"

"Heii... Jangan emosi. Tentu saja aku sangat senang karena kau ada di sini. Setiap hari kau datang ke sini, itu akan membuatku bahagia."

"Aku mohon kau berhenti mengoceh sesuatu yang tidak penting." Andara sedikit kesal, dan dia langsung menyodorkan berkas ke Rony.

"Apa ini?" Rony penasaran, apakah Andara akan menawarkan kontrak kerja sama?

"Review majalah Pesona yang terbit kemarin." Andara bersandar di kursi, menunggu komentar dari Rony.

"Bagus, sangat bagus. Siapa yang membuatnya? Ini benar-benar good jobs."

"Benarkah?" Andara terkujut, tak menyangka pekerjaan Mesty akan dipuji oleh Rony.

"Iya, apa dia seorang penulis?"

"Bukan, Mesty yang melakukannya."

"Mesty? Sudah seharusnya kau memberikan perhatian lebih padanya,sebelum kau menyesal pada akhirnya. Bagi seorang desainer pastilah membutuhkan masukan yang kritis seperti ini. Dan bagi penerbit tentu saja menyukai gaya tulisan ini. Jaga dia baik-baik jika kau tak ingin kehilangan karirmu."

"Apa kau sedang mengancamku? Atau kau menginginkan dia untuk menulis artikek di majalahmu?"

"Aku tak akan pernah mengancam wanita yang ku cintai. Tetapi, aku juga tidak munafik. Semua penerbit tak terkecuali diriku pastilah menginginkan penulis artikel dengan tulisan yang sempurna seperti ini."

Andara menghela nafas panjang setelah mendengar penjelasan dari Rony. Mencoba membayangkan Mesty pergi dari karirnya dan memilih desainer lain. Oh, tidak-tidak, ini tidak boleh terjadi pada Andara.

"Oh ya..." Ucap Rony.

"Ahh..." Andara kaget dengan suara Rony.

"Sebelumnya aku minta maaf. Pesona edisi bulam depan akan mengurangi halaman dari semua desainer, termasuk dirimu."

"Apa?!!! Apa kau sudah bosan dengan dunia model?"

"Tidak, hanya untuk edisi bulan depan."

"Ya, terus halaman yang lain akan kamu isi apa? Bagaimana dengan pelangganmu?"

"Aku ingin menampilkan foto-foto ibuku pada saat menjadi model."

"Apa...?"

"Dari halaman pertama hingga separuh majalah akan berisi karya-karya desainer dan para modelnya. Dan selebihnya sampai halaman terakhir akan berisi foto-foto ibuku."

"Apa yang sedang terjadi padamu?" Andara mulai memperhatikan Rony.

"Tidak terjadi apa-apa, hanya sedang sangat rindu pada ibu." Jawaban yang diplomatis dari Rony.

Andara menganggukan kepala, memaklumi Rony, karena memang orang tuanya sudah tidak ada.

Pukul tiga sore, Andara kembali ke kantor. Dia langsung masuk ke ruangan Mesty.

"Apakah hari ini ada sesuatu yang menarik?" tanya Andara. Intonasinya kini lebih lembut dari biasanya.

"Iya nona," jawab Mesty, dan menyerahkan artikel, serta foto-foto.

"Siapa ini?"

"Itu Riana, desainer muda yang baru."

Mata Andara terbuka lebar. Benar-benar artikel yang menarik. Benar kata Rony, jangan sampai Mesty pergi darinya.

"Okay, thanks a lot. Dan tolong carikan artikel tentang Ny. Erlina Hermawan."

"Baik Nona."

Dengan cepat Mesty mendapat informasi tentang Ny. Erlina. Sangat cantik, benar-benar sangat cantik. Mesty takjub melihat keanggunan dan pesona dari Almh. ibunda Rony. Setelah mendapakan informasi yang cukup, Mesty segera menyerahkan artikelnya ke Andara. Hari ini Andara benar-benar mendapatkan informasi yang sangat special. Jika dia tidak mengambil spekulasi yang akurat, berarti Andara memang lemah. Informasi-informasi sudah ada dengan sangat komplit, hanya keputusan Andara yang akan menentukan. Mudah-mudahan ia tidak salah langkah.

Sore yang cerah, Mesty menutup laptopnya dan membereskan ruangannya. Dia harus segera pulang dan memanjakan diri di rumah. Masak, berenang atau menonton TV di rumah, pasti menyenangkan. Sesampainya di rumah, ternyata Alex sedang menunggunya.

"Kau sudah lama menunggu? Kenapa kau tidak mengirim pesan padaku?"

Alex tersenyum, dan berkata, "Aku tidak ingin mengganggu kau bekerja, karena aku tak ingin kau mendapat ceramah dari Andara."

"Jangan seperti itu. Oh ya, bagaimana modifikasi untuk mobil dan motornya? Apa sudah selesai?"

"Sudah, makanya aku ke sini."

Mesty tersenyum manis, mata mereka saling menatap.

"Tunggu sebentar, aku buatkan minum." Mesty ke dapur membuatkan the manis. Dan segera kembali ke teras membawa hidangan untuk Alex.

"Mesty..."

"Iya..."

Mereka berdua saling menatap mata dalam-dalam.

"Besok aku ke Milan. Apa kau besok bisa mengantarku?"

"Apa? Ke Milan? Secepat inikah Alex..?"

"Iya,, maafkan aku Mesty. Ada show di sana."

Mesty lesu mendengarnya.

"Besok jam 3 sore aku berangkat dari bandara. Kamu bisa kan mengantarku?" Pinta Alex.

"Iya, tentu bisa..." Mesty tak ingin jauh dari Alex. "Berapa lama kau di sana?" Lanjut Mesty.

"Mungkin 2 minggu."

Oh Tuhan.. dua minggu, itu waktu yang sangat lama bagi mereka yang sedang jatuh cinta. Sehari saja tidak bertemu rasanya satu tahu, apa lagi ini 2 minggu.

Penantian Semu

9:45:00 AM 0 Comments A+ a-

Aku tak pernah menyadari dan tak pernah menyangka, aku bisa jatuh cinta. Ya, jatuh cinta dengan orang yang belum pernah aku lihat dalam wujud aslinya. Aku hanya mengenal dia via online, awalnya memang hanya chating saja. Tapi hari berganti hari dia begitu mempesona, dia pandai menulis yang membuat hatiku luluh. Kita pun bertukar nomor hp, jadi kita bisa saling sms-an atau telpon. Hari terus berganti, dan akhirnya pun aku menerima cinta dia, “Iya, aku juga menyukai mu, aku mau jadi pacar kamu.” Jawabku via telepon, sesaat setelah dia menyatakan bahwa dia cinta padaku.

Semenjak jadian dengan dirinya, aku pun menjadi rajin online, agar bisa sering mengobrol dengan dia. Senang, bahagia, tetapi ragu pun masih ada dalam hatiku. “Apakah aku benar-benar jatuh cinta pada dia, apakah aku benar-benar sayang pada dia? Aku belum pernah melihatnya, aku belum pernah bertemu dengan dia, hanya dari internet aku mengenalnya.” Sering sekali hati dan pikirian ku berkata seperti itu. Ingin rasanya datang menemui dia, tapi dia juga berada di tempat sangat jauh dari kotaku. Dia tinggal di bagian barat Indonesia, sedangkan aku masih di daerah pulau yang sudah padat penduduknya. Untuk mengetahui dia benar-benar jatuh cinta padaku, aku harus berani bertanya tentang kesungguhannya.

Apa kau benar-benar mencintaiku?” tanyaku dari telepon.

Iya, aku benar-benar mencintaimu, apa kau tidak percaya padaku?” balasnya meyakinkan.

Jika kau mencintaiku, bisa kah kau menemuiku, aku ingin bertemu denganmu.” aku sedikit memaksa, karena aku juga harus tahu siapa dia.

Aku pasti aku menemui, tapi bukan sekarang saatnya, percayalah, aku sangat mencintai mu.” Suaranya begitu jelas dan begitu meyakinkan. Dan aku kembali mengiyakan.

Tak terasa telah dua tahun lebih cinta jarak jauh ini terjadi, rasa kesal, emosi dan cemburu, sering sekali menghampiri kita. Tapi, aku selalu percaya pada dia, dia tak pernah selingkuh dariku, dia tak ada wanita lain, hanya diri ku yang dia cinta. Aku percaya itu. Namun, hasratku yang tak bisa ku tahan lagi, aku ingin sekali bertemu dengan dia. Jiwa ku telah tersiksa, menunggu janjinya untuk menemui diriku. “Kapan...?” Seringkali aku bertanya pada dia, tapi dia hanya menjawab, “Sabar sayang, aku pasti akan menemuimu, saat ini aku masih sangat sibuk dengan pekerjaan-pekerjaanku.”

Yah, aku terima saja apa pun ucapan dia, meskipun sesungguhnya hatiku telah lelah, rasanya tak ingin lagi mempertahankan hubungan ini. Tapi, aku juga harus menyadarinya, bahwa aku sudah sangat mencintai dirinya. Sehari tak mengobrol dengan dia pun aku tak bisa. Mungkin aku telah terjangkit cinta buta. Teman-teman ku banyak yang tak setuju dengan cinta yang ku alami. Mereka bilang, “ini hanya cinta semu, hanya bayangan.” Aku tak peduli dengan orang-orang yang komplain.

Hampir tiga tahun aku menjalani hubungan ini, makin hari makin berat cobaan yang kita hadapi. Hingga dari orang tuanya yang tak merestui hubungan ini. Mereka anggap ini adalah sebuah kegilaan. Hatiku pun langsung teriris perih, jika ini hanya sebuah kegilaan kenapa hati ku tersayat seperti ini? Jika ini sebuah khayalan, kenapa aku bisa merasakan dalamnya cintaku pada dirinya? Aku mencoba bertahan dari semua godaan di sekitar, aku bertahan menjaga cinta yang ia berikan. Bertahan dalam puing-puing ketidakpastian yang mencabik nurani. Telah ku lakukan semua, agar dia menjadi milikku. Tapi, Takdir pun berkata lain, memaksa diriku lelah dalam kehampaan penantian yang tiada pasti.

Suatu malam aku kembali menyakan pada dirinya, seriuskah dengan hubungan yang kita jalani?

Meskipun tak ada yang setuju dengan cinta kita ini, aku tetap mencintai mu.” ucapnya yang mulai tercekat, dia juga merasakan apa yang aku rasakan. Rasa sayang, cinta dan ingin bertemu melebur menjadi satu.

Aku ingin bertemu denganmu, jujur saja, aku sudah lelah dengan semua ini. Hati dan jiwaku ini sepertinya tak sanggup lagi untuk menanti dirimu yang tak pasti.” air mata ku pun mulai terurai.

Apa maksud kamu? Kenapa kau bicara seperti itu?” dia terkejut dengan apa yang aku ucapkan. Aku menahan nafas, menahan rasa sakit yang ada di dalam dada.

Maafkan aku, sekali lagi aku minta maaf.. aku sudah sangat lelah dengan hubungan ini. Hubungan yang tak jelas ini.” Dia hanya menghela nafas mendengarkan ku, terdengar lirih isak tangisnya.

Hubungan ini hanya sebuah bayangan, yang tak mungkin menjadi nyata. Sudah aku pertahankan rasa cinta, sayang dan semua asa terhdapmu, tetapi makin hari makin semu saja yang aku rasakan. Maafkan aku, aku harus mengakhiri semua ini. Aku akui, aku sangat mencintaimu. Bahagialah dirimu dengan yang lain, agar kau juga tidak tersisa batin dan jiwa. Aku tahu kau sangat mencintaiku, begitu juga diriku. Tapi ini lah jalan yang harus kita ambil, selama hampir tiga tahun ini, kita hanya menyiksa batin, ingin berjumpa tapi tak bisa, ingin bersama tapi tak bisa. Hanya suara yang bisa kita dengar. Sudah saatnya kita akhiri semua ini.” aku pun tak berdaya lagi, tubuhku bergetar, aura dingin merasuk dalam sanubariku, air mata terus mengalir dan tak berhenti.

Baiklah, jika itu mampu membuatmu lebih bahagia, aku terima dengan ikhlas. Itu sudah menjadi keputusanmu, percuma juga kalau kita pertahankan...” suaranya terhenti, dan dia memutuskan teleponnya.
Lemah rasanya jiwa dan ragaku ini, rasa sakitnya begitu nyata.

Maya yang tergantung mata, semua yang menyisakan tangis. Begitulah yang aku rasakan, dia tak bisa ku lihat, tak bisa ku sentuh. Tetapi rasa itu benar-benar nyata, menyiksa batin. Kini semua telah berakhir mencoba hidup tanpa mendengar suaranya.

Upah Minimum Kota/Kabupaten Jawa Tengah 2014

12:35:00 PM 0 Comments A+ a-

Sumber : Google Image

Surat Keputusan Gubernur Jawa Tengah Nomor 560/60 Tahun 2013 tanggal 18 Nopember 2013 tentang Upah Minimum Kota/Kabupaten (UMK) tahun 2014 Provinsi Jawa Tengah, memutuskan Upah Minimum K Kota / Kabupaten di Jawa Tengah sebagai berikut :

1. Kota Semarang Rp 1.423.500
2. Demak Rp 1.280.000
3. Kabupaten Semarang Rp 1.208.200
4. Kendal Rp 1.206.000
5. Kota Salatiga Rp 1.170.000
6. Kota Pekalongan Rp 1.165.000
7. Kabupaten Magelang Rp 1.152.000
8. Kudus Rp 1.150.000
9. Sukoharjo Rp 1.150.000
10. Batang Rp 1.146.000
11. Kab Pekalongan Rp 1.145.000
12. Kota Surakarta Rp 1.145.000
13. Cilacap Kota Rp 1.125.000
14. Boyolali Rp 1.116.000
15. Pemalang Rp 1.066.000
16. Karanganyar Rp 1.060.000
17. Temanggung Rp 1.050.000
18. Kota Tegal Rp 1.044.000
19. Kota Magelang Rp 1.037.000
20. Klaten Rp 1.026.600
21. Purbalingga Rp 1.023.000
22. Pati Rp 1.013.027
23. Blora Rp 1.009.000
24. Banyumas Rp 1.000.000
25. Jepara Rp 1.000.000
26. Tegal Rp 1.000.000
27. Brebes Rp 1.000.000
28. Wonosobo Rp 990.000
29. Rembang Rp 985.000
30. Kebumen Rp 975.000
31. Cilacap Timur Rp 975.000
32. Sragen Rp 960.000
33. Wonogrii Rp 954.000
34. Cilacap Barat Rp 950.000
35. Grobogan Rp 935.000
36. Banjarnegara Rp 920.000
37. Purworejo Rp 910.000